
Hari itu berlalu perlahan, Matahari dan Bulan bergantian menyinari Bumi dengan sinarnya.
Candy yang telah mengetahui kebenaran itu perlahan mulai membiasakan dirinya. Dia juga mulai memutuskan untuk mengambil keputusan secepat mungkin.
Aula Ruang tamu keluarga Edward yang luas itu tampak sedikit sempit ketika pemandangan yang begitu berisik dan penuh dengan energi memenuhi setiap sudut.
Edward menatap kearah Candy yang berdiri diam disisinya dengan senyuman lembut. Kedua mata berwarna peraknya tampak enggan untuk berpaling bahkan hanya untuk sesaat dari gadis itu.
Dia merasa beruntung memiliki Candy disisinya, dan Edward juga merasa di berkahi hanya dengan berdiri disisi istrinya itu.
"Lihat itu, mata menjijikkan Edward tampak lembut. Melihatnya saja membuat bulu kudukku berdiri!" Cemoohan datang dari pria dengan mata biru indah. Dia berjalan mendekat dengan lengannya yang terus di elus.
"Kalau begitu jangan melihatku dan lihat Austina. Bukankah itu ide yang bagus James?" Edward membalas acuh dan tetap menatap kearah Candy yang tersenyum manis atas ucapannya.
Wajah pucat James tampak berkerut, jika di lihat secara teliti terdapat rona merah di sekitar telinganya.
James melotot kearah Edward, dia mendengus dan berdiri diam disisinya mengamati sekitar sebelum membuka suara "Jadi Keluargamu mulai mengumpulkan beberapa kerabat untuk kemungkinan terburuk?"
Edward mendesah pelan, dia mengalihkan tatapan matanya dari Candy dan melihat sekeliling.
Aula itu tidak terlalu ramai dan hanya ada beberapa Vampire tidak lebih dari 15, James dan kakanya Anastasia serta sepupunya Damien berada di antara mereka.
Sebenarnya tidak akan ada yang benar-benar terjadi. Dalam penglihatan Cornelia segala hal berjalan lancar, tapi karena itu pula Keluarga ini waspada. Hal yang berjalan terlalu lancar terkadang tidak masuk akal.
"...Kau tahu itu hanya untuk kemungkinan terburuk!" Edward menjawab James dengan sedikit terlambat. Dia melihat Candy dengan sudut matanya berharap gadis itu tidak akan terlalu cemas.
"Yah aku tahu. Tapi kau bahkan tidak menghubungi Austina?"
"Oho, apa ini? Kau kecewa karena tidak bisa melihatnya dan sangat merindukannya?" Edward menggoda James dan kembali mendapatkan tatapan tajam darinya.
"Berhenti bercanda!"
"Apakah aku bercanda?" Edward terkekeh pelan dan melanjutkan "Austina tengah melakukan suatu hal sekarang. Dia bilang akan datang setelah selesai dengan apa yang dilakukannya. Jadi jangan menangis! Kau akan segera bertemu dengannya"
"Edward berhentilah sebelum aku merobek mulutmu!" James tidak tahan lagi dengan nada Edward yang terus menggodanya.
Dia benar-benar ingin marah dan mencekik pria ini. Tapi James tidak benar-benar bisa melakukannya. Itu karena dari dalam lubuk hatinya dia bahagia, dia kembali seperti ribuan tahun yang lalu. Dimana dia dan Edward saling mengejek dan menggoda. Maka dari itu James benar-benar bersyukur atas kedatangan Candy dalam hidup Edward.
__ADS_1
"Kenapa tokoh utama kita hanya berdiri dalam kegelapan dan mendengarkan obrolan bocah?" Damien melangkah mendekat kearah Edward, James dan Candy yang berdiri beriringan.
Melihat pria itu tersenyum ramah, Edward melotot tajam dan menyembunyikan Candy di punggungnya.
"Ed, kau terlalu kekanakan! Aku hanya ingin menyapa gadis manis ini. Bukankah Ed berlebihan Candy?"
"Em, Ed.. kurasa kau.."
Ucapan Candy terpotong oleh suara Edward yang sangat tegas "Menjauh dari Candy, dan bermain saja bersama pasanganmu disana!"
"Anastasia sedang menari dengan orang lain, jadi biarkan aku membawa Candy sebentar"
"Menjauh darinya!" Edward dengan kasar mendorong tubuh Damian untuk mundur.
James menghela nafas panjang dan melangkah maju kedepan diantara mereka berdua "Baiklah bagaimana jika kau menari denganku!"
Setelah kalimat itu meluncur dari bibir James, dia memeluk tubuh Damian dan berlari ketengah Aula untuk menari riang. James sedang dalam keadaan bagus jadi bisa dibilang dia akan melakukan tindakan bodoh yang sangat memalukan.
Edward hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dia kembali menatap Candy yang hanya terdiam dengan senyuman dibibir.
Edward juga telah menjelaskan semua rencananya pada Candy. Rencana tentang masa depan mereka. Gadis itu mengangguk setuju tanpa berfikir panjang.
"Ingin berbicara di tempat yang lebih tenang?" Candy bertanya lembut setelah melihat tatapan Edward yang rumit.
"...tentu" Edward menjawab setelah hening sesaat. Dia tersenyum lembut dan berjalan ketempat yang lebih tenang bersama Candy disisinya.
