My Own Life

My Own Life
Episode 10


__ADS_3

Keesokan harinya, 09.00


Aku benar-benar membawa Alphard hitam ku ke Metro. Pertama-tama, kami mengunjungi rumah Go I Po, lalu ke rumah Ape Atik. Di sana kami sampai bervideocall dengan ko Anto yang rupanya sudah 16 tahun berada di Korea. Tapi tak sekalipun aku pernah bertemu atau berpapasan dengannya. Baru, terakhir kami pergi ke rumah Tua I Po.


Selama perjalanan pulang dari Metro banyak hal yang kami bahas. Ada saja topik perbincangan diantara kami. Besok aku berencana untuk pergi ke Kalirejo tepatnya desa Tiasbangun, sepulang magang. Aku ingin mengunjungi Pak Selamet dan Ibu Susan, orang tua asuhku kelas 11 dulu. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka.


***


Senin, 13.00, ruang magang.


~Author POV.~


Sesuai rencana Irene kemarin, hari ini ia pergi ke Kalirejo. Tentunya ia naik tol ke sana. Diperlukan waktu sekitar 4-5 jam untuk tiba di Kalirejo dengan kecepatan sedang. Namun, Irene mempercepat laju mobil nya menjadi 100 km/jam begitu ia sudah memasuki jalan tol. Sekitar 2 jam ia perlukan dari lokasi magang hingga tiba di rumah keluarga pak Selamet dan Ibu Susan.


15.00, rumah keluarga asuh Irene.


"Bapak, ibu. Permisi." sapa Irene sambil memasuki rumah. Ibu Susan yang menyambut kedatangan Irene terkejut. Irene yang melihat kehadiran Ibu Susan langsung menyapa. "Gimana kabar ibu? Sehat-sehat saja kan? Maaf saya baru bisa ke sini sekarang." ucap Ireen tak lupa senyuman ia suguhi kepada ibu Susan.


Irene memang tidak lama berada di Tias Bangun. Sepulangnya dari Tias Bangun ia langsung ke perusahaannya. Tentu perusahaan cabang karena pusatnya ada di Los Angeles (L.A) Amerika Serikat. Luci International Company.


Lovist International Company, 18.35


"Apakah sudah ada perkembangan dari project yanv sedang dibuat oleh Celena?" tanya Irene tanpa basa-basi. "Sejauh ini nona Celena baru bisa menyelesaikan 30% dari project yang sedang ia buat nona." ucap Aura pelan. "Apa saja yang ia lakukan sampai-sampai hanya 30% yang bisa ia buat dalam waktu 2 bulan ini!?" sentak Irene marah.


"Sa... Saya tidak tahu nona. Nona Celena selalu bersama dengan nona Lina dan tuan Krist selama ini." jelas Aura terdengar kaget sekaligus takut. Irene pun menghela nafas pelan. "Panggil ketiga orang itu  ke ruanganku sekarang!" titah Irene tegas. "Baik, nona." ucap Aira segera pergi untuk memanggil Celena, Lina, dan Krist untuk pergi ke ruangan Irene.


***


Ruang CEO, Lovist International Company, 18.40

__ADS_1



"Apa yang sekana ini kalian lakukan? Project yang saat ini sedang kalian kerjakan sudah pernah kubuat dalam waktu 2 bulan! Sedangkan kalian? Kuberi kalian project yang lebih mudah dari yang kubuat dulu dalam tempo 3 bulan sampai saat ini baru jadi 30% saja!?" Bentak Irene marah besar.


"Ma... Maafkan kami nona!" ucap Celena mewakili Krist dan Lina dengan ketakutan. "Ini sudah yang ketiga kalinya kalian membuat kesalahan di kantor ini. Aku sudah tidak dapat menoleransi lagi apa yang telah kalian perbuat. Aku tidak ingin masalah ini semakin merembet hanya karena kalian tidak dapat menyelesaikan nya sesuai dengan deadline yang kuberi. Project kalian akan kuberi ke orang lain. Dan kalian bertiga, kupecat!" ujar Irene tegas.


Celena, Lina, dan Krist merasa seolah-olah dunia mereka telah runtuh. Terutama bagi Celena. Ia langsung jatuh bersimpuh di hadapan Irene. Ia tah menyangka kalau Orene sampai mendepak mereka bertiga keluar dari perusahaan. Irene yang melihat Celena yang jatuh bersimpuh di hadapannya tidak menunjukkan reaksi apapun selain berwajah datar.


"Sekarang, aku minta kalian bereskan barang-barang kalian di sini. Aku tak ingin melihat wajah kalian lagi di kantor ini maupun di kantor yang lain nya." ujar Irene dingin. Lina dan Krist pun terpaksa harus menggeret Celena pergi dari ruangan Irene karena ia bersikukuh untuk tetap berada di sana. Ia terlalu syok mendengar penuturan dari Irene. Setelah Celena, Lina, dan Krist pergi, Irene pun menghela nafas berat dan menjatuhkan tubuhnya di kursi meja kerjanya.


