My Own Life

My Own Life
Episode 12


__ADS_3

3 minggu kemudian...


Masa-masa Irene magang bersama Larry pun usai. Saat ini Irene melanjutkan magangnya ke Paris, Perancis. Sedangkan Larry, ia pergi magang ke London, Inggris bersama dengan Karin. Sedangkan Irene ia akan magang bersama Helen. Irene dan Helen memang terbilang cukup akrab. Belum lagi mereka berdua fasih dalam berbahasa Perancis.


Irene dan Helen magang di salah satu perusahaan di Paris. Credit Angricole salah satu perusahaan terkenal di Perancis. Irene memang tak banyak melakukan aktivitas hari pertama magang. Ia malah bertemu dengan seseorang di sana.


***


Credit Agricole, 12.00 , Paris, Prancis.


"Bonjour monseiur, longtempz ne voyez pas, Cher monsieur Ricky (selamat siang tuan, lama tak jumpa ya, tuan Ricky yang terhormat)" ucap Irene sambil tersenyum kecil. "Ah, bonjour aussi mademoiselle (selamat siang juga nona).... Eh anda..." ucap Ricky kaget. "Halo, tak disangka, kita justru bertemu di sini, tuan." ucap Irene kali ini ia menggunakan bahasa Indonesia.


"Iya. Apa yang sedang anda lakukan di sini nona? Bukankah seharusnya saat ini anda sedang berkuliah di Amerika Serikat?" tanya Ricky bingung. "Oh... Saya hanya magang di sini. Saya lupa. Perusahaan ini adalah milik Jean-Paul Chifflet yang saya dengar ia bekerja sama dengan perusahaan anda?" ujar Irene tenang.


"Ya. Anda benar soal itu. Ngomong-ngomong anda tahu dari mana soal itu?" tanya Ricky kaget. "Ahaha... Hanya mendengar gosip hangat karyawan kantor." jawab Irene sedikit tertawa sumbang. "Saya kira anda senang mencari tahu sesuatu tentang ini." ucap Ricky sambil tersenyum kecil. "Aku paling malas mencaritahu tentang orang lain." balas Irene tak lupa senyum tipis terlukis di wajahnya.


***


Generator Paris, 16.00


"Argh! I'm so tired today! And so boring too!" ucap Helen sambil cemberut kesal. "Yah, nothing interesting that we to do today."  balas Irene menambahkan. "Uh... I want to do more better than this tomorrow." ucap Helen masih cemberut berat. "Yeah. U hope so." ucap Irene menyetujui ucapan Helen barusan.


Irene hampir tertawa lepas melihat Helen yang guling-guling di kasur karena bosan. "I want to go to LVMH. Louise Vuittons Moëts Hennessy. You want ro go with ne or want to stay inim here? I have some job and meeting in there." tawar Irene sambil terkekh geli melihat Helen yang sedang asik guling-guling di atas kasur king size mereka. "LVMH!? Are you serious? Of course I want to go there." ucap Helen seketika terdengar antusias.


***


Lucia Vuittons Moëts Hennessy, 16.50


Irene benar-benar membawa Helen ke perusahaan LVMH. Salah satu perusahaan cabang yang sengaja Irene bangun di Paris. Helen terkejut melihat Irene memasuki ruang CEO. Belum sempat Irene memutar kenop pintu, Irene sudah lebih dahulu di cegat oleh Helen. "Hey, are you gonna be crazy huh!? Why you want to open the CEO door!?" ucap Helen dengan raut wajah memucat.

__ADS_1


"Why? Of course I want to go Inside." jawab Irene bingung. "Are you just have some illusination? This is CEO room's!" ucap Helen semakin memucat. "Of course not. I am the CEO in here. In LVMH, Lucia Vuittons Moëts Hennessy." ucap Irene sambil bertolak pinggang sesaat.


Dapat Irene lihat, Helen ternganga kaget. Irene yang tak ingin ambil pusing seketika mendorong Helen untuk menyingkir dari pintu. Helen langsung takjub begitu melihat bagian dalam ruang CEO. Tak hanya rapi dan bersih, ruangan itu juga memiliki perabotan yang bisa membuat orang-orang meneguk liur hanya melihat harga dari perabotan tersebut.



Ruang CEO Irene.


Helen hanya dapat ternganga kaget. Irene hanya geleng-geleng kepala melihat Helen yang hanya bisa ternganga di depan pintu. "You want go inside or no?" pertanyaan Irene barusan seketika menyadarkan Helen dari lamunannya. "Oh, yes. Of course I want to go inside to." ucap Helen lengkap dengan cengiran tanpa dosa miliknya.


"Allese ya-t-i-l quelque chose d'important aquel je dois assister aujourd'hui? (Allese, apa ada hal penting yang harus kuhadiri hari ini?)" tanya Irene pada Allese dengan datar. "Ne manquez pas. Tous les horaines n'ont rien de Nouveau, kous sont normaux (tak ada Jona. Semua jadwal tak ada yang baru, semua normal)" jawab Allese sopan. "Bon s'ebbaras. Informez-moi sil y a quelque chose de nouveau ou un probléme (baguslah. Laporkan padaku jika ada sesuatu yang baru atau suatu masalah)" ucap Irene tegas. "Bonne mademoiselle (baik nona)" jawab Alesse sopan. "Bien. Eu peux partir (baiklah. Kamu boleh keluar)" ucap Irene datar. "Bien. Alors excusez-moi (baik kalau begitu saya permisi)" ucap Alesse sambil membungkuk kecil dan segera pergi keluar ruangan.


