My Own Life

My Own Life
Episode 23


__ADS_3

Sepeninggal Irene....


"Nold. Menurut kamu gimana?" tanya Aleng tiba-tiba. "Gimana apanya, pi?" tanya Arnold bingung. "Irene sama Ricky itu cocok ga?" tanya Aleng lagi. "Ya... Cocok-cocok aja sih, pi. Tapi kan tergantung mereka berdua juga." jawab Arnold. "Iya." angguk Aleng menyetujui ucapan Arnold barusan. "Emangnya kenapa pi?" tanya Arnold bingung. "Ngga pa pa sih. Cuma... Gimana pendapat kamu kalo papi ngebolehin Ricky sama Irene?" ujar Aleng yang jujur terlihat kebingungan.


"Ngga pa pa sih. Lagian, Irene kan udah gede. Bisa bedain yang mana yang baik mana yang buruk." balas Arnold menyuarakan pendapatnya. "Ya udah. Kamu lanjut maen sama Angel gih. Papi mau liat mobil yang Irene kasih di garasi dulu." uhar Aleng sambil beranjak pergi. Aleng pun pergi ke garasi untuk melihat mobil barunya sedangkan Arnold, ia lanjut bermain bersama dengan adikknya.


***


Lovist International Company, 19.45, Ruang CEO.


Saat ini Irene tengah sibuk mengerjakan berkas-berkas yang sudah cukup menumpuk di atas meja kerjanya. Sepertinya ia akan lembur malam ini. Untung saja di mansion ia susah memperkerjakan beberapa maid dan seorang butler kepercayaannya.


Sekitar pukul 20.15. Irene pun menyuruh Cintia untuk pulang mengingat hari sudah gelap. Jadi, saat ini tinggallah ia seorang diri di kantor sembari berkutat dengan pekerjaannya. Walau ia sudah lelah menulis, mengoreksi, dan menandatangan, ia tetap memaksakan dirinya untuk bekerja agar pekerjaannya cepat usai. Akhirnya, 3 jam kemudian ia sudah menyelesaikan ¾ pekerjaannya. Karena matanya yang sudah tidak kuat lagi, dan waktu yang sudah terlalu larut. Irene pun memutuskan untuk beristirahat di kamar pribadi kantornya. Tak lupa, sebelumnya ia mengabari Aleng agar tidak perlu menunggunya pulang karena ia akan menginap di kantor.


***


Keesokan harinya, 07.00, Ruang CEO, Lovist International Company.


Seperti biasa, Irene begitu bangun langsung kembali berkutat dengan pekerjaan nya. Sekitar 2 jam sudah ia habiskan dan akhirnya pekerjaannya pun usai ia kerjakan. Saat ia sedang merenggangkan tubuh, salah satu handphone nya berdering. Rupanya, Aleng menghubungi nya. Irene pun mengangkat telefon itu. "Halo pi." sapa Irene. "Halo Ren." sapa Aleng dari ujung telefon.


"Ada apa pi?" tanya Irene bingung. "Nanti jam 11 kamu bisa ke Way Lunik ga? Papi, koko, sama Angel mau ke sana nanti." tanya Aleng pada Irene. "Oh.... Berangkat bareng aja nanti. Kerjaan aku uda beres kok. Ini bentar lagi mau pulang." balas Irene santai. "Oh yaudah." sahut Aleng. "Iya. Aku tutup dulu ya, pi. Mau beres-beres." ucap Irene pada Aleng. "Iya." sahut Aleng. Irene pun mematikan sambungan telefonnya.


***


09.30, mansion Irene.

__ADS_1


"Aku pulang." ucap Irene ketika sudah berada di dalam mansion. "Pi. Nanti kita berangkat jam berapa?" tanya Irene pada ayahnya. "Dari sini ke rumah oma berapa lama?" Aleng pun balas bertanya. "Kalau pakai mobil mungkin 30 menitan." jawab Irene memperkirakan waktu. "Oh... Palingan 1 jam lagi." jawab Aleng detelah mengira-ngira waktu tempuh mereka. 'Kalo gw yang nyetir 30 menit.' lanjut Irene dalam hati. "Ya udah. Aku yang nyetir ya, pi." ujar Irene sambil menunjukkan cengirannya. "Iya. Terserah kamu aja." angguk Aleng tak ambil pusing.


