
Pagi hari dengan langit biru tanpa noda terlihat diatas berdampingan dengan Matahari yang bersinar cemerlang.
Setelah membasuh dirinya dan menyelesaikan segala hal, Candy berlari kearah kamar Edward dengan langkah besar layaknya orang yang kesurupan.
Tentu saja tingkah lakunya ini lolos dari pengamatan Bibi Jane, dia perlu melakukan banyak hal untuk mengelabuhi wanita itu agar dapat kabur dan bergegas kearah kamar Edward.
Candy tahu tindakannya ini tidak sopan, tapi dia tidak lagi dapat menunggu atau pun menahan perasaannya. Dia ingin secepatnya melihat Edward dan bertanya tentang pertemuan mereka di masa lalu.
Kenapa Edward tidak mengatakan apapun?
Kenapa Edward tiba-tiba menghilang dan tidak memberinya kabar?
Apakah karena dia mengenalnya saat kecil, maka dari itu Edward membelinya sebagai makanan untuk sebuah alasan?
Bagaimana perasaan Edward yang sebenarnya untuknya?
Apakah dia benar-benar tidak merasakan apapun untuk Candy? Bahkan rasa kasih sayang sebagai teman atau adik?
Dengan hentakan ringan, tangan putih Candy yang ramping membuka pintu besar Edward dengan mudah.
Dia melangkah masuk kedalam tanpa keraguan.
Saat sosok Candy berdiri tegap, Mata berwarna ambernya berkedip ringan dan bertemu dengan mata berwarna perak Edward.
Mereka berdua terdiam dan saling menatap untuk waktu yang lama.
Sangat lama hingga nafas Candy yang memburu mulai kembali normal.
Gadis itu melangkah mendekat dan berhenti tepat di hadapan Edward.
Saat dia hendak membuka bibirnya, Edward mendahului "Aku merasa tidak perlu untuk menjelaskan semua itu!"
Itu benar!
Vampire di hadapannya ini bisa membaca pikiran. Maka dari itu, semua hal yang Candy pikirkan dan ingin tanyakan, dia telah mengetahuinya sebelum Candy bersuara.
Mendengar jawaban yang tidak peduli dari bibir Edward, raut wajah Candy berubah masam. Dia menelan ludahnya kasar dan tersenyum kecut tampak sedih.
"Kau membeliku karena rasa kasihan karena telah mengenalku sejak kecil?"
__ADS_1
Edward terdiam ketika mendengarkan pertanyaan Candy. Melihat hal ini, mata berwarna Amber Candy mulai berembun.
"Apakah kau pergi dan tidak menemuiku lagi karena merasa terbebani oleh perasaan gadis kecil itu?" Candy kembali bertanya, tapi pria di hadapamnya sama heningnya dengan orang mati "Apakah kau sekarang menyesali keputusanmu karena telah membeliku?"
Saat itulah bibir Edward terbuka. Nada suaranya dingin tanpa raut wajah yang berubah "Aku menyesal telah membelimu..."
"Maaf..." Candy menyela ucapan Edward ketika kalimat itu keluar dari bibir Edward.
Air mata mengalir di mata indahnya dan menetes melewati pipi putihnya. Dengan rasa sakit yang menusuk di hatinya, dia menundukkan kepalanya sebelum mengangkatnya dan tersenyum kearah Edward "Maaf, tapi aku tidak akan pergi! Kau bisa membunuhku jika kau mau. Tapi aku tidak akan pergi dari tempat ini walaupun kau menyesalinya..."
Senyuman di wajah Candy tampak pilu, di menangis semakin deras dan melanjutkan perkataannya "Aku menyukaimu! Aku mencintai Edward Lawrence dimasa lalu, masa kini dan di masa depan. Tidak peduli bahkan jika kau membenciku dan mencintai orang lain! Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu! Sudah kukatakan bukan, bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian..."
Edward terdiam kaku, hatinya berdenyut sakit dengan debaran yang meningkat. Menatap wajah Candy dengan air mata namun senyuman di bibir, dia tidak bisa untuk tidak terhipnotis.
Dia sudah berusaha sangat kuat untuk mendorong gadis itu agar menjauh dan membencinya. Tapi semua yang dia lakukan hanya seperti angin yang berhembus menghilang tanpa jejak untuk Candy.
Pikiran Edward kosong ketika dia mengingat kembali apa yang Candy ucapkan di masa lalu dan sekarang.
"Tidak ada alasan, hanya saja aku merasa nyaman dan aman disisi kakak. Dan terlebih aku merasa bahwa aku tidak bisa meninggalkan kakak sendirian!"
"Aku menyukaimu! Aku mencintai Edward Lawrence dimasa lalu, masa kini dan di masa depan. Tidak peduli bahkan jika kau membenciku dan mencintai orang lain! Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu! Sudah kukatakan bukan, bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian..."
Saat sosok Candy yang berada di depannya selesai mengatakan kalimat itu. Dia mengusap air matanya dan hendak pergi, tapi dia terdorong oleh tubuh Edward yang merengkuhnya.
