
"Kau.... Jeremy?" ucap Irene kaget bukan main. "Siapa?" tanya Ricky sambil menatap lelaki di hadapannya itu dengan tatapan tajam. "O-oh... Itu Jeremy. Jeremia Anugrah. Dia mantan pacarku 2 tahun lalu. Jem, kenalin ini Ricky. Luciano Ricky Christian. Dia calon suamiku." Irene pun memperkenalkan mereka berdua. "Ricky." ucap Ricky sambil mengulurkan tangan kanannya tanda ia ingin berjabat tangan walau dalam hati dia tidak niat sama sekali. "Jeremy." balas Jeremy sambil menjabat tangan Ricky.
"Lo ngapain di sini, Jem?" tanya Irene bingung. "Ngepet. Ya beli jam lah." jawab Jeremy asal. "Ya... Ga usah ngegas kali. Dan, gue mau lanjut belanja bye." ucap Irene sambil menggandeng tangan Ricky dan melanjutkan pencarian jam tangan yang ia incar. "Beli di toko lain aja." ucap Ricky karena ia yakin jam tangan uang Irene cari tidak ada di toko ini. "Ga deh. Ini toko uda jadi langgananku soalnya." tolak Irene masih setia memandangi etalase toko.
***
Tapi yang namanya Ricky mana bisa dibantah. Ricky langsung menyeret Irene keluar dari toko jam tangan yang manurutnya 'murah' itu. Dan mereka pun memasuki toko jam tangan langganan Ricky. Begitu memasukitoko mereka langsung disambut dengan sopan oleh seluruh pegawai toko. "Em? Ky? Yakin... Di sini kan jam tangannya-" Irene pun menatap sekitarnya dengan keringat dingin.
"Pilih." titah Ricky datar. Mau tak mau Irene pun mulai berkeliling mencari Jam tangan di toko itu. Dan pandangannya pun terjatuh pada sepasang jam tangan Couple bermerek Alexandre Christie. Yah, cukup mahal tapi Irene tertarik pada jam tangan itu terlebih itu jam tangan couple. Jarang-jarang gitu pake barang couplean.
Jam tangan yang Irene incar ๐
***
Belum sempat Irene mengincar jam tangan yang lain, Ricky sudah lebih dulu menagan tangannya. "Bungkus yang ini." ucap Ricky sambil menunjuk jam tangan yang tadi Irene perhatikan. Irene pun bersiap untuk protes namun, melihat tatapan yang Ricky layangkan padannya membuatnya kembali bungkam. Usai membeli jam tangan, mereka berdua pun lanjut membeli parfum. Kali ini mereka pergi ke toko langganan Lucinda yang pastinya harga parfumnya selangit.
Kali ini Ricky yang membelikan parfumnya. Ia membeli parfum Allegoria beraroma Flora Cherrysia. Irene hanya menunggu di luar. Karena Ricky tahu jika Irene ikut masuk ke dalam ia tidak akan selesai memilih parfumnya. "Nih" Ricky pun menyodorkan sebuah totebag (gini bukan seh tulisannya?) yang berisi perfum yang tadi ia beli kepada Irene. "Oh, makasih." ucapnya sambil menerima totebag itu.
Parfum yang Ricky beli๐
__ADS_1
***
12.00, Restoran XX, Mall XX
Karena sudah pukul 12 siang, mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama. Sembari memikirkan mengenai acara pernikahan nanti. Usai makan, mereka pun langsung mendiskusikan mengenai apa saja yang akan mereka lakukan untuk acara pernikahan mereka nanti. "Em... Gimana kalau kita pakai jasa Wedding Organizer aja? Seenggaknya kita nanti ga terlalu repot." tanya Irene meminta pendapat Ricky. Ricky pun mengangguk tanda setuju "soal cincin, aku ada tau toko perhiasan sih. Yang biasa ngurus ginian. Mau ke sana?'" tanya Irene lagi.
"Dimana?" tanya Ricky penasaran. "Di lantai 3 mall ini. Di lorong deket bioskop." jawab Irene memberitahu letak toko perhiasan yang ia maksud. "Ya udah nanti di cek ke sana." angguk Ricky menyetujui usulan Irene. "Em... Soal baju pengantin... Aku kurang tau soal butik sih... Kamu tau?" tanya Irene bingung. "Butik nanti tanya mama aja." ucap Ricky tak ambil pusing. "Oke" angguk Irene.
"Jadi... Cincin sama baju udah beres. Untuk tempat resepsi sama gereja?" tanya Irene lagi. "Gereja udah kan? Untuk resepsi kan di Hotel. Paris." ujar Ricky dengan raut wajah bingung. "Paris? Kamu yakin? Biaya ke sana ga murah lho. Bekum lagi hotel segala macem? Uang nya cukup? Terus juga kan kita ga tau sodara ku semuanya berangkat apa nggak." ucap Irene memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.
