My Own Life

My Own Life
Episode 27


__ADS_3

Ricky pun berjalan mendekati Jessie. "Hoy! Seenggaknya suruh ini berhenti cambuk dulu napa! Kirain gue ga teriak ini ga sakit apa!?" teriakan Irene itu seketika menghentikan langkah Ricky. "Oh maaf. Aku lupa di sana ada kamu, baby." ucap Ricky kelewat santuy. "Anjir-_-. Ya udah berhentiin dulu!!" teriak Irene lagi.


"Lo denger ga?" ucap Ricky kali ini kembali menatap Jessie dengan raut wajah dingin. Jessie pun menyuruh bawahannya untuk berhenti mencambuki Irene. "Gitu dong. Sono lanjutin." sungut Irene saat punggungnya sudah tidak terkena cambukan lagi. Ia yakin, darah tak henti-hentinya mengalir dari luka-luka bekas cambukan itu.


***


Ricky pun berjalan mendekati Jessie. Sementara Jessie berjalan mundur menjauhi Ricky. Kebetulan ada sebuah bangku di dekat kaki Irene, ia pun menendang bangku itu dan bangku itu tepat berhenti di belakang Jessie. Karena tak siap, Jessie pun jatuh terduduk di atas bangku. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Ricky langsung mendekati Jessie dan meng-kabedon-nya.


Irene hanya menonton mereka berdua dengan raut wajah datar. Ia nampak tak tertarik dengan apa yang ada di depan matanya saat ini. "Tadi, muka lo senang bener liat gue di cambukin dari jam 6 sore sampai tadi kok seksrang muka lo kek orang nahan beraq gitu?" ledek Irene dari posisinya yang masih di gantung itu. "Diam!!" bentak salah satu bawahan Jessie sambil mencambuk Irene dengan kuat. "Sshh!" desis Irene menahan sakit.


***


Emosi Ricky kembali menuncak saat melihat Irene kembali dicambuk. Tak lama setelahnya, para bodyguard Ricky mendobrak masuk ke dalam ruangan. "Habisi mereka." titah Ricky tanpa menoleh sama sekali. "Baik tuan." sahut salah satu dari mereka. Setelah itu, terjadilah aksi baku tembak di ruangan itu. Irene hanya menatap kejadian live di depannya itu dengan raut wajah datar.


"Dan, untuk perempuan ini berikan dia pada 'peliharaan' yang ada di ruang bawah tanah." titah Ricky lagi saat akshi baku tembak usai. Para bodyguard pun langsung membaea Jessie pergi. Dengan cepat, Ricky langsung menghampiri Irene dan melepas rantai yang mengikat kedua tangannya. "Huft... Akhirnya lepas juga." ucap Irene begitu kakinya sudah menapak di tanah. Tiba-tiba saja Ricky memasang sebuah gelang besi pada tangan kiri Irene.


"Apa ini?" tanya Irene sambil berusaha melepas gelang itu. Sayangnya, gelang itu seolah seperti menempel pada tangannya. "Gelang itu akan bereaksi ketika kamu berada lebih dari 20 meter dariku atau berniat keluar dari mansionku atau pergi tanpa seizinku." jawab Ricky serius. "Apa!?" ucap Irene dambil terbelalak kaget. "Mulai hari ini, kamu akan tinggal bersamaku." ucap Ricky lagi. Tak bisa dibantah.


***


Irene hanya bisa pasrah mengikuti Ricky. Ia akhirnya tinggal bersama dengan Ricky. Ia hanya bisa menghela nafas berat karena tak ada pilihan lain. "Ayolah... Bagaimana aku bisa pergi ke perusahaan kalau aku saja ga boleh berada jauh darimu atau tanpa seizinmu!?" Ujar Irene sambil menghela nafas entah yang keberapa kalinya.

__ADS_1


"Kerjakan itu di kantorku." balas Ricky datar. "Tapi... " belum usai Irene protes, Ricky sudah kembali memotongnya. "Aku tak menerima bantahan apapun." ujsr Ricky tegas.. Lagi-lagi Itene hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tidak bisa menolak Ricky kali ini. Akhirnya, Irene pun ikut sampai ke mansion Ricky.


***


Mansion Ricky, 03.50


"Jadi... Dimana aku tidur? Kalau aku tidak boleh berada jauh darimu mungkin kamar kita berdekatan." ucap Irene tak ingin berbasa-basi. "Hm... Kamarmu di sebelah kamarku." ucap Ricky sambil berjalan menaiki tangga, Irene pun mengekorinya. Ia langsung masuk ke kamar yang ditunjuk oleh Ricky dan begitu membuka pintu ia langsung mematung.


"Astaga.... Ini kamar... Ah sudahlah." gumam Irene lalu masuk ke dalam ruangan super besar itu malahan, kamar author juga kalah gedenya. Irene segera mandi. Namun, begitu usai mandi ia langsung teringat kalau ia ke mansion Ricky tanpa membawa baju ganti sama sekali. Jadilah, ia langsung menggunakan bathrobe dan pergi ke kamar Ricky.


***


Tok... Tok... Tok...


Irene seketika teringat sesuatu. "Ah! Bajuku? Aku kemari tanpa menbawa baju ganti, ingat." ujar Irene tanpa berbalik badan. "Ada di lemari kamarmu. Sudah kusiapkan semua." balas Ricky lalu kembali menutup pintu. Irene pun langsung mengernyit bingung mendapati sikap Ricky tadi. Tapi, ia tak terlalu mengambil pusing dan berjalan kembali ke kamarnya.


