
"Apa aku boleh ikut ke rumah kontrakan orang tuamu itu?" tanya Ricky tiba-tiba. Irene seketika kaget bukan main. "Ha?" ucap Irene kaget. Ricky masih menanti jawaban dari Irene karena ia yakin Irene mendengar ucapannya dengan sangat jelas tadi. "Untuk apa?" tanya Irene bingung. "Hanya ingin saja." balas Ricky santai. "Hanya... Ingin?" Tanya Irene sambil memincingkan matanya, tanda bahwa ia curiga dengan jawaban Ricky barusan.
Ricky pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Eum.... Begini.... Aku hanya ingin melihat kedua orang tuamu saja. Sebagai ungkapan kalau sudah pernah bertemu di pertemuan selanjutnya nanti." ujar Ricky berusaha menjelaskan kepada Irene. "Bilang dari tadi. Ya sudah. Nanti ikut saja dengan mobilku. Parkir saja mobilmu di sini. Herman akan menjaga mobilmu kok." ujar Irene tenang. Ricky pun menghela nafas lega karena Irene memperbolehkannya untuk ikut pergi bertemu dengan keluarganya.
***
Sekitar pukul 2 siang Irene dan Ricky pun pergi menjemput Aleng, Angel, dan juga Arnold. Irene menggunakan mobil lamboghini nya. Karena Aleng mengatakan akan membawa sendiri barang-barang yang perlu dipindahkan ia pun mengendarai mobil Grandmax Pick-up nya. Irene pun membiarkannya. Jadi, ia datang ke rumah kontrakan itu untuk membantu agar Angel bisa ikut tinggal bersama mereka bertiga nantinya. Irene juga tak tahu membawa Ricky bersama nya saat ini nerupakan pilihan baik atau buruk. Lagipula, mungkin Ricky tidak akan membocorkan mengenai perselisihan di keluarganya itu.
Sekitar setengah jam perjalanan berlalu akhirnya, Irene dan Ricky pun tiba di rumah kontrakan yang dituju. Krene Irene bukan tipikal orang yang senang membuang-buang waktu untuk hal yang menurutnya tak berguna, tanpa berfikir panjang lagi ia pun memasuki rumah trrsebut tanpa mengetuknya, dan lagi pintu tersebut sama sekali tidak terkunci. Anggota keluarga yang melihat kedatangan Irene itu pun terkejut terutama, ibu tirinya.
***
"Ooh... Irene yang dateng y. Mami kira siapa..." ujar Ibu tiri Irene dengan nada yang dibuat-buat lembut dan pastinya itu membuat Irene menahan kekesalannya. "Hm." sahut Irene dingin. "Kamu ngapain ke sini Ren?" tanya Ibu tiri Irene lagi kali ini ia mulai terlihat panik. "Kedatangan saya kemari hanya ingin menjemput 3 orang di keluarga ini." ujar irene terus terang. "Jemput? Memangnya mau kemana?" tanya Vita, ibu tirinya itu kaget. "Pindah." jawab Irene singkat.
Tanpa memedulikan respond Vita selanjutnya, Irene langsung pergi mencari Aleng, Arnold, dan Angel. Setelah itu, Irene pun meminta mereka bertiga untuk segera berberes karena hari yang sudah akan gelap. Dan lagi, Irene tidak tahan berlama-lama dengan ibu tirinya itu. Dan sesuai dengan dugaan Irene, orang itu akan menahan dirinya membawa Angel.
Irene hanya berdecih saat melihat Vita memohon-mohon padanya. "Lepas." ujar Irene dingin saat Vita menggenggam tangannya. Tetapi, Vita tetap kekeuh menahan Irene untuk membawa Angel pergi. "Kubilang lepas!!" ucap Irene sambil menepis tangan Vita kasar. Ia pun melempar sebuah amplop coklat berisi segepok uang. "Jangan ganggu kehidupan kami. Itu uang untukmu." ujar Irene dingin. Tanpa melihat ke belakang lagi, mereka berlima Meninggalkan rumah kontrakan itu.
__ADS_1
***
Mansion Irene, 17.00
Irene, Angel, Aleng, Arnold, dan juga Ricky saat ini tengah berada di ruang keluarga mansion Irene. Dapat Irene lihat Ricky sedikit canggung dengan ayahnya. "Ngomong aja kalau kamu emang mau ngomong sesuatu ke papi. Papi makan nasi kok." ujar Irene sambil mengotak-atik ponselnya. Apalagi, jika bukan kembali berkencan dengan pekerjaannya. "Em...." Ricky masih terlihat canggung, ia bingung bagaimana ia harus menyampaikan isi hatinya saat ini.