"Oh iya, ada acara apaan ke Way Lunik, pi?" tanya Irene penasaran. "Mau bahas soal ChengBeng sih kayaknya." jawab Aleng mengingat-ingat. "Oh... Emang ChengBeng nya kapan?" tanya Irene lagi. "Tanggak 2 April besok." jawab Aleng. "Ooh... " angguk Irene sambil mengingat-ingat apa ia memiliki jadwal penting pada tanggal tersebut atau tidak.


***


Sekitar satu jam setelahnya mereka pun berangkat menuju Way Lunik. Tentu Irene yang menyetir mobil AudiR8 miliknya. Karena itu mobil sport, ia pun menyetir mobil itu dengan kecepatan rata-rata 120km/jam. Memang cukup cepat menurut keluarganya. Tapi, menurut Irene, kecepatan itu masih kurang untuknya. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tak mungkin menambah kecepatan mobilnya lebih dari itu. Bisa-bisa ia diomeli ayahnya nanti. Terlebih, di dalam mobil juga ada Angel. Irene tidak mungkin membawa mobil kebut-kebutan dengan anak kecil di dalamnya.


Setibanya di rumah oma, rupanya adik-adik Aleng yang lain sudah tiba di sana lebih dulu. Setelah memarkirkan mobil, Irene dan yang lain pun turun dari mobil untuk menyapa orang-orang di rumah tersebut. "Acek, Ako." sapa Irene, Arnold, dan Angel. Setelah itu, mereka bertiga juga menyapa orang-orang di dalam rumah. Baru setelahnya mereka bertiga bersantai di sofa ruang televisi sambil menunggu Aleng selesai mengobrol dengan yang lain.


***


"Jadi, ngapain aja Ren?" tanya Parni berbasa-basi. "Ga banyak kok, oma. Palingan ya kerja." Jawab Irene menanggapi Parni. "Kerja mulu. Ga niat nyari cowok lu?" tanya Parni lagi. "Udah punya kok, oma." Jawab Irene santai. "Kapan-kapan ajaklajmh ke sini." ujar Parni yang sepertinya penasaran dengan 'pacar' Irene.


"Okay oma." ucap Irene sambil tersenyum kecil. "Atau nanti oma ikut aja? Aku mau ketemuan sama keluarga dia nanti malam di MBK." ujar Irene tiba-tiba teringat sesuatu. "Jam berapa ketemuannya?" tanya Parni lagi. "Sekitar jam 7 malam." jawab Irene. "Yang pergi lu doang?" tanya Parni penasaran. "Nggak. Barengan sama papi, koko, Angel." jawab Irene lagi.


***



, Aleng yang menyetir. Setibanya di MBK mereka langsung pergi ke Samwon Express. Rupanya lagi-lagi keluarga Ricky sudah tiba lebih dulu.


"Maaf ma, pa. Udah nunggu lama." ujar Irene begitu tiba di hadapan keluarga Ricky. "Nggak lama kok. Cuma Ricky nya aja yang terlaku semangat mau ketemu sama kamu." balas Lucinda tertawa kecil dambil melirik Ricky. Sementara itu, Ricky hanya bisa diam dengan wajah memerah. Irene pun terkekeh pelan melihat keharmonisan keluarga itu. Seketika ia teringat dengan masa lalunya yang kelam.


"Ren?" panggilan Lucinda seketika menariknya dari lamunan. "Ya, Ma?" tanya Irene pada Lucinda. "Kamu lagi mikirin apa sayang?" tanya Lucinda lembut. "Ah... Bukan sesuatu yang penting kok, ma." jawab Irene merasa tak enak hati. Lucinda pun menganggapinya dengan tersent5um lembut. Tak lama berselang, Parni, Edy, Tata, dan juga Siska tiba di meja tempat keluarga Irene dan keluarga Ricky berada. Irene pun langaung meminta mereka berempat duduk di kursi kosong yang masih tersedia di meja tersebut.

