My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
29 Bertemu Keluarga Edward


__ADS_3

Udara hangat matahari yang bersinar cerah menerangi seluruh Bumi dengan rata. Sepasang mata indah menatap pemandangan di hadapannya dengan takjub.


Sosok cantik itu tertegun cukup lama sebelum tersentak sadar oleh tepukan lembut di bahunya.


"Kita sudah sampai!"


"Apa kau yakin kita ketempat yang benar?" Candy bertanya sekali lagi saat menatap Edward disisinya dengan ragu.


Edward terkekeh pelan sebelum mengangguk "Yah, ini cukup lama sejak terakhir kali aku pulang! Rumah ini masih tetap sama seperti masa lalu!"


Candy mendengus kesal atas pernyataan santai yang keluar dari bibir Edward. Jelas pria itu tahu bahwa bukan itu yang Candy tanyakan


Setelah selesai sarapan pagi, mereka bergegas berangkat. Edward benar-bebar membawanya terbang seperti sebuah layang-layang yang putus.


Entah kenapa tapi pria itu berlari secepat yang dia bisa seolah seseorang tengah mengejarnya. Candy kewalah karenanya, dan sekarang setelah mereka telah sampai di kediaman keluarga Edward, Candy sekali lagi kewalahan oleh apa yang di tangkap mata indahnya.


Sebuah tembok besar membentang dengan warna emas menyala. Tidak, Candy merasa bahwa itu memang emas bukan hanya terlihat berwarna emas.


Tembok itu menjulang tinggi dan terlihat megah, seolah bangunan itu bukanlah salah satu bangunan tua, Itu tampak mewah dan gagah.


Bagaimana Candy menyebutkannya, jika di bandingkan dengan Kastil Edward itu terasa seperti seekor Beruang melihat semut.


"Kurasa mereka sedang menunggu! Lebih baik kita masuk!" Edward merengkuh tubuh Candy lembut dan menuntunnya masuk ketika gerbang indah itu terbuka.


Sebuah Kastil yang benar-benar mewah lebih mewah dari kastil Edward sekali lagi terlihat pada visi pandangan Candy.


"Selamat datang kembali Tuan Muda! Nyonya sedang menunggu anda di dalam!" Seorang pelayan Vampire membungkuk sopan kearah Edward. Dia melihat sekilas kearah Candy dan tersenyum "Beliau juga menunggu kedatangan Anda Nona..."


Dahi Edward berkerut tidak nyaman atas pernyataan Vampire di hadapannya. Dia melambai ringan dan menjawab "Hentikan itu dan lagi..."


Melihat keheningan Edward yang hanya menatap kearah luar Kastil, pelayan Vampire itu mengangguk mengerti "Saya akan mengurusnya Tuan Muda..."


Edward mengangguk pelan dan tidak lagi peduli, dia membawa Candy memasuki Kastil. Candy bahkan tidak bisa mengatakan apapun walaupun dia bingung, dengan patuh dia hanya membiarkan dirinya digiring oleh Edward.


Kastil di dalam itu tampak lebih megah di bandingkan milik Edward. Candy sekali lagi terpesona. Mata berwarna Ambernya bersinar cemerlang menatap keindahan itu. Edward disisinya tersenyum lembut pada ekspresi istrinya. Dia terus bergerak maju kedalam aula keluarga.


"Kau akhirnya pulang..."


Suara manis dan lembut terdengar, Candy mengalihkan pandangannya dan mendapati sosok Cantik berambut putih dengan mata berwarna merah terang.


Sosok itu begitu cantik dan indah, dia terlihat anggung dan menawan dengan balutan gaun berwana putih sederhana. Jika bukan karena bibirnya yang terlihat mengerutu Candy mungkin salah mengira bahwa sosok cantik itu adalah boneka.


"Cornelia..." suara Edward sedikit serak saat dia menatap gadis yang berjalan kearah mereka "Aku..."


Bugh!!!


