My Own Life

My Own Life
Episode 21


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, tepat pukul 19.00 malam Irene pun tiba di Square Restaurant untuk bertemu dengan keluarga Ricky. Rupanya, keluarga Ricky sudah lebih dulu tiba di lokasi. Irene pun menghampiri mereka, tak lupa senyum ramah juga ia tampil kan. Bukan untuk menarik perhatian namun, hanya sekasar untuk formalitas saja.


"Maaf, sepertinya aku terlambat." ucap Irene begitu tiba di hadapan keluarga Ricky. "Tentu tidak. Kami baru tiba di sini beberapa menit yang lalu." ucap Lucinda, ibu Ricky. "Sekali lagi maaf om, tante, Ricky. Sudah membuat kalian menunggu. Ada beberapa pekerjaan yang tadi tidak bisa ditinggalkan di kantor." ujar Irene sedikit membungkuk, tanda hormat.


"Tak peelu sampai seperti itu. Kami mengerti kok. Lagipula, Ricky juga sering pulang larut malam, entah mengerjakan apa di kantornya." balas Rafael, ayah Ricky dengan tenang. "Iya, om." angguk Irene lalu, Irene pun mengambil tempat duduk di sebelah Ricky dan tepat berada di seberang Rafael sedangkan Ricky bersebrangan dengan ibunya.


***


19.05, Square Restaurant, Bandar Lampung.


"Jadi, Maaf sebelumnya jika aku terlalu to the point orangnya. Sebenarnya, ada apa om dan tante ingin bertemu denganku?" tanya Irene berusaha terlihat biasa saja tidak menguarkan aura wibawanya. "Ah... Bukan hal penting sebenarnya kami hanya ingin tahu tipe perempuan seperti apa yang Ricky sukai. Apa pertemuan ini mengganggu jadwal atau pekerjaanmu, sayang?" jelas Lucinda sekaligus memberikan Irene sebuah pertanyaan. "Ah... Tidak sama sekali, tante. Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan pertemuan ini, begitu." Balas Irene sambil tersenyum canggung.


Irene dan kedua orang tua Ricky pun mulai mengobrol ringan. Irene juga tidak terllu banyak diam mengingat, dirinya lah yang selalu menjsdi sasaran pertanyaan" yang dilontarkan. "Jadi, mulai kapan kamu membangun perusahaan sendiri?" tanya Rafael penasaran. "Sejak kelas 1 SMA, om." jawab Irene sopan. "Perusahaan itu benar-benar jamu bangun sendiri? Bukan meneruskan usaha orang tuamu?" tanya Lucinda tidak percaya. "Iya. Aku membangun perusahaan itu sendiri. Pertama kali aku membangun perusahaan itu hanya kedua sahabatku saja yang mengetahuinya. Sedangkan, dari pihak keluarga besar hanya 3 orang itu pula setelah perusahaan ku sudah naik daun." jelas Irene panjang lebar.


"Kamu membangun perusahaan ini dengan tujuan?" tanya Rafael lagi. "Tujuan awalnya sih, menyaingi perusahaan" lain supaya, negara Indonesia juga dipandang tidak hanya dari segi perjuangan kemerdekaan saja tapi juga dari perkembangan ekonominya. Untuk masa-masa sekolah kemarin ya, selain tujuan tadi... Aku mencoba memberi pemikiran. Para pelajar memang diwajibkan untuk menimba ilmu. Tapi, tak ada salahnya juga kalau kita ingin membangun sesuatu yang belum pernah di wujudkan oleh seorang pelajar pasa umumnya? Selama ada niat ya lakukan saja. Toh, kita sendiri juga yang bangga. Untuk sekarang, tujuanku sebisa mungkin perusahaan ku ini terus meningkat di mata dunia. Dan, mempertahankan posisi perusahaanku saat ini." jelas Irene lagi.


***

__ADS_1


Sedari tadi, Ricky tidak banyak bicara. Ia justru lebih sering menyimak pembicaraan kedua orang tuanya dengan Irene. Kelihatannya, kedua orang tuanya mulai menyukai Irene yang bersifat apa adanya di depan kedua orang tuanya. Irene juga sebenarnya menyadari kalau sedari tadi Ricky hanya menyimak pembicaraan mereka. Jadi, ia pun mulai mengoper beberapa pertanyaan yang ditujukan untuknya kepada Ricky. Ricky yang menyadari hal itu hanya menjawab pertanyaan operan tersebut seadanya saja.


"Jadi, bagaimana kalau kapan-kapan kita bertemu kembali? Jangan lupa ajak ayahmu juga." ujar Lucinda terdengar antusias. "Eum... Ya boleh. Nanti mama atur saja. Takutnya, kalau aku yang ngatur nanti waktunya nggak pas." ujar Irene menyetujui ucapan Lucinda barusan. Dan lagi, kedua orang tua Ricky memaksa Irene untuk memanggil mereka dengan sebutan 'mama-papa' bukan 'tante-om' lagi. Irene sebenarnya masih sedikit canggung untuk memanggil mereka dengan sebutan baru itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Toh ia sudah di minta untuk memanggil mereka demikian.


***


Sekitar pukul 22.00, Irene pun pamit pulang. Mengingat hari sudah malam dan restoran juga akan segera di tutup. Mereka hanya memutuskan esok lusa akan bertemu kembali di Restoran Samwon Express, MBK. Namun Irene juga akan mengajak Aleng, Angel, dan Arnold ikut serta dalam pertemuan itu. Setelah Irene sudah menghilang dari pandangan keluarga Ricky. Lucinda, Rafael, dan Ricky pun kembali berbincang-bincang.


