
Cahaya Matahari bersinar cemerlang dan hangat tanpa setitik awan yang terlihat. Dedaunan tampak basah akibat embun pagi yang menggumpal. Udara hangat serta dingin berhembus masuk melewati sebuah Jendela besar dengan gaya Eropa di sebuah kamar.
Sosok wanita cantik terlihat tidur diatas ranjang tempat tidur tampak nyenyak dan damai. Wajah putihnya terlihat sedikit lelah dengan warna merah dan hitam di sekitar matanya.
Gadis yang tertidur itu tidak lain adalah Candy!
Dengan gerakan ringan tubuhnya mengeliat tidak nyaman di bawah selimut. Merasakan sensasi aneh, mata berwarna Ambernya yang terpejam terbuka perlahan.
Pandangan matanya kabur dan sedikit linglung ketika dia melihat sekelilingnya tertidur penuh kebingungan. Saat mata Ambernya tidak lagi terlihat linglung dan fokus, sebuah kilas ingatan memalukan menghantam benaknya.
Wajah cantiknya memerah seketika saat ingatan akan apa yang terjadi pada malam sebelumnya terbesit. Gadis itu menggerakkan selimut untuk menutupi seluruh wajahnya, tapi dia terhenti ketika merasakan rasa sakit dan kesemutan di pinggangnya.
"Ahh?!" Dengan sedikit kaget, dia melihat kearah tubuhnya yang tambak bersih dengan pakaian tidur yang rapi.
Jika dia tidak salah ingat, semalam dirinya tertidur atau mungkin lebih tepatnya kehilangan kesadaran setelah beberapa ronde yang begitu intens.
Candy tidak bisa untuk tidak terkejut dengan keganasan Edward, pria itu terus menekannya dan menggigit setiap bagian tubuhnya hingga tidak terlihat seperti tubuh manusia lagi melainkan merah seperti bintik stroberi.
Dengan helaan nafas panjang dan wajah merah merona, Candy berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Namun, dia terhenti akibat rasa sakit di pinggangnya yang menjalar keseluruh kakinya dan tidak dapat di gerakkan.
Candy gemetar ringan merasakan rasa sakit yang menjalar itu dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan pandangan kosong.
Dia tidak pernah berharap apa yang di lakukannya semalaman akan begitu menyakitkan ketika selesai dan membuatnya menjadi lumpuh tidak dapat bergerak di atas tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" Suara Bibi Jane terdengar, ketika dia melangkah masuk kedalam kamar seraya membawa nampan berisi makanan lezat.
Melihat raut wajah Bibi Jane yang tidak beraksi atas apa yang terjadi, Candy sedikit gugup. Dia mengangguk pelan dan bermaksud bicara ketika Bibi Jane kembali membuka suara "Aku membersihkan tubuhmu dan memakaikan baju. Disini kupikir kau sudah mati karena tetap tidak terbangun walaupun aku begitu kasar dan berisik atas tindakanku.."
"Bibi... Maaf, aku..."
"Untuk apa minta maaf?" Melihat wajah Candy yang tertekan seraya menundukkan kepala dia mendesah pelan dan kembali berkata "Yah, apa yang terjadi biarlah terjadi. Tapi disini aku hanya bisa memperingatkanmu..."
Bibi Jane mengalihkan pandangan matanya untuk menatap jauh kearah luar jendela kamar dengan wajah penuh penyesalan seraya melanjutkan ucapannya "Mencintai seorang Vampire bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika Vampire itu adalah Tuan Muda Edward! Candy kau harus mempersiapkan Hatimu.."
Candy diam dan hanya menatap wajah Bibi Jane dengan rasa syukur. Dia merasa sangat berterimakasih atas peringatan dan perhatian Bibi Jane, tapi Candy sudah memutuskan bahwa dia akan mencintai Edward dan terus berada disisinya hingga nafas terakhirnya. Tidak peduli bahkan jika itu berarti dia menyakiti dirinya sendiri.
"Aku tahu itu..."
