My Own Life

My Own Life
Episode 11


__ADS_3

Seusai makan malam, Irene dan Larry kembali ke kamar mereka. "Hey, Larry. Can you bring back my tablet? I wanna know what activity for us tomorrow." ucap Irene sambil menengadahkan tangannya. Meminta tabletnya kembali.


Larry pun menghela nafas pelan dan memberikan tablet Irene kembali kepada pemiliknya. Irene pun mengecek tabletnya terutama pesan mengenai tugasnya dan tugas Larry besok. Seusai membaca pesan tersebut Irene memijat dahinya pelan.


"What's wrong?" tanya Larry bingung. "It was nothing .We just do our job like usually. But, tomorrow I think I will come late to home." jawab Irene sambil menghela nafas berat. "Why?" tanya Larry pemasaran. "I have to help our CEO to get some meeting tomorrow." jawab Irene pelan.


...***...


Keesokan harinya, PT. Effendi, 09.00


"Apa kamu sudah siap untuk meeting nanti?" tanya mr. Effendi serius. "Sejak awal saya sudah siap. Hanya saja, kali ini saya benar-benar minta tolong untuk gantikan saya dengan sekretaris anda dalam meeting ini. Jika hanya sekadar meeting dengan karyawan perusahaan ini saya bisa. Tapi, kali ini anda melaksanakan meeting dengan 90% perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Dengan amat berat hati saya tak bisa mengikuti meeting ini." jelas Irene tegas.


"Apa alasan mu?" tanya mr. Effendi serius. "Anda akan tahu nanti di saat meeting telah berlangsung." ujar Irene tenang. Jika mr. Effendi sadar, harusnya ia merasa familiar dengan Irene. Selain itu, Irene sudah membuat alasan cadangan agar ia tidak ikut meeting sebagai pendamping mr. Effendi nanti jika seandainya alasan pertama ini masih membuatnya kekeuh untuk membuat Irene ikut meeting.


...***...


PT. Effendi, ruang meeting, 15.05


Sesuai dengan dugaan Irene, mr. Effendi akan terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Karena, sebenarnya, Irene diundang ke meeting yang diadakan di PT. Effendi ini. Bagaimana mr. Effendi tidak kaget. Irene mewakili Lovist International Company sebagai CEO secara langsung. Bahkan, ia datang tanpa p3ndampingan dari sekretarisnya.


"Terima kasih karena anda telah mengundang Lovist International Company ke dalam meeting ini. Saya Lucia Irene sekaligus, CEO Lovist International Company mewakili secara langsung untuk menghadiri meeting ini." ucap Irene dengan tenang dan terkesan penuh wibawa.


...***...


19.00, Novotel's hotel


Sepulang dari meeting, Irene langsung melempar tubuhnya ke kasur. "Huaa.... It's so tired. What's an annoying man!" ujar Irene sambil menghela nafas kasar. "What man?" tanya Larry bingung. You won't believe this. Argh! I hate to go to that meeting!?" ucap Irene sambil guling-guling di kasur quenn size-nya. "Why?" tanya Larry penasaran.


"Haah... You will know if you in there. But, I really hate to explain it." ucap Irene sambil mengubah posisi tidurnya menjadi terentang di atas kasur nya. "It's up to you if you doesn't want to explain it. But, stop to Punch your bed." ucap Larry datar. "Oh ya, are you busy in here when I was meeting?" tanya Irene penasaran. "Not really." balas Larry sambil mengangkat bahunya sekilas.

__ADS_1


...***...


Minggu 10.00


"Hey, Larry. Alice was in here. You want meet her or no? I have to go somewhere." ucap Irene tenang. "Where is she?" tanya Larry kaget. "Oh, I told her to wait in Starbucks, at Mall Beomi Kedaton." jawab Irene santai. "I will meet her." ucap Larry segera mang ambil kunci motornya Dan pergi menuju ke Mall Beomi Kedaton untuk menemui Alice.


Irene hanya geleng-geleng kepala melihat Larry yang begitu bersemangat untuk bertemu dengan Alice. Sepeninggal Larry, Irene pun segera berdua untuk pergi. Tak lupa, ia juga mencabut kartu kamarnya dan memberikannya kepada resepsionis di lobby. Irene pun pergi ke mansionnya untuk mengambil mobil. Entah mengapa, ia bosan di hotel. Ia pun membawa mobil BMW hitam miliknyadan pergi ke tempat orang tuanya.



Mobil yang Irene bawa.


...***...


Rumah orang tua Irene, 11.00


"Mana mami, pi?" tanya Irene kebingungan dengan keadaan rumah yang hanya ada ayahnya seorang. "Biasalah, di kantin." jawab Ayahnya sembari tersenyum kecil. "Koko udah berangkat ke kampus emangnya?" tanya Irene lagi. "Ucah dari tadi pagi, Ren." jawab Ayahnya santai.


"Ren, koko nanti kerja gimana ya?" tanya Ayah nya meminta pendapat. "Ya... Aku ga tau. Biasa sih aku terima koko di kantorku. Tapi, itu tergantung skill dia. Aku ga mau punya karyawan yang ga punya skill, males-malesan, dan ga ada hasil kerjanya. Walaupun itu sodara sendiri aku bakal tetap tegas. Aku ga mau hanya karena satu orang, masalah bisa sampai satu kantor." Jelas Irene tegas.