Malam itu gelap dengan cahaya bulan yang bersinar diatas langit. Lampu berpijar indah menerangi kastil besar itu menjadikan pemandangan malam gelap yang berkilau.
Langkah kaki Candy dan Edward terdengar ringan menelusuri setiap jalan setapak. Hanya ada keheningan yang aneh diantara mereka.
Setelah berjalan cukup jauh dari kebisingan Aula. Candy menghentikan langkah kakinya dan berjalan menuju salah satu Air mancur kecil di halaman. Dia duduk di salah satu gundukan semen yang rata. Malam dingin berhembus dan membuat bulu kuduknya yang samar itu berdiri.
"Kau akan masuk angin nanti. Kenapa kita tidak berbicara di dalam atau tempat yang hangat?" Edward mengerutkan kening, dia melepas jubah tebal yang menutupinya untuk membungkus tubuh kecil Candy.
Gadis itu tersenyum manis kearah Edward sebelum menatap langit malam yang gelap penuh dengan bintang dan bulan. "Pemandangan ini sangat indah. Aku merasa segar!"
Mendengarkan hal itu, Edward tidak mengatakan apapun lagi dan hanya terduduk di sebelahnya. Dia tidak menatap bintang di langit dan malah menatap wajah Candy yang mulai memerah karena dingin.
__ADS_1
"Katakan Ed, nama apa yang bagus untuk anak perempuan kita?"
Edward tersentak sejenak dari pertanyaan tiba-tiba itu. Dia mengalihkan pandangannya kearah taman dan menjawab "...Aku tidak yakin, bagaimana menurutmu?"
"Biarkan aku berfikir sejenak..." Mata berwarna amber Candy bersinar di kegelapan ketika dia mulai diam dan memikirkan banyak hal di benaknya.
Dalam beberapa hari ini dia sudah mendengar banyak hal dan juga mengetahui rencana yang akan mereka lakukan.
Candy tidak keberatan, dia bahkan langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Itu karena selama dia bisa bersama Edward, apapun akan dia lakukan. Walaupun nyawanya sendiri berada dalam bahaya.
Edward sendiri sedikit ragu dengan rencana itu, tapi dia tidak bisa memikirkan rencana yang lain. Maka keputusan akhirnya di buat. Segala hal akan di lakukan ketika utusan dari Dark Walker datang berkunjung.
Banyak hal yang harus di lakukan, Edward bahkan harus menyelesaikan urusannya dengan Robert, tapi tentu saja segalanya akan di lakukan secara perlahan.
"Bagaimana dengan Aurora?" Candy mengalihkan pandangannya dari bintang dan Bulan untuk menatap kearah Edward dan menambahkan "Aurora terdengar indah bukan?"
"Itu sangat indah..." Edward mengangguk setuju dengan senyuman dibibir. Seolah ragu dia terdiam sejenak lalu melanjutkan "Candy, kau tahu. Mungkin saja kita hanya perlu untuk melarikan diri bersama. Kau akan tetap dapat menjadi Manusia-"
"Ed!" Candy memotong ucapan Edward, dia menyentuh pipi pucat Edward dengan jemari tangannya yang memerah karena dingin. Sorot matanya menujukkan ketegasan yang belum pernah dia lakukan "Aku akan menjadi Vampire dan kau yang akan merubahku! Percayalah aku akan baik-baik saja! Aku percaya itu karena aku mempercayaimu!"
Tenggorokan Edward terasa kering, dia menatap mata indah di hadapannya dan mengangguk setuju. Tidak ada lagi keraguan di mata berwarna perak Edward. Dia akan melakukannya, dia akan merubah gadis yang paling berharga untuknya itu menjadi Vampire.
Walaupun ini adalah pertama kalinya Edward melakukannya, tapi dia tidak merasa gugup sama sekali. Dia hanya merasa sedikit sedih. Tapi, itu tidak dapat di hindari! Untuk kehidupan yang tenang di masa depan, Candy perlu menjadi Vampire dan menyingkirkan keturunan darah yang di berikan oleh Stella. Setelah itu mereka dapat kembali lagi menjadi Manusia di masa depan dengan Sampel darah yang telah di simpan.
Dalam penglihatan Cornelia, Candy berhasil menjadi Vampire. Dia mengalami masa sulit dalam tubuhnya dan hampir tidak sadarkan diri beberapa hari. Tapi itu setidaknya berhasil.
"Katakan lagi, bagaimana kau akan merubahku?" Candy tersenyum kecil dengan matanya yang mulai menyipit kearah Edward "Apakah kau akan merubahku menjadi Vampire dengan kita melakukan itu?"
"Ha-" Edward tertawa geli, dia mencium bibir kecil Candy dan melanjutkan "Melakukan apa?"
Wajah Candy yang merah karena dingin menjadi lebih merah padam. Dia mendengus kesal dan kembali menatap bulan dan bintang "Dasar Cabul!"
"Baiklah aku cabul! Lalu apa? Kau adalah milikku!" Edward memeluk tubuh Candy dengan erat dan mendaratkan ribuan ciuman.
Kedua orang itu saling mendorong dan bercanda layaknya anak kecil di tengah air mancur yang indah di malam hari.
Merasakan dingin yang semakin menusuk, Edward menggendong tubuh kecil Candy layaknya tuan putri "Ayo kembali, hari mulai gelap dan dingin..."
__ADS_1