My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
36 Detik Terakhir


__ADS_3

Hari berlalu perlahan, waktu bergerak maju meninggalkan segalanya di belakang. Suasana Damai dan tenang di Keluarga Edward tampak sedikit menegang.


Segala persiapan telah selesai di lakukan. Edward telah berkali-kali pergi untuk mengurus berbagai hal di luar. Candy di tinggalkan di Kastil besar itu dengan Keluarganya yang bergantian menjaga.


Tidak ada hal yang benar-benar terjadi dan segalanya berjalan seperti yang di lihat oleh Cornelia. Hari dimana Candy akan di rubah menjadi Vampire oleh Edward adalah besok. Dan tidak bisa di pungkiri gadis itu merasakan sedikit rasa gugup di hatinya.


"Apakah kau gugup?" Cornelia yang memilki tugas untuk menjaga Candy dan di tinggalkan oleh keluarganya yang pergi mengurus segalanya bertanya. Dia melihat bahwa Candy tampak lebih pendiam dan juga banyak termenung. "Jangan khawatir, segalanya akan baik-baik saja. Menjadi Vampire tidak terlalu menyakitkan!"


Mendengar perkataan acuh Cornelia, Candy tersenyum canggung. Dia sadar bahwa gadis itu mencoba menenangkannya yang gugup, hanya saja karena terbiasa berbicara dengan Vampire nadanya tampak tidak peduli.


"Aku tidak khawatir, hanya sedikit gugup dan juga sedikit bersemangat!"


"Begitukah?" Cornelia mengedipkan mata indahnya, melihat Candy mengangguk kecil dia menambahkan "Yah itu bisa terjadi, aku juga sedikit bersemangat sebelumnya ketika di rubah menjadi Vampire. Hanya saja kau tidak akan bisa merasakan banyak makanan atau minuman lezat lagi. Lidahmu akan mati rasa dan hanya bisa merasakan darah sebagai sesuatu yang lezat! Jadi pastikan untuk makan banyak hal sampai detik terakhir!"


Candy tertawa geli melihat tatapan serius Cornelia. Tapi walau begitu dia mengangguk tegas "Akan aku pastikan untuk makan sebanyak mungkin!"


"Untuk apa itu? Kau akan kembali menjadi Manusia jadi tidak perlu menyiksa dirimu seperti itu!" Sebuah suara magnetik terdengar di sela-sela pembicaraan mereka.


"Kau disini?" Cornelia bertanya setelah melihat sosok Edward. Melihat pria itu mengabaikannya dan hanya mendekat kearah Candy, dia mendecakkan lidahnya kesal "Betapa menyebalkan! Ngomong-ngomong apakah semuanya beres?"


Edward mengangguk kearah Cornelia, dia mengusap rambutnya yang berwarna putih indah dan tersenyum manis "Terimakasih untuk adikku yang cantik karena telah menjaga kakak iparnya"


"Tch! Berhenti membual, kau menakutiku!" Cornelia menepis tangannya dan bergerak menjauh "Karena pangeranmu datang maka aku akan pergi! Sampai jumpa besok Candy."


"Sampai Jumpa Cornelia.." Candy melambai kearah Cornelia yang berlalu pergi.


Setelah kepergian Cornelia, ruangan itu menjadi hening seketika. Edward mendengus ringan dan terduduk disebelah Candy. Dia mengerutkan keningnya dan membuka suara "Apa kau tidak merindukanku? Kita tidak bertemu selama... 1 hari..."


Jemari tangan Candy terangkat dan merengkuh tubuh Edward untuk di peluk Erat. Gadis itu membenamkan wajahnya di sisi dada bidang Edward dan menjawab "Aku merindukanmu!"


Edward tersenyum manis dan balas memeluknya erat. "Apakah kau takut?"


"Tidak..."


"Jangan khawatir! Aku akan melindungimu! Segalanya akan berjalan lancar!" Edward kembali bersuara mencoba meredakan kekhawatiran Candy dalam pelukannya.


Gadis itu tidak menjawab dan hanya mempererat pelukannya.

__ADS_1


Selama 1 minggu ini, entah kenapa Candy terus memiliki perasaan gelisah di hatinya. Dia tidak bisa merasa sedikit khawatir, dia terlalu khawatir pada Edward jika sesuatu terjadi padanya. Pria itu pasti tidak akan bertahan dan menjadi gila jika terjadi apa pun pada Candy.


