My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
16 Ketulusan hati dan Besarnya Perasaan


__ADS_3

Kabut putih terlihat ketika embun ikut menetes di denaunan yang basah. Hujan rintik-rintik tampak lembut ketika jatuh menimpa tanah.


Sepasang mata berwarna biru safir menatap sekeliling tempatnya berada dengan sedikit kesal. Dia mengerucutkan bibirnya yang tampak merah terang dan bergumam seorang diri "Hujan sialan ini hanya membuatku kotor! Sepatuku jadi terlihat jelek sekarang. Benar-benar sial!"


Dia mengusap sepatu merah cantik miliknya yang kotor akibat tetesan air hujan dengan kesal sebelum melangkahkan kakinya kembali.


Melihat jauh kedepannya berada gadis itu mendecakkan lidahnya kesal "Edward terlalu berlebihan! Apakah dia harus menyegel seluruh hutan?! Aku harus memutar kesegala arah untuk menghindari banyak jebakan! Pria terkutuk itu, aku akan memakannya jika dia muncul!"


Terus mengoceh dan tidak berhenti, gadis itu melangkah semakin dekat kearah kastil Edward berada. Saat dia telah sampai di depan gerbang besar pintu masuknya, dia menjentikkan jarinya dan membuat Gerbang kokoh itu bergetar kecil.


"Nona, Anda tidak bisa membuat masalah lagi bukan?" Suara Alfred terdengar ketika dia muncul di hadapan wanita itu dengan sedikit membungkuk sopan.


"Aku sudah bilang bahwa akan kembali berkunjung! Sekarang buka gerbang jelek ini dan panggilkan aku Manusia rendahan itu!"


"Nona Austina itu..."


"Aku tidak akan memakannya, aku juga tidak akan menggorengnya! Aku hanya ingin berbicara! Sekarang, buka gerbang jelek ini dan tuntun aku untuk bertemu dengan manusia rendahan itu!" Austina membentak marah ketika melihat Alfred yang tampak ragu. Suaranya bergema dalam keheningan.


"Biarkan dia masuk!" Bibi Jane menjawab keraguan Alfed. Pria tua itu mengangguk ringan dan membuka gerbang yang telah di tutup rapat dengan sihir.


"Tolong jangan membuat keributan hanya karena Tuan Muda tidak ada di tempat?! Jika hal itu terjadi kami tidak akan segan" Bibi Jane kembali bersuara ketika dia menatap Austina yang kini tengah berada di hadapannya.


Wanita itu tidak menjawab perkataannya dan hanya mendengus kasar sebelum mengikuti Bibi Jane di belakangnya.


Melihat Aula yang luas itu kembali setelah beberapa saat tidak melihatnya, Austina menghela nafas lirih penuh dengan penyesalan.


Dia terduduk disalah satu tempat duduk tanpa menunggu ucapan Bibi Jane dan berkata "Kenapa kalian tidak menyiapkan minuman untukku? Darah, Kalian pasti memilikinya, aku ingin satu botol penuh, sepenuh botol anggur! Dan panggilkan Manusia hina itu untuk menemuiku secepatnya!"


Kerutan di dahi Bibi Jane bertambah banyak ketika sudut matanya menatap gadis itu dengan kedutan. Dia menghela nafas dan berbicara dengan giginya yang terkatup "Kalau begitu, tolong tunggu dengan tenang di tempat ini sebentar..."


Tidak lama setelah kepergian Bibi jane seorang pelayan Vampire wanita membawakan sebuah minuman dalam botol yang tampak seperti anggur merah.


Austina menangguk ringan dan meneguk minuman di gelas ketika suasana hatinya menjadi lebih baik. Dia menunggu dengan tenang untuk beberapa saat hingga sosok gadis yang ingin dia temui muncul.


"Kita akhirnya bertemu!"


Tubuh Candy menegang ketika dia menatap sosok anggun Austina yang tengah terduduk dengan minuman di tangannya.


Candy baru saja bisa bangkit dari tempat tidur setelah beristirahat selama 2 hari. Dia menjadi lebih terbiasa oleh rasa sakitnya dan sembuh lebih cepat dari saat pertama kali mereka melakukannya.

