My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
20 Penyesalan dan Permohonan


__ADS_3

Cakar Caspian terbang untuk merobek wajah Cantik Austina, gadis itu menghindar dan membuat udara panas berdesir di sekitar pipi putihnya saat Cakar itu meleset.


James datang dengan kepalan tinju yang menargetkan kepala belakang Caspian. Pria itu berbelok dan memblokir tinju James, tubuhnya terlempar di udara dan mendarat dengan mantap di tanah.


"Baiklah, cukup bermainnya!" Caspian bersuara dingin saat tubuhnya mulai bertransformasi seperti seorang raksasa setinggi 3 meter dengan ototnya yang menonjol.


"Sialan, pria ini..." James mendecakkan lidahnya kesal, dia menatap kearah Austina dan berkata "Austina Waktunya serius!"


Melihat hal ini wajah cantik Austina mengeras. Dia mengangguk pada James sebelum memusatkan seluruh kekuatannya.


Vampire memiliki berbagai macam kekuatan. Austina memiliki kekuatan pengendalian angin. James memiliki kekuatan Ilusi, sedangkan Caspian spesial, dia memiliki 2 kekuatan yaitu Kloning dan Mengamuk. Hal itu jugalah yang membuat Caspian menjadi salah satu Vampire terkuat yang tidak boleh di jadikan musuh.


Tidak menunggu selesainya perubahan mengamuk Caspian, Austina bergerak maju saat jemari tangannya mengontrol kekuatan angin di sekitarnya untuk membuat puluhan tombak menyerang.


Mata Caspian merah seperti darah saat dia melotot kearah Austina. Untuk menghindari bilah itu, dia membuat salinan dirinya hingga 10 orang.


Tabrakan tombak dan cakar dari Salinan Caspian terdengar di udara. James menggunakan kesempatan ini untuk menyerang dari berbagai sisi. Dia melepaskan kekuatan ilusinya dan membuat seluruh salinan Caspian saling bertempur.


"Cih, kekuatan yang menyebalkan!" Caspian mendecakkan lidahnya kesal


Wajah James gelap, dia ingin memukul wajah tampan di dapannya itu. Kekuatan dialah yang menyebalkan! Satu orang saja sudah sulit untuk di hadapai, tapi sekarang dia harus menghadapi 10 dari mereka?!


Tubuh besar Caspian menepis tombak Austina, dia mengangkat kaki besarnya untuk menendang kearah perutnya. Gadis itu memukul kaki besar Caspian dengan satu tangan yang di selimuti badai angin.


"Matilah!" Suara Austina dingin. Dia bergerak mundur dan mulai membuat tangannya memutar di udara.


Angin malam yang tenang mulai berputar di sekitar Caspian, itu membesar dan kian mengamuk. Caspian membuat salinan lebih dari 20 sebelum membaginya untuk menyerang Austina dari segala sisi.


James tersenyum sinis sebelum melepaskan kekuatan ilusinya dan menghambat salinan Caspian untuk menyerang Austina.


Clang.. Krakk..


Suara kuku tajam terdengar merobek aliran angin yang besar. Sosok Caspian menerjang kedepan sekali lagi. Austina terlambat untuk menghindar dan mendapatkan serangan di bahunya.


James masuk dan ikut mendaratkan tinjunya saat dia memanfaatkan fokus Caspian pada Austina.

__ADS_1


Tinju itu mendarat dengan sempurna di pinggang Caspian membuat pria itu terbang menjauh sebelum jatuh dengan satu kaki yang goyah di tanah.


Austina juga terlihat goyah dengan satu kaki berlutut di ujung yang lain. Hanya James yang berdiri dan terus memusatkan kekuatan ilusinya untuk membuat seluruh salinan Caspian berantakan.


Pertukaran pukulan itu terjadi hanya dalam waktu 5 detik dan dalam pertukaran singkat mengerikan itu seluruh kekuatan mereka belum terlihat sepenuhnya.


Senyuman tipis terbentuk di bibir Caspian sebelum itu terbuka "Memang layak untuk datang kemari! Ini sangat menyenangkan!"


Dia menyentuh pinggangnya yang mati rasa sebelum kembali melompat di udara, Caspian tidak memberikan waktu kepada Austina untuk bernafas.


Gadis itu mendengus sebagai respon dan kembali mengangkat jemari tangannya "Mata Badai..."


Wajah Caspain gelap saat dia mendengarkan apa yang Austina ucapkan. Gadis itu memanggil Mata Badai, salah satu kekuatan Angin miliknya yang terkuat.


"Roarrr..."


Caspian mengaum sebagai balasan dan membuat kekuatan mengamuknya naik level 2 menjadi semakin besar.


