
Sesuai dengan janji yang sudah dibuat. Pukul 13.00 Irene dan Ricky pun pergi makan siang bersama sekaligus mencicil keperluan untuk pertunangan mereka nanti. Sambil makan siang, mereka berdua kulai membuat daftar keperluan yang akan mereka beli nanti. Ada beberapa barang yang mereka beli di mall nanti dan ada beberapa barang yang akan mereka beli secara online. Sebenarnya Ricky tidak setuju untuk membeli online tapi Irene terlalu malas untuk mencari barang tersebut secara offline dan yah... Girl always to be a winner.
Usai makan siang mereka langsung ke mall terdekat. Mereka membeli beberapa barang mulai dari pakaian dan beberapa barang lainnya. Selama sebulan itu benar-benar mereka sibukkan untik mencari barang-batang keperluan acara pertunangan mereka. Dan Akhirnya... Hari yang di nanti-nanti pun tiba. Hari pertunangan mereka.
***
Esok harinya Irene dan Ricky kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor. Kali ini mereka akan mencari WO atau Wedding Organizer. Baru setelahnya mencari keperluan untuk pernikahan seperti Gereja, lokasi, hotel, cathering, souvenier, dan sebagainya. Tapi khusus untuk hari ini mereka berdua fokus dengan pekerjaan kantornya masing-masing yang pastinya sudah menumpuk menjadi gunung.
Terutama milik Irene yang jarang sekali di sentuh selama mengurus mengenai masalah pertunangan itu. Terlebih, ia terkadang melarang Cintia untuk membantu mengurus soal pekerjaan kantornya. Selama di kantor tak sekalipun pandangan Irene lepas dari berkas-berkas di mejanya. Berapa kali Cintia juga bolak-balik keluar-masuk ruang kerja Irene. Kebetulan juga, hari ini Irene tak ada acara pertemuan dengan kolega-koleganya jadi ia bisa fokus mengurus pekerjaan kantornya seharian ini.
***
Sekitar pukul 17.00 Irene pun pulang ke mansion. Ia berencana untuk mengajak keluarganya makan malam bersama di restoran XX. Selama ini mereka sudah jarang berinteraksi terutama Irene. Ia seperti mengurung diri terus-menerus. Yah, mau bagaimana lagi? Pekerjaan, lalu pertunangan, dan eetelah itu pernikahan? Ia harus bisa mengatur itu semua matang-matang. Dan ia juga harus bisa membagi seluruh waktunya.
Pukul 19.00 mereka berempat pun berangkat menuju restoran XX. Rupanya, tanpa mereka sadari Kekuarga Ricky juga berencana makan di Restoran XX bahkan mereka berada di meja yang tidak jauh jaraknya.
***
Restoran XX, 19.30
__ADS_1
Setelah menghampiri meja yang telah di pesan, Irene pun memanggil waiter / waitress di sana untuk mencatat pesanan mereka nanti. "Pelayan!" panggil Irene sambil mengangkat tangannya. Seorang pelayan pun menghampiri meja mereka. Setelah memesan makanan, sembari menunggu pesanan tiba, mereka pun berbincang ria. Hingga sebuah suara menginstrupsi mereka.
"Lho, Irene makan di sini juga?" ucap Lucinda yang tak sengaja melihat Irene dan keluarganya yang duduk tak jauh dari mejanya. "Oh... Mama juga di sini." ucap Irene sedikit terkejut melihat kehadiran Lucinda dan keluarganya di restoran ini. "Iya, biasa nih. Makan bareng sekalian ngebahas soal pernikahan kalian nanti." jawab Lucinda sedikit menggoda Irene.
Mendengar ucapan Lucinda seketika membuat pipi Irene merona tipis. Ricky yang melihat hal itu pun terkekeh pelan. Jarang-jarang ia bisa melihat calon isrrinya itu tersenyum, tertawa, bahkan memerah seperti itu. Ibunya memang tahu bagaimana csra membuat Irene malu. Irene yang melihat Ricky terkekeh senang seperti itu seketika membuatnya cemberut. Ia merasa di kerjai oleh keluarga Ricky.
***
Suasana pun berubah saat tiba-tiba saja Ken muncul di belakang Irene bahkan, memeluk Irene dari belakang. "Hai, calon adik ipar." saa Ken sambil memeluk Irene. "Woah!" Irene pun terkejut. Untunglah, volume suaranya tak terlalu keras jika tidak, mungkin saat ini ia sudah menjadi pusat perhatian. "K... Ken! Jangan membuatku kaget!" ujar Irene setelah melihat siapa yang mengejutkannya. "Hehehe.... Habisnya, mengagetkanmu itu dangat seru. Lucu dan imut." cengir Ken tanpa peduli ada yang cemburu akan kedekatan mereka.
