
1 Tahun yang Lalu
Dalam malam gelap cahaya bintang dan bulan bersinar indah di atas langit. Udara dingin berhembus ketika terasa sedikit menusuk di kulit.
Seorang pria menatap wanita di hadapannya yang tampak fokus dengan dunianya sendiri seolah terhipnotis. Pria itu tersenyum lembut sebelum berkata "Ini sudah malam tapi kau masih saja bekerja keras. Semua pekerja sudah pulang dan hanya menyisakan dirimu! Candy mungkin kesepian dirumah sekarang!"
Wanita itu balas tersenyum dan menjawab dengan nada menyesal "Aku tidak bisa menghentikan diriku ketika kita sudah begitu dekat. Sangat dekat pada titik tujuan kita.!"
"Itu bagus tapi cobalah untuk tidak terlalu memaksakan diri!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, keheningan kembali menyelimuti.
Pria itu tidak bersuara dan hanya menatap wanita di hadapannya tidak ingin mengganggu. Dia diam disana dan menjadi seorang pendamping.
Setelah beberapa campuran hal di tangannya. Wanita itu menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya dan berseru lirih "Hanya sedikit lagi. Sedikit percobaan lagi dan serum ini akan bekerja!"
"Jadi serum ini akan selesai setelah beberapa hal lagi, Stella?" Pria itu bertanya kembali memastikan ketika wajahnya sedikit bersemangat. Mendapatkan anggukan kepala dari wanita bernama Stella, sang pria melanjutkan "Itu bagus, kami berhasil melakukan hal yang mulia. Putri kita akan hidup dengan sangat baik dimasa depan.."
"Itu benar, hanya sedikit campuran dan beberapa bahan lagi, serum ini akan selesai. Candy akan hidup dengan baik tanpa perlu merasa takut lagi, Dia bisa mengeluarkan semua perasaan yang dia miliki untuk apapun!"
"Aku akan menghubungi Tuan Muda Edward..." Dengan anggukan setuju, pria itu beranjak dari sisi Stella dan menghubungi seseorang yang dia bicarakan.
Waktu berjalan dengan sangat perlahan ketika pria yang pergi untuk menghubungi seseorang itu kembali dengan keringat dingin di dahi.
Dia menggenggam tangan Stella dan buru-buru berkata "Ayo pergi! Kita harus cepat pergi dari sini! Tuan Muda Edward mengatakan bahwa seseorang tengah menuju kemari dengan niat jahat. Dia meminta kita untuk pergi kabur dan bersembunyi!"
"Tery?! Apakah Tuan Muda Edward akan datang?"
"Dia sedang dalam perjalanan kemari untuk menyelamatkan kami, tapi dia takut tidak sempat..."
PRANKKK....!!!
BRAAKKK....!!!
"Tikus kecil berhenti bersembunyi dan lari! Ayo tunjukkan dirimu! Kita bermain bersama... hehe~~"
"Mereka disini!" Tery mengepalkan tangannya ketika dia menyeret tubuh Stella untuk mulai berlari menjauh.
__ADS_1
"Tunggu- data itu! Biarkan aku menyalin dan menghapusnya!"
"Kita tidak memiliki waktu!" Tery membentak kasar ketika dia menjadi semakin cemas.
Tangan kiri Tery bergerak menghancurkan sebuah cairan dan menghidupkan api untuk membakar ruangan itu.
"Bagaimana dengan Candy? Apakah dia akan baik-baik saja?! Tery..."
"Putri kita akan baik-baik saja... Tuan Muda Edward telah mengirimkan seseorang untuk menjaganya!" Tery semakin menjadi gila ketika dia berlari sekuat yang dia bisa setelah mencoba menghambat musuhnya dengan membakar Lab.
Pasangan suami istri itu masuk kedalam mobil ketika telah sampai di luar, mereka menghidupkan mobil dan melesat tanpa menunggu bahkan sedetik pun, meninggalkan Lab yang sudah mulai terbakar oleh api yang membara.
Sosok hitam melesat dari dalam api tampak tidak terluka sedikit pun. Dia terus bergerak maju hingga menuju mobil yang ditumpangi oleh pasangan suami istri itu.
BANGG...!!!
Hantaman keras terdengar ketika sosok hitam itu menerjang pada mobil hitam yang dikendarai oleh Tery dan Stella, membuat mobil itu limbung dan terperosok kesamping kiri.
"Tikus kecil, kemana kalian akan pergi? Hehe~~" Sebuah suara dingin dengan nada ejekan terdengar ketika sosok hitam itu muncul diatas mobil.
Tery menginjak pedal Rem dan memutar setir mobil dengan ganas. Mobil itu menikung tajam dan limbung sejenak sebelum kembali bergerak maju.
Stella mengepalkan tangannya erat, dia menatap kearah suaminya dengan setitik air mata yang jatuh.
Membulatkan hatinya yang terasa hancur, Stella menggenggam ponsel miliknya dan menghubungi putri tercintanya.