***


Irene pun mengenakan sebuah dress selutut berwarna putih yang menurutnya cukup nyaman untuk ia jadikan sebagai baju tidur. Ia pun rebahan di kasur. "Humph.. Dia benar-benar niat menghukumku. Bahkan, gelang ini pun tahan air. Haishhh.... Pekerjaanku... " dumel Irene meratapi nasibnya. "Apa aku akan tinggal di sini kalau sudah menikah dengannya?" tanya Irene lagi entah kepada siapa. (Author :"Ya iyalah mau tinggal di mana lagi? Kolong jembatan lu?" Irene:"Diem lu thor. Ini part gue ga usah ngikut lu.". Author:"Dih, suka suka gue lah. Yang bikin kan gue.". Readers:"UDA LANJUT THORR!"). Irene pun guling-guling di atas kasur King Size itu. Ia benar-benar pusing dengan keadaannya saat ini.


Tanpa ia sadari, Ricky mengamati setiap gerak-geriknya dari televisi yang ada di kamarnya. Ia kembali duduk di kasurnya dengan raut wajah berfikir. "Tapi... Kenapa muka dia tadi dingin banget yak? Pertama kalinya gue liat dia dingin kek gitu. Apa... Aih.. Gue ga mau mikir aneh-aneh dah. Dahlah jalan-jalan aja... Tapi magerrr... Ga boleh jauh-jauh dari dia dan mansion ini... Ya?" ucap Irene sambil membanting tubuhnya kembali ke atas kasur.

__ADS_1


Tanpa sadar Ricky terkekeh geli melihat Tingkah Irene yang seperti anak kecil di kamar tapi, jika ia tidak menghukum Irene seperti itu, ia tak akan jera. Tiba-tiba saja Ricky teringat sesuatu dan segera mencari kotak P3K dan pergi ke kamar Irene.


***


BRAAKKK!!!!


"EH! COPOT LU MAKKK!!" Ucap Irene seketika latah. "Emak siapa yang copot?" tanya Ricky bingung. "Emak orang! Kaget tau latah nih!" Dumel Irene pada Ricky. "Oh" sahut Ricky seadanya dengan nada datar. Lalu, ia menghampiri Irene dengan kotak obat di tangannya. "Kenapa?" tanya Irene bingung sambil bangkit dari posisinya. "Buka bajumu." ucap Ricky datar.


"Untuk-" Irene langsung terdiam begitu melihat kotak obat di tangan Ricky. "Oh... Tak perlu Repot-repot. Aku bisa mengobatinya sendiri nanti. Lagipula, lukanya juga sudah mengering kok." ucap Irene mulai beringsut mundur menjauhi Ricky. Ricky hanya menatap Irene dengan tajam. Irene pun menghela nafas lelah. "Jangan kaget. Jangan marah juga." ucap Irene sebelum membelakangi Ricky dan membuka bajunya. Ricky terbelalak kaget begitu melihat punggung Irene. Bukan karena cambukan. Tapi karena banyaknya bekas luka di tubuhnya dan sebuah tato kecil di daerah pinggulnya.


***


"Kamu mentato dirimu?" tanya Ricky merasa kesal. "Ini paksaan. Aku tak bisa menolaknya." jawab Irene pelan. Ricky pun menghela nafas pelan dan duduk di atas kasur. "Kemari" ucapnya sambil membuka kotak obat yang ia bawa. Irene perlahan menghampiri Ricky. "Boleh aku mengobatinya sendiri?" tanya Irene lagi. Ia benar-benar merasa tidak enak hati. Terlebih, saat ini ia merasa Ricky sedang menjauhinya tanpa alasan yang jelas.


"Tidak" jawab Ricky dingin. Irene pun duduk membelakangi Ricky. Dengan perlahan Ricky mulai mengobati luka di sekujur tubuh Irene. Tak lupa ia juga memperbannya. Beberapa kali Irene sempat meringis menahan sakit tapi tetap diam tak bergerak dan juga tidak bersuara. Ricky pun langsung membereskan kotak obatnya usai mengobati Irene. "Istirahatlah" ucapnya sebelum keluar dari kamar Irene. "Terima kasih." ucap Irene sebelum Ricky menghilang dari pandangannya.


***


"Duh.... Sakit juga." ucap Irene sambil meringis kecil. "Sekarang, bagaimana caranya aku tidur?" tanya Irene pada dirinya sendiri. Ia tak mungkin tidur dengan keadaan punggung yang masih nyut-nyutan ini. Hingga, tak lama setelah itu, pintu kamarnya kembali menjeblak terbuka. "Hm? Ada apa?" tanya Irene setelah mengetahui siapa yang membuka pintu kamarnya.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Ricky masih terdengar dingin. "Sebentar lagi." balas Irene tak menjawab pertanyaan yang Ricky lontarkan. "Apa yang kamu tunggu?" tanya Ricky lagi. "Tak ada." jawan Irene datar. 'Selain mencari tahu bagaimana aku tidur sekarang.' lanjutnya dalam hati. Ricky hanya mengernyitkan keningnya bingung. Lalu menghampiri kasur Irene dan rebahan di sana. "Hey! Kamarmu kan di sebelah." Protes Irene.

__ADS_1


Ricky pun menepuk sebelahnya yang masih cukup lapang. "Hah?" Irene hanya menatap Ricky bingung. "Kemari. Punggungmu sakit bukan? Sini." titah Ricky. Irene pun menghala nafas pelan dan menghampiri Ricky lalu tidur di sebelahnya dengan posisi menyamping, memunggungi Ricky. Ia terlalu malas untuk berdebat dengan Ricky saat ini.


*****


__ADS_2