"Terserah kau saja, Ken." balas Irene terlihat takningin memperpanjang masalah. Terlebih, Irene juga sadar akan tatapan tajam itu. Siapa lagi jika bukan Luciano Ricky Christian yang menatapnya tajam. Irene pun melepas paksa pelukan Ken. Ken yang mulai sadar pun melepas pelukannya. "Ah.. Hai adik!" sapa Ken ada Ricky yang masih setia menatap tajam padanya. "Hm." sahut Ricky dingin.
"Hahahaha.... Tak perlu dingin begitu. Oh ya, bisa kita bicara? Berdua saja." ujar Ken serius. Ricky pun mengangguk. Setelah itu mereka berdua meninggalkan ruangan. Irene penasaran tapi ia juga tak berniat mengikuti mereka. Lagipula itu urusan mereka berdua, ia tak ada sangkut pautnya.
***
"Gue tau. Dan kalau sampai dia cari masalah dengan orang gue jangan harap hidupnya selamat." balas Ricky kali ini terdengar dingin. "Huft... Terserah lo... Semoga berhasil." balas Ken sambil menepuk bahu Ricky sekilas. "Hm. Rahasiain ini dari Irene dan keluarganya. Gue ga mau bikin mereka khawatir." ujar Ricky lagi. "Iya." angguk Ken.
Tanpa mereka sadari, Irene ada di sana dan sudah mendengar percakapan mereka dari awal. Awalnya ia ada di sana karena Lucinda memintanya untuk memanggil mereka berdua. Namun, mereka berdua tak kunjung selesai berjalan jadi ia memutuskan untuk mengikuti mereka dan mendengar mengenai 'Rubah Cantik'. Setelah merasa pembicaraan sudah selesai Irene pun keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
***
"Ricky, Ken. Kalian sudah selesai? Mama manggil tuh." ujar Irene seolah ia tak tahu apa-apa. Ken dan Ricky yang mendengar suara Irene pun tersentak kaget. Mereka tak sadar akan keberadaan Irene di belakang. "Oh... Iya. Udah selesai kok. Ayo kita balik." jawab Ricky terdengar sesikit canggung. Irene hanya memincingkan matanya tanda curiga namun setelah itu ia mengangguk pelan.
Mereka bertiga pun kembali ke dalam restoran. "Kalian bertiga ngapain aja? Kok lama banget?" tanya Lucinda begitu Irene, Ken, dan Ricky sudah kembali. "Jauh ma mereka ngobrolnya." ucap Irene sambil tersenyum tipis. "Mama nyari kita kenapa?" tanya Ricky penasaran. "Bukan apa-apa. Cuma kamu ngobrolin apa sampe kami ga boleh tau?" tanya Lucinda terlihat curiga.
"Eh? Bukan sesuatu yang penting kok, tante." jawab Ken dengan keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. "Ga pa pa lah, ma. Mereka juga pasti ngebahas soal kerjaan." timpal Irene tak ingin memperpanjang masalah. "Mm... Ya udah deh." ucap Lucinda menghela nafas berat
***
Pukul 21.00 mereka pun pulang. Berbeda dengan Irene yang begitu pulang langsung berbincang-bincang ria, keluarga Ricky suasananya suram. Mereka membahas masalah Ken dan Ricky yang berbicara 4 mata tadi.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Lucinda tidak ingin dibantah. "Itu... Soal Jessie mah..." Ricky pun akhirnya menjawab dengan jujur. "Ada apa lagi?" tanya Lucinda bingung. "Ga papa sih cuma... " belum usai Ricky menjelaskan, Lucinda sudah memotongnya lagi. "Dia berencana kemari?" tanya Lucinda serius. "Entahlah. Kurasa iya kalau berita soal pertunangan ini dia sudah tau." jawab Ricky sambil menghela nafas pelan.
"Hm... Sampai calon menantu kesayangan mama di ganggu awas daja anak itu." ujar Lucinda terlihat menahan kesal. "Tenang aja ma, Ricky pasti jaga Irene. Apa juga ga akan biarin dia nyentuh calon menantu papa." ujar Rafael berusaha menenangkan Lucinda. "Iya mah." angguk Ricky membenarkan ucapan Ayahnya. "Mama percayakan Irene sama kamu." ujar Lucinda serius.
*****
Finished
__ADS_1
24 December 2021
Happy reading all