***


20.00, L'IMMOBILIÉRE DU DÔME


"So... Larry doesn't know about this?" tanya Helen menerka-nerka. "Yeah. No one know about this. Just you." ujar Irene sambil sibuk mengurus pekerjaan miliknya. "Wow. It's a big news for me." ucap Helen berbinar-binar. "Yeah. For you. But that's not a big news for me." balas Irene tenang.


Helen pun menghela nafas pelan. "Yeah. Up to you." ucap Helen cemberut. Irene pun terkekeh melihat Helen yang cemberut dengan respon yang tadi ia tunjukkan. "Come on. Don't be like that. Harold will be angry with me if he know I see your face like that." canda Irene sambil mengedipkan sebelah matang menggoda Helen.


Seketika wajah Helen memerah malu. "Argh! You always can be like Harold!" udah Helen cemberut berat. Seketika Irene terkikik geli. "Harold was like this." bukan Irene pelan. "What did you said?" tanya Helen bingung karena tidak mendengar apa yang tadi Irene ucapkan. "Nothing." jawab Irene sambil tersenyum kecil. Helen hanya membalas dengan mengangkat bahu sekilas.


***


Sabtu, Crédit Angricole, 09.00


"Bonjour (selamat pagi)." ucap Irene tenang. "Bonjour aussi (selamat pagi juga)." balas Cielle. "Y-a-t-i-l quelque chose que nouns devons faire aujourd'hui (apa ada yang harus kami kerjakan hari ini?)." tanya Irene sopan. "Persona ne fait spécifique ment votre teavicilcomme heir travail comme heir s'il y a d'autres informations que je vousferai savoir plus tard (tak ada yang khusus kerjakan pekerjaan kalian seperti kemarin. Jika ada info lain akan kuberitahu nanti)." ucap Cielle datar. "Bien. Alors nov. Allors m'excuser (baik. Kalau begitu kami permisi)." ucap Irene sopan.


Irene hanya menghela nafas pelan saat tiba di ruang kerjanya. "What's wrong?" tanya Helen khawatir. "Nothing. Just tired." jawab Irene sambil berusaha tersenyum kecil. Helen hanya membalas dengan anggukkan kepala.

__ADS_1


***


Irene kurang senang dengan proses magangbya di Perancis. Tak ada hal menarik yang bisa ia lakukan di Perancis. Selanjutnya, Irene magang bersama Alice di Seoul, Korea Selatan. Tepatnya di BOK (Bank Of Korea). Sedangkan Irene juga memiliki cabang di Korea yaitu, LIC Entertainment salah satu perusahaan cabang yang sengaja Irene gerakkan di bidang Idol.


Irene dan Alice sengaja memilih untuk bekerja di bagian perbankan. Mengingat, Korea selatan terlalu banyak perusahaan yabg diperuntukkan bagi para Idol. Seperti Big Hit Entertainment, SM Entertainment, MMO Entertainment, JYP Entertainment, dan masih banyak yang lain. Lagipula, Alice juga sedang mood untuk mengurus keuangan bank. Irene hanya bisa geleng-geleng kepala melihat selama 3 Minggu Alice yang begitu bersemangat dengan masa-masa magang nya.


***


Bank of Korea, Seoul, Korea Selatan, 09.05


"Annyeong~ Irene imnida." ucap Irene memperkenalkan diri. "Anneyong~ Alice imnida." ucap Alice mengikuti gaya bicara Audy. "Habeodeu daehaggyoeseo inteon-eul soga e hayeo byeoblyeog yucheong (하버드 대하핚요서 인터온을 소카 에 하여 볍렼 유청)[perkenalkan kami peserta magang dari universitas Harvard mohon kerjasamanya]." ucap Irene lengkap dengan gaya bahasa yang formal.


Sejujurnya, itu pertama kalinya Alice mendengar Irene berbicara bahasa lain selain Indonesia dan Inggris dengan lancar. "You can speak Korean?" bisik Alice kaget. "Of course. I can. Korean not hard. But not easy too." ucap Irene tersenyum tipis. "How many language that you know?" tanya Alice takjub. "More than 5." jawab Irene tenang.


Alice hanya dapat berdecak kagum saat mendengar jawaban Irene yang diucapkan dengan nada tenang tadi. "Why you not to be a translator?" tanya Alice masih dengan tatapan kagumnya. "Because I don't want it." jawab Irene santai. Alice pun cemberut kesal. Seketika Irene terkekeh geli. "Come on. I'm serious." ucap Alice dengan nada merajuk. "Iam serious too." ucap Irene tersenyum tipis. "More specificly please." ucap Alice kesal.


"Translator is not my passion, Alice you know it. I love to be an accounting." jelas Irene tenang. "When you love it?" tanya Alice penasaran. "Hmm... Maybe when I was in 10th grade." ucap Irene santai. "And.... Why they know you?" tanya Alice curiga. "Ehm... Don't see me like that. I don't know they can know me." ucap Irene berusaha mengelak.


"Owh yeah? But, they call you ms." ucap Alice semakin curiga. "Alice, all of them called ms." ucap Irene datar. "Yeah, I know. But, they was scary because of you." ucap Alice tegas. "Owh yeah? I didn't feel like that." ucap Irene berbohong. Tentu saja, Irene merasa kalau tatapan para karyawan dia Bank Of Korea sangat takut belum lagi, tanpa ia sengaja ia tadi sempat menunjukkan Aura penuh wibawanya. Beruntung lah dirinya selama di Bank of Korea karena Alice tidak menyadari aura penuh wibawa yang Irene pancarkan.


*****


1506 words


25 januari 2021 finihs


Maafkan author baru bisa di upload sekarang ceritanya ya guys


jangan lupa vote, like, comment, dan favoritekan ya

__ADS_1


__ADS_2