My Own Life

My Own Life
Episode 19


__ADS_3

Akhirnya, Aleng pun mengangguk pelan sebagai tanda bahwa ia setuju untuk tinggal di Mansion Irene. Irene yang paham dari arti anggukan tersebut pun tersenyum. "Baguslah kalau papai mau tinggal di sini. Oh iya, kalau papu masih mau kerja di Areal ga pa pa. Di sini banyak kawan main buat Angel sama koko. Seperti Tiara atau Theo yang seumuran. Dan satu lagi, aku punya hadiah untuk papi. Besok pagi ke garasi aja di sana uda aku siapin hadiahnya. Jangan di lihat dari harga. Emang mahal tapi, seenggaknya itu berguna untuk pekerjaan papi nanti. Pakai aja apa yang aku kasih. Lagipula, pajak kendaraan papi juga mati kan? Tenang aja pajak mobil yang ini udah aku urus kok." jelas Irene panjang lebar. Aleng sebenarnya ingin menolak tapi, karena Irene tipikal orang yang sulit di bantah ia pun mengangguk.


Irene pun tersenyum kecil. "Jangan kayak gitu, pi. Ini baru 10% dari rasa balas budi ku ke papi. Nah, untuk baju segala macam apa aja yang nau di bawa?" tanya Irene kembali ke topik awal. "Yang pasti baju. Kulkas dari Acek Ahan, Tv di gudang itu yang rusak. Sama AC aja." jawab Aleng sambil mengingat-ingat. "Ya udah bseok di atur." ucap Irene santai. "Langsung besok pindahannya? Bukannya kata kamu 3-4 hari?" tanya Aleng kaget. "Sebenarnya lebih cepat lebih baik sih. Tapi ya sudahlah. Besok papi sama koko beres-beres baju. Untuk Angel itu nanti urusan gampang. Aku yang urus nanti. Besok lusa aku jemput." ujar Irene tenang. Aleng pun mengangguk paham. Sekitar pukul 20.00, Irene pun mengantar mereka pulabg ke rumah kontrakan. Tentu supir pribadinya lah yang mengantar karena, saat itu Irene sudah tenggelam dengan pekerjaannya.


***


Keesokan harinya, 07.00, Ruang CEO, Lovist International Company


Pagi-pagi sekali Irene sudah tiba di kantornya. Apalagi jika bukan ia mengencani berkas-berkas di mejanya yang sudah terlihat seperti gunung Everest.? Ia pun langsung tenggelam ke dalam pekerjaannya yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan. "Cintia, jadwal apa saja yang harus kuhadiri hari ini?" tanya Irene tanpa mengalihkan  pandangannya dari berkas di tangannya. "Hari ini anda akan kedatangan tamu dari Reimura Group yang diwakilkan secara langsung oleh Tuan Reimura Kensuke, CEO baru mereka pukul 12 siang. Lalu, pukul 16.00 anda diundang ke acara ulang tahun salah satu teman SMA, Alexander Justin di Liep's Cafe. Dan terakhir, Tuan Lanrante mengundang anda makan bersama di Digger's." jelas Cintia panjang lebar. "Ada apa Ken kemari? Sejak kapan ia menjadi CEO? Dan untuk apa Michael Lanrante mengajakku bertemu di Digger's?" Tanya Irene sekaligus.


"Reimura-san ingin membahas sesuatu yang bersifat pribadi dengan anda. Ia sudah secara resmi menjadi CEO Reimura Group sejak seminggu yang lalu. Dan, tuan Lanrante ingin membahas tentang kerjasama Lovist International Corporation yang 3 bulan lalu anda batalkan karena kekecewaan yang telah mereka lakukan." jelas Cintia menjawab semua pertanyaan yang Irene lontarkan tadi. "Soal Ken itu cukup. Soal Lanrante itu, bisakah kamu membatalkan pertemuan nya?" tanya Irene sambil mengurut keningnya, mendengar mama Lanrante sudah membuatnya pusing dan tidak fokus dengan pekerjaan di hadapannya.


