
"Woah!" Irene kembali terkejut saat merasa tubuhnya serasa di tarik lalu melayang dan dalam sekejap ia sudah berada di atas tubuh Ricky dengan posisi tengkurap. "Ap-" belum usai ia memprotes, Ricky sudah memotong ucapannya. "Siapa yang mengatakan kamu tidur di sebelahku?" tanya Ricky datar. "Ha?" Irene pun sontak melongo bingung. "Aku tak menyuruhmu tidur di sebelahku. Tapi di sini." ucap Ricky lagi.
Kali ini ia sukses membuat Irene terbelalak kaget. "Hah!?" ucap Irene seketika syok berat. "Tak ada bantahan." ucap Ricky datar. Dan setelahnya, ia menahan tubuh Irene agar tak banyak bergerak. Irene pun tak jadi memprotes. Karena ucapan Ricky barusan.
***
Esok harinya, 05.00
Irene sudah terbangun, namun tidak dengan Ricky. Hanya saja, entah mengapa Irene merasa kesulitan untuk bangkit dari atas tubuh Ricky. Ricky memeluknya dengan erat, ia jadi sulit bangkit tanpa harus membuat Ricky terbangun. Karena ia tahu, Ricky semalam tidak langsung tidur. Ia menjaga tubuhnya agar tidak berpindah tempat semalam.
"Haih... Bagaimana caraku bangun sekarang? Aku benar-benar mau mandi." desis Irene sambil memutar otaknya. "Ini masih jam 5 pagi. Mandi bisa jam 6." mendengar suara Ricky, sontak membuatnya terkejut.
***
"Ah, maaf. Apa aku membuatmu terbangun?" tanya Irene begitu tersadar dari keterkejutan nya. "Hm. Bisa di bilang begitu." jawab Ricky sambil membuka matanya. "E-eh, m-maaf. Kamu bisa kembali tidur." ucap Irene merasa bersalah. "Aku akan kembali tidur jika... " Ricky sengaja menggantung kalimatnya. "Jika?" tanya Irene bingung. "Jika kamu menggeser lututmu dari juniorku. Itu menggeseknya." lanjut Ricky sambil menunjuk juniornya yang sudah menegang.
Wajah Irene seketika memerah. "Ma-maaf!" ucap Irene sambil berusaha untuk bangkit. Namun, itu justru semakin menbuat lututnya menekan junior Ricky. "Ngh!" spontan Ricky mendesah tertahan. Irene langsung membatu dengan wajah yang semakin memerah. Spontan ia langsung bangun dan berlari ke kamar mandi. Sementara itu Ricky mendesis. Ia harus kembali menidurkan juniornya ini.
***
07.30, ruang makan mansion Ricky
Setelah kejadian tadi pagi Irene tidak bicara sepatah katapun dengan Ricky belum lagi, rona merah yang masih setia menjalar di kedua pipinya. Ia bahkan belum memakan sarapannya barang sesuappun. 'Bodoh! Bodoh! Bodoh! Mati aku!' rutuk Irene dalam hati.
__ADS_1
"Makan sarapanmu atau kamu kubobol?" ujar Ricky yang sudah lelah melihat Irene melamun dengan raut wajah memerah walau dimatanya itu terlihat sangat imut. "A-ah! Aku makan kok!" ucap Irene seketika tersadar dari lamunannya. Dengan wajah memerah ia pun memakan sarapannya dengan cepat. Ricky pun menghela nafas pelan. "Tak perlu buru-buru nanti terse-" belum usai Ricky bicara apa yang tak diharapkan itu pun terjadi. "Uhuk! Uhuk!" Irene tersedak. "-dak." ucap Ricky menyelesaikan kata-katanya yang terpotong tadi.
***
Seolah tersambar petir, Irene kelimpungan. Ia panik mencari air untuk meredakan rasa tersedaknya Ricky yang peka dengan keadaan Irene saat ini pun segera menyodorkan segelas air mineral. Irene pun langsung menegak air mineral itu dengan rakus. Irene menghela nafas lega saat ia merasa nyawanya terselamatnya.
"Kan sudah kubilang. Makan pelan-pelan." ucap Ricky sembari kembali menyantap makanannya dengan tenang. "Ya, ya, ya, ya, ya. Aku yang salah. Maaf." ujar Irene yang sudah terlalu malas untuk protes. Usai sarapan, mereka berdua pun segera bersiap untuk pergi ke perusahaan Ricky. Selama di perjalanan, Irene masih berusaha untuk negosiasi dengan Ricky.
***
Mobil Ricky, 08.00
"Ayolah.... Apa aku setiap hari harus ke kantormu? Lalu, bagaimana dengan kantorku? Aku juga harus mengontrolnya secara langsung. Setidaknya biarkan aku seminggu 2 kali pergi ke kantorku." ujar Irene panjang lebar. Berusaha membuat Ricky memberinya sedikit kelonggaran. "Ditolak." balas Ricky singkat. "Seminggu 3 kali?" tawar Irene lagi. "Tolak." jawab Ricky lagi. "Baik-baik! 1 minggu sekali! Itu sudah cukup lama kan!" ucap Irene sudah mulai frustasi.
Yang membuat terkejut adalah kejadian selanjutnya. Irene dengan cepat mengecup pipi Ricky. Jika saja Ricky tidak sadar jika dirinya sedang menyetir saat ini mungkin ia sudah menyosor Irene sekarang. "Kenapa menciumku?" tanya Ricky berusaha terdengar datar. "Em... Sebagai ungkapan terima kasih walau tadi aku sudah bilang sih. Em... Apa tak boleh? Maaf kalau tidak boleh." ujar Irene kali ini merasa bersalah.
***
"Bukannya tidak boleh. Hanya saja, jangan lakukan itu saat aku sedang mengemudi." jelas Ricky dengan pipi yang merona merah. "Eh? Baiklah. Maaf." ucap Irene yang sepertinya tidak menyadari kalau saat ini pipi Ricky tengah memerah. "Tak perku minta maaf." ucap Ricky setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir mereka berdua. Keadaan di dalam mobil benar-benar hening.
Setibanya di perusahaan Ricky mereka berdua langsung menuju ke ruang CEO. Irene yang terbiasa datang ke kantor pukul 7 pagi langsung terburu-buru menbuka laptop dan ponselnya memeriksa seluruh pekerjaannya. Ricky yang melihat kelakuan calon istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala saja. "Jam 11." ucap Ricky tiba-tiba. "Hah?" Irene pun kebingungan. "Jam 11 pikirkan soal wedding kita." uhar Ricky memperjelas ucapannya. "Oh. Oke." angguk Irene mengiyakan.
***
__ADS_1
11.00, ruang CEO, Luciano Corporation.
Sat ini Ricky tengah menatap Irene dengan perempatan imajiner di dahinya. Matanya sedari tadi tidak lepas dari Irene barang seinci pun. Irene yang sadar kalau sedang di plototin pun cuma cengar-cengir. "5 menit lagi oke?" tawarnya. Ricky pun menghela nafas berat. "Tak lebih dari itu." balasnya. Irene pun mengangguk cepat dan langsung mengerjakan pekerjaannya dengan cepat.
5 menit kemudian....
Irene langsung meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. "Huft... Pinggangku serasa mau patah." desis Irene menahan pegal di badannya. "Nah, ayo! Kita mau mikirin soal wedding nanti kan?" tanya Irene setelah rasa sakit dan pegal di tubuhnya mulai mereda. Ricky pun mengangguk. "Tapi tidak di kantor." ucap Ricky datar. "Lalu?" tanya Irene bingung. "Sekalian makan siang." lanjut Ricky lagi. "Hah? Ini masih jam 11 ga salah makan siang?" tanya Irene sontak terbengong-bengong.
"Memang kamu tidak suntuk?" tanya Ricjy datar. "Ya... Kalau suntuk sih iya tapi sudah biasa sih." jelas Irene sambil cengengesan. "Sudah. Pokoknya, ayo." putus Ricky sambil menyeret Irene keluar dari ruangan. "Eeehh!? Tunggu dulu! Aku belum membereskan pekerjaanku!" protes Irene yang diseret. "Nanti kan balik lagi." balas Ricky tanpa berminat untuk melonggarkan cengkramannya.
***
11.25, Mall XX
Akhirnya, Ricky malah membawa Irene shopping. "Kenapa ke toko baju?" tanya Irene bingung. "Bukannya kalian memang suka beli baju dan barang fashion lain?" tanya Ricky balik. "Hm... Bajuku uda banyak. Kalau mau bawa aku shopping ke sini aja!" ucap Irene sambil embggandeng Ricky ke suatu tempat. "Supermarket?" tanya Ricky sambil menatap Irene bingung. "Yep! Supermarket! Nah, ayo kita belanja!" ujar Irene sambil menggandeng Ricky masuk ke supermarket.
Irene pun mengambil troli belanja dan segera berkeliling supermarket. "Kamu tak mau beli baju atau barang lain?" Tanya Ricky yang asik mengekori Irene yang tengah memilah-milah camilan. "Hm... Entahlah. Sambil belanja akan kupikirkan ingin beli barang apa." balas Irene. Setelah beberapa saat mereka belanja di supermarket, mereka pun membayar seluruh belanjaan itu. Sebenarnya Irene mau membayarnya sendiri namun ditolak keras oleh Ricky.
"Jadi, apa lagi yang mau kamu beli?" tanya Ricky setelah mereka kekuar dari supermarket dan menaruh belanjaan di tempat penitipan barang. "Jam tangan dan parfum saja." jawab Irene setelah memikirkan matang-matang apa yang mau ia beli. Mereka berdua pun pergi ke salah satu toko jam tangan. Sesampainya di sana, Irene langsung mencari jam tangan yang ia inginkan.
"Lho? Irene?" panggil seseorang dengan nada terkejut. Irene pun menoleh ke asal suara dan ia juga terbelalak kaget. "Kau...!!?"
*****
__ADS_1