
Irene seketika melongo, ia memproses ucapan Ken barusan. "Hah!?" teriak Irene setelah tersadar dari lamunannya. Ken hanya mengulum senyum melihat reaksi Irene tersebut. Menurutnya, reaksi Irene tadi sangat lucu di matanya. "Apa kamu sefang bercanda? Ayolah, ini bukan April Mob lho, Ken." ucap Irene tak percaya. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok saat ini juga. 'Waktu itu Ricky, sekarang Ken nanti siapa lagi!?' batin Irene frustasi. "Untuk apa aku bercanda? Aku serius." ucap Ken santai. "Baiklah. Terserah kau saja. Asal jangan repotkan aku." ucap Irene akhirnya. Ia pun memijat keningnya, ia tak habis pikir dengan semua yang terjadi padanya saat ini.
"Baiklah, lupakan soal suka-menyukai, kembali ke topik awal. Aku tetap tak akan membawamu bertemu dengan Lanrante apapun alasan mu." ucap Irene sambil melipat tangannya di depan dada. Ia tak mau ambil resiko jika Ken akan terlibat masalah besar dengan perusahaan Lanrante itu. Ia tahu Reimura Group memang lebih kuat tapi, mengingat Lanrante adalah orang yang licik Irene rasa ia harus mengantisipasi sesuatu.
***
Walau sudah dilarang berkali- kali sepertinya, larangannya sangat tidak berlaku bagi seorang Reimura Kensuke. Nyatanya, Ken tetap ikut bersama Irene ke Digger's. Irene pun menghela nafas pelan, ia lelah. "Wah, saya terkejut, tuan Reimura juga iktu kemari." ujar Lanrante lengkap dengan senyuman yang membuat Irene ingin meninju wajahnya hingga babak belur. "Aku tak punya banyak waktu untuk berbincang dengan anda tuan Lanrante Samuel yang terhormat." ujar Irene dingin. "Ya. Sebenarnya, aku malas bertemu denganmu. Tapi, karena calonku yang kau ajak. Tentu aku ikut." ujar Ken tak kalah dingin.
"Calonmu?" tanya seseorang yang amat Irene kenali suaranya. Luciano Ricky Christian. Seketika Irene pun mengernyit curiga. "Sebenarnya, apa maumu mengadakan pertemuan ini!?" tanya Irene langsung kembali ke topik utama. "Bukan kah anda sudah tahu? Tentu saja, untuk membahas mengenai kerja sama antara Lanrante Corporation dengan Lovist International Company." jawab Lanrante tenang. "Dan, bukankah saya sudah mengatakan kepda anda bahwa, dengan amat sangat saya menolak kerja sama antara Lovist International Company dengan Lanrante Corporation apapun alasannya, tanpa harus disertakan aksi tawar-menawar lagi." ujar Irene tajam.
"Anda sudah mendengar ucapan 'calonku' secara langsung bukan? Tuan Lanrante yang terhormat." ucap Ken sambil merangkul Pinggang Irene, menandakan bahwa mereka benar-benar pasangan. Irene sendiri tidak terlalu mempermasalahkan aksi Ken, ia cenderung menanggung nya dengan santai. Berbeda dengan Ricky yang sudah mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sama halnya dengan Lanrante yang melakukan hal serupa dengan Ricky. "Seperti nya, sudah tak ada lahi hal yang perlu kita bahas, kalau begitu saya pamit undur diri. Selamat malam." ujar Irene lalu beranjak pergi diikuti oleh Ken dan Ricky. Sementara itu, Lanrante tetap di dalam berusaha menahan emosinya yang sudah memuncak.
***
Saat Irene ingin memasuki mobil, tiba-tiba saja pergelangan tanganjya ditarik kasar oleh seseorang. Irene pun tak siap, ia reflek membalikkan tubuhnya kaget. Yang lebih mengejutkan lagi, sebuah benda kenyal sudah mendarat di bibirnya. Bibir Ricky. Irene seketika meloading apa yang sebenarnya telah terjadi. Ricku pun ******* bibir Irene dengan ganas sementara itu, Irene sudah mulai kesulitan bernafas. Hingga Ricky pun menggigit bibir Irene.
"Ahh..!!" tanpa sadar, secara refleks Irene membuka mulutnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, lidah ricky pun langsung menerobos masuk ke dalam mulut Irene dan mengobrak-abriknya. Mulai dari mengabsen gigi-gigi Irene hingga mengajak lidahnya bertarung. "Mph... Ngghh." Irene pun kewalahan debgan permainan yang Ricky lakukan. Lututnya bahkan sudah terasa lemas. Jika saja ia tidak bertopang pada Ricky dan Ricky tidak menahan bobot tubuhnya dengan mengalungkan lengannya di pinggang Irene, mungkin saat ini Irene sudah jatuh terduduk di trotoar dengan tidak elitenya.
Sekitar 2 menit mereka berciuman, Ricky akhirnya melepas pagutannya. Dengan rakus, Irene pun menghirup oksigen yang ada di sekitarnya, tentu dalam keadaan ia masih bertopang pada Ricky. Usai ia kembali bernafas normal ia pun bisa puas memarahu Ricky. "Apa-apaan!? Seenaknya mencium orang lain!? Asal kamu tahu aja, Itu ciuman pertama ku tauuuu!!!" omel Irene kesal. "Apa?" tanya Ricky tak percaya. 'Ciuman pertama?' batin Ricky kaget. "Hei! Jangan bengong!! Tanggung jawab!!" Ucap Irene sudah mulai kesal. Apa gunanya ia tadi mengomel panjang lebar jika ia hanya akan ditanggapi dengan kata-kata 'apa' saja.
***
__ADS_1
Ricky pun segera tersadar dari lamunannya. "Itu ciuman pertamamu?" tanya Ricky memastikan. "Kan tadi sudah kubilang!" Ujar Irene mulai frustasi. "Tapi tadi dia bilang..." ucap Ricky mulai meloading apa yang sebenarnya terjadi. Irene pun menghela nafas pelan. "Pertama, dia Ken. Kamu tak mungkin tidak mengenalinya. Ia CEO baru di Reimura Group. Perusahaan terbaik di Jepang. Kedua, dia bukan calonku. Ketiga.... Bagaimana aku bisa punya calon kalau sampai sekarang saja aku masih single!?" jelas Irene sambil bersungut-sungut sebal.
Ricky pun menghela nafas lega. Ia lega mengetahui bahwa calonnya itu tidak punya pacar alias masih single. Irene yang melihat Ricky menghela nafas lega seketika di otaknya muncul ide untuk mengusili Ricky. "Tapi... Ken sempat bilang kalau dia menyukaiku sih... Dan, kalau di pikir kembali... Dia cukup baik dan juga tampan... Oh ya! Jangan lupakan tubuhnya yang atletis!!... Bagaimana kalau aku menerimanya menjadi pacarku ya??" ucap Irene pura-pura menimbang-nimbang. Padahal, ia sudah menahan tawanya sedari tadi.
Ricky yang mendengar ucapan Irene tadi seketika terpancing emosinya. Dengan cepat Ricky langsung meng-kabedon Irene dengan bertumpu pada pintu mobil yang masih tertutup. Dengan susah payah, Irene menelan liurnya. Sepertinya, ia sudah membangunkan singa tidur. "Coba ulangi ucapanmu tadi." ujar Ricky dengan smirk-evil menghiasi wajahnya. Bulu kuduk Irene pun seketika meremang. Ia sudah salah perhitungan. Niatnya hanya ingin mengusili Ricky namun ia malah dibuat mati kutu oleh Ricky. "Sampai kamh benar-benar melakukan itu, kupastikan aku akan mengambilmu secara paksa darinya." bisik Ricky tepat di telinga Irene. Irene pun hanya bisa mengangguk patah-patah. Ini pertama kalinya Ireme bisa ditundukkan oleh seseorang.
Ricky pun mengulum senyum tipis. Ia puas melihat Irene yang tidak bisa melawan kata-katanya. "Ehem.... Sampai kapan kalian akan terus bermesraan seperti itu?" tanya Ken yang sudah merasa bosan dengan pemandangan di depannya itu. "Sampai kau tidak berencana merebutnya dariku, Ken." balas Ricky tenang, kali ini lengan Ricky sudah menyasar ke pinggang Irene. "Hahahahaha.... Baiklah-baiklah. Lagipula, aku tidak ingin menjadi mangsamu. Dan lagi, aku hanya sedikit bercanda untuk menjadikannya sebagai 'calon ku'. Kau tahu, aku hanya mengetes seberapa jauh kau akan bertindak jika aku melakukan hal itu mengingat, kau senang membuat seorang gadis patah hati. Fapi, sepertinya aku tak perku khawatir lagi. Aku tak akan mengganggu hubungan kalian. Karena, sepertinya hanya Irene-chan yang berhasil meruntuhkan pertahananmu." balas Ken panjang-lebar dengan tenang.
***
Irene dari tadi hanya menyimak. Ia bingung dengan alur yang Ken dan Ricky lakukan sedari tadi. "Kalian saling kenal?" tanya Irene bingung. "Beritahu saja." ucap Ken tenang. Ricky pun menghela nafas pelan. "Kaki saudara sepupu." ujar Ricky datar. "Ya, dan sejujurnya, aku lebih tua dari nya." tambah Ken santai. "Hanya 2 tahun." sungut Ricky kesal. Yang membuat mereka berdua kaget adalah, jitakan cukup keras yang mendarat dengan mulus di dahi Ricky.
"Aduh!" Ricky spontan mengaduh.
"Itu sama saja baby..." Goda Ricky sambil mencubit kedua pipi Irene. "Au... Au... Au! Ssakhit.....! Lepfhaskhan phiphikhu!!" ucap Ieeme berusaha melepas cubitan Ricky di kedua pipinya. Ricky pun akhirnya melepas cubitan nya. Irene langsung mengusap kedua pipinya yang terasa seperti akan robek itu. "Jangan mencubit kedua pipiku lagi! Sakit tau!" ucap Irene marah. Justru itu malah terlihat imut di mata Ricky. Ia pun terkekeh pelan. "Iya iya. Calonku yang manis." goda Ricky sambil tersenyum kecil dan mengedipkan sebelah matanya kepada Irene. Bukannya memerah atau malu Irene justru kembali memberi 'jitakan sayang' kepada Ricky.
***
Ken yang melihat hal itu pun tertawa
Sementara itu, Ricky mwngaduh sambil mengusap-usap dahinya yang sudah 2x dijitak. "Lain kali jangan menggoda perempuan dengan cara basi." ejek Ken yang masih tertawa senang. "Kayak lo gak aja." sungut Ricky kesal. "Sudah! Berantem mulu. Pulang-pulang. Gw juga mau pulang. Besok-besok aja berantem nya. Dan, Ricky... Sampai kamu godain perempuan lain... Awas lho... Soalmya, kamu udah seenaknya mengklaim ku tadi." ujar Irene lengkap dengan seulas senyum manis terpatri di wajahnya.
__ADS_1
Usai mengatakan hal itu, Irene dan Ken pun masuk ke dalam mobil karena mereka harus kembali ke kantor Irene lagi. Sementara Ricky, ia langsung pergi ke Rumah nya untuk istirahat karena besok ia harus pergi ke kantor Irene. Lagipula, ia perlu mengurus soal hubungan ia dan Irene selanjutnya bersama dengan kedua Orang tua nya.
***
Keesokan harinya, 09.00, Lovist International Company
Ricky pun tiba di perusahaan Irene. Dengan cepat ia langsung pergi ke ruangan Irene di lantai teratas menggunakan lift tentunya. Beruntung, saat itu Irene juga Sedang berada di dalam ruangannya bersama Cintia. Tentunya, Irene tengah terfokus pada berkas-berkas di hadapannya yang baru berkurang ¼ bagian saja. Alasan mengapa Ricky tak perlu ke meja resepsionist untuk memberitahu maksud kedatangannya karena, Irene sudah mengatakan kepadanya ia bisa langsung pergi ke ruangan Irene saja.
Ruang CEO, 09.15
Ricky segera masuk ke dalam ruang CEO tentu setelah ia mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Kukira, kamu tidak akan datang." ucap Irene dari balik meja kerjanya. Irene memberi kode tangan kepada Cintia. Cintia yang paham akan kode tersebut pun langsung undur diri. Setelah pintu ruangan kembali tertutup rapat Irene pun membuka suara.
"Jadi... Apa yang dikatakan oleh orang tuamu?" tanya Irene langsung to the point. "Mereka setuju. Mereka ingin bertemu denganmu segera." ujar Ricky tenang. "Hanya denganku?" tanya Irene tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya. "Ya." jawab Ricky serius. "Kapan dan dimana?" tanya Irene lagi. "Kalau itu kamu yang menentukan." ujar Ricky santai. "Baiklah... Malam ini di Square Restaurant jam 7 malam." ujar Irene santai. "Apa itu tidak terlalu mendadak?" tanya Ricjy kaget. "Maaf jika itu terlalu mendadak. Karena besok aku ada keperluan penting. Selama beberapa hari. Jika tidak bisa, akan kuundur beberapa hari." ujar Irene tenang. "Tak apa kok! Sepertinya bisa. Aku akan mengabari orang tua ku!" ujar Ricky dengan cepat memgabari kedua orang tuanya. Irene yang melihat hal itu pun tersenyum kecilsambil terfokus dengan pekerjaan di hadapannya.
*****
1708 words
09 May 2021 finished
Enjoy
__ADS_1
Don't forget to give vote , like, favorite and comment