My Own Life

My Own Life
Episode 25


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Irene langsungberangkat menuju perusahaan miliknya usai berpamitan dengan ayahnya. Ia sempat bingung begitu mengecek ponsel miliknya di kantor. Ada nomor tidak di kenal beberapa kali menghubungi nya. Tapi, tak terlalu ia ambil pusing.


10.00,Ruang CEO Lovist International Company


Saat Irene tengah serius membaca berkas di mejanya, nomor tak di kenal itu kembali menghubunginya. Ia pun mengangkatnya. Belum sempat ia berkata 'halo' orang di seberang telefon sudah lebih dulu memaki dirinya. "Heh! Lo pelakor denger ya! Gue ga mau tau apapun itu alasannya jauhin Ricky!" ujar seorang eanita dengan nada marah. "Lah, lo siapa emang?" tanya Irene pura-pura kaget.


"Gue? Cih! Gue masa depannya Ricky! Ricky itu cuma punya gue seorang! Camkan itu! Jadi, jangan coba-coba lo deketin dia lagi!" ancam wanita itu. "Lo salah sambung? Oh salah sambung beneran. Ok. Bye." ujar Irene tak peduli lalu mematikan sambungan telefon. Berkali-kali nomor itu terus menghubunginya namun ia abaikan. "Cintya surug Leondra cari tau tentang nomor ini." perintah Irene dingin. "Baik, nona." balas Cintya lalu undur diri.


***


12.00,Ruang CEO, Lovist International Company


Hari ini Ricky mengunjungi Irene di kantornya. Kebetulan juga ia sudah tidak ada kesibukan lagi. Di saat Ricky memasuki ruangan Irene, dapat ia lihat Irene tengah berbincang dengan Cintya sambil memegang sebuah map. "Ah... Kebetulan lo dateng." ucap Irene begitu melihat kehadiran Ricky. "Ada apa?" tanya Ricky bingung. "Lo kenal nomor ini?" tanya Irene sambil menunjukkan selembar kertas yang sudah bertuliskan 8 digit angka.


Ricky pun mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Ga kenal." jawab Ricky jujur. "Kalau Jessie Martha Ayundia?" tanya Irene lagi dengan raut wajah tenang. Mendengar nama itu membuat Ricky terpaku sejenak. "Da... Darimana kamu tau nama itu?" tanya Ricky terbata-bata setelah tersadar dari keterkejutannya.


***

__ADS_1


"Apa itu penting?" balas Irene datar. Ricky pun kembali terdiam. Irene pun menghela nafas pelan. "Cintya, kamu boleh kembali bekerja." ujar Irene pada Cintya. "Baik" ujar Cintya sebelum undur diri. Setelah dirasa Cintya sudah cukup jauh dari ruangannya Irene baru kembali berucap. "Apa dia yang kalian maksud sebagai 'rubah cantik'?" tanya Irene lagi. "Kamu dengar?" balas Ricky semakin kaget.


"Ya. Semuanya." angguk Irene jujur. Ricky pun menghela nafas berat. "Ya. Kamu benar. Kami sengaja menutupi itu dari kamu dan keluargamu. Karena dia tak ada sangkut pautnya dengan kalian." jelas Ricky pelan. "Sekarang ada." ucap Irene datar. "Maksudmu?" tanya Ricky bingung. Irene pun menyetel rekaman suara yang ia terima dari 'rubah cantik' tadi. Ricky yang mendengar hasil rekaman suara itu pun hanya terbelalak kaget.


"Anak ini menghubungiku tadi pagi. Dan ini yang ia ucapkan. Jadi, aku ada urusannya dengan hal itu. Ya... Kaau kamu menyayanginya berharap saja-" belum usai Irene berbicara Ricky pun memotongnya. "Aku tidak menyayangi nya! Sampai kapanpun tidak akan pernah!" ujar Ricky tegas. "Oke-oke. Intinya berharap aja nyawanya bisa kuampuni." ucap Irene sambil menatap tajam ke arah map yang tadi ia pegang. Rupanya, map itu berisi informasi lengkap mengenai Jessie.


***


Mendengar ucapan Irene tadi, Ricky tahu kalau Irene sama sekali tidak sedang bercanda. "Kurasa, dia mungkin sedang dalam perjalanan menuju kota ini." ujar Irene lagi. Mendengar hal itu membuat Ricky kembali menatapnya kaget. "Tenang. Belum kuapa-apain kok." ucap Irene begitu melihat raut wajah kaget Ricky. "Aku ga masalah kamu mau ngapain dia. Tapi, kalau dia yang ngapa-ngapain kamu itu lain urusannya." ucap Ricky terlihat khawatir sekaligus kesal.


Namun, Ricky tidak terhenti di situ. Ia mencium bibir Irene dengan ganas. Bahkan, Irene pun sampai terkaget-kaget karenanya. Irene pun menepuk-nepuk punggung kokoh Ricky karena pasokan udara di paru-paru nya yang sudah mulai menipis. "Hosh.. Hosh.... Kamu ini kenapa!?" ucap Irene ngos-ngosan. "Aku tak mau dengar apapun itu alasannya. Jessie. Dia urusanku. Aku benar-benar tidak ingin kamu celaka." ucap Ricky sambil menatap Irene serius.