__ADS_1
Desahan nafas Bibi Jane menjadi lebih panjang ketika dia mendengar apa yang Candy katakan. Gadis di hadapannya ini keras kepala dan bodoh, dia awalnya tidak terlalu peduli pada Candy, tapi setelah semua peringatan dan banyak hal yang dia sampaikan tetap tidak mempengaruhinya, hatinya menjadi sedikit ringan.
'Jika dia tidak ada disisi Tuan Mudanya, setidaknya gadis ini akan ada disisi Tuan Muda agar tidak kesepian, hal itu bahkan lebih dari apa yang kuharapkan'
Bibi Jane bergumam dalam benaknya, dia melangkah dan terduduk di sisi tempat tidur sebelah Candy terbaring. "Makanlah, kau pasti lapar dan kelelahan. Untuk hari ini kau bisa beristirahat.."
Dengan wajah memerah malu, Candy mengangguk pelan seraya meraih makanan di nampan. Walaupun Bibi Jane tidak menyuruhnya untuk beristirahat, Candy sudah bermaksud untuk meminta istirahat.
Seluruh tubuhnya kesakitan, dan yang lebih parah adalah bagian pinggul hingga kakinya gemetar sakit tidak dapat di gerakkan. Melihat lebih dekat, di sekitar tempat itu bahkan banyak tanda gigitan taring yang terlihat.
"Kurasa Tuan Muda sedikit berlebihan dengan tingkah lakunya. Yah itu sudah sejak lama dia tidak berhubungan dengan siapapun..."
"Bruussskk, Uhuk.. Uhukk..!!"
"Uhh, jorok sekali, makanlah dengan hati-hati.. disini, minumlah air.." senyuman tipis menggantung di bibir Bibi Jane ketika melihat tingkah laku Candy yang serba salah dan malu.
Dia hanya ingin meringankan suasana, tapi siapa yang tahu gadis ini begitu pemalu padanya dan sangat berani pada sang Tuan, bahkan dapat melakukan hubungan intim hanya dalam beberapa hari saja bertemu.
"..." Candy menundukkan kepalanya lebih dalam, dia diam dan hanya kembali memakan sarapannya dengan wajah yang lebih merah padam
..........
Ke dua Mata berwarna perak itu menatap kearah depan dan lurus dengan pandangan kosong untuk waktu yang lama dan tidak bergerak. Sosok itu akhirnya bangkit dan mengatupkan giginya keras setelah terdiam cukup lama. Dia hendak melangkah pergi, Namun detik berikutnya dia kembali terduduk di kursinya dengan helaan nafas yang panjang.
"Edward apa yang kau lakukan?!" Dia berbicara seorang diri kepada dirinya sendiri seraya memijat pelipis matanya ringan.
Ingatan pria itu kembali pada malam sebelumnya saat bulan purnama bersinar indah di langit. Itu sudah hampir lebih dari ribuan tahun lamanya dia berhubungan dengan orang lain, dan dia tidak bisa berhenti hingga membuat Candy kehilangan kesadaran.
"Kau pasti gila?!" Sekali lagi Edward mengutuk dirinya sendiri.
Setelah kalimat itu keluar dari bibir merahnya, keheningan kembali menyelimuti ruangan gelap itu. Dia diam disana cukup lama sebelum berdiri dari tempatnya terduduk.
"Kurasa aku harus menghadiri pertemuan itu..." mengingat kembali ucapan James, Edward memutuskan untuk pergi kepertemuan yang di sebutkan.
"Tapi aku harus memberitahu gadis bodoh itu..." Dengan halis yang terangkat dia tersadar oleh pikirannya "Kenapa aku harus memberitahunya? Dia bahkan bukan ibuku! Apa yang aku pikirkan?!"
Edward geram dengan dirinya sendiri, dia tidak bisa untuk tidak mengutuk kebodohannya karena mau tidak mau dia mulai sedikit terpengaruh oleh keberadaan Candy.
