My Own Life

My Own Life
Episode 31


__ADS_3

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. Ricky menampar Irene hingga ruam merah tercetak jelas di pipi putihnya. Irene hanya bisa terdiam. Ia cukup kaget dengan hal itu. "Kalau dengan menulis ini bisa membuatmu tidak tidur seharian, kenapa kamu lakukan bodoh!?" Bentak Ricky tidak bisa membendung emosinya lagi. Irene hanya bisa memandang Ricky sedikit terbelalak. Perlahan, ia memegang bekas tamparan yang terasa panas itu.


"Maaf. Aku hanya ingin... Bisa berguna untuk kalian... Setidaknya, sekali saja." ucap Irene pelan. Bahkan, Ricky nyaris tidak mendengarnya. "Tapi, ga cari penyakit juga." ucap Ricky berusaha menetralkan amarahnya. "Maaf." ucap Irene lagi. Setelah itu, yang ada hanyalah keheningan yang cukup canggung. "Jangan diulangi lagi." ucap Ricky pelan. "Ya." balas Irene singkat. Bahkan tersirat nada dingin. Ricky hanya menatap Irene yang sedari tadi memalingkan wajahnua. Enggan menatapnya.


***


"Maaf." ucapan maaf itu cukup untuk membuat Irene menatap Ricky dengan raut wajah bingung. "Kenapa minta maaf? Kan kamu ga bikin salah apapun." tanya Irene bingung. "Maaf soal tamparan tadi." ucap Ricky pelan. "Oh... Ga masalah kok. Sesekali menampar seorang perempuan sebagai peringatan atau hukuman itu bukan hal yang aneh kok. Jangan terlalu dijadikan beban." balas Irene lalu kembali menatap ke arah jendela yang hanya berjarak 2 meter dari ranjangnya.


"Tapi.... Kamu terlihat kesal." ucap Ricky pelan. "Oh!? Ketahuan ya hehe... " balas Irene dengan cengiran tanpa dosanya. "Ya... Aku ga menyangkal soal itu sih. Benar aku memang kesal. Dengan diriku sendiri." lanjut Irene menyetujui ucapan Ricky barusan. "Kenapa?" tanya Ricky kaget. "Kenapa ya? Entahlah. Hanya.... Merasa kesal saja." jawab Irene yang justru membuat Ricky mengernyit curiga. "Apa?" tanya Irene yang merasa Ricky menatapnya semakin tajam. "Gak ada." balas Ricky yang membuat Irene mengernyit namun setelah itu ia tidak mengambil pusing akan hal tersebut.


***


Irene tiba-tiba turun dari kasur. "Kamu mau kemana?" tanya Ricky ikut bangkit dari posisinya. "Turun. Papi udah sampai kan? Sekalian, mau bahas soal pernikahan nanti." jawab Irene sambil berjalan ke arah pintu. Belum sempat ia menyentuh kenop pintu, Ricky sudah menariknya terlebih dahulu. "Kamu belum boleh banyak beraktivitas dulu!" ucap Ricky kesal. "Huft.... Ky, ini bukan soal kesehatan lagi. Pernikahan kita tinggal hitungan hari. Bukan bulan lagi." ucap Irene yang sudah lelah dengan sifat overprotective Ricky.


"Aku yang akan mengurus soal pernikahan kita." celetuk Ricky. Mendengar hal itu, Irene langsung menatap Ricky datar. "Setelahnya kamu yang sakit? Tidak, aku akan tetap ikut. Maaf saja jika aku keras kepala. Tapi, ini hanya terjadi 1x seumur hidupku. Aku tidak akan mengabaikannya begitu saja kecuali ini adalah perjodohan tanpa ada rasa cinta." ujar Irene sembari menatap Ricky serius. Belum sempat Ricky membalas, pintu kamar sudah lebih dulu menjeblak terbuka. Lucinda dan Rafael muncul di balik pintu. Sedangkan, Irene bisa memastikan kalau keluarganya sudah diantar pulang ke mansion.