***
"Yah, memang. Tapi, bukannya kalau di Indonesia doang bosan? Kita coba aja ke luar negri." ucap Ricky memberikan pendapatnya. "Ya emang sih... Tapi, Paris? Apa ga terlalu jauh?" tanya Irene lagi. "Emang jauh. Tapi seenggaknya ga sejauh dari sini ke California kan? Lagian papa juga yang mau kita resepsi di sana." ucap Ricky sambil menghela nafas lelah. "Oh... Oke." Irene pun tidak menyuarakan protes aaaun setelah itu.
"Untuk makanan nanti dari hotelnya aja. Souvenir besok aja carinya. Hari ini cari WO dulu." ucap Ricky menyusun rencana. Irene pun mengangguk setuju. "Kamu ada kenal orang Wedding Organizer? Kalo ga kenal nanti aku coba tanya ke teman siapa tau ada yang kenal." tanya Irene lagi. "Kalau itu di sini banyak. Nanti sore keliling aja." ucap Ricky santai. "Em.. Oke." Irene pun mengangguk setuju.
***
Setelah beberapa kali berkeliling akhirnya mereka pun menemukan jasa wedding organizer yang cocok. Cocok dengan selera Ricky maksudnya. Akhirnya pukul 7 malam mereka berdua pun tiba di mansion Ricky. Mereka langsung membersihkan diri baru makan bersama. Seperti sebelumnya, suasana ruang makan begitu sunyi. Habya ada suara dentingan sendok dan piring.
***
23.00, jam yang sehaeusnya sudah menunjukkan waktunya tidur. Seperti halnya Ricky yang sudah bergulung di balik selimutnya. Berbeda dengan Irene yang masih berkutat dengan laptopnya. Ia belum juga usai mengerjakan seluruh berkas yang dikirimkan oleh sekretarisnya. Ia juga masih harus menulis list untuk masalah pernikahannya dengan Ricky nanti. Jadi, malam ini mungkin ia akan lembur hingga pagi. Yah... Semoga saja Ricky tidak tahu soal ini.
__ADS_1
Beberapa kali ia terlihat mengantuk tapi, ia masih memaksakan diri untuk tetap terjaga. Karena jika ini tidak secepatnya ia selesaikan takutnya ia sudah tak punya waktu yang cukup untuk urusan yang lainnya yang tak bisa ia tinggalkan.
***
04.00, akhirnya berkas-berkas Irene pun selesai di kerjakan. Irene pun meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. "Huft... 2 jam lagi pukul 6 nanggung amat mau tidur. Mandi ajalah." gumam Irene sambil beranjak ke kamar mandi. Ia mandi dengan air dingin. Benar-benar mencari penyakit. Kamar ber-AC, mandi air dingin, pagi buta pula. Tapi, itulah Irene. Untuk mengusir rasa kantuk katanya.
04.30, Irene pun usai mandi. Namun, karena tidak tidur semalaman pasti ia mengantuk. Jadi, Irene mencari-cari sesuatu yang bisa ia kerjakan di kamar itu. Karena ia tidak tahu di mana dapurnya dari pada pagi-pagi buta ada insiden nyasar di mansion orang kan ga lucu.
***
07.00, Ruang Makan, Mansion Ricky
"Kenapa matamu berkantung?" tanya Ricky sambil menatap Irene yang terlihat sangat tidak bertenaga. "Oh.... Ini. Aku hanya kurang tidur saja." jawab Irene terdengar lemas. "Kamu ngapain aja semalam?" tanya Ricky menahan kesal. "Mengerjakan berkas kantor." jawab Irene jujur. "Memangnya tunggu besok ga bisa?" tanya Ricky kesal. Irene menggeleng pelan. "Makin hari pasti ga ada kerjaan. Kalo tunggu besok pasti nambah lagi. Makin ga selesai-selesai." jawab Irene lemas.
"Hari ini kamu gak usah ke kantor." ujar Ricky mutlak. "Apa!? Tapi, hari ini aju kan harus cek perusahaan!" protes Irene seketika tidak terima. "Kamu mau ngecek perusahaan dengan keadaan begitu? Jelas tidak akan ku izinkan." balas Ricky datar. "Ta-tapi kan... " Irene masih berusaha untuj protes. "Tak ada bantahan. Kesehatanmu lebih penting. Aku ga mau kamu sakit." ujar Ricky serius.
***
Irene pun seketika cemberut kesal. Ia ingin protes tapi ia yakin kalau Ricky masih memiliki 1001 cara untuk dapat menahannya tetap berada di mansion miliknya. Salah satunya gelang di tangannya ini. "Haish... Kamu menyebalkan!" setelah berucap seperti itu, Irene langsung berlari ke kamarnya dan membanting pintunya tertutup tak lupa untuk menguncinya.
Ricky pun menghela nafas lelah dan pergi meninggalkan mansion. Meninggalkan Irene di dalam kamar. Sementara itu, di kamar Irene sedang berfikir keras untuk melepas gelang di tangan kirinya itu. Ia mulai berkeliling ruangan untuk mencari benda yang sekiranya bisa membantunya. Tanpa sengaja matanya menantap sebuah peniti. Ia pun mengambil peniti itu dan mengutak-atik nya. Setelah itu, ia pun mulai Mencongkel-congkel ke sela-sela gelang besi di lengannya.
Klek
__ADS_1
"Akhirnya lepas juga."
*****