"Saya sudah beberapa kali mencoba membatalkannya namun, tuan Lanrante terus-menerus ingin bertemu dengan anda." ujar Cintia pelan. Irene pun menghela nafas lelah. "Ya sudah. Katakan padanya aku akan tiba di Digger's pukul 8 malam nanti." putus Irene akhirnya. Irene harua bisa mengurus Lanrante itu secepatnya, ia sudah direpotkan terus oleh perusahaan tak berguna itu.


***


12.00, Ruang meeting, Lovist International Company


"Jadi, ada masalah apa kamu ingin menemui ku, Ken?" tajya Irene terdengar tenang. "Aku hanya berkunjung sebenarnya. Lagipula, kebetulan aku juga sedang ada keperluan di sekitar sini. Karena aku sudah mendengar berita mengenai kepulanganmu ke Indonesia, ya sekalian saja aku mampir." jelas Ken santai. "Jadi, ini yang kamu maksud dengan 'membahas sesuatu yang pribadi'?" tanya Irene sambil bersungut-sungut kalau tau seperti ini ia tidak akan meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk tadi.


Ken yang melihat wajah Irene mulai memberengut pun terkekeh pelan. "Maaf, maaf. Sepertinya aku kemari di saat yang kurang tepat. Bagaimana jika kita mengobrol di ruanganmu saja? Kamu sedang punya banyak pelerjaan bukan?" tanya Ken setelah meredakan kekehannya. Walau dalam hati dongkol setengah mati, Irene tetap memganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan usulan Ken tadi. Mereka pun berjalan ringan ke arah ruangan Irene di lantai teratas.

__ADS_1


***


Setibanya di ruangan Irene, Irene langsung kembali berkencan dengan berkas-berkas di mejanya sambil sesekali mengobrol ringan dengan Ken. Ken juga terkadang terfokus pada handphone miliknya. Sesekali Ken mendapati Irene menghela nafas berat atau memijat keningnya. Melihat hal itu, membuat Ken tersenyum kecil. Sepertinya Irene benar-benar perlu bantuan. Dengan perlahan ia bangkit dari posisinya dan menghampiri Irene.


"Perlu bantuan?" tawar Ken dari balik punggung Irene. Seketika Irene langsung terlonjak kaget. Ia tak tahu sejak kapan Ken berada di balik tubuhnya. "Tidak. Aku tidak ingin merepotkanmu." ujar Irene lalu mengembalikan fokusnya kepada berkas di tangan kirinya. Tanpa banyak bicara, Ken pun mengbil berkas dari tangan Irene tersebut dan membacanya dengan rinci dan cepat. Tangannya juga sigap. Dengan sebuah pensil Ken mencorat-coret kertas tersebut. Lalu, ia pun mengembalikannya kepada Irene tak lupa senyum lebar ia berikan pula.


***


13.00, Ruang CEO, Lovist International Company


"Harusnya kamu tak perlu sampai mengerjakan bagianku." ucap Irene merasa tak enak hati. "Tak masalah. Lagipula, sepertinya tadi kamu cukup kesulitan jadi, aku membantumu sedikit." balas Ken tenang." ya dan berakhir dengan kamu membantuku hampir sepertiga bagian dari tumpukan berkas ini." sungut Irene sambil cemberut kecil. Ken hanya tertawa kecil sambil menggaeuk tengkuknya yang tak terasa gatal.


***


Sekitar pukul 14.00 Ken pun pamit dan pergi dari kantor Irene. Sementara itu, Irene langsung melanjutkan pekerjaannya dan sekitar pukul 15.00 ia pulang ke mansion karena ia harus bersiap untuk pergi ke Liep's Cafe untuk mengikuti acara ulang tahun salah satu teman sekelas SMA nya dulu, Alexander Justin. Yah, walau ia malas namun, karena ia sudah diundang ke acara tersebut tak ada salahnya bukan menghadirinya walau hanya sebentar. Irene tak pernah hadir terlalu lama di dalam pesta. Ia tak suka dengan suasana pesta yang menurutnya sangat bising. Tetapi, untuk beberapa alasan ia harus bisa bertahan di dalam acara tersebut, walau dengan amat sangat terpaksa sih.Seperti berada di dalam acara pernikahan saudaranya.