***


Melihat Irene yang sudah terbangun, Lucinda langsung menghampirinya dengan cepat. "Astaga kok kamu jalan-jalan sih? Balik ke kasur. Kamu harus banyak istirahat, sayang. Untuk pernikahan kalian nanti biar papa sama mama dan papi kamu yang urus ya. Anggap aja itu hadiah dari kami." ucap Lucinda sambil menuntun Irene ke ranjang. "Tapi ma-" protesan Irene langsung di potong. "Suttt.... Udah. Ga usah protes. Turutin kata mama, oke?" potong Lucinda yang hanya bisa Irene balas dengan anggukkan lesu.

__ADS_1


Irene pun kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Dan Ricky, ia pun menghela nafas pelan. Untunglah ibunya datang di saat yang tepat jika tidak, mungkin tadi ia sudah memukul Irene untuk yang kedua kalinya. Tak lama setelahnya, Lucinda dan Rafael pun pergi dengan alasan mereka mau mengurus mengenai pernikahan Irene dan Ricky nanti. Sepeninggal kedua orang tua Ricky, Irene langsung kembali mendudukkan dirinya di kasur.


***


Ricky langsung kaget begitu melihat Irene duduk di kasur sambil mengutak-atik smartphone nya. Namun setelahnya, ia langsung menghela nafas lelah. Ia sudah cukup lelah dengan segala kelakukan ngeyel yang di tunjukkan oleh calonnya itu. "Ren." panggil Ricky, tak lupa dengan smirk menghiasi wajahnya. "Mm?" sahut Irene tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kamu sudah merasa sehat kan?" tanya Ricky sembari menghampiri Irene. "Hm. Tentu saja." jawab Irene yang masih terfokus dengan ponsel di genggamannya.


"Bagaimana kalau kita melakukan 'itu' sekarang?" tanya Ricky sambil menyita ponsel Irene, mematikannya, lalu menaruhnya diatas nakas. "Itu?" tanya Irene bingung. Begitu melihat raut wajah yang Ricky tunjukkan ia langsung meneguk liur dengan susah payah. "Eh... Be-belum kok! Iya! Belum sembuh! Hehehe.... Aku istirahat dulu!" ucap Irene cepat sembari langsung merebahkan dirinya dengan posisi menyamping, membelakangi Ricky yang sudah siap untuk 'menerkam'nya.


***


Irene kaget saat Ricky tiba-tiba saja naik ke atas kasur dan meng-'kabedon' dirinya. "K-ky!?"  ucap Irene kaget. "Katanya sudah sehat. Tapi kok jawabannya beda lagi?" tanya Ricky masih dengan smirk evil di wajahnya. 'Mampus gue!!' batin Irene nelangsa. "Belum kok, Ky. Itu bercanda doang. Iya, bercanda!" ucap Irene masih berusaha 'menyelamatkan diri'-nya dari 'singa' kelaparan di hadapannya itu.


Tiba-tiba saja Ricky memegang kedua pipinya dengan satu tangan dan memaksanya untuk saling tatap. "Kwenapwa kwi?" tanya Irene kesulitan berbicara karena kedua pipinya di cengkram. Tanpa berkata-kata, Ricky langsung mendekatkan wajahnya. Irene sontak melotot kaget. Tapi, Ricky ternyata cuma menempelkan dahi mereka saja. "Pantas tumbang. Kamu demam." ucap Ricky pelan sembari kembali mengambil jarak.


***


Begitu pintu kamar tertutup, Irene langsung menghela nafas lega. Namun, nafasnya langsung kembali tercekat saat pintu kamarnya kembali menjeblak terbuka. Ternyata, Ricky bersama seorang maid kembali masuk ke dalam sembari membawa sebaskom air panas dan sebuah handuk kecil. Irene hanya menatap keduanya bingung. Setelah menaruh baskom dan handuk tersebut di nakas, maid itu langsung undur diri. Irene hanya melihat Ricky mulai memasukkan handuk ke dalam baskom dan memerasnya kemudian melipatnya dan menaruhnya di dahi Irene.


