
Dalam sebuah ruang aula besar dengan meja panjang di sisi sudutnya, sosok Edward menonjol diantara sosok lainnya. Dia tampak tampan dengan mata berwarna peraknya yang memukau. Aura yang keluar dari tubuhnya memberikan kesan menindas dan tidak bersahabat.
"Tekan Auramu, kau tidak ingin membuat keadaan kacau bukan?" James terkekeh lirih disisinya, dia segera pergi kepertemuan ketika Austina meninggalkannya.
Setelah berada di tempat itu, James tidak bisa untu tidak sedikit kagum melihat sosok Edward.
Sudah lama sekali sejak Edward benar-benar mau menunjukkan batang hidungnya dan berbaur dengan Vampire lainnya. Kesannya yang muncul dalam pertemuan ini tidak bisa untuk tidak memberikan banyak kejutan dan sedikit rasa iritasi untuk Vampire sepuh.
"Ku dengar kau baru saja terbangun, apakah tubuhmu baik-baik saja mengeluarkan Aura seperti itu?"
"Oho, lihat ini... Pak Tua yang biasanya diam tidak peduli menjadi peduli..." James mencibir pada pendatang baru yang mendekat kearahnya dan Edward. Tidak berhenti disana dia menambahkan "Karena Edward baru saja terbangun bukankah itu cukup mudah untuk mengalahkannya!"
Pria Vampire yang mendekat itu menggertakkan giginya mendengar ucapan James, wajahnya menjadi hitam karena menahan amarah.
Melihat Edward yang masih sama, tanpa ekspresi dan tidak peduli, dia menghela nafas panjang sebelum membalas "Itu benar, sangat mudah untuk menusuknya dari belakang ketika dia masih sangat lemah. Bukankah kau tahu itu dengan sangat baik James?"
"Darold Kau!-" James melotot marah, mata berwarna biru miliknya menjadi merah darah seketika. Saat dia hendak menerkam pria itu, langkahnya terhenti akibat suara Edward yang terdengar bosan.
"Apakah pertemuan ini hanya sebuah ajang untuk saling menyindir?"
Dengan kedipan ringan James dan pria Vampire itu tampak kosong dan sedikit konyol.
"Hahaha~~ Kau memiliki selera Humor yang lucu Ed..." Seorang Vampire pria lainnya mendekat kearah mereka bertiga seraya tertawa "Jangan pedulikan mereka, lebih baik kita membicarakan bisnis.."
"Aku tidak memiliki Bisnis denganmu!"
"Jangan kejam seperti itu! Bukankah kau datang kepertemuan ini karena ingin mengetahui tentang serum itu?"
Raut wajah Edward berubah, dia menatap pria Vampire dengan wajah bulat dan dahi lebar di hadapannya tampak berminat.
Melihat perubahan raut wajah Edward, pria paruh baya itu tersenyum. "Kau bisa memanggilku Robert, Robert Adalson. Jadi bisakah kita berbicara sekarang?"
Edward diam tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya mengangguk sebagai jawaban dan mengikuti Robert yang berjalan di hadapannya.
Melihat kepergian Edward dan James yang mengikuti di belakang bersama dengan Robert, Darold menyipitkan matanya tajam. Dengan kerutan di dahinya, dia beranjak dari tempatnya dan menghilang pergi.
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kau dapat mengikuti kami!" Niat membunuh keluar saat Edward melihat sosok James yang telah berada di sisinya untuk waktu yang lama.
"Ayolah, bukankah kita teman? Lagi pula aku tidak akan mengganggu! Siapa tahu kau mungkin akan membutuhkan bantuanku nanti?!"
"Aku bukan temanmu dan aku tidak membutuhkanmu!" Suara Edward menjadi lebih dingin ketika dia menatap James dengan pandangan bermusuhan yang ketara
"Ah, sudah biarkan saja dia ikut! Kami memang mungkin membutuhkan bantuannya!" Robert menengahi
Edward mendengus tidak suka dan mengalihkan pandangan matanya tidak lagi berdebat melainkan fokus mengikuti sosok Robert yang berjalan di depan.
"Kami disini"
Setelah berjalan cukup sebentar, mereka sampai di sebuah ruangan VIP yang di jaga sangat ketat. Robert memperlihatkan tanda pengenalnya dan mendapatkan anggukan kecil sebelum pintu terbuka.
__ADS_1
Mata berwarna perak Edward menatap sekeliling tempatnya berdiri. Seluruh ruangan itu tampak kecil dengan meja persegi panjang di tengah. Ada 5 sosok di dalam yang tengah terduduk dan menatap balik kearahnya.
