
"Baiklah, pertandingan pertama. Yuka Alvern melawan Leon Alvern. Siap..."
Kedua peserta langsung mempersiapkan sihir mereka.Senyuman semangat terpancar di wajah Leon, bersamaan dengan api di kedua tangannya yang berkobar.
Sedangkan Yuka hanya membocorkan data.Es mulai bermunculan di sekitarnya, membekukan tangan kirinya.
"Mulai!"Begitu Ruka memberikan aba aba, Leon langsung berlari, melesat ke arah Yuka.Lingkaran sihir berwarna jingga muncul di hadapannya, yang langsung meluncurkan kobaran api besar ke arah Yuka.
"[Sihir api: semburan api!!]" Seru nya sambil mengerahkan kekuatan nya.Senyuman lebar tercetak jelas di wajah Leon.Entah cemburu apa yang ia simpan pada adiknya itu, sehingga langsung menyerang dengan brutal bahkan di saat pertandingan baru dimulai.
Yuka mengangkat tangannya.Seketika bongkahan es tiba-tiba bermunculan, membentuk perisai yang menghalangi kobaran api milik Leon.
Suhu semakin dingin di sekitar Yuka, bahkan membuat tanah yang di pijaknya pun ikut membeku."[Sihir es: rantai es]" rantai es berwarna putih kebiruan muncul dari bawahnya, bergerak seperti ular yang melihat mangsa, dengan cepat melesat ke arah Leon.
Melihat rantai yang bergerak ke arahnya, Leon segera menghindar, membuat api berkobar di sekitar tubuhnya yang melepaskan serangan Yuka."Kau kira rantai kecil mu itu bisa mengalahkanku? Jangan lupa, aku ini sudah terlatih sebagai prajurit. Tak akan kubiarkan kau menang Yuka!!"
Wusshh!!
Bola api muncul di telapak tangan Leon, kemudian ia langsung lemparkan ke pada Yuka.
Namun, sebuah bongkahan es besar tiba-tiba muncul di hadapan Yