
Jam berlalu begitu cepat hari semakin sore, terdengar hembusan angin yang membuat pohon bergerak perlahan. Dirinya hanya sendirian di tengah lebatnya pepohonan tersebut, ia masih melihat kesegala arah dengan tatapan panik bercampur takut.
"hah..hah.." ia kelelahan namun ia harus segera kembali.
"oh tuhan.. Gak mungkin gue tersesat aduh gue harus gimana ini Udah sore bentar lagi gelap, gue bingung" keluhnya dalam hati sambil terus menelusuri hutan tersebut namun malah semakin dalam ia melangkah.
"hah.. Sial kambuh lagi, mana gue gak bawa obat" ia terdiam sejenak menghentikan langkahnya sesuatu yang buruk terjadi padanya. Namun beberapa saat ia berfikir dia tidak bisa diam saja, iris pun bergegas kembali menelusuri hutan tersebut mencari arah keluar.
"arghhhhhhhhh" teriaknya ia tidak melihat ke jurang kakinya tergelincir ke jurang tersebut namun jurang tersebut tidak begitu dalam. Ia membuka matanya perlahat tubuhnya terasa sangat sakit dan lemah ia bergerak perlahan berusaha keluar dari jurang tersebut meskipun jurang itu tidak terlalu dalam namun ia tertap tertatih karena semakin ia bergerak semakin lemah ditambah penyakitnya yang kambuh iapun memutuskan diam, hari mulai gelap ia masih terdiam menjaga tenaganya tidak habis berharap kalau saat itu ada orang yang bisa menyelamatkannya.
"tuhan.. Gue takut" rintihnya dengan nada lemas sambil meneteskan air mata, iris sangat ketakutan namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Di tenda mereka semua mulai menyadari iris yang menghilang begitu lama merekapun panik sambil mencari keberadaan iris.
"deb gue takut iris kenapa-napa" reina berbisik kepada debby.
__ADS_1
" alah udah jangan buat gue bingung, paling tar aja balik tu anak yang penting kita sudah beri pelajaran" jawab deby ketus namun bisa dilihat wajahnya mulai panik takut hal jahat merekaa terbongkar apalagi jika terjadi hal buruk menimpa iris, mereka bertiga terlihat sangat panik dan ketakutan.
"reno, gimana ini iris kemana gue takut" gumam olla terlihat sangat cemas dan menetes kan airmata wajar saja karena ia mengenal iris meskipun hanya kenal saat sma namun mereka sangat akrab bagaikan kembar yang tak terpisahkan.
"udah lo tenang dlu kita semua berusaha mencari iris, lo berdoa mudah mudahan iris baik-baik saja ya" jawab reno sambil menghapus airmata yang membasahi pipi viola.
"irisss.. Lo dimana" teriaknya begitu panik bryan terus mencari iris kesegala arah tatapan paniknya semakin menjadi ketika tidak seorangpun menemukan iris.
Dari sisi jalan terdengar seseorang turun dari mobilnya, ternyata adrian yang baru saja sampai ia melihat orang-orang sedang mencari sesuatu ditengah malam ia berinisiatif berhenti dan bertanya.
"iya ini anak murid saya belum kembali sampai sekarang kami khawatir" jawab bapak tersebut.
"apa kalian perlu bantuan" ia menawarkan bantuan kepada pria tersebut. Perhatiannya sedikit teralihkan ke pakaian pria tersebut karna berlambangkan logo sekolah yang tidak asing baginya.
"iriiiisssssss.. Kamu dimana" terdengar teriakan memanggil seseorang dari arah lain seketika mata adrian terpaku.
__ADS_1
" hah.. Iris" adrian mulai terdiam
"maaf pak, kalo boleh saya tahu anak yang hilang itu irisiana wijaya pak" tanyanya dengan harapan kalo dia salah.
"benar, dik apa kamu mengenalnya" sahut bapak tersebut.
"apaa" seketika wajahnya berubah menjadi kekhawatiran.
"permisi apa anda mengenalnya" tanya bapak itu kembali.
"ah iya dia keluarga saya, terus bagaimana kenapa dia bisa hilang" adrian mulai panik.
"ternyata anda keluarganya, ceritanya panjang ini kami lagi berusaha mencarinya" jawabnya
"saya ikut" adrian bergegas meninggalkan mobilnya dan bergabung mencari iris.
__ADS_1
Ia gak menyangka bahwa iris akan menghilang. Ia begitu bersemangat saat mengetahui lokasi proyeknya berada di tempat sekolah iris karyawisata jadi ia memutuskan untuk berangkat sore itu juga kebetulan ia juga sudah memesan sebuah villa pribadi untuknya. Namun ditengah jalan ia sangat terkejut mendengar kenyattaan iris menghilang. Sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana rasa khawatirnya dirinya mengetahui kejadian itu.