Rencana itu sendiri sangatlah simpel, Edward akan merubah Candy menjadi Vampire. Candy hanya perlu meminum darah Edward dan setelah itu Edward akan secara lansung mengigit lehernya dan membuat sejumlah besar virus dalam darah Vampirenya itu untuk menyebar dalam seluruh tubuh Candy.


Masalahnya adalah setelah semua itu, semua akan tergantung bagaimana Darah Candy dan daya tahan tubuhnya menerima darah Edward untuk menjadikannya Vampire. Jika sampai darah dalam tubuh Candy menolak, ada kemungkinan bahwa dia akan meninggal karena komplikasi dan berakhir meledak.


Namun, dalam penglihatan Cornelia, Candy berhasil menjadi Vampire. Dia terbangun dengan matanya yang berwarna merah darah dalam pelukan Edward yang menangis darah. Dia tidak yakin bagaimana itu terjadi tapi pasti segalanya akan berakhir seperti itu.


Dan terlebih dalam penglihatan Cornelia pula, Candy dan Edward akan di karunia seorang putri cantik nantinya.


Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah berjuang untuk tetap hidup bagaimana pun caranya. Keluarga ini telah membuat pertahanan kokoh dan meminta sejumlah besar Vampire dan tentara bayaran untuk berjaga, jadi setidaknya semua akan baik-baik saja di luar. Yang perlu Candy lakukan adalah pertarungannya sendiri.


Dengan berbagai pemikiran itu dan juga persiapan dalam keluarga itu. Hari itu kembali berlalu dan hari yang di nantikan telah tiba.


Candy terduduk diatas tempat tidur mewah yang biasa dia pakai bersama Edward. Keluarga Lawrence semua berkumpul di tempat itu dan menatap kearahnya penuh dengan antisipasi dan juga gelisah.


"Banyak tikus yang muncul! Aku mengirim Damien dan Anastasia untuk menangani Kastil bagian timur. Dan bagian barat aku mengirim James dan Austina.." Bianca menjelaskan kearah Edward yang terduduk disisi Candy. Dia menatap kearah Erlando dan menambahkan "Erlando akan menjaga gerbang untuk sementara, sedangkan pelayan dan yang lainnya tersebar di belakang dan di sekitar! Keamanan sudah di pastikan tidak akan goyah!"


"Aku melihat!" Edward mengangguk mengerti, dia kemudian melihat Ayahnya yang akan pergi dan berkata "Ayah, mohon bantuannya!"


Tubuh Erlando bergetar sejenak, dia tersenyum rapuh layaknya orang tua "Kamu akhirnya memanggilku ayah! Mungkin aku hanya akan menghancurkan apapun yang mencoba menerobos dan menganggu putraku!"


Hanya menyisakan Bianca dan Cornelia disana Edward kembali bertanya "Apakah segalanya masih terlihat sama di masa depan?"


Mata berwarna merah Cornelia tampak memutih sejenak sebelum kembali merah. Dia menatap Edward dan mengangguk "Itu masih sama, dia akan terbangung menjadi Vampire!"


"Kalau begitu kami akan berjaga di luar pintu! Edward pastikan untuk melakukannya dengan cepat!" Bianca membuka suara, dia berbalik pergi dari ruangan itu bersama dengan Cornelia.


Keheningan memenuhi ruangan saat kedua wanita itu pergi. Edward memutar tubuhnya untuk melihat Candy yang hanya terdiam sejak awal.


Mata berwarna perak Edward menatap kearah Candy dengan kelembutan. Dia mengusap pipi putih dan hangat Candy lalu berkata "Apa kau siap?"


Candy mengangguk kecil dan menggerakkan jemari tangannya untuk menyentuh tangan Edward di pipinya. "Aku selalu siap!"


Edward tersenyum kecil, dia merobek ujung jari jempolnya dan membuat darah berwarna merah gelap yang hampir berwarna hitam keluar. "Minum ini!"


Candy tidak mengatakan apapun dan menyesap darah dari ujung jari Edward. Setelah isapan yang cukup Edward menarik jarinya dan bertanya "Bagaimana itu?"

