
Irene dan teman-teman sekampusnya sudah ada di Indonesia. Irene sudah mendapat pesan dari Gita kalau tanggal 31 oktober nanti ada acara edufair. Irene dan teman-teman kampusnya pun berencana untuk datang. Kebetulan, universitasnya juga meminta mereka untuk hadir di acara edufair sekolah itu untuk sekadar melihat-lihat. Jadi, mau tak mau tanggal 31-1 Oktober-November nanti Irene harus mengenakan jaket Almamater nya.
***
3
1 Oktober, 12.02, SMA Xaverius Pahoman
"Celucia lama banget." ucap Gita sambil cemberut kesal. "Maap, neng. Sinta mana?" tanya Irene sambil cekikikan. "Itu udah di dalam." jawab Gita santai. "Oh... Yaudah, come. We go inside now." ucap Irene ke pada teman-teman nya.
Mereka pun masuk ke dalam. Entah karena jaket almamater yang ia gunakan amat mencolok atau memang dia anak UNILA satu-satunya yang berada di sana, Irene dengan mudahnya dapat menemukan Sinta. "Weh, cok. Lama ga ketemu." ucap Irene santai sambil menepuk bahu Sinta.
"Kirain ga dateng, Yen." ucap Sinta sedikit kaget. "Dateng lah. Kan gue udah janji gimana sih." jawab Irene sambil terkekeh geli. "Celucia. Itu ada si Ce Audrey tuh." Bisik Gita pada Irene. "Yaudah. Biarinin aja. Gue juga males ngadepin orang kek dia." balas Irene tanpa melihat ke arah yang Gita tunjuk barusan.
"By the way, Alice. You can buy some food in this stand if you want." ucap Irene sambil menunjuk stand-stand makanan yang ada di belakang nya. Dapat Irene lihat dari ekor matanya, Audrey lewat di Belakang nya dengan raut wajah sombong. "Cuh, sombong banget sih." gerutu Gita pelan. "Udahlah, Git. Biarinin aja. Sesuka hati dia mau sombong kek, mau sok baik kek, ngapain kota ngurus? Sinta aja Biasa aja dari tadi." ucap Irene tak peduli dengan Audrey.
"Oh iya, Celucia di Harvard masuk jurusan apa?" tanya Gita penasaran. "Akuntansi." jawab Irene seadanya. Iren baru menyadari kalau tadi Audrey sempat melihat ke arahnya dengan raut wajah kaget.
"Sumpah. Kalau boleh di lepas. Ini jaket udah gue lepas dari tadi. Panas banget gile." ucap Irene sambil mengipasi tubuhnya yang dari tadi sudah kepanasan. "Irene, We all want to buy some food." ucap Belle pelan. "Oh. I can help you if you want." tawar Irene tenang. "I think nope. But thanks." tolak Bella tersenyum kecil. "Okay. We will wait you all in there." ucap Irene sambil menunjuk ke parkiran guru. "Okay." angguk Bella dan ia pun pergi ke stand-stand makanan.
Sesuai ucapan Irene mereka bertiga pun pergi ke parkiran guru untuk menunggu Bella dkk selesai membeli makanan. "Celucia. Ada teman-teman nya si A tuh." tunjuk Gita sambil berbisik. "Biarinin aja." ucap Irene santai sambil memainkan hpnya ia tak tertarik dengan apa yang Gita bahas. "We're back Irene." sapa Alice begitu tiba di tempat Irene, Sinta dan Gita. "You all so fast. What you all bought?" tanya Irene bingung. "Takoyakis and bubble drink." jawab Alice santai.
"Gila, ngapain anak Harvard ke Xavepa?" bisik salah seorang murid di dekat lokasi Irene berdiri saat ini. "Memangnya kenapa kalau ada mahasiswa Harvard di sini?" tanya Irene santai. "Eh!? Ga... Ga papa kok." jawab kedua anak itu Lalau pergi secepat mungkin dari hadapan Irene. "Cih." Irene pun berdecih kesal.
***
12.37, Xaverius Pahoman
"Astaga, cuma karena dari Harvard doang dipelototin sampe segitunya." ucap Irene sambil geleng-geleng kepala. "Ya... Namanya juga Universitas Terkenal Yen." ujar Sinta santai. "Ya... Tau sendirilah orang Indonesia mah kayak gini semua." ucap Gita cemberut. "Sombong banget sih. Mentang-mentang kuliah di Universitas Harvard." ejek Audrey sengaja di keras-kerasin.