"Karell, pastikan ketiga anak itu tidak pernah menginjakkan kakinya di kantor ini lagi. Pastikan perusahaan yang lain juga mendengar dan melakasanakannya." ucap Irene regas. "Baik nona." ucap Karell sopan. Irene memang sudah cukup bersabar dengan orang-orang seperti Celena, Lina dan Krist. Irene memang tegas tapi, ia juga masih memiliki sisi yang penyabar. Hanya saja, sepertinya, saat ini kesabarannya sedang liburan.


***


20.00, Hotel Novotel


"You're okay. But not for your clerk." ucap Larry dingin. "What do you mean Larry? My clerk is still okay. You can see it by yourself. I can control it." ucap Irene tersinggung dengan ucapan Larry barusan. "Up to you!" ucap Larry tak peduli.


Irene pun menghela nafas pelan. "I know you're worried about me. Trust me, I can handle it. I know when to stop it." ucap Irene mulai terdengar melembut.  "You know. But, you don't care about that. Your body is tired okay? Please, don't do this again tomorrow." ucap Larry terdengar khawatir. "I have time to have some rest. Sunday. I have full rest day at Sunday. Don't be angried. I always be like this." ujar Irene santai dan terdengar baik-baik saja.


***


Keesokan harinya, 12.05


Rencana awalnya, sepulang magang Irene akan langsung pergi ke Lovist International Company tapi, Larry langsung menggeretnya ke Hotel untuk istirahat. Jadilah, Irene saat ini berada di Hotel dengan mengecek pekerjaannya melalui tabloid ditemani dengan tatapan tajam  nan mematikan dari Larry.


"Stop saw me like that. I am not your enemy." ucap Irene tanpa melepas pandangannya dari tabloid di tangannya. Larry pun menghela nafas pelan. "Can you stop see your tablet now?" tanya Larry datar. "I will stop after my job was clear for today." jawab Irene tenang. "What job?" tanya Larry seperti siap menginterogasi Irene lebih lanjut lagi. "You don't know about it." jawab Irene tak peduli.


"I will know if you tell me about your job." ucap Larry tegas. "And, I don't want to tell you about my job." balas Irene sama sekali tidak merasa terusik. Larry pun semakin kesal menatap Irene. "Stop see me like that. I am not sick. I will be okay. I already told you about that. More than three times. Calm Larry. Calm. I will take soke rest after I finish this, okay." ucap Irene pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tabloid di tangannya itu.

__ADS_1


***


Sesuai janji, setelah Irene menyelesaikan pekerjaannya hari ini ia akan langsung beristirahat. Sebelum Irene sempat menutup tabloidnya, Larry sudah merebutnya begitu saja dari tangannya. "Hey, what do you want!?" ucap Irene sedikit kaget dan tidak terima karena tabloidnya diambil secara paksa dari tangannya, tanpa persetujuan darinya pula.


"Go eat your snack. I will give back your tablet tomorrow morning." ucap Larry tegas. "Come on. Don't do that okay. All my file was in there. My job file. Give me back my tablet and tonight I don't do my job. Or, I will do my job in 24 hours?" ancam Irene serius. Larry pun menyeringai senang.


"How you can do your job if your tablet in my hand?" tantang Larry Tenang. "Oh... Of course I can. My job is not also in there. I safe my job in many place." ucap Irene lengkap dengan smirk-nya menghiasi wajah manisnya. Larry pun menghela nafas pelan. "Why you have so many idea in your head, huh?" ucap Larry terlihat kesal. "Because, if I don't have many idea in my head, how I can finish my job, if my job had some problem?" balas Irene tenang.


Ngomong-ngomong, Larry sama sekali tidak tahu kalau Irene adalah seorang CEO dari perusahaan besar dan terkenal dalam dunia bisnis. Ia terlalu malas untuk sekadar melihat berita wawancara Irene yang kadang suka di tayang kan di televisi. Ia lebih senang menonton film di banding kan dengan Berita.


***


19.00, Novotel hotel's


"Kapan kamu mau melepas tablet itu huh? Ayo ini sudah malam apa kamu tidak lapar?" tanya Irene bingung. "What?" tanya Larry bingung. Irene lupa kalau Larry sedikit sulit berbicara menggunakan bahasa Indonesia. "I just ask you, when you want to get off that tablet, huh? Come on... This already dinner time do you not hungry?" tanya Irene mengulangi pertanyaannya lagi tapi kali ini menggunakan bahasa Inggris.


Perlahan Larry menaruh tablet di tangannya di meja nakas yang terletak cukup jauh dari jangkauan Irene. Irene pun menghela nafas pelan. Ia berjalan menuju pintu sambil mengenakan sandal hotelnya. "Don't forget to bring our card room." pesan Irene laku pergi terlebih dahulu menuju restoran di lantai terbawah hotel. Tak lama kemudian, Larry pun menyusul Irene ke restoran tak lupa ia juga membawa kartu kamar merena sesuai pesan Irene tadi.


*****


1446 words


Maaf baru bisa update sekarang


23 Januari 2021


Jangan lupa vote, comment, like, dan favoritekan yaa


Berani baca berani vote

__ADS_1


__ADS_2