__ADS_1


"Rasanya menjijikkan!"


Sekali lagi senyuman lucu terbentuk di bibir Edward. Dia bergerak dan mengapit tubuh Candy untuk berada di bawahnya. "Itu bukan darah biasa tentu saja tidak enak!"


Dia lalu mencium bibir Candy dan menekan tubuhnya dengan jemarinya yang mulai nakal.


Mata Candy melotot kearahnya dan mengerang tidak nyaman. Dia mendorong Edward dari tubuhnya dan membuka suaranya yang serak "Bukankah kau harus mengigitku dan menjadikanku Vampire? Lalu kenapa kau malah bertindak cabul?"


"Apa? Aku tidak boleh? Aku suamimu!"


"Edward?!" Candy mengerutkan keningnya dengan tatapan yang mengatakan 'aku tidak ingin bercanda!'


"Baiklah, mari kita mulai!" Edward menghela nafas panjang akan sikap keras Candy.


Dia merengkuh leher putih Candy sebelum menancapkan taringnya yang perlahan memanjang.


Jika Edward terbiasa menyedot darah, kali ini dia mengirimkan darahnya melalui taring itu.


Tubuh Candy menegang, dia mengeliat dan mengerang tidak nyaman di bawah tubuh Edward. Sensasi panas dan membakar tubuhnya membuat gadis itu tanpa sadar mendorong Edward menjauh. Tapi tindakannya bahkan tidak membuat Edward bergerak sedikitpun.


Rasa panas yang membakar menyebar di sekujur tubuh Candy, Edward mengerutkan kening dengan tetap mengirimkan darahnya memalui taring itu.


Ruangan itu sunyi dan hanya terdengar suara desahan serta erangan Candy yang seolah kesakitan. Wajah Edward tampak merah, mata miliknya bahkan lebih merah. Hati pria itu terasa sakit mendengarkan erangan kesakitan Candy.


Hal itu berlalu hingga hampir 30 menit. Sampai detik 30 menit itu Edward menarik kembali taringnya dan melihat Candy yang terbaring menutup matanya. Tubuh gadis itu terasa panas, dia mengerang dan menarik seprai tempat tidur tampak tersiksa.


"Candy..." suara Edward tertahan, dia menyentuh gadis itu seolah ikut merasakan sakit.


"Edward biarkan dia! Dia perlu untuk menyesuaikan darahnya dan tubuhnya! Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu!" Bianca masuk kedalam ruangan itu. Dia menatap tubuh Candy yang tersiksa diatas tempat tidur dengan matanya yang tertutup "Tapi reaksinya lebih besar dari yang kuduga!"


"Cornelia! Masa depan itu.."


"Itu masih sama!" Cornelia menjawab pertanyaan Edward tanpa berkedip. Dia diam dan kembali menatap Candy diatas tempat tidur. Wajah Cornelia berkerut dan terlihat buruk. Dia tidak yakin setelah melihat keadaan Candy yang seperti sekarang. Tapi memang masa depan yang dia lihat tetaplah sama.


Dengan Candy yang terbaring tidak sadarkan diri, Edward berada disisinya sepanjang waktu. Keluarga itu mampu mengusir segala macam gangguan yang tidak menyenangkan dan menjaga kastil layaknya sebuah benteng yang tidak dapat di tembus.


Candy terus mengerang kesakitan diatas tempat tidur. Terkadang dia akan batuk darah, bahkan mata, telinga dan hidungnya juga turut mengeluarkan darah. Dalam keadaan tidak sadarnya itu, Edward hampir menjadi gila dan menghancurkan segalanya karena tidak sanggup melihat penderitaan Candy.

__ADS_1


Hari demi hari dan berganti dengan bulan demi bulan. Tapi entah bagaimana, gadis itu tetap terlelap tidak membuka matanya layaknya putri tidur. Dia tidak mati namun juga tidak hidup. Tubuhnya akan bergetar kesakitan beberapa minggu dan beberapa minggu kemudian tubuh gadis itu tidak bergerak layaknya mayat hidup.


Dalam siklus yang tiada henti itu banyak hal terjadi, dan segalanya berlalu dengan Edward yang menahan luka di hatinya dalam 1 tahun Candy tertidur tanpa menunjukkan terbangun.


__ADS_2