"Mama sama papa setuju?" tanya Ricky yang terlihat biasa saja padahal di dalam hati ia sudah deg-deg-an. "Tentu saja. Kamu pikir apa gunanya papa meminta Ken untuk mendekatinya? Tentu saja untuk mengetesnya. Tanpa kamu beritahu pun, papa sama mama sudah tau kalau kamu jatuh hati sama dia " jelad Rafael tenang. "Papa tau dari mana?" tanya Ricky kaget. "Tanpa harus papa cari tahu pun udah ketahuan. Kamu kira papa kamu ini seperti apa? Hampir setiap hari kamu update status Whatsapp isinya foto atau video dia semua." jelas Rafael seketika speechless.


"Ehehehehe...." Ricky yang mendengar hal itu hanya dapat cengengesan saja. Ia tak mengetahui hal itu karena Whatsapp nya ia beri kode "Not Show BlueTicks" yang berarti ketika dia update status atau mengirim chat ia tak akan tahu apakah sudah dibaca atau belum.


***


Karena hari ini Irene akan menjemput orang tuanya jadi ia tak bisa berada terlalu lama di dalam kantor. Sekitar pukul 15.00 ia sudah harus menjemput ayahnya, Arnold, dan Angel. Jadi, khusus hari ini ia kerja cepat. Jika oa tak sempat mengerjakan sekuruh pekerjaannya hari ini maka, mau tak mau ia harus melimpahkan sebagian tugasnya tersebut kepada Cintia. Terlebih hari ini sepertinya masih ada cukup banyak berkas yang menumpuk.


Seperti kemarin, ia langsung duduk di kursi kekuasaannya dan tenggelam ke dalam pekerjaannya yang sudah menjulang di atas meja kerjanya. Sekitar pukul 10.00 entah bagaimqna caranya, Ricky sudah berada di dalam ruang kerjanya. Lebih parah dari itu bahkan!! Irene bahkan tak menyadari kalau sedari tadi Ricky terus memperhatikan dirinya yang sedang sibuk bekerja!!!

__ADS_1


***


"Waa!!" teriak Irene refleks saat Ricky sudah berada di hadapannya. "Se jak kapan kamu di sini!?" ujar Irene setelah meredakan kekagetannya. "Cukup lama. Aku tak ingin mengganggumu karena sepertinya kamu sedang direpotkan dengan pekerjaanmu itu." ujar Ricky sambil melirik tumpukan berkas yang bekum juga rampung Irene kerjakan. "Begitulah. Dan lagi, hari ini aju hanya bisa bekerja hingga siang nanti." balas Irene sambil menghela nafas lelah dan kembali tenggelam dengan pekerjaannya. "Mau kubantu?" tawar Ricky. "Terima kasih. Tapi tidak. Aku tidak mau merepotkan orang lain dengab pekerjaanku." ujar Irene tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di hadapannya.


Hingga ingin rasanya Irene memukul kepala Ricky dengan berkas-berkas di mejanya karena, lagi-lagi ia di buat terkejut dengan berpindah nya berkasĀ  dan pulpen di tangannya ke orang lain. "Bisakah kamu tidak asal mengambil berkas itu dari tanganku?" sungut Irene kesal. "Sayangnya tidak." balas Ricky santai. Irene pun menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Ga kakak sepupu, ga adek sepupunya sama aja perasaan.' Batin Irene pusing.


***


Tak sampai 2 menit Ricky pun mengembalikan berkas yang sempat ia ambil secara paksa dari tangan Irene. "Lain kali minta bantuanku. Jangan pikirkan itu akan merepotkanku atau tidak." ujar Ricky sambil menaruh kembali berkas tersebut di hadapan Irene. "Huh... Iya-iya." ujar Irene yang masih cemberut sedari tadi, tapi... Irene juga tidak bisa marah kepada Ricky. Toh, lagipula memang ia yang salah karena memaksa mengerjakan semua pekerjaannya itu sendirian bahkan hingga memforsir terlalu banyak tenaganya. "Omong-omong kemana kamu akan pergi nanti?" tanya Ricky tiba-tiba.


"Ke rumah kontrakan milik orang tuaku. Aku akan menjemput ayahku, kakak laki-lakiku dan juga adik perempuanku." jawab Irene tenang. "Menjemput? Memang kalian akan pergi kemana?" tanya Ricky bingung. "Mereka bertiga akan tinggal bersamaku mulai hari ini." jawab Irene sambil menghela nafas lelah. "Memang mereka ada masalah apa tinggal di rumah kontrakan itu?" tanya Ricky lagi. "Bukan masalah dengan rumah kontrakannya. Tapi dengan ibu tiriku." jawab Irene datar.


Ricky pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham dengan maksud ucapan Irene tadi. Jika kalian bingung soal itu, Ricky sudah mencari tahu segala hal tentang Irene sejak pertama kali ia tertarik pada Irene. Jadi, wajar saja jika ia tahu banyak hal soal Irene. Silahkan sebut saja dirinya sebagai seorang stalker. Lagipula, Irene juga tidak peduli jika selama ini Ricky sudah mencari tahu segala hal tentang dirinya. Irene juga tidak merasa ada sesuatu yang spesial dari keluarganya ataupun dari dirinya. Dan lagi, ia rasa Ricky bukanlah orang jahat. Jadi, Irene tidak terlalu ambil pusing soal Ricky yang mencari tahu soal dirinya.


*****


Finish 22 June 2021

__ADS_1


Maap lama up hehehe


__ADS_2