"Oh... Sombong? Bukannya anda yang sejak awal sombong? Dengan pede nya anda lewat dengan menggunakan jaket almamater padahal universitas anda tidak diundang kemari. Jangan mengelak. Saya tak suka itu. You're lucky. I'm doesn't in mood for judge you more than this." ucap Irene datar.
__ADS_1
Audrey hampir saja ingin lepas kendali. Tapi, ia tak jadi. "Cih... 파뽀 야." umpat Irene dalam bahasa Korea. "Kamu mengumpatku!?" ucap Audrey terdengar tak terima. "Baguslah kalau anda sadar." balas Irene tenang dan tak kenal takut. Belum sempat tangan Audrey menjambak rambut Irene. Dengan cepat, Irene memelintir tangan Audrey ke belakang tubuh Audrey. "You wanna fight with me huh?" ucap Irene tenang. Semetara itu, Audrey sudah merintis menahan sakit. Irene pun melepas pelintiran nya dengan kasar.
"You better go. Before I can't control my self." ucap Irene dingin. Sepeninggal Audrey, Irene benar-benar mengontrol amarah nya. "Tolong maafin ucapannya barusan." ucap Stanley salah satu teman Richard entah muncul dari mana.
"Irene, are you alright?" tanya Alice khawatir. "I'm okay, Alice." jawab Irene pelan. "She is wrong if she want to fight with her. In Harvard, nothing people too brave to fight with her. She is horrible in Harvard even, senior too." jelas Alice sambil tersenyum kecil. "Yeah, I was too horrible." aku Irene terdengar malas.
***
"Besok kesini lagi, Ce?" tanya Gita bingung. "Yoi." angguk Irene walau sebenarnya ia masih malas marema kejadian tadi. "Oh ya, Alice you all can go to the hotel after this. I want to go some place." ucap Irene pelan. "Okay." angguk Alice tak lama kemudian, Alice dan teman-teman Irene di Harvard yang lain pun pulang ke hotel.
"Celucia belum mau pulang?" tanya Gita bingung. "Belum. Gue mau ke Itera dulu. Ketemu koko gue." ucap Irene santai. "Hoo..." ucap Gita sambil manggut-manggut. "Lama tak bertemu tuan Ricky." sapa Irene saat ia melihat seseorang. "Tolong jangan berbahasa formal jika kita berada di luar kantor nona." ucap Ricky sambil tersenyum kecut.
"Oke-oke, ko Ricky." ucap Irene sambil terkekeh geli. "Ku panggil Lucia tak apa bukan?" tanya Ricky meminta izin. "Tentu saja." angguk Irene santai. "Udah kuliah nih." goda Ricky iseng. "Iya lah ko. Masa mau SMA terus." Ucap Irene sambil tersenyum kecil. "Gimana kuliah di Harvard?" tanya Ricky basa-basi. "Ya, gitu deh. Ada sibuk nya, ada nyantai nya ga tentu. Bener-bener harus bisa bagi waktu." jawab irene sambil mengangkat bahu sekilas.
***
Itera, 16.25
Saat ini, Irene sudah tiba di Itera. Ia tinggal menunggu fakultas kakaknya pulang yaitu, Aktuaria. Kebetulan sudah ada beberapa anak kuliah yang keluar. Beberapa diantaranya ada yang tak peduli dan beberapa diantaranya lagi ada yang menatapnya ingin tahu. "Maaf, dik. Adik ini dari fakultas mana ya?" tanya salah satu senior di Itera.
"Ko! Hoi!" teriak Irene dari kejauhan. "Lho? Ren. Kamu ngapain di sini?" tanya Arnold kaget. "Ya ketemu koko lah. Gimana sih." ucap Irene datar. "Ke sini naik apa?" tanya Arnold lagi. "Itu, bawa mobil." jawab Irene sambil menunjuk mobil Lamborghini miliknya.
"Dapat uang dari mana beli mobil?" tanya Arnold kaget. "Kerja lah." jawab Irene santai. "Terus ini dari mana?" tanya Arnold bingung. "Sekolah." jawab Irene santai. "Ngapain?" tanya Arnold lagi. "Nonton edufair sekalian, aku sama anak-anak yang lain dikirim mampus ke Xavepa." ujar Irene tenang.
"Oh... Emang, kuliah di mana?" tanya Arnold penasaran. "Harvard." jawab Irene sambil menunjuk logo di jaket almamater nya. Arnold yang melihat hal itu pun terkejut. "Aku dapat jalur undangan ke universitas Harvard. Ga cuma itu, Harvard juga ngasih beasiswa 100% ke aku. Ya, aku berangkat lah ke Harvard." jelas Irene santai. "Papi tau?" tanya Arnold bingung. "Ga ada yang tau. Baru koko doang." jawab Irene santai.