***


"Aku tahu. Tapi, anak itu lebih dulu mengajak ribut denganku. Lagipula, aku sudah bilang kan? Aku ga akan kenapa-kenapa." ujar Irene tetap kekeuh dengan keputusannya. "Jangan sampai aku memberi hukuman khusus untukmu." ucap Ricky dengan nada berat. Irene pun meneguk liurnya kasar. "Ya. Aku mengerti tapi... Dia mengancamku. Dengar, kamu cuma milikku seorang. Ga ada orang lain yang boleh milikin kamu selain aku. Dia mau rebut kamu dari aku. Jadi, biarin aku terlibat. Dia juga harus tau, ga cuma cowonya aja yang patut dia takutin. Tapi, ceweknya juga harus dia takutin." jelas Irene panjang lebar.


Ricky pun menghela nafas berat. "Baiklah. Kamu boleh terlibat tapi, ada syaratnya." ujar Ricky akhirnya. "Apa?" tnya Irene penasaran. "Aku ikut." ucap Ricky seketika membuat Irene mentapnya bingung. "Ikut apa? Bukannya kamu emang ikut terlibat ya?" tanya Irene bingung. "Bukan itu." balas Ricky datar. "Lalu?" tanya Irene lagi. "Aku harus ikut tiap kali kamu akan ketemu sama dia." ucap Ricky memperjelas maksud ucapannya. "Oh. Boleh aja. Kalau terencana. Kalau kebetulan... Ya, jangan protes." angguk Irene tak ambil pusing.

__ADS_1


***


Pukul 14.00 Irene dan Ricky pun pergi makan bersama di restoran X. Rencana awal mereka hanya makan setelah itu, kembali ke kantor lagi, namun rencana itu kandas setelah kedatangan seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri meja mereka bahkan menggebrak meja itu hingga mereka menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.


"Lo siapa?" tanya Irene sambil menatap perempuan otu dengan raut wajah datar. "Lo yang siapa!? Ngapain lo di sini sama cowok orang hah!?" bentak perempuan itu dengan intonasi yang sengaja di keraskan. "Lo picek?" tanya Irene masih dengan rait wajah yang sama. "Sherlyn stop! Lo apa-apaan!? Dia tunangan gue! Ga usah cari masalah!" bentak Ricky sambil bangkit dari posisinya.


"Ka-kapan kamu punya tunangan!?" ucap Sherlyn terlihat kaget bukan main. "Wait. Cowok orang? Maksud lo itu?" tanya Irene sambil menunjuk ke arah pintu dengan raut wajah datar. Di pintu, berdirilah seorang perempuan cantik dengan pakaian modis sedang menatap sekeliling sebelum akhirnya menatap ke arah meja Irene dan menghampiri mereka bertiga. "Sepertinya aku terlambat." ucap Perempuan itu sambil melepas kacamata hitam yang sedang ia gunakan.


***


"Kakak!? Kapan kamu kembali?" sambut Sherlyn rengan raut wajah sumringah. "Baru saja tiba tadi, adikku tersayang." jawab Jessie pada adik kesayangannya. "Oh... Kau adiknya rupanya." ujar Irene dengan raut wajah malas. "Memang kenapa? Kau tak suka?" sungut Sherlyn dengan raut wajah sombong. "Justru itu pertanyaanku. Kau tak suka karena mantan tunangan kakakmu itu tidak pernah mencintainya sedikitpun?" balas Irene dengan smirk di wajahnya. "Kau..." Sherlyn pun sedikit kebingungan membalas ucapan Irene barusan.


"Memangnya kenapa kalau kami tidak suka?" tanya Jessie yang sedari tadi hanya menyimak. "Yah... Tak ada masalah... Selama kalian tidak mengganggu kehidupanku. Tapi kau baru saja mengusik hidup tenangku lho. Dan aku bukan tipikal orang yang suka diusik terutama orang-orang seperti kalian ini." balas Irene dengan wajah santai. "Aku benar-benar akan-" belum usai Sherlyn bicara Jessie sudah menahannya. "Tak perku buru-buru. Memangnya kau punya kemampuan apa sampai bisa menbuat Ricky luluh huh? Pelet? Susuk?" sindir Jessie terang-terangan sambil menatap Irene remeh.


"Apa itu urusanmu? Kurasa yang menggunakan susuk adalah kau. Lagipula, aku malas merogoh uang banyak-banyak hanya untuk hal tidak berguna seperti itu." balas Irene tidak merasa tersindir sedikitpun. "Sebaiknya kalian pergi dari sini." usir Ricky yang sudah muak dengan keberadaan dua orang pengganggu itu. "Heh? Pergi? Yang harusnya pergi adalah perempuan sialan tidak tahu diri ini!" tunjuk Sherlyn ada Irene. "Aku? Hei, yang diajak kemari adalah aku. Kenapa aku juga yang harus pergi?" tanya Irene tanpa berniat untuk beranjak dari posisinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2