"Duduklah!" Robert membuka suara dan terduduk di sebuah kursi kosong yang lainnya.
Melihat keheningan Edward yang hanya terduduk, Robert mengalihkan pandangannya kearah sosok lain yang juga Vampire dan kembali membuka suara. "Mari kita mulai pertemuan ini..."
"Robert apa kau yakin akan membawanya kesisi kami?"
"Kita sudah membahas ini sebelumnya dan kalian sudah setuju, jika kalian menolak sekarang itu sudah terlambat!" Robert mengangkat bahunya acuh menjawab Vampire itu.
"Baiklah, mari lupakan itu..." Vampire itu menghela nafas panjang dan melanjutkan "Namaku Darien Adamson! Kami disini telah berhasil menyelamatkan beberapa data dari riset yang dilakukan oleh Stella Miller..."
"Bagaimana kau tahu tentang penelitian serum yang dilakukan oleh Stella Miller?" Edward memotong ucapan Darien. Dia menatap pria itu dengan dingin dan tidak bersahabat.
"Tenanglah Ed!" Robert membuka suara, melihat Edward yang tetap tidak terpengaruh dan tampak marah dia mendesah "Kami memiliki jaringan intelejen yang sangat luas! Dan tidak seperti Vampire diluar sana yang menentang penelitian itu karena takut kemusnahan, kami mendukungnya. Hanya saja kami terlambat untuk menyelamatkan Stella dan Suaminya.."
"Kau bisa yakin, kami bukanlah orang di balik kematian suami istri itu. Jika memang itu kami yang melakukannya, kami bahkan tidak akan meninggalkan hama seperti putri mereka!" Darien menambahkan.
"Jika kau bahkan berani menyentuh ujung rambutnya, aku tidak akan..."
"Tentu saja, kami tidak akan melakukannnya! Bukan berarti kami takut padamu karena melindunginya, tapi melakukan hal itu tidak akan mempengaruhi apapun! Jadi bisakah kita lanjutkan?" Robert memotong ucapan Edward dengan datar.
Melihat Edward kembali terdiam dan tidak lagi tampak marah, pertemuan itu kembali berlanjut.
"Kami hanya dapat menyelamatkan beberapa hal, tidak ada yang bisa di lakukan oleh data sedikit ini. Jadi kami bermaksud untuk melakukan penelitian kembali. Tentu saja disini kami ingin kau membantu beberapa hal, seperti menghilangkan tahi lalat dan lainnya..."
Di sudut tempat duduk lain, James hanya terdiam mengamati pertemuan. Dia tidak bisa untuk tidak membuka pikirannya dengan sebuah realisasi. 'Jadi gadis itu adalah.. sepertinya ini akan menjadi semakin menarik...'
Sialan! Dia lupa bahwa Edward bisa membaca pikiran!
Dengan seringai di bibirnya, dia menatap kearah Edward tanpa rasa bersalah "Aku tidak akan melakukan apapun?!"
.........
Pertemuan itu berjalan lancar dan tidak terlalu lama. Setelah mengatakan beberapa syarat dan hal lainnya, Edward pergi meninggalkan tempat itu dalam sekejap. James juga tidak tinggal terlalu lama dan ikut menghilang.
"Aku tidak mengerti kenapa kau ingin membuatnya berada di pihak kita?" Darien bertanya kearah Robert disisinya yang tengah menutup mata seraya menengadahkan kepalanya di sandaran kursi
"Yah karena dia Vampire pertama dan sangat kuat. Alasan lainnya, kau bisa melihat, jika kita berhasil membuat serum itu dan Edward kembali menjadi manusia, tidak akan ada lagi yang menghalangi kita untuk menguasai Dunia! Yang perlu kita waspadai adalah Organisasi itu.."
"Rubah tua yang licik!" Darien terkekeh pelan tapi raut wajahnya tampak senang dengan ide yang di berikan kawannya.
Di tempat lain, di Sebuah Kastil megah dan indah. Sosok cantik Candy tampak bosan, dia menatap kearah luar jendela kamar miliknya dengan tatapan kosong.
1 minggu berlalu dan dia tetap tidak melihat sosok Edward. Tubuhnya juga telah benar-benar pulih, dan dia harus kembali ke kamar miliknya sendiri walaupun tidak menginginkannya.
Dengan nafas panjang, Candy memeluk tubuhnya lirih. Entah karena rasa kesepian karena tidak dapat melihat sosok Edward atau karena memang udara malam yang dingin. Dia tidak yakin, yang dia rasakan adalah perasaan tidak nyaman dan sedikit gelisah serta merinding kedinginan.