***

__ADS_1


"Eh? Perlu kompres juga tah? Perasaan panasnya ga tinggi-tinggi amat." tanya Irene bingung tanpa menyingkirkan handuk di dahinya. Ricky hanya membalas pertanyaan itu dengan anggukkan kecil nan singkat. Irene pun tidak berkata apapun lagi. 'Daripada gua ngomong salah, mending nurut aja deh.' batinnya. "Emh.... Lalu, kamu di sini sampai kapan?" tanya Irene lagi. Jujur, ia tidak tahan berada di dalam ruangan yang sama dengan Ricky. Masalahnya, Ricky pasti akan menatapnya terus. Dan, itu benar-benar membuatnya risih.


"Sampai kamu sembuh." jawab Ricky sambil memainkan ponselnya. "Eh?" Irene pun sontak langsung menatap Ricky dengan raut wajah terkejut. "Kenapa? Kamu ga suka?" tanya Ricky kali ini ia sambil menatap Irene dengan raut wajah datar. "E-eh? Su-suka kok ehehe... " Irene tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan lelaki di hadapannya itu. Lagipula, yang Ricky lakukan itu juga demi kebaikan dirinya.


***


Esok paginya, 07.00, Mansion Ricky, kamar Irene


Perlahan Irene pun mulai terbangun setelah pandangannya benar-benar terfokus, ia pun melihat jam yang ada di nakas. Setelah itu ia melihat seseorang yang tengah tertidur dalam posisi membungkuk dan menjadikan lipatan tangannya sebagai bantal. Irene pun duduk. Ia mulai membangunkan Ricky. "Ky, Ky bangun, naik ke kasur gih kalau mau tidur." ucap Irene dengan nada lembut bagaimanapun juga Ricky sudah menemaninya semalaman.


Merasa tidurnya terusik, Ricky pun mulai terbangun dan mengusap-usap matanya. "Ky... Ayo naik ke kasur. Tidurnya di kasur jangan di kursi." ucap Irene lagi berusaha agar Ricky mau tidur di atas kasur. "Ngg... " Ricky yang masih setengah sadar hanya menurut saja. Ia langsung naik ke atas kasur dan kembali tertidur dalam sekejap. Irene yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul. Ia pun turun dari kasur dan mulai beberes kamar tak lupa membawa baskom dan handuk bekas kompres ke dapur.


***


08.00, Dapur, mansion Ricky


GEDUBRAK!!!


Irene seketika terlonjak kaget begitu mendengar suara gempa bumi dari lantai atas. Tak lama setelahnya, terdengar suara langkah menuruni anak tangga dengan terburu-buru. "Ky? Ada apa?" tanya Irene sembari memegang spatula. Rupanya, ia tengah membuat sarapan di dapur. Melihat Irene berada di dapur, seketika membuat Ricky menghela nafas lega. Irene hanya menatap Ricky dengan pandangan bingung setelahnya ia langsung melanjutkan acara memasaknya yang tertinggal.

__ADS_1


Hingga ia kembali terlonjak kaget saat sepasang lengan kekar melingkari perutnya. "Ky?" panggil Irene bingung. "Kamu bikin aku panik aja." ucap Ricky sambil menopang dagunya di bahu Irene. "Yah... Aku ga mau bangunin kamu. Kamu kelihatan capek banget soalnya. Duduk sana. Ini bentar lagi mateng." ucap Irene sembari mengusap lembut pucuk kepala Ricky. Ricky hanya mengangguk pelan dan duduk di kursi meja makan sesuai dengan perintah Irene tadi.


*****


__ADS_2