__ADS_1


Dia tidak pernah berharap bahwa Austina akan datang kembali berkunjung dan menemuinya. Dan hal yang membuatnya lebih terkejut adalah, Bibi Jane tidak melarangnya dan malah membiarkannya berbicara dengan Austina. Tentu saja dengan syarat bahwa Bibi Jane harus tetap berada di sisinya pada saat itu.


"Orang Tua ini seperti sebuah parasit! Dia bahkan tidak mau meninggalkanmu sendiri di dalam kastil!" Austina mencemoh kasar ketika dia melihat sosok Bibi Jane yang berdiri tepat disisi Candy terduduk "Terserahlah lupakan saja, aku tidak peduli...."


Austina melambaikan tangannya acuh tidak lagi peduli. Dia mengalihkan pandangannya pada Candy yang terduduk dan mengerutkan kening.


Mata berwarna biru safir Austina berubah menjadi merah darah seketika saat tatapannya menjadi menusuk dan menerawang kearah Candy berada.


"Nona, Jangan bertindak gegabah!" Suara Bibi Jane dingin ketika dia menjadi waspada saat melihat perubahan mata Austina.


Mendengarkan hal ini, kerutan di dahi Austina menjadi semakin dalam. Dia menghela nafas panjang dan menenangkan dirinya ketika matanya mulai tampak normal.


"Kalian tidur bersama?!" Suaranya berat saat kalimat itu keluar dari bibir merahnya.


Wajah Candy terpelintir jelek, dia tidak tahu harus menjawab apa. Lagi pula bagaimana mungkin gadis di hadapannya ini tahu? Apakah dia hanya menebak dan menggertaknya?


"Aku melihat tanda gigitan di lehermu, begitu dalam dan banyak! Jadi, apa kalian tidur bersama?" Sekali lagi Austina bertanya ketika nada suaranya terdengar lebih berat.


Candy terdiam mendengarkan hal ini, jemari tangannya menutupi bagian lehernya yang terbuka dengan sedikit rasa malu.


"Mereka tidur bersama!" Melihat keheningan Candy, bibi Jane menjawab sebagai gantinya.


"Dia tidak tergoda dan bodoh! Edward hanya mencoba membuka hatinya kembali. Dan aku akan memastikan bahwa keputusannya tidaklah salah dan bodoh!" Candy akhirnya membuka suara ketika dia tidak suka dengan sikap Austina.


"Jadi dia tidak bodoh?" Nada suara Austina mengejek ketika melihat Candy yang tampak marah "Kalau begitu kau yang bodoh!"


Wajah cantik Candy tenggelam seketika saat dia menyadari gadis di hadapannya ternyata lebih mengerikan dari yang dia kira.


"Baik mari lupakan tentang orang bodoh disini! Pada akhirnya kita semua orang bodoh!" Austina menghela nafas panjang, dia menatap kosong pada gelas di tangannya sebelum kembali berbicara "Apa kau sudah mendengar tentang Dongeng Kisah Cinta antara Vampire dan Manusia?"


Mendapatkan keheningan dari Candy, wajah Austina terangkat dari gelas kosong itu untuk melihatnya. Dia tersenyum sinis ketika menyadari gadis dihadapannya tahu tentang kisah itu.


"Itu adalah Kisah tentang aku dan Edward!"


Wajah Candy menjadi kaku ketika hatinya berdebar kencang dengan rasa sakit yang menusuk.


"Sekarang katakan padaku! Apakah kau akan berakhir sepertiku?" Austina kembali bersuara ketika dia melihat raut wajah Candy yang sedikit memburuk.


Mata berwarna amber Candy berkedip ringan ketika dia menatap lurus pada mata berwarna biru safir Austina. Kilatan rasa sakit dan juga kesepian terbesit di mata indah Austina.

__ADS_1


Candy tersenyum tipis ketika dia berkata "Aku tidak akan pernah berakhir sepertimu! Tidak akan pernah!"


"..." tatapan mata Austina bergetar ketika dia melihat keyakinan dalam pandangan Candy, dia menelan ludahnya kasar sebelum kembali berkata "Jangan terlalu yakin hanya karena hal itu belum terjadi! Dan lagi, apa kau akan tetap berada disisi Edward dengan sosokmu sebagai manusia? Kau akan menjadi keriput, meninggal seorang diri, Edward akan melupakanmu dan menemukan orang lain!"


Mendengarkan hal ini, jantung Candy berdetak keras dengan rasa gelisah. Dia tahu itu akan terjadi dimasa depan, tapi walaupun begitu Candy tidak suka mendengarkan hal ini dari gadis di hadapannya!