Mereka bertiga saling bertukar pukulan dalam beberapa menit. Namun, beberapa menit itu saja sudah cukup untuk membuat segalanya berubah. Malam dingin panjang itu menjadi berisik ketika suara ledakan dan pohon tumbang terdengar.


Tanah tandus dengan retak di beberapa tempat. Pohon tumbang ketika sebagian terlihat hancur menjadi serpihan. Malam gelap menjadi dingin saat kabut itu menambahkan suasana suram.


"Apakah kau masih ingin melanjutkan?!" James bertanya dengan nafasnya yang tersedat, sudut matanya menatap Austina disisi kiri yang tampak terkapar tidak sadarkan diri.


"Kenapa kita tidak berhenti dan melanjutkannya lain kali?"


"Itu terdengar bagus!" James mengangguk setuju, tapi dia tetap waspada oleh serangan menyelinap Caspian. Remaja di hadapannya ini terlalu licik dan telah melakukan serangan menyelinap berkali-kali.


"Lagi pula tugasku telah selesai untuk menghambat kalian!" Caspian tertawa kasar, tapi suaranya lirih. Dia menghilang setelah mengucapkan kalimat itu.


James menggertakkan giginya keras. Dia berlari kearah Austina tergeletak. "Apa kau masih bisa pergi?"


"Tidak! Tinggalkan aku dan pergilah! Aku akan membaik setelah beristirahat!"


"Kalau begitu aku akan pergi!" James mengangguk, dia menyerahkan kantong darah pada Austina sebelum berlalu.

__ADS_1


"James..." Mendengarkan teriakan Austina, James terhenti sejenak untuk melihat kearahnya "Selamatkan gadis itu, kumohon lindungi kebahagian Edward kali ini!"


James tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk sebelum menghilang dalam kegelapan malam.


*****


Mata berwarna perak Edward bersinar dalam kegelapan, dia menatap pandangan di depannya yang tampak kabur dengan rasa gelisah.


Setelah berlari cukup lama, Edward akhirnya memasuki kawasan Kastil miliknya. Tubuh pria itu menegang saat pelindung yang dia buat telah runtuh.


Dalam keadaan gelisah dan terus berlari, Edward terhenti saat dia melihat pemandangan yang di tangkap mata indahnya.


"Austina?" Dengan ragu dia mendekat pada sosok gadis cantik yang tengah terduduk bersandar di pohon yang tumbang


"Edward?"


"Apa yang kau lakukan disini?..." suara Edward mengecil saat dia melihat suasana menyedihkan Austina dan juga sekeliling tempatnya yang hancur. "Ini..."


"Cepat pergi dan susul James! Kami baru saja menghadapi Caspian! Mereka mungkin mengirimkan seorang Vampire kuat lainnya!"


Tubuh Edward tersentak kaget saat dia mendengarkan nama Caspain. Tidak lagi membuang waktu Edward bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Namun, dia terhenti sejenak dan menatap kearah Austina.


"Edward aku baik-baik saja..." Austina tersenyum ketika melihat tatap Edward yang khawatir "Maaf untuk segalanya, dan kumohon hiduplah dengan baik penuh kebahagiaan mulai sekarang! Lindungi gadis itu dan berbahagialah!"


Tangan Edward terkepal erat saat dia melihat ketulusan dimata Autina. Dia tahu gadis ini sudah meninggalkan masa lalu yang begitu membebaninya. Edward tidak tahu apa yang membuat gadis itu seperti ini, tapi dia bahagia. Jika Austina bisa bergerak maju maka Edward akan melakukan hal yang sama.


"Aku tahu, aku akan melindunginya dan hidup bahagia. Tina kau juga, hiduplah dengan baik..."


Melihat sosok Edward yang menghilang setelah kalimat itu, Austina menangis dalam kegelapan. Dia menangis karena rasa bahagia dan sedih secara bersamaan.


Beban di hatinya terangkat dan dia merasa bahagia, tapi dia sedih melihat bahwa bukan dirinya yang bisa membuat Edward bahagia.


Tapi itu cukup, semuanya cukup.


Gadis di sisi Edward memang lebih baik dari pada dirinya.

__ADS_1


Edward diam dan terus bergerak maju, dia bisa mendengarkan tangisan Austina. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Gadis itu telah melepaskan segalanyaa, dan Edward telah memutuskan segalanya.


Dengan rasa gelisah dan penuh ketakutan Edward mulai memohon di hatinya "Candy, aku mohon tetaplah hidup dan bertahan. Aku akan datang. Tolong jangan buat aku menyesal kembali karena terlambat. Aku tidak bisa terlambat seperti saat orang tuamu pergi! Kau harus selamat dan aku harus menyelamatkanmu!"


__ADS_2