
Gelang besi itu pun terlepas. Irene pun dengan cepat langsung berganti pakaian dan diam-diam membuka jendela kamarnya dan lompat dari sana. Karena ia sudah terbiasa lompat dari ketinggian, ia pun bisa dengan mudah mendarat mulus di tanah. Irene langsung loncat keluar dari mansion melewati tembok yang menjulang tinggi. Tentu ia perlu memanjat salah satu pohon yang cukup tinggi dan kebetulan berada tepat di sebelah tembok.
Ia pun berhasil kabur dari mansion. Dengan cepat ia langsung men-share lokasinya kepada Cintya agar sekretarisnya itu bisa menjemputnya. Sekitar 30 menit ia habiskan untuk menunggu kedatangan Cintya. Negitu Cintya tiba, ia langsung masuk ke dalam mobil. "Langsung ke perusahaan." ucap Irene pada Cintya.
***
Lovist International Company, 11.00
Berakhir dengan Irene tiba di kantor 2 jam sebelum waktu istirahat. Ia pun langsung bergegas menuju ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang sudah ia tinggalkan selama beberapa hari ini. Dan, yah.... Sesuai dengan dugaannya. Seluruh pekerjaan itu sudah nyaris memenuhi meja kerjanya. Untunglah ia sudah terbiasa untuk mengerjakan banyak tugas sekaligus jika tidak mungkin ia akan lebih memilih untuk membakar semua berkas-berkas yang mengganggu pemandangannya itu.
Hanya saja masalahnya kali ini adalah... Ia harus mengerjakan seluruh berkas yang menumpuk ini dalam keadaan mengantuk. Itu akan mengganggu fokusnya, setelah beberapa kali dibujuk oleh Cintya, Irene pun setuju untuk tidur terlebih dahulu di kamar pribadinya.
***
13.00, Lovist International Company
Ricky yang tahu kalau Irene kabur dari mansion langsung pergi ke Lovist International Company. Namun, keinginan marahnya langsung sirna begitu saja saat melihat Irene di kamar pribadinya tengah bergelung di bawah selimut dengan nyamannya. Ricky pun labgsung menghampiri Urene tak lupa ia mengunci ointu kamar dan pintu ruang CEO terlebih dahulu. Ia pun duduk di tepi kasur berukuran king size itu. Melihat betapa damainya Irene tidur, Ricky pun mengusap pucuk kepala Irene dengan lembut.
Merasa ada yang mengusap pucuk kepalanya, Irene hanya mendusel-dusel mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan mimpinya yang tertunda itu. Namun, seketika ia langsung terdiam mematung. Sejak kapan di kamarnya ada orang lain? Ia ingat kalau Ricky tidak tahu kalau ia kabur dari mansion. Good, sepertinya ia akan mati kali ini. Perlahan ia pun membuka matanya. Dan yak, firasatnya benar. Ricky lah yang mengusap pucuk kepalanya tadi.
***
__ADS_1
Irene sudah siap menerima berbagai omelan dari Ricky. Tapi, yang keuar dari bibir Ricky justru sebuah pertanyaan yang tidak dia sangka-sangka. "Apa aku membangunkanmu?" tanya Ricky dengan nada lembut. Irene pun refleks menggelengkan kepalanya. "Tidurlah lagi. Pekerjaanmu biar aku yang kerjakan." ucap Ricky lagi. Namun, Irene langsung menahannya. "Jangan! Itu tugasku. Bagaimanapun juga aku CEO perusahaan ini dan.... Perusahaan ini aku bangun atas keinginanku sendiri jadi semua pekerjaan itu juga resiko untukku." ucap Irene panjang lebar.
Ricky pun menghela nafas pelan. "Aku temani." ucap Ricky akhirnya. Irene pun mengangguk pelan dan bangkit dari tidurnya. Ia merapihkan keadaannya terlebih dahulu baru keluar ruangan bersama Ricky. Ia juga membuka pintu ruangan yang terkunci baru duduk di balik meja kerjanya, dan mulai mengerjakan seluruh berkas-berkas yang entah kapan habisnya. Berakhirlah dengan Ricky membantu Irene mengerjakan seluruh berkas-berkas yang menjulang itu. Walau harus ada perang mulut dulu sih.
***
Pukul 2 siang Ricky pergi membeli makan siang karena sedari tadi mereka belum mengisi perut sama sekali. Terlebih Irene yang langsung bekerja tanpa minum setetes air pun sedari tadi. Hanya 15 menit waktu yang diperlukan Ricky untuk membeli makan siang di kantin perusahaan Irene. Ricky pun kembali ke ruangan Irene dengan sekantung plastik yang berisi makan siang mereka. Begitu masuk ke dalam Ruangan Ricky hanya tersenyum kecil melihat Irene yang begitu serius mengerjakan pekerjaannya.
"Ayo makan dulu." Ajak Ricky sambil menaruh kantung plastik itu di meja dan mengeluarkan isinya. "Ah, iya." angguk Irene sambil membereskan pekerjaan di tangannya secepat mungkin barulah setelah itu ia mengambil makanan bagiannya. Mereka berdua pun makan dengan khidmat. "Em... Ky. Apa kamu ga marah eaktu aku kabur dari mansion?" tanya Irene takut-takut. "Marah." jawab Ricky enteng. Seketika Irene langsung berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya itu.