***
Mobil, 16.39
"Terus habis ini mau ke mana?" tanya Arnold dari telefon. "Ke rumah paling. Mampir bentar. Matiin aja telefonnya ko. By The way, mami sama papi ada?" tanya Irene santai. "Ada." jawab Arnold singkat. "Oh.. Ya udah. Matiin aja. Aku ikutin koko dari belakang." ujar Irene tenang.
__ADS_1
Irene pun mengikuti Arnold sampai ke rumahnya, ralat. Rumah orang tuanya. Benar saja, ibu (tiri) dan ayahnya ada di rumah. Kakak perempuan nya pun ada. Irene sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Tentu saja uang untuk ibu tirinya dan ayah kandungnya. Ia tak peduli ia mau dianggap ada atau tidak di sana oleh sang ibu.
***
Rumah orang tua Irene, 17.00
"Mi, ada Irene tuh." Ucap Arnold begitu sudah berada di dalam rumah. Irene pun mengekori dari belakang dengan tenang. "Eh, anak durhaka. Ngapain kamu ke sini?" ucap ibu tirinya menyindir. "Maaf kalau mami ga senang aku datang ke sini. Aku cuma mau mampir sebentar. Ngomong-ngomong nih uang buat mami. Dan, ini untuk papi kalau misalnya di butuhin buat mobil di sana." ujar Irene meserahkan 2 gepok amplop coklat kepada ibu tiri dan ayahnya.
"Satu lagi, terserah mami itu mau dianggap uang halal kek, uang haram kek terserah. Yang jelas totalnya 2,5 juta dan untuk papi itu 3 juta." ujar Irene tenang. "Irene sekarang udah kerja, mi." jelas Arnold santai. "Kalau mau di terima ya syukur kalau nggak ya sudah. Oh iya pi. Tuang papi sama cici berapa?" tanya Irene penasaran.
"3 juta Ren." jawab ayahnya cengar-cengir. "Ya udah. Itu uangnya papi pegang aja buat keperluan, cici ada?" tamya Irene lagi. "Ada tuh di kamar." jawab ayahnya lagi. Irene pun memasuki kamar kakak perempuan nya sekaligus kamarnya dulu saat ia masih tinggal bersama dengan orang tua nya. "Nih ci uang 3juta buat lunasin utang papi." ucap Irene memberikan uang senilai 3 juta kepada kakaknya itu dengan tenang.
"Dapat uang dari mana kamu Ren? Bisa bayar utang papi?" tanya Cindy kaget. "Kerja lah. Masa mau ngedekem terus di rumah?" jawab Irene santai. "Dari pada kamu ngasih duit ke papi mending buat kamu kuliah." ucap Aleng pelan. "Udah pindah. Ga papa. Untuk kuliah ada kok. Papi tenang aja." ucap Irene santai.
"Udah kuliah kamu?" tanya Vita sedikit melembutkan nada bicaranya. "Udah." angguk Irene. "Kuliah di mana?" tanya Cindy penasaran. "Di Harvard University, AS." jawab Irene terdengar tenang. "Ke Amerika Ren? Duit dari mana?" tanya Aleng kaget.
"Kerja papi... Lagipula, aku ke Harvard dapat jalur undangan kok. Beasiswa 100% malah." jawab Irene santai. "Jurusan apa?" tanya Arnold ikut penasaran. "Akuntansi." jawab Irene lagi.
***
Keesokan harinya, 09.00, SMA Xaverius Pahoman.
"Yo, Git. Guten Morgen." sapa Irene lengkap dengan logat Jerman yang kental. "Guten Morgen juga." balas Gita ikut-ikutan. "Oh iya, mana temen-temen Celucia?" tanya Gita bingung sambil sibuk mencari-cari. "Itu di belakang." tunjuk Irene kepada teman-teman se kampus nya yang berada tepat di belakang nya.
"Celucia ada ko Richard tuh." ucap Gita sambil menunjuk ke arah seorang cowok. "Ga peduli gue. Biarin aja lah. Kangen sekolah dia yang dulu kali." jawab Irene sambil mengangkat kedua bahunya sekilas. "Hey, Robert. You're join with this event!?" teriak Irene saat matanya menangkap siluet seorang laki-laki yang sangat ia kenali.
*****
1738 words
24 Januari 2021 finish
__ADS_1
Maaf baru di upload sekarang chapter 5 belum author upload soalnya. Met, selamat membaca yaaa semoga senang dengan ceritanya.
jangan lupa vote, Like, favorite, dan comment yaa