
Cahaya menembus ruangan itu, ruangan dimana iris terbaring lemah dan disitu ada adrian yang masih tidur disebelahnya masih menggenggam tangan iris, dan juga virgo yang tertidur disofa.
"hmmmm" tanganya bergerak perlahan menunjukan tanda ia sudah siuman.
Adrian yang mendengar suara kecilnya dan merasakan gerakan jari iris terbangun dan menatap iris apakah dia hanya mimpi namun beberapa detik kemudia ia melihat tangan iris bergerak dan matanya terbuka perlahan.
Ia segera memencet bel dengan cepat untuk memanggil perawat ataupun dokter..
"virgooooo bangunn" teriak adrian
"huaheeeemmmm.. Kenapa kak" virgo terbangun dengan mata masih setengah sadar.
"kakakmu sadar"
"apaaaa yang benar" jawab virgo yang seketika bangun dari sofa menuju ke arah iris dengan senyuman.
Beberapa menit kemudian dokter pun tiba.
Dan memeriksa kondisi iris.
"gimana dok keadaan kakak saya?" tanya virgo.
"anda tidak usah khawatir, kakak anda sudah sembuh namun belum pulih dia harus beristirahat lagi" jawab dokter sambil memberikan senyum.
"syukurlah" sahut adrian sambil menatap iris
"kalo begitu saya permisi dulu," dokterpun segera pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"hmm.. Gue dimana" tanya iris dengan nada lemas menatap keselilingnya ia melihat dua laki-laki setelah sadar yaitu adiknya dan adrian. Iris membuka selang oksigennya dan mengangkat perlahan tubuhnya.
"ris, sebaiknya jangan bangun dulu kamu baru pulih" kata adrian sambil mendorong perlahan tubuh irish membaringkan ke tempat tidurnya.
"iya kak, lo istrahat jangan banyak gerak dulu" sahut virgo. Iris pun menuruti kemauan mereka, ia mulai menyadari yang terjadi kepadanya dia mengingat kembali kejadian yang hampir membuatnya kehilangan nyawanya.
"arghhhhhhhhh.." teriak iris dengan wajah ketakutan.
"iris kamu kenapa" nada panik terdengar jelas dari adrian dan tentu begitupula virgo mereka berdoa terlihat cemas dengan teriakan iris.
"kak, lo kenapa" tanya virgo sambil mendekati iris.
"gu..gu..gue takut tempat itu gelap gue sendirian" jawab iris sambil menagis.
Tiba-tiba adrian mendekatinya dan memeluknya adrian berkata.
"tidak apa-apa kamu aman, tidak akan terjadi lagi hal yang sama kamu baik-baik saja, aku disini aku akan selalu menjagamu" tegas adrian, terlihat airmata menetes membasahi pipi pria tersebut virgo dan iris hanya terdiam mereka melihat kearah adrian, adrian memeluk erat iris seakan akan ia tidak ingin beranjak dari sisi iris.
Adrian menyadari pelukannya membuat iris kebingungan. Ia lalu melepas pelukannya perlahan.
"maaf ris, saya hanya ingin membuatmu tenang, karena sebentar lagi kita akan bertunangan kamu adalah tanggung jawab saya, apapun yang terjadi saya tidak akan pernah membiarkan kamu terluka lagi, percayalah!" adrian menggengam tangan iris menatap ke arah iris mereka berdua saling bertatapan dengan serius.
" hmmm, aku keluar dlu " sahut virgo yang sedari tadi terdiam melihat mereka berdua.
" eeeh " iris dan adrian lalu mengubah pandangan mereka terasa agak canggung setelah adrian mengatakan hal tersebut.
"tidak apa lanjut aja, gue mau cari makan keluar" sahut virgo sambil tersenyum lalu ia segera keluar dari kamar iris.
__ADS_1
"eh kalian" virgo melihat viola, reno dan satu pria yang belum dikenalnya didepan kamar iris ia melihat kearah mereka bertiga.
"hay virgo, gimana keadaan iris" tanya reno
"hy kak reno hy kak olla, kak iris sudah sadar kondisinya sudah baikan jadi sudah bisa dijenguk" jawab virgo dengan tatapan menatap ke arah pria yang berada disebelah viola membawa rangkaian bunga berwarna putih terlihat cantik dengan pita berwarna merah melingkari batangnya.
"oh iya, kakak yang itu jga temannya kak iris ya?" tanya virgo
"eh iya, kenalin ini bryan dia sepupu gue juga teman sekolah" jawab viola
"hay kak, gue virgo adiknya iris" virgo mengulurkan tangannya.
"oh hay, gue bryan" jawabnya sambil membalas jabatan tangan virgo.
"oh silahkan masuk kebetulan di dalam ada kak adrian juga, kalo gitu gue tinggal dulu gue mau cari makan ke kantin"
"gue ikut" sahut reno menawarkan diri
"lah kak reno bukannya mau jenguk kak iris" jawab virgo
"iya, lo bukannya mau jenguk iris" sahut viola
"iya, tapi nanti dlu gue mau ngomong sama virgo sambil nemenin dy makan, nanti gue susul lo kedalem" jawab reno, mereka berdua pergi meninggalkan viola dan bryan menuju ke kantin.
Malam sebelumnya, saat reno dan viola panik dengan keadaan iris viola mendapat pesan untuk kembali ke tempat mereka berkaryawisata dengan terpaksa mereka berdua kembali meskipun suasana hati viola sangat sedih karna sahabatnya masih berada di ruang icu. Ketika mereka tiba terlihat guru dan murid lainnya berkumpul dengan ekspresi yang menunjukan kebencian melihat ke arah bryan dan didepan bryan ada tiga orang wanita berlutut dengan menunduk terdengar suara tangisan dari mereka bertiga.
Saat viola dan reno menyapa mereka dan mendekati mereka dengan rasa penasaran apa yang sedang terjadi disana.
__ADS_1
Mereka berdua terkejut dengan pertanyaan yang diberikan bryan. Viola menatap kearah deby, rina dan clarisa dengan tatapan marah dan bertanya apakah yang dikatakan bryan itu benar, mereka bertiga hanya mengangguk membenarkan perkataan bryan, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata viola dan reno tahu ketiga orang tersebut sangat memusuhi iris namun tidak menyangka mereka bertiga bisa tega melakukan perbuatan sekejam itu kepada sahabat mereka tanpa berfikir.
Deby dan teman-temannya mendapatkan ganjaran setimpal mereka akan dihukum dan sebelum hukumannya diberikan guru memanggil orang tua mereka untuk menghadap ke sekolah, malam itu mereka semua kembali ketenda masing-masing untuk beristirahat karena beso pagi mereka mengakhiri kegiatannya, karyawisata berlangsung mengecewakan kejadian menimpa iris karena ulah ketiga orang itu membuat yang lainnya tidak bisa menikmati saat itu dengan keceriaan.