
"irisss" terdengar suara memanggil namanya perlahan ia mulai membuka matanya ia mulai memperhatikan sekelilingnya dia sangat kebingungan karena saat itu dia sudah berada di kamarnya. Ia mengalihkan pandangannya melihat keselilingnya ia melihat beberapa orang yang ia kenal dengan raut wajah khawatir disebelahnya.
"kenapa aku bisa disini?" tanyanya.
"kamu sudah sadar, syukurlah kita semua khawatir sama kamu" jawab adrian dengan nada lega.
"akhirnya lo sadar juga kak, gue mama papa dan kak adrian kami semua khawatir lo baru aja pulih kak" sahut virgo.
"hmmmm" iris perlahan membangunkan tubuhnya ia berusaha untuk bisa duduk.
"pelan-pelan sini kakak bantu" adrian segera mengangkat perlahan tubuh iris dan menyenderkannya.
"mama papa mana?" tanyanya sambil memperhatikan sekitarnya ia hanya melihat adrian dan virgo di kamarnya.
"oh.. Papa tadi buru-buru kekantor ada urusan terus mama juga lagi ketemu klien kak, lo jangan banyak pikiran ya." kata virgo dengan penuh perhatian kepada kakaknya tersebut.
"aduuuh.." iris memegang kepalanya dengan erat ia merasakan kepalanya tiba-tiba sakit.
"irriiss kamu kenapa?" adrian yang melihatnya kebingungan saat itu.
"kak, sakit lagii" tanya virgo.
__ADS_1
"iiyaaaaa" jawab iris..
"kita ke rs aja, saya siapkan mobil" adrian yang kebingungan melihat iris lalu berdiri dan ingin pergi untuk mengambil mobilnya.
"kak" panggil virgo sambil menyentuh bahu adrian. Langkah adrian terhenti dan kembali membalikan badannya..
"gausah kak, ini.." virgo membuka laci meja iris dan memberikan sesuatu untuk adrian.
"apaaa ini? Adrian menanyakan apa yang dikasi.
" itu obatnya kak iris kak, kakak kasi itu aja pasti baikan kok, semenjak kecelakaan waktu dulu kak iris sering tidak bisa mengontrol emosionalnya dan akan merasakan sakit di kepalanya ketika ia emosi kak " jelas virgo adrian menatap obat yang ia pegang dan memperhatikan iris yang saat itu masih memegang erat kepalanya karena kesakitan.
Perlahan adrian mendekat kearah iris mengambil gelas berisi airputih di atas meja iris dan memberikan obatnya.
"kak aku tinggal sebentar, aku harus menemui temenku, nanti kalo butuh sesuatu tinggal panggil bibi ya"
"*ahh.. Iyaaa"
"aku engga lama kok" virgo pun keluar meninggalkan mereka berdua. Adrian menatap iris yang kala itu selesai meminum obat yang ia berikan. Tak terasa saat ia menatap iris airmatanya menetes membasahi pipinya, iris yang saat itu sudah mulai merasa baikan setelah diberi obatnya melihat ke arah adrian ia perlahan mengangkat tangannya mengarahkan kepipi adrian dan menghusap airmata adrian.
"kak adrian, kenapa nangis?" tanya iris.
__ADS_1
"ah..." adrian mengusap airmatanya "gak saya gak kenapa-kenapa kok" sembari tersenyum kecil kepada iris.
"bentar, kakak taruh gelas dulu ya" adrian beranjak menaruh gelas itu kemeja.
"makasih banyak kak, udah perhatian sama aku" kata iris. Adrian yang mendengar seketika terdiam sesaat dan membalikan tubuhnya menuju ke arah iris.
Adrian duduk tepat di sebelah iris ia menatap iris serius dan berkata.
"kenapa, eeh maksd saya kamu bilang apa tadi ris" adrian bertanya kepadanya.
"makasi kak, meskipun kita baru ketemu beberapa waktu tapi aku merasa aku akrab sama kakak, kakak juga perhatian dan baik sama aku jadi aku mau bilang.. Hmmm" iris memberhentikan pembicaraanya.
"kamu mau bilang apa?" adrian semakin menatap dalam mata iris.
"kak adriaaan aku mau bertunangan sama kamu" tanpa ragu iris mengatakan semuanya kepada adrian. Suasana yang tadinya biasa berubah hening sejenak mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"apa.. Apa kamu serius?" tanya adrian sekali lagi.
"iiya aku sudah mutusin semuanya, kita bisa jalani perlahan kok kak" jawab iris.
Adrian semakin meyakini kesempatan untuk membuat iris mengingatnya semakin besar. Ia semakin mendekat kearah iris mengangkat kedua tangannya merangkul iris dan memeluknya.
__ADS_1
"terimakasi sudah percaya sama saya, saya janji tidak akan mengecewakan kamu ris." kata adrian sambil merangkul iris. Irispun membalas pelukan itu suasana yang sangat mengharukan saat itu mereka lewati dengan tetesan airmata dipihak adrian dia sangat bahagia setidaknya iris mau menerimanya saat itu. Disisi iris ia merasa kacau sebelumnya namun ketika ia terpaksa menerima adrian perasaanny berubah dia merasakan ketenangan dan kenyamanan saat itu.