Kastil ini besar dan luas, tapi entah bagaimana Candy seperti mendengarkan sedikit keributan di bawah ruangannya. Dengan kerutan di dahinya tampak tidak yakin, gadis itu menggertakkan giginya keras sebelum melangkah kearah ruang tamu di bawah karena rasa penasaran.
__ADS_1
"Nona, anda tidak bisa datang ketempat ini dan membuat keributan. Tuan Muda tidak akan senang dan marah!" Suara Bibi Jane terdengar sedikit jauh,
Rasa penasaran Candy semakin besar ketika dia terus melangkahkan kakinya semakin cepat keasal suara berada.
"Aku tidak membuat keributan, yang aku lakukan hanyalah memberi salam dan ingin berteman. Kenapa kalian memperlakukanku seolah aku adalah orang jahat disini?"
Langkah kaki Candy terhenti sejenak ketika dia mendengarkan suara indah wanita yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.
Dia menjadi ragu sekarang ketika sebuah pikiran terbesit di benaknya. 'Mungkin sesuatu yang buruk terjadi dan jika dia terlibat, Edward pasti akan marah lagi nantinya'
"Dengarkan aku! Aku benar-benar hanya ingin menyapanya. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Edward bukankah aku berhak untuk bertemu manusia itu?"
'Manusia itu? Dekat dengan Edward?'
Kalimat ini bergema dalam benak Candy. Merasakan sedikit rasa gelisah di hatinya, rasionalitas gadis itu lenyap seketika. Dia melangkah dengan setengah berlari kearah ruang tamu berada.
"Dengan aku melihat manusia itu, aku akan mencaritahunya, apakah dia layak atau tidak untuk Ed? Jika dia melakukan kesalahan yang lebih buruk dariku maka aku akan..."
Sosok wanita itu terhenti ketika dia melihat Candy berdiri tepat diantara pintu ruang tamu besar dimana dia berdiri.
Mata berwarna Amber Candy bertemu dengan Mata berwarna Biru Safir Vampire dihadapannya.
Dia diam dan tidak berkedip ketika melihat sosok cantik Vampire yang tengah menatapnya balik.
"Apa ini?! Kau lebih buruk rupa dari yang kukira!" Sosok Vampire itu mendengus kecil ketika dia melangkah perlahan mendekati Candy.
Urat di dahi Candy menonjol ketika dia mendengarkan ejekan itu. Hanya karena dia itu cantik lalu seenaknya mengatai buruk rupa? Bukankah itu kasar?
"Nona, tolong pergilah!" Bibi Jane membuka suara, dia berdiri di hadapan wanita Vampire itu untuk menghalanginya mendekat "Candy apa yang kau lakukan disini? Cepat kembali kekamarmu!"
"Tidakkah kau merasa malu dilindungi oleh orang tua?"
"Candy cepat kembali ke kamarmu!" Suara Bibi Jane meninggi ketika dia melihat Candy yang tetap berdiri diam di tempatnya "Alfred.."
"Sudah kukatakan aku benci penghalang! Kenapa kalian begitu menyebalkan!"
Wanita Vampire itu berteriak marah ketika tangannya melambai mengeluarkan bilah angin jarum tajam untuk menyerang Vampire yang mengelilinganya serta Bibi Jane.
"Tidak, Bibi...!!!"
"Tina, apa yang kau lakukan disini?" Suara dingin magnetik Edward terdengar, bilah jarum yang terbang itu lenyap seketika dan menjadi kabut
"Kau sudah kembali?" Raut wajah Austina berkerut penuh kejutan, dengan senyuman canggung dia melanjutkan "Aku hanya ingin berkunjung dan menyapa, sudah sejak ribuan tahun terakhir kita bertemu. Ed aku merindukanmu!"
Raut wajah Candy memburuk, dia menatap Edward dan kemudian Vampire wanita di dapannya dengan sedikit rasa masam di hatinya.
"Mari bicara..." Edward menatap Austina dengan raut wajah yang rumit, dia melangkah pergi bahkan tanpa menatap kearah Candy "Jane bereskan kekacauan ini!"
"Baik Tuan Muda..."
__ADS_1
"Lihat Edward, bukankah sepatu ini terlihat cantik? Aku selalu memakainya..." Austina tidak lagi peduli dengan keberadaan Candy dan berlalu mengikuti sosok Edward.
Hati Candy sakit ketika dia melihat pemandangan itu, dia menatap kepergian Edward dan Austina dengan perasaan gelisah dan rasa cemburu di mata indahnya.