__ADS_1


***


Selama beberapa waktu, Irene dan Ricky hanya menyimak pembicaraan dan orang tua mereka lah yang sedari tadi mengobrol. Mereka membahas banyak hal terutama soal keberlangsungan Irene dan Ricky kedepannya. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk membiarkan Irene dan Ricky uang menentukan tanggal pertunangan dan pernikahan mereka masing-masing.


"Jadi.... Bagaimana kalau Irene dan Ricky saja yang menentukan tanggak pertunangan dan pernikahannya? Lagipula, nantinmereka sendiri juga yang akan mengurusnya." usul Lucinda. "Saya setuju. Ini juga bisa menjadi pengalaman seumur hidup untuk mereka berdua." angguk Rafael menyetujui usulan istrinya tadi. "Benar juga. Ko Leng kenapa ga suruh mereka aja yang ngurus? Bisr ada pengalamannya." ucap Edy kepada kakaknya itu. Aleng pun akhirnya mengangguk setuju.


Lucinda langsung menepuk tangannya satu kali dengan antusias. "Nah, jadi kapan kalian memutuskannya?" tanya Lucinda dengan raut wajah berbinar-binar. "Em.... Untuk pertunangan mungkin sekitar bulan depan, ma. Untuk pernikahan.... Mungin Desember tahun depan." usul Irene yang sedikit kelabakan karena mendapat pertanyaan tiba-tiba. "Untuk pertunangan aku setuju. Untuk pernikahannya di percepat. Desember tahun depan masih lama, honey." ucap Ricky sedikit memelas. "Ya udah. Untuk pernikahannya mungkin kisaran bulan September?" usul Irene lagi. "Deal!" ucap Ricky tanpa pikir panjang lagi.


***


Akhirnya, ditetapkanlah tanggal pertunangan mereka adakah 17 Mei. Tepat bulan depan. Sedangkan pernikahan mereka diadakan tepat tanggal 1 September. Sebenarnya Irene ingin mengadakan tanggal pernikahan mereka tepat tanggal 2u September tapi, Ricky tetap bersikeras untuk di percepat lagi. Jadilah tanggal pertunangan mereka adalah tanggal 1 September. Kedua tanggal itu sama-sama berada di hari Minggu. Jadi tidak akan mengganggu jadwal kerja. Walau mereka tetap harus mengambil cuti karena pernikahan mereka diadakan di Prancis.


Pukul 22.00 mereka pun bubar. Dan besok, Irene dan Ricky sudah mulai disibukkan dengan berbagai macam barang yang akan mereka beli untuk pertunangan nanti. (Pertunangannya ala tradisi China). Mulai dari 2 botol putau, pakaian, dan lain-lain. (Yang ga tau search Google yak. Siapa tau mbah Google tau wkwkwk. Kalo nggak comment aja hehe). Mereka juga harus mencari kalung pertunangan. (Tradisi China menggunakan Kalung sebagai media untuk pertunangan dan cincin sebagai media pernikahan.)


***


Keesokan harinya, 08.00, Ruang CEO Lovist International Company.


Irene hari ini bekerja dengan kilat. Karena, pukul 1 siang ia ada janji dengan Ricky untuk pergi makan siang bersama sekaligus mulai menyicil barang-barang yang akan mereka beli untuk acara pertunangan nanti. Di karenakan berkas yang masih terus menumpuk, membuat Irene harus bekerja super cepat dan memeras otaknya. Belakangan ini ia sering melimpahkan pekerjaannya kepada Cintia karena banyaknya hal yang harus ia kerjakan di luar pekerjaan kantornya.


Bahkan, sangking cepstnya ia membaca dan menulis juga mengetik, di ruangan ber ac tersebut ia sampai berkeringat. Ricky yang menontonnya sedari tadi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan calon tunangannya satu ini. Yang tidak mau pekerjaannya di bantu oleh orang lain tapi selalu mengerjakan pekerjaan orang lain bahkan terkadang ia memaksa mengerjakan pekerjaan miliknya dari perusahaan cabang dan perusahaan pusat sekaligus.


*****


Finished

__ADS_1


Saturday, 20 November 2021


__ADS_2