Dengan deringan yang sangat lama, ponsel itu tidak terjawab. Stella menangis ketika dia menyadari bahwa Candy mungkin telah tertidur dan ponselnya dalam keadaan mati.
Dia mengusap air mata di pipinya dan mulai berbicara meninggalkan pesan suara dengan suaranya yang bergetar.
"Sayang, Candy sayang, putri ibu yang cantik... jaga dirimu baik-baik.. Ibu dan ayah mencintaimu dan akan selalu bersamamu!"
"Dia akan baik-baik saja!" Tery berkata menenangkan ketika dia melihat istrinya menangis pilu. Wajah pria itu tampak pucat dan matanya yang memerah ketika terus mengemudi dengan tangannya yang terkepal erat.
Stella mengangguk lirih, dia menggenggam baju Tery dengan r3m4s4n kuat sebelum kembali memencet nomor di ponselnya untuk menghubungi seseorang lagi.
[Aku hampir Sampai...]
__ADS_1
"Tuan Muda Edward tolong jaga putriku! Aku mohon tolong jaga dia! Aku akan mengirimkan data yang berhasil aku salin ke emailmu! Kumohon, berjanjilah kau akan menjaga putriku!" Stella memotong ucapan pria di seberang.
[...Aku berjanji akan Menjaganya!] Nada suara di seberang telepon terdengar berat setelah hening yang cukup lama
"Terimakasih!!!" Stella merasa sedikit lega, Dia mengucapkan kalimat yang perlu dia ucapkan dan mematikan telepon itu seketika.
Setelah memencet beberapa hal di ponselnya, kendaraan yang mereka tumpangi terhantam sesuatu yang keras sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya. Mobil itu berdecit dan terbalik berkali-kali sebelum hancur dan meledak.
Sosok hitam muncul dengan mata berwarna merah darah dan taring di giginya, dia terkekeh pelan seraya berjalan mendekat "Itu akibatnya jika kalian terlalu keras kepala..."
Setelah memastikan kematian 2 orang yang dia incar, sosok itu menghilang dan berbaur dalam kegelapan malam.
Tidak lama setelah kepergian sosok itu, sosok lain muncul dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Maaf, aku terlambat!" Suara pria di dalam jubah hitam itu terdengar berat ketika dia menurunkan penutup kain di kepalanya.
Wajah tampan memukau dengan mata perak Edward berpijar di kegelapan malam terlihat. Namun, wajah tampan pria itu tampak terluka dan sedikit kaku di penuhi amarah.
Dia mengepalkan tangannya erat ketika sebuah sirene mobil polisi dan ambulan terdengar. Dengan pandangan terakhir pada kedua mayat hangus di dalam mobil yang hancur itu, sosoknya turut larut dalam kegelapan dan menghilang.
......
Keheningan malam begitu sunyi senyap dengan sedikit udara yang mencekam di sekitar. Kegelapan yang berbaur dengan keheningan malam itu tampak suram dan tidak bersahabat.
Mata indah berwarna perak menatap lurus kedepan dengan pandangan terluka ketika sosoknya itu berdiri kaku menatap pada sosok gadis yang tengah tertidur lelap diatas tempat tidur.
Saat dia pergi dari tempat terjadinya kecelakaan itu, Edward bergegas untuk kembali kerumah milik keluarga Jovanka. Atas permintaan terakhir Stella dia disini menatap pada sosok putrinya yang tengah tertidur lelap.
"Bukankah takdir itu bermain dengan sangat ironis?" Edward bergumam pelan ketika senyuman sinis terbentuk di sudut bibirnya "Saat aku pertama bertemu denganmu, aku merasa bahawa pertemuan itu bukanlah kebetulan. Tapi, melihat jauh lebih dekat saat ini, pertemuan kita seperti sebuah takdir!"
Edward mengalihkan pandangannya dari gadis yang tertidur lelap itu untuk menatap pada Jendela kamar dengan pandangan Jauh.
"Candy, aku menjauhimu karena aku takut bahwa kau akan terikat denganku dan memiliki takdir yang buruk. Tapi, siapa yang sangka takdir itu tidak berhenti dan malah membuatmu menjadi jauh lebih dekat denganku!" Desahan nafas keluar dari bibir merah Edward, dia kembali menatap sosok Candy yang terlelap.
Suara ribut terdengar di lantai bawah ketika Edward yakin bahwa berita kematian orang tuanya akan segara terdengar olehnya dan membuat gadis itu hancur.
"Stella, Aku akan melindunginya. Melindungi putrimu seperti apa yang aku janjikan! Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk melindungi perasaannya dan juga takdir yang akan membawanya padaku!" Saat kalimat terakhir itu keluar, sosok Edward kembali menghilang.
__ADS_1
Suara ketukan pintu yang keras terdengar ketika sosok Candy yang terlelap membuka mata perlahan dan bangkit.