"Aku membenci gadis bodoh keras kepala dengan perasaan kuat sepertimu!"
Tubuh Candy menegang ketika Edward mendorongnya, tapi dia tersenyum kemudian dan hanya mengalungkan kedua tangan di leher Edward.
Edward kehilangan kendali, dia menekan tubuh Candy diatas tempat tidur. Bibir merahnya mengapit bibir Candy sebelum mengigitnya kecil.
Edward mendorong lidahnya untuk menghisap lidah Candy secara kasar, jemari tangan pria itu merobek pakaian Candy tidak sabaran.
Tidak berhenti disana, jemari tangan Edward yang lain menarik rambut hitam Candy untuk menekan kepalanya, dia menginginkan seluruh bibir Candy hingga menekannya kuat dan membuat nafas Candy tersedat.
Candy "...?"
Setelah menelan segala sesuatu di bibir gadis itu, Edward melepaskan bibirnya. Dia menatap wajah Candy yang tengah memerah dengan nafas yang memburu.
Kedua taring Edward muncul ketika mata berwarna peraknya mulai berubah merah. Dia mengigit leher putih Candy dengan gemas. Jemari tangan pria itu menekan dan m3r3m4s benda lembut menonjol di dada Candy membuat erangan tidak nyaman keluar
__ADS_1
"Ed...wa...Ngh???" Punggung Candy tegak ketika kedua kakinya terbuka lebar. Dia merasakan sesuatu yang keras diantara kakinya dan tidak bisa untuk tidak merinding sejenak.
"Mencintaiku hanya membuatmu terluka, Perasaan itu hanya akan membuat kita saling melukai" Edward bergumam pelan ketika dia menarik taringnya dari leher Candy, membuat beberapa tetes darah mengalir disudut.
Bibir Candy tersungging kecil ketika sebuah senyuman yang tampak tulus dan indah terbentuk. Jemari tangan putihnya membelai sudut bibir Edward yang meneteskan darahnya "Aku tahu itu, aku sangat tahu bahwa mencintaimu dan berada disisimu akan membuatku terluka dan tersiksa! Tapi, Ed... Rasa sakit itu tidak seberapa sakit di bandingkan dengan kehilanganmu dan tidak bisa melihatmu! Aku Mencintaimu, Mencintaimu dengan semua rasa sakit yang akan kau berikan!"
Setetes air jatuh dari sudut mata Edward. Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun lamanya dia kembali menampakkan senyuman yang lembut. Bukan senyuman lembut kasih sayang, tapi srbuah senyuman lembut penuh Cinta dan rasa bahagia.
Jika gadis ini begitu berani untuk menghadapinya, kenapa Edward harus takut?
Bukankah itu hanya rasa sakit yang tidak seberapa?
Dengan sebuah keputusan baru, Tubuh Edward merengkuh Tubuh Candy semakin erat.
Dia kembali mencium bibir gadis di bawahnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Sudah lama sejak Edward merasakan kenikmatan seperti ini, sebuah dorongan perasaan kuat yang di penuhi keberanian. Keberanian untuk terus bergerak maju.
Edward selalu menahan dirinya, tapi kini dia tidak akan menahannya lagi. Dia akan perlahan mencoba melepaskan kunci hatinya, meruntuhkan tembok kokoh yang telah lama dia bangun.
Dengan gadis ini mungkin dia bisa melakukannya!
Apa yang akan terjadi dimasa depan maka terjadilah, dia hanya perlu untuk menikmati waktu hidupnya saat ini.
Pagi hari yang damai itu seharusnya menjadi awal yang indah. Tapi kini penuh dengan hal memalukan tidak layak untuk di lihat.
Di kastil bawah, Bibi Jane kini tengah membereskan beberapa hal bersama alfred dan Vampire lainnya.
Sebelumnya Sang Tuan telah memerintahkan untuk tidak mengganggunya ataupun Candy, dia juga mendapatkan banyak tugas baru.
"Kau pikir Tuan Muda akhirnya akan membuka diri?" Alfred bertanya penasaran kearah Bibi Jane.
Mendengarkan hal ini, Bibi Jane menggeleng pelan "Entahlah, tapi ini masih terlalu cepat untuk Tuan Muda. Kurasa beliau hanya menjadi tidak terlalu peduli lagi dengan apapun dan menjalani kehidupannya saat ini..."
"Gadis itu... dia akan baik-baik sajakan?"
"Oh, pak tua kau mengkhawatirkan Candy?" Bibi Jane tersenyum lembut, tapi dia merasa senang "Dia akan baik-baik saja. Jika Tuan Muda memutuskan untuk memilihnya, dia akan baik-baik saja. Yang aku harapakan hanya... Semoga Candy tidak membuat keputusan yang sama bodohnya..."
"Kau benar!" Alfred mengangguk setuju.
__ADS_1
Kedua orang itu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan hal memalukan yang di lakukan Tuan Mudanya yang telah Kehilangan kendali.