__ADS_1
'Edward kau tidak bisa menyukainya, kau bahkan tidak boleh memberinya harapan!' Sebesit pikiran tegas bergema dalam benaknya
Dia menghela nafas panjang sekali lagi dan menenangkan dirinya. Setelah menjadi jauh lebih tenang, dengan gerakan kecil tubuhnya menghilang dari tempat gelap itu dan muncul kembali di ruang kamarnya.
Mata peraknya mengerjap menatap sekeliling ruang kamarnya itu dan ketika dia melihat sosok Candy yang tengah terbaring diatas tempat tidur dengan sebuah buku di tangannya, entah kenapa hati Edward merasa sedikit berdebar dan terasa hangat.
Dia menggeleng pelan dan bergerak mendekat "Apa kau merasa lebih baik?"
"Ahh?!" Candy terkejut dengan kemunculan Edward yang tiba-tiba. Dia menatap sosok tampan di sisinya itu tampak sedikit linglung sebelum menjawab "Tidak terlalu baik.."
"Begitukah?" Suara Edward dingin. Dia diam dan mengamati Candy, melihat beberapa tanda gigitan di leher serta tangan putihnya, Edward tanpa sadar mengalihkan pandangan matanya.
"Aku akan pergi selama beberapa hari" Pada akhirnya dia memberitahu gadis itu walaupun dia mengatakan tidak peduli. Menyadari ini Edward ingin sekali membenturkan kepalanya kedinding.
Wajah Cantik Candy sedikit sedih, dengan anggukan mengerti dia bertanya "Apakah ada hal yang terjadi?"
"Tidak ada, hanya ada beberapa urusan kecil.." Edward tidak menjelaskan lebih banyak.
Sekali lagi keheningan menyelimuti keduanya.
Candy dengan ragu kembali membuka suara "Tentang apa yang terjadi semalam.. itu.."
"Apa kau menyesalinya?"
"Aku tidak!" Candy menjawab cepat seraya menggelang tegas "Aku hanya takut kau akan membenciku karena aku begitu mudah... Aku bukanlah gadis yang seperti itu! Hanya saja aku menyukaimu dan sudah memutuskan akan berada disisimu tidak peduli bahkan jika kau tidak mengembalikan perasaanku!"
Edward diam, dia diam dan menatap gadis itu dalam keheningan. Tidak dapat di pungkiri hatinya sedikit merasakan sakit untuk Candy. Cinta sepihak apalagi dengan seorang Vampire yang memiliki Dunia berbeda tidaklah mudah dan pasti akan sangat berat untuknya.
"Bolehkah aku meminta satu hal yang lain?" Saat pikiran Edward berkelana Candy kembali berbicara.
Melihat keheningan Edward yang hanya menatap lurus padanya, Candy menjadi gugup dan kembali berkata "Karena setiap kali kau menghisap darahku tubuhku akan bereaksi, maka bisakah aku memintamu untuk melakukannya denganku setiap itu terjadi?"
Edward mendesah panjang, dia tahu gadis ini akan membahas hal ini. Dengan sedikit kedutan di matanya Edward menjawab "Mungkin lebih baik jika aku tidak lagi meminum darahmu!"
Dada Candy sesak saat dia mendengarkan kalimat Edward, dengan air mata yang tertahan dan suaranya yang tercekat dia bertanya "Lalu apa arti dari keberadaanku disini?"
Menyadari perkatannya yang terlalu jelas menolak, Edward tanpa sadar merasakan sedikit iritasi serta tidak nyaman. Dengan batuk ringan tidak berdaya akan raut wajah Candy yang tampak sedih, dia menyerah "Baik, tapi itu jika tubuhmu bereaksi. Jika tidak maka tidak perlu untuk melakukannya!"
__ADS_1
"Terimakasih!" Candy mengangguk pelan dengan hati yang terasa lega. Dia tahu dia menjadi egois dan tidak tahu malu. Tapi jika dia tidak bisa mendapatkan perasaan Edward, maka biarkan dia puas dengan berada disisinya dan merasakan kasih sayang untuknya dengan tubuhnya. Lambat laun kelak dia akan membuat Edward menyadari bahwa mencintainya kembali bukanlah sesuatu yang buruk meski itu akan memberinya banyak rasa sakit dan luka.