
"Karena tempat ini untuk kakakku!" ujar Sherlyn kesal. "Untuk dia? Apa gue ga salah dengar? Restoran ini tidak menerima tamu reservasi lho" balas Irene santai. "Heh! Jangankan reservasi, kakakku bahkan bisa membeli restoran ini!" ujar Sherlyn dengan nada sombong. "Lalu? Apa itu urusanku?" tanya Irene dengan raut wajah malas. "Lo ini bisa ga sih ga csri masalah dengan kami!?" bentak Jessie yang sudah mencapai batas kesabarannya.
"Yang sejak awal cari masalah itu kalian. Terutama kau. Ayo kita pindah. Tempat ini sudah membuatku mual dengan kehadiran 2 perempuan ini." ujar Irene sambil beranjak dari posisinya. "Bagus! Pergilah!" ucap Sherlyn sambil tersenyum puas. "Ini peringatan terakhir. Kau yang menyukai Ricky. Tapi, Ricky menyukaiku. Urus sendiri masalahmu. Jangan libatkan aku sebelum kau mengalami apa yang tidak ingin kau alami." ujar Irene sebelum pergi meninggalkan restoran. Melihat calon istrinya pergi, Ricky pun langsung menyusul tanpa peduli dengan Jessie yang barusaha menahannya dari tadi.
***
Setelah mereka berdua masuk ke dalam. Mobil barulah Ricky membuka pembicaraan. "Aku mint maaf soal kekacauan tadi." ucap Ricky merasa bersalah. "Tak apa. Lagipula itu bukan salahmu. Hanya saja dia benar-benar mengibarkan bendera perang." balas Irene terlihat tenang namun nada bicaranya masih aja dingin. Ricky langsung menatap Irene tajam. Irene yang merasakan tatapan itu pun balas menatap Ricky. "Apa? Mau melarangku meladeninya? Tenang, lagipula aku bukan tipikal orang yang langsung maju begitu saja." ujar Irene yang sudah bisa menebak isi pikiran Ricky.
"Bagaimana kalau nanti kamu terluka olehnya!?" ujar Ricky kali ini dengan raut wajah khawatir. "Hey... Aku sudah biasa di sakiti. Jadi, kamu tenang saja." ujar Irene tenang. "Justru karena kamu sering di sakiti! Aku tidak ingin kamu mengalaminya lagi!" ujar Ricky sembari mencengkram kedua bahu Irene. "Hah.... Bahasa itu di rumah saja atau di kantor. Sekarang ayo makan." ucap Irene akhirnya mengalihkan topik.
***
Ricky pun menyetir mobil menuju salah satu restoran dan makan bersama Irene di sana. Usai makan, Ricky dan Irene pun kembali ke Lovist International Company. Mereka langsung menuju ke ruang CEO, terutama Ricky yang sudah melangkah lebar-lebar.
Ruang CEO, Lovist International Company, 14.00
Ricky duduk di hadapan Irene sementara Irene mengerjakan pekerjaannya yang belum usai ia kerjakan. "Kenapa kamu tak ingin aku merasa sakit lagi?" tanya Irene memutus keheningan yang cukup mencekam itu. "Karena sudah cukup kamu harus mengalaminya! Itu sudah puluhan tahun!" jawab Ricky terdengar kesal. "Tapi, bukan berarti aku tak akan merasakannya lagi kan?" tanya Irene lagi tanpa meengalihkan padangannya dari berkas di tangannya.
__ADS_1
"Tapi ga kayak gini juga!" balas Ricjy sambil menggebrak meja cukup keras. Irene hanya menatap Ricky datar. "Dengar... Tiada hari tanpa rasa sakit. Itu yang ada di kepalaku. Dan, itu yang kujalani. Puluhan tahun merasa sakit? Memang. Hingga sekarang aku masih merasakannya. Aku ga pernah lepas dari itu karena itu memang bagian dari kehidupanku. Jadi, jangan halangi aku." jelas Irene panjang lebar dengan wajah datar.
***
Dengan cepat, Ricky berjalan menghampiri Irene. Ia labgsung memutar kursi kerja Irene. Ia langsung mencengkram kemeja yang Irene gunakan dan sedikit menariknya. "Kubilang tidak maka jawabannya tidak." ucap Ricky kali ini terdengar dingin. Irene justru menatap Ricky tak kalah dingin. "Memang kamu siapa berani menahanku?" tanya Irene dingin. "Aku calon suamimu!" ujar Ricky sembari menahan kekesalannya. "Masih calon." balas Irene datar.
"Pernikahan kita tinggal 3 minggu lagi!" ujar Ricky terlihat marah. "Lalu?" tanya Irene terdengar tidak peduli. Amarah Ricky pun tidak bisa di tahan lagi. "Kamu..." Ricky berusaha menahan dirinya agar tidak merusak barang saat ini karena ia paling anti memukul perempuan. "Aku kenapa? Kamu tak suka?" balas Irene sambil menatap Ricky datar. "Tentu aku tidak suka! Berhenti membantah! Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu!" ujar Ricky terdengar marah.