***
"Tapi ga jadi." lanjut Ricky. "Hweh? Kwenapwa?" tanya Irene dengan keadaan mulut penuh terisi makanan. "Karena lihat kamu tidur." jawab Ricky yang langsung membuat Irene mengernyit bingung. Apa hubungannya ia tidur dengan Ricky yang tidak jadi marah? "Sudah. Habiskan saja makananmu itu." ujar Ricky yang melihat raut wajah bingung Irene. Irene hanya mengangguk pelan dan menghabiskan makanannya.
***
Pukul 16.00 akhirnya pekerjaan Irene pun selesai. Irene langsung meregangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal. "Mau pulang? Hari ini mama datang." tanya Ricky pada Irene. "Oh... Soal pernikahan tah?" tanya Irene penasaran. "Kayaknya sih gitu." angguk Ricky pelan. "Oh! Aku jemput papi dulu!" ucap Irene langsung bangkit dari duduknya namun, tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan langsung kembali jatuh terduduk.
Ricky langsung menghampiri Irene dengan raut khawatir. "Kamu ga papa?" tanya Ricky khawatir. "Ya. Ga papa kok. Cuma agak pusing aja tadi." jawab Irene dambil memegang kepalanya yang sedikit pusing. "Kamu.... Anemia?" tebak Ricky. "Mungkin. Belakangan ini aku kurang tidur. Terus makan juga ga teratur. Mungkin masuk angin." ucap Irene sambil menghela nafas pelan.
***
__ADS_1
Akhirnya, Ricky pun mengantar Irene pulang ke mansion untuk istirahat dan meminta sekretarisnya pergi menjemput keluarga Irene. Ricky tidak pernah beranjak sedikitpun dari sebelah Irene walau sudah diusir. "Ky, kalau papi atau mama sama papa udah sampe bilangin ya. Aku ga mau mereka panik." ucap Irene pada Ricky dengan suara lemah. Ricky tak ada pilihan lain selain mengangguk mengiyakan. Irene pun membalas dengan senyuman kecil sebelum ia menutup mata untuk terakhir kalinya. Oke-oke author bercanda kok😁. Sebelum dia tertidur.
Sekitar satu jam kemudian, orang tua Ricky pun tiba di mansion. Begitu tahu kalau Irene ambruk, Lucinda dan Rafael langsung menemui Irene. Yang namanya panik, pasti ga akan sempat untuk menahan tenaga lagi. Begitu tiba di depan pintu, Lucinda langsung membanting terbuka pintu itu.
BRAAAKKK!!!
Suara bantingan pintu itu cukup membuat Ricky terlonjak kaget dan Irene terbangun dari tidurnya. Lucinda langsung menghampiri Irene yang masih mengumpulkan nyawanya. "Astaga! Kok kamu bisa tumbang gini!?" tanya Lucinda panik sambil memeriksa keadaan Irene. "Maaf, ma. Irene terlalu memforsir tenaga untuk kerja sampai ga ingat waktu untuk makan dan istirahat." jelas Irene dengan senyum lemah.
***
"Kok kamu ga ingetin dia makan ky!?" tanya Lucinda sambil menatap Ricky kesal. "Ma.... Ini bukan salah Ricky... Aku yang ga dengerin dia. Aku terlalu fokus kerja." ucap Irene sambil memegang tangan Lucinda lembut. Mencegahnya untuk memarahi Ricky lebih lanjut. Lucinda pun menghela nafas pelan. "Mama ga mau lihat kamu kayak gini lagi. Gimana kalau kamu nanti lebih parah dari ini?" ucap Lucinda sambil menatap Irene khawatir.
"Iya. Irene minta maaf, ma." ucap Irene pelan. Lucinda pun mengangguk. "Ky, jaga Irene sampai sembuh." ucap Lucinda pada Ricky. Ricky pun membalas dengan anggukan. Tak lama kemudian, Lucinda dan Rafael pergi ke bawah untuk menemui keluarga Irene. Sepeninggal mereka, Itene pun berusaha duduk dibantu oleh Ricky. "Ky... Tolong ambilin tasku bentar boleh? Ada yang mau kutunjukkan." ucap Irene pada Ricky.
***
Ricky pun menyerahkan tas yang Irene maksud. Irene langsung mengambil sebuah notebook di dalam tasnya dan memberikannya kepada Ricky. Karena bingung, Ricky hanya menerimanya saja. "Itu baru sebagian kecil dari perencanaan yang aku buat semalam habis menyelesaikan pekerjaan. Maaf cuma segitu yang bisa kutulis. Rencananya tadi mau kulanjutkan. Tapi, malah tumbang." jelas Irene pada Ricky dengan senyum tipis.
Ricky pun membaca notebook itu. "Perencanaan Pernikahan?" tanya Ricky kaget. "Ya. Perencanaan pernikahan kita. Itu sebentar lagi kan? Haris diselesaikan secepatnya." ucap Irene sambil menghela nafas pelan. "Kamu menulis ini? Semalaman?" tanya Ricky sambil menatap Irene tak percaya. "Hm.. Iya. Yah.... Memang hasilnya jadi kurang tidur sih.." angguk Irene pada Ricky.
PLAKKKK!!
__ADS_1
******