"Kalau gitu, coba lah kamu bantu koko cari kerjaan." ucap ayahnya pelan. Irene pun menghela nafas pelan. "Aku emang bisa aja bantu koko. Tapi, nggak pi. Aku ga mau. Koko harus bisa dengan usahanya sendiri. Masa harus di bantu? Kalah dong sama aku. Aku bangun perusahaan sebesar ini dengan usaha sendiri, modal sendiri, dan kemauan sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain lho, pi masa, jadi orang mau sukses tapi di bantu. Sama aja bohong." jelas Irene tersenyum kecil.


Sejenak, ayahnya terdiam. Ia memikirkan baik-baik ucapan Irene. Bukan karena sombong tetapi, Irene ingin melihat kakaknya sukses dengan jerih payahnya sendiri bukan atas bantuan dari dirinya walau hanya sedikit. Melihat ayahnya yang terdiam, Irene juga ikut diam. Membiarkan ayahnya memikirkan perkataannya di dalam keheningan.


...***...


Pukul 12.35 Irene pun memutuskan untuk mengakhiri acara kunjungannya ke rumah orang tuanya. Irene berlanjut dengan pergi ke rumah orang tua Gita karena, kebetulan Gita sedang ada di rumah saat itu.


Rumah Orang tua Gita, 12.45

__ADS_1


"Wey, Gita. Wanna go walk by car? Gue mau ngajak lu jalan-jalan. Tapi, lu izin dulu ke ortu lo sono. Soalnya pulangnya agak malam. Bilang aja gue sekalian ngajak lo makan malam bareng." ucap Irene santai. Irene memang berencana untuk mengajak makan malam bersama. Tak hanya dengan Gita, Irene bahkan mengajak seluruh keluarganya makan bersama. Bahkan, tak main-main, Irene mengajak mereka makan di Eat Boss!


Salah satu restoran mahal di Bandar Lampung. Dan Irene sudah membooking 3-5 meja untuk mereka semua. Bahkan, Irene juga mengajak Ko Ashung, Acek Ahan, dan Acek Ates untuk ikut makan bersama di Eat Boss.


Untung saja, mereka semua tak banyak bertanya saat Irene mengajak mereka makan bersama di Eat Boss. Saat ini, Irene sedang asik main Timezone di Mall Beomi Kedaton bersama Gita. Irene sempat melihat Larry dan Alice sibuk berbincang di Starbucks tapi Irene tak mengganggu privasi mereka. Irene tahu kalau Larry menyukai Akice. Oleh karena itu, Irene sengaja meminta Alice menunggu di Starbucks Mall Beomi Kedaton. Lagipula, Alice kelihatannya cukup senang dengan keberadaan Larry.


...***...


19.35, hotel Novotel


"Hey, why you look so happy?" tanya Irene begitu mendapati senyuman tak lepas dari bibir Larry. "You know. Today Alice is my girlfriend." ucap Larry senang. "Oh yeah? Congratulation about it. I am so glat to know that." jawab Irene sambil tersenyum kecil. "Thank you. How about you?" tanya Larry penasaran. "Oh. I am like usually. Still single. Nothing interesting." balas Irene santai.


"Oh. You play in the Timezone right? I see you with your friend in there." ucap Larry tenang. "Yeah. I just wanna have some refreshing time with my friends. Oh yeah. Tonight at 8 p.m. I want go to Eat Boss. I just eat there with my friends and my family. My big family. You want to stay here or come with me?" tanya Irene penasaran.


"I think, maybe I stay here. You know, I am bad to use Indonesian language." ucap Larry cengar-cengir tanpa dos. "Oh okay. It's up to you. But, you're bad with Indonesian language. Why you choose Indonesia ia the placer for you to clerk." ujar Irene sambil geleng-geleng kepala speechless dengan Larry yang pikirannya sama sekali tak bisa ia tebak apa isinya.


...***...


Eat Boss, 20.00


"Hey, gēge. Nî hâo ma (hai, kakak(laki"), apa kabarmu)?" Tanya Irene pada Ashung dengan bahasa Mandarin. "Hèn hâo (baik-baik saja) zài zhè lî yīqî chīfàn zênmeliâo (ada apa ngajak makan bersama di sini)?" tanya Ashung bingung. "Méi shénme, zhîshì yīgé jùhuì. Wômen hên shâo yû jiārén tuánjù (bukan apa-apa, hanya sekadar berkumpul bersama saja. Kan kita juga jarang kumpul bareng keluarga)" jawab Irene santai.


Sekitar pukul 9 malam Irene tiba di hotel. Ia hanya tersenyum kecil melihat Larry yang sudah tertidur pulas. Irene tahu kalau Larry tadi cukup kewalahan karena sibuk dengan pekerjaan magangnya.


...*****...


Selamat membaca dan maaf baru upload sekarang hehehe


27 Januari 2021 finish

__ADS_1


1380 words


__ADS_2