Pukul 16.00, Irene pun tiba di Liep's Cafe. Tempat diadakannya ulang tahun Justin. Sebagian besar tamu undangan sudah tiba dan sepertinya Irene tiba paling akhir. 'Sepertinya aku tak perlu terlalu lama di sini.' bstin Irene lega. "Tumben lo datengnya telat." ucap Rini bingung. "Sengaja sih sebenernya. Hehehe. Gue males mau dateng ke acara acara kek ginian. Paling cuma sebentar doang. Ini aja keknya jam 5 gue udah harus pergi lagi. Masih ada urusan yang belum selesai." jelas Irene sambil terkekekh kecil.  Rini pun menGanggukkan kepalanya paham.


***


Sesuai perkataan Irene tadi, sekitsr pukul 17.00 Irene pun pulang. Ia susah tidak tahan lagi berada terlalu lama di dalam acara pesta ulang tahun itu. Ds An sekitar pukul 17.30 ia susah tiba di Lovist International Company. Yang membuat dirinya seketika terkejut adalah sosok Ken yang entah sejak kapan sudah berada di dalam ruangannya. "Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Irene setelah rasa terkejutnya hilang. "Sekitar 30 menit yang laku seingat ku." jawab Ken sambil mengangkat kedua bahunya sekilas. "Oh... Enaknya kamu sudah bisa pulang. Aku baru akan pulang pukul 8 malam nanti. Aku masih harus menghadiri pertemuan yang lain." jelas Irene sambil menghela nafas pelan. Ia susah lelah rqpi, pekerjaannya membuatnya harus tetap membuka mata dan memforsir tenaganya.

__ADS_1


"Dimana?" tanya Ken penasaran. "Digger's." jawab Irene santai. "Bertemu dengan siapa?" tanya Ken mulai curiga. "Lanrante Corporation. Ia mengajakku bertemu." jawab Irene rerdengar malas. "Kalian ingin membahas apa sampai-sampai harus repot-repot mengadakannya diluar area kantor?" tanya Ken sedikit bersungut-sungut. "Cintia bilang hanya membahas soal kerjasama antar perusahaan saja. Entahlah aku juga tidak tahu. Dan kuharap tak akan memakan waktu lama. Aku sangat malas bertemu dengannya." ujar Irene sambil menghela nafas lelah.


***


"Kau bercanda Ken?" tanya Irene dengan mata melotot kaget yang membuatnya terlihat lucu sekaligus menggemaskan, menurut Ken. "Tentu saja aku serius. Lagipula, aku kenal baik siapa itu Lanrante." balas Ken tenang. "TENTU SAJA AKU TIDAK AKAN MENGIZINKANMU BODOH!!" teriak Irene menggelegar. "Kamu kira aku sebodoh apa!? Sama saja ini aku menarikmu ke kandang singa! Tidak, tidak, tidak!" lanjut Irene kali ini menurunkan oktaf suaranya.


"Aku tahu." balas Ken tenang. "Lalu kalau su..." ucapan Irene terpotong oleh jari Ken yang saat ini berada di bibirnya. "Aku tak menerima bantahan apapun darimu, Calonku." ucap Ken sambil tersenyum lembut. Irene terpaku sejenak dengan senyum Ken. Perlu ia akui Ken memang tampan. Tapi, seketika itu juga Irene langsung tersadar dari lamunannya. "Calon? Memangnya aku ini pacarmu?" balas Irene sambil menyingkirkan tangan Ken dari bibirnya. "Bukan. Kamu itu calon istri ku." balas Ken masih tersenyum lembut.


******


Haayyyy guyssss


Author backkkk


Guys


Infoo


Minggu depan author upload kalo author lagi ga sibuk + lagi ga banyak tugas atau lagi ga kuliah wkwkwk


jangan lupa vote, like, comment, dan favoritekan guys

__ADS_1


__ADS_2