***
"Lalu? Kenapa kamu tidak mengurus dirimu sendiri saja!? Sudah kubilang aku akan mengurus anak itu maka aku akan mengurusnya!" ujar Irene tetap kekeuh ingin mengurus masalahnya dengan Jessie. "Jangan menge-mmmphh!" ucapan Irene terpotong karena Ricky yang tiba-tiba mencium bibirnya dengan ganas. Bahkan, Irene dibuat kewalahan olehnya. Ricky terus mencumbu bibir Irene dengan rakus hingga ia rasa Irene sudah kekurangan pasokan oksigen barulah ia melepas pagutannya.
"Aku janji, aku akan Baik-baik saja. Tidak akan ada masalah." ucap Irene barusaha menenangkan Ricky. Namun, Ricky masih kekeuh menggelengkan kepalanya. Irene tidak tahu apa yang pernah ia alami dulu tapi, ia benar-benar harus menyelesailan permasalahan ini. "Percayalah. Aku akan Baik-baik saja. Bukankah kamu berjanji untuk mengawasiku?" ucap Irene masuh berusaha menenangkan Ricky.
***
Setelah bermenit-menit berusaha menenangkan sekaligus mendapat izin dari Ricky, misi pun usai. Ricky akhirnya tenang. Ia juga sudah mengizinkan Irene menyelesaikan konfliknya dengan Jessie dengan syarat, Ricky akan mengawasinya dari kejauhan. Sekitar pukul 4 sore, Ricky pun pulang dan Irene kembali bekerja. Hingga, sakah seorang office girl memasuki ruang kerjanya dengan secup coffee.
__ADS_1
"Aku tidak memesan kopi." ucap Irene sambil mengernyit bingung. "Nona Cintya yang meminta saya mebgantarkan ini untuk anda." ucap Office Girl itu. "Taruh saja." ucap Irene akhirnya. Setelah menaruh kopu itu di atas meja Office Girl itu pun langsung undur diri dan Irene kembali melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali menyeruput kopi itu.
Hingga, ia merasa ada sesuatu yang janggal pada tubuhnya. Ia merasa sangat mengantuk dan kepanasan padahal AC di ruangannya sudah cukup dingin. "Sialan." umpatnya sebelum pandangannya memburam dan akhirnya tak sadarkan diri.
***
18.00, Gudang Daerah XX
Perlahan Irene pun mulai membuka matanya. Ia langsung menatap sekitar begitu pandangannya jelas di ruangan yang remang dan bau itu. "Sudah bangun?" tanya sebuah suara yang amat ia kenali. "Ck ck ck. Gaya penculikan yang amat mudah di kenali." sindir Irene tidak mempedulikan bahwa kedua tangannya tengah terikat di kanan kirinya dan posisi tubuhnya yang tidak menapak.
"Rupanya kamu masih mampu omong besar walau dengan posisi begitu ya?" tanya Jessie sambil menatap Irene remeh. "Memang kenapa?" balas Irene dengan smirk di wajahnya. Jessie pun menatap Irene kesal. "Cambuk dia." titah Jessie. Sebuah cambukan pun mengenai punggung Irene yang masih terbalut dengan kemeja kerjanya. Irene hanya menahan rasa sakit itu.
"Aku ingin tahu berapa lama kamu bisa menahan rasa sakit itu. Cambuk dia terus-menerus!" Ujsr Jessie terlihat senang. "Aku khawatir. Rasa senangmu itu tidak akan bertahan lama." ujar Irene di sela-sela menahan rasa sakit di tubuhnya itu.
***
Puluhan. Bahkan ratusan cambukan mengenai tubuh Irene. Bahkan, tubuhnya berdarah-darah. Namun, tak satupun teriakan rasa sakit kekuar dari mulutnya. Hingga, 02.00 dini hari cambukan itu belum usai juga. Sampai-sampai mereka semua di buat terkejut dengan suara dobrakan pintu. "Irene!!" ucap Ricky yang terkejut melihat keadaan calon istrinya yang cukup mengenaskan. "Wow... Perhitunganku salah. By the way, selamat pagi." ucap Irene terdengar lemah sembaru cambukan yang masih belum berhenti juga mengenai tubuhnya.
__ADS_1
Sementara itu, Jessie memucat. Ia tidak menyangka kalau Ricky akan menemukan mereka secepat ini. "Lo.... Benar-benar mengabaikan omongan gue ya. Beraninya lo nyakitin tunangan gue... Kayaknya, lo udah bosen hidup." ucap Ricky sambil menatap Jessie tajam. "K-K-Ky... Ini ga kayak yang lo pikirin." ucap Jessie ketakutan. "Diam! Lo haru tau akibatnya kalau menyentuh orang-orang gue." ucap Ricky terdengar murka.
*****