Walaupun semua hal itu akan terjadi kelak, lalu apa? Candy tetap akan pada keputusannya! Dia akan selalu menjadi Manusia yang mencintai Edward dan Meninggalkannya dengan tetap menjadi Manusia yang terus mencintainya.


Jika nanti setelah kematiannya Edward menemukan orang lain untuk di cintai, maka Candy akan bahagia. Itu artinya Edward tidak akan lagi kesepian dan sendiri. Akan ada orang lain yang bersamanya menggantikan dirinya.


"Jika itu terjadi, maka... Bukankah itu bagus? Edward bisa terus hidup tanpa rasa kesepian..." mata berwarna amber Candy bersinar dengan penuh ketulusan ketika kalimat itu keluar dari bibirnya.


Austina tertegun sejenak dengan jawaban yang tidak pernah dia duga. Gadis itu terdiam kaku cukup lama ketika mulai mengingat kenangannya bersama Edward.


Melihat kembali kemasa lalu, hati Austina terasa sakit. Dia mencintai pria itu tapi tidak pernah benar-benar memikirkan perasannya. Yang Austina pikirkan hanya tentang dirinya yang menjadi begitu egois dan serakah.


Edward tulus mencintainya dan tidak pernah mengharapkan apapun, tapi Austina begitu jahat hingga melukai perasaannya dengan sangat buruk.


Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Austina. Dia menatap gadis di hadapannya dan merasakan rasa rendah diri yang begitu buruk. Jika saja dia seberani dan seteguh gadis itu, mungkin sekarang dia dan Edward tidak akan berakhir terluka.


Melihat tatapan terkejut Candy karena tangisannya. Austina mengusap air mata yang jatuh di pipinya sebelum berkata "Ada debu masuk kemataku!"


"..." Candy terdiam mendengarkan alasan tidak masuk akal Austina sebelum dia menjawab "Aku tidak akan memberikan Edward walaupun kau menangis dan mencoba merubah masa lalu kalian!"


Mendengarkan kalimat balasan Candy yang tidak dia harapkan, Austina tertawa kecil "Begitukah? Maka kau perlu berusaha dengan sekuat tenaga untuk memikat Edward. Di bandingkan denganku kau hanyalah itik buruk rupa yang hanya memiliki Darah Manusia sebagai pesonamu!"


Candy menggertakkan giginya kasar. Dia menyadari benar apa yang dimaksud oleh Austina. Kali ini Edward mungkin luluh dan menuruti keinginannya hanya karena dia adalah makanannya. Edward bahkan tidak akan terpengaruh oleh wajah jeleknya, Austina jauh lebih cantik di bandingkan wanita manapun!


"Aku tahu itu, tapi tetap saja aku tidak akan kalah!"


"Kalau begitu semoga berhasil!" Austina berkata acuh, dia bangkit dari tempatnya terduduk "Jangan bertidak bodoh lagi lain kali, jika kau melakukannya mungkin Edward akan jauh lebih terluka dari pada saat aku mengubah diriku!"


Dia melangkah untuk pergi meninggalkan kastil itu ketika langkahnya terhenti sejenak dan menatap kembali kearah Candy "Manusia hina! Lebih baik kau menjaga dirimu agar tidak terluka atau terbunuh karena hal sepele! Jika hal itu terjadi Edward akan menjadi gila! Dan untuk nenek tua disana... Lakukan tugasmu dengan lebih baik lagi!"


Setelah kalimat itu keluar, sosok Austina benar-benar lenyap seolah terbawa oleh hembusan angin.


Candy mendengus kesal pada gadis egois yang hanya datang dan pergi sesuka hatinya setelah mengatakan apapun yang di inginkannya. Dia terus duduk dan menggerutu kesal tidak jelas.


Bibi Jane terdiam di tempatnya, dia menatap kearah kepergian Austina dengan sedikit rasa simpati dimatanya. Dengan desahan kecil dia mengalihkan tatapannya pada sosok Candy yang terduduk.

__ADS_1


Dia tidak pernah mengharapkan Candy yang selalu gegabah dan bodoh akan memiliki hati yang begitu luar biasa. Pilihannya untuk mendukung gadis itu berada disisi Tuan Mudanya adalah pilihan Terbaik yang pernah dia lakukan.


__ADS_2