Irene pun menghela nafas pelan. Melihat Ricky yang canggung, terlebih.... Aleng sedari tadi terlihat seperti meneliti wajah Ricky. "Pi, kenalin ini...." belum sempat Irene selesai Berbicara Ricky sudah memotongnya. "Ha.... Halo om. Saya Ricky. Luciano Ricky Christian. CEO daru Luciano Corporation." ujar Ricky memperkenalkan dirinya. "Ayahnya, Luciano Rafael Alexander dan ibunya Lucinda Agatha. Nama sebelum menikah... Bernadeth Agatha. Ricky punya sepupu di Jepanga,namanya Reimura Kensuke anak dari Reimura Kakeru dan Reimura Reina atau Shiarin Reina. Ken juga CEO dari Reimura Group, baru naik jabatan beberapa hari yang lalu." tambah Irene panjang lebar.
***
Tak hanya Aleng dan Arnold, Ricky pun ikut ternganga. "Dari mana kamu tahu itu semua?" tanya Ricky kaget. "Seseorang mengirim berkas ini padaku beberapa hari lalu." ujar Irene sambil menyodorkan sebuah berkas. "Di sana tertulis nama pengirimnya kok." lanjut Irene sambil kembali duduk bersandar di sofa. Ricky sebenarnya ragu ingin membacanya namun, rasa penasaran nya jauh lebih kuat. Jadi, ia pun mengambil berkas tersebut dan membacanya debgan sedikit rasa tak enak hati.
***
Mendengar hal itu, membuat Ricjy seketika terbengong-bengong. "Kamu... Gak merasa kalo aku mengganggu?" tanya Ricky hati-hati. Irene pun menggelengkan kepalanya. "Sama sekali nggak." jawabnya jujur. Irene pun menyadari kalau Ricky terkejut dengan jawabannya barusan. Irene menhela nafas pelan sebelum berucap. "Aku gak merasa terganggu sama kelakuan kamu selama ini karena aku ga sadar sama hal itu. Jadi, ya. Aku ga keganggu karena kamu sama sekali nggak ngusik hidup aku." Jelas Irene santai.
"Jadi, selama ini kamu uda cari tahu soal Irene?" tanya Aleng kaget. "Begitulah, om." angguk Ricky jujur. "Kenapa kamu memilih Irene?" tanya Aleng lagi. "Em... Menurut saya terkadang mencintai seseorang tidak perlu alasan. Bukan kah begitu?" bukannya menjawab dengan benar, Ricky justru melontarkan pertanyaan juga. Namun, kali ini Aleng hanya terdiam. Karena apa yang Ricky ucapkan benar adanya. Mencintai seseorang tak perlu alasan. Karena cinta itu buta.
__ADS_1
***
Melihat keterdiaman diantara ayahnya dan Ricky, Irene pun membuka suara. "Biarin aja dia berjuang, pi. Cinta emang buta kok. Makanya cinta juga perlu diperjuangin." ujar Irene santai. Ricky pun menatap Irene dengan raut wajah terkejut. Ia kaget dengan apa yang Irene jelaskan tadi. Sedangkan Aleng, ia mengangguk tanda bahwa ia menyetujui apa yang Irene jelaskan barusan.
"Dan lagi.... Kalian juga harus mulai mengakrabkan diri kan?" tambah Irene lagi. Seketika itu juga, Aleng dan Ricky saling bertatapan. Mereka berdua sama-sama sedang memikirkan sesuatu. Irene yang melihat hal itu seketika bingung. "Ada yang salah dengan ucapaniu tadi?" tanya Irene spontan sambil memandangi kedua lelaki di hadapannya itu.
***
Aleng dan Ricky sontak tersadar dari lamunannya. "Ng.... Nggak kok." ucap Ricky sedikit canggung. "Jangan terlalu di pikirin. Emang ga gampang sih buat saling akrab. Tapi ga ada salahnya untuk di coba kan?" ujar Irene lagi. Diantara Ricky dan Aleng tak ada satupun yang membuka suara untuk menanggapi ucapan Irene barusan. Irene pun menghela nafas pelan menghadapi kecanggungan itu. "Ya udah. Kalian ngobrol aja dulu. Aku mau ke perpustakaan untuk ngurus kerjaan kantor." ujar Irene memilih untuk 'mengungsi' dari lokasi.
Irene pun langsung pergi ke perpustakaan miliknya untuk mengurus pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Setidaknya berada di perpustakaan jauh lebih baik dibanding berada di ruang tengah dengan suasana canggung. Sekutar 2 jam ia habiskan berada di dalam perpustakaan pribadinya. Akhirnya, ia pun menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Kali ini ia akan pergi ke kantor jadi Irene pun keluar dari perpustakaan. Begitu tiba di ruang tengah, dapat Irene lihat ahanya ada Aleng, Angel, dan Arnold saja di sana. "Ricky uda pulang pi?" tanya Irene penasaran.
"Uda, barusan." jawab Aleng yang tengah asik bercanda-ria dengan Angel. Irene pun mengangguk tanda bahwa ia paham dengan apa yang Aleng ucapkan. "Ya udah, aku ke kantor dulu pi. Masih ada kerjaan." pamit Irene lalu langsung mengambil kunci mobil, stnk, dll. Dan berangkat ke kantor tanpa menunggu respond dari Aleng.
*****
Finish
__ADS_1
1249 words
Saturday, 07 August 2021