Kepalan tinju kecil mendarat di perut Edward ringan, Cornelia mendengus kesal setelah melakukannya "Selamat datang kembali di rumah, kakak!"


"Yah, aku kembali..." Edward mengerang kecil atas kelaukan adiknya. Dia menatap gadis itu yang hanya terdiam mengamati Candy dan kembali membuka suara "Oh dia..."


"Apa kau Candy?" Cornelia menyela ucapan Edward, dia menatap Candy dengan penasaran dan mengulurkan tangannya. "Aku Cornelia, selamat bergabung di keluarga!"


Candy menyambut tangan putih Cornelia dan tersenyum manis "Terimakasih, aku Candy.."

__ADS_1


"Yah aku tahu tentangmu!" Cornelia mengangguk pelan dan menatap kembali pada Edward "Kau adalah kakak bajing4n! Bukankah kau akan membawanya kemari untuk bertemu keluarga tapi kau membuat banyak tanda di tubuhnya dan meyerangnya seperti itu!"


Wajah Edward memerah karena malu, dia melotot pada Cornelia yang mendecakkan lidahnya tampak acuh. Disisi Edward, Candy juga memiliki wajah memerah malu seperti kepiting rebus akibat ucapan Cornelia.


"Terserahlah!" Cornelia berbalik pergi "Mereka menunggumu! Ayo cepatlah!"


"Kau sendiri yang menghentikan kami!" Edward menggerutu kesal, dia kembali berjalan mengikuti Cornelia di depannya. Candy hanya tersenyum hangat melihat tingkah kedua saudara ini.


Setelah ketiga orang itu berjalan cukup sebentar, mereka terhenti di sebuah pintu besar berwarna perak. Hiasan simbol kuno yang terlihat rumit membentang di sisi pintu. Cornelia mendorong pintu itu pelan dan membuatnya terbuka lebar.


Mata indah Candy berkedip ringan, dia menatap ruangan luas itu yang hanya berisikan 2 orang. Seorang pria dan wanita berusia pertengahan 30 sampai 40. Tapi Candy tahu pasti usia mereka jauh lebih tua dari itu.


Wanita di sisi kiri memiliki rambut berwarna putih, dia terlihat cantik dan elegan dengan bibirnya berwarna merah darah. Sedangkan pria itu duduk di sebuah kursi layaknya singgahsana, rambut putihnya yang panjang melambai terkena udara yang berhembus.


Candy menelan ludahnya kasar dan menjadi gugup seketika saat pandang kedua orang itu sampai padanya.


Menyadari ini Edward mempererat gengaman tangannya dan tersenyum pada Candy menenangkan "Jangan gugup! Aku disini!"


"Cih, berhenti membual dan terlihat keren pada istrimu! Kemari dan berlutut!" Wanita yang Candy duga sebagai Ibu Edward mendengus kesal "Beraninya kau baru menunjukkan batang hidungmu setelah ribuan tahun! Apakah kau bahkan manusia?!"


"Aku Vampire" Edward menjawab ibunya polos. Dia tampak tidak terlalu peduli dan menambahkan "Berhenti berakting menyebalkan dan bersikap baiklah, atau kita akan kembali!"


"Kau... Kau berani!"


"Bianca, cukup!" Pria berambut panjang itu menghela nafas panjang melihat pertengkaran putra dan istrinya. Kenapa dua orang ini tidak pernah bisa akur walaupun menyayangi satu sama lain.


"Selamat datang di keluarga Candy! Maaf atas sambutan tidak menyenangkan ini! Aku Erlando, Ayah Edward. Kau tidak perlu memanggilku ayah dan bisa memanggil namaku seperti yang Edward lakukan! Itu berlaku sama untuk wanita disana, dia Bianca!" Erlando berkedip menghilang dan muncul di hadapan Candy.


Candy sedikit tersentak kaget dan mengambil langkah mundur sedikit "Namaku Candy Jovanka, Maaf karena baru mengunjungi dan memberi salam!"


"Tidak perlu untuk melakukan hal ini bukan?"


"Hah... kau masih sama, sangat protektif pada hal yang kau sukai!" Erlando tertawa renyah, dia menatap kearah Bianca yang perlahan mendekat.


"Gadis kecil! Cepatlah mengandung dan berikan aku seorang cucu!"


Wajah Candy memerah mendengarkan ucapan Bianca yang tersenyum penuh arti padanya.


"Omong kosong apa lagi yang kau semburkan?" Edward kembali bersuara kasar pada ibunya, dia mendengus dan mencoba melindungi Candy di belakangnya.


"Tsk, bukankah kau terlalu ganas?! Dia akan kehabisan darah jika kau terus melakukan itu!" Bianca mencibir kecil kearah Edward dan membuat wajah putranya tampak terpelintir jelek.


"Baik, cukup kalian!" Erlando sekali lagi menegur mereka dan menegaskan "Candy kenapa kau tidak istirahat sebentar! Kita akan melakukan penyambutan untukmu setelah malam tiba. Untuk sekarang biarkan kami berbicara sebentar dan kau pergilah beristirahat!"


Candy mengangguk patuh, dia menatap kearah Edward sejenak yang mencium pipinya dan berbisik pelan "Aku akan segera menemuimu!"


"Erlando dan Bianca, aku akan menemui kalian nanti. Terimakasih atas sambutannya!" Candy merasa sedikit masam saat memanggil kedua orang itu dengan nama mereka, dia selalu di besarkan dengan etiket yang baik terhadap orang yang lebih tua dan tidak pernah memanggil mereka secara langsung jadi ini sedikit membuatnya tidak nyaman.


"Arthur bawa dia ketempat yang telah di siapkan!"


"Baik!" Sosok Arthur tiba-tiba muncul dan membawa Candy pergi.


Edward terdiam dan menatap punggung Candy yang menghilang bersama Arthur sebelum membuka suara "Vampire itu... kenapa aku merasa dia memiliki perasaan khusus untuk Candy?"

__ADS_1


Bianca tersenyum dan menjawab Edward "Kita akan memliki banyak hal untuk di bicarakan tapi pertama, Ed. Apa yang akan kau lakukan?! Orang yang mengejarmu telah sampai di depan gerbang kami!"


"Kau tahu kau tidak bisa terus bertarung dengan mereka! Peperangan besar seperti itu akan menghancurkan segalanya!" Erlando menambahkan


"Lalu apa yang harus kulakukan? Menyerahkan Candy?" Edward berteriak geram dia menatap kearah Erlando yang tengah menatapnya lembut. "Jika kalian mau membantu mungkin segalanya tidak akan terlalu rumit!"


"Bukankah ini yang kedua kalinya?!" Erlando bergumam pelan saat dia mulai mengingat kenangan lama "Dulu saat kau sakit kau juga meminta bantuan keluarga. Itu adalah yang pertama kalinya, dan sekarang yang kedua kalinya."


Edward terdiam mendengar ucapan Erlando, itu benar! Edward tidak pernah meminta bantuan atau apapun yang menyusahkan keluarganya. Dia adalah pria Jenius mandiri yang melakukan apapun seorang diri dengan kemampuannya. Hanya saat dia sakit itulah dia meminta bantuan keluarganya, dan sekarang dia melakukannya lagi..


"Aku, maafkan aku karena baru berkunjung dan maaf untuk semua hal yang aku katakan di masa lalu..." wajah Edward tampak sedikit terluka saat dia mengingat pertengkaran mereka di masa lalu.


Erlando menggeleng pelan melihat putranya telah banyak berubah dengan berani meminta maaf, dia menepuk pundak Edward pelan "Kami keluargamu! Tidak apa sesekali memiliki pertengkaran keluarga!"


"Biarkan kami membantumu dengan cara kami kali ini Ed, yang perlu kau lalukan hanyalah percaya!" Bianca bersuara lembut, dia juga menyentuh punggung Edward yang bidang penuh kasih sayang.


"Itu benar! Biarkan kami yang menyelesaikan semua ini dengan cara kami! Dengan begitu kalian bisa selamat dan hidup bahagia!"


Edward hanya terdiam dan menatap kearah kedua orang tuanya. Dia tahu bahwa mereka menyayanginya, hanya saja terkadang cara yang mereka gunakan terlalu menyimpang dan berbeda dengan cara Edward. Tapi jika itu bisa membuat Candy selamat dan tetap berada disisi Edward maka dia akan mengalah kali ini.


Melihat diamnya Edward, Erlando tahu bahwa putranya sedikit setuju dengan mereka. Dia kembali membuka suara dan memanggil orang yang terus diam sejak awal "Cornelia, katakan!"


Cornelia mengangguk kecil dan menatap Edward yang tengah balas menatapnya, dia tersenyum sebelum membuka suara "Akan ada seoarang Anak perempuan yang lahir diantara kalian..."


Tubuh Edward terdiam kaku, dia menatap Cornelia dengan pandangan terkejut serta penuh harapan di matanya. Jika apa yang dia ucapkan benar, maka sesuatu yang dia impikan mungkin akan terjadi.


"Lanjutkan!" Edward meminta kearah Cornelia dengan wajah serius.


Ke empat orang di dalam ruangan itu melanjutkan pembicaraan mereka, mencari solusi terbaik untuk menghindari kemungkinan terburuk.


Di tempat lain kastil itu, sosok Candy berjalan pelan mengikuti Vampire paruh baya di hadapannya. Mereka berdua hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun membiarkan suara angin yang berhembus terdengar di setiap langkahnya.


"Apakah Nona hidup bahagia dengan seorang Vampire?" Keheningan itu pecah saat Arthur membuka bibirnya.


Candy tertegun sejenak sebelum menjawab dengan tegas "Aku bahagia, karena aku mencintainya dan dia mencintaiku! Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari hal itu di Dunia ini untukku!"


"Syukurlah..."


Mendengar Vampire dihadapannya menghela nafas dengan rasa syukur, Candy mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti kenapa tapi Candy entah bagaimana merasakan sebuah perasaan akrab dengan Vampire itu.


Candy merasakan kehangatan yang dia rasakan saat berada dekat dengan ibunya, sebuah perasaan nyaman dan aman seperti sebuah keluarga.


"Kita sudah sampai!"


Candy tersadar atas ucapan pria itu, dia menatap sebuah pintu mewah yang tertutup rapat di hadapannya.


Arthur tersenyum lembut dan membuka pintu itu sebelum kembali berkata "Ini adalah kamar Tuan Muda Edward sejak kecil! Kami selalu membersihkannya walaupun beliau tidak pernah pulang. Kuharap Nona dapat Istirahat dengan tenang!"


Dada Candy berdebar kencang menatap wajah Vampire di hadapannya yang tersenyum lembut. Dia merasa senyuman itu mirip dengan ibunya. Candy menggelengkan kepalanya pelan menyingkirkan pemikirannya yang tidak mungkin itu "Terimakasih"


"Tentu, jika ada yang anda butuhkan jangan sungkan untuk memintanya!" Arthur menjawab tulus sebelum membungkuk dan berjalan pergi meninggalkan Candy yang mematung menatap kearahnya.


Gadis itu tetap diam diambang pintu untuk beberapa waktu sebelum masuk kedalam kamar. Dia melihat seisi ruang kamar dengan hatinya yang hangat. Edward tumbuh besar di tempat ini, dan itu membuat Candy bertanya-tanya seperti apa sosoknya saat kecil.

__ADS_1


Candy tidak banyak bertanya pada Edward tentang dirinya ataupun tentang alasan penyerangan di Kastil. Dia tahu sesuatu telah terjadi, tapi Candy berusaha tetap diam dan menunggu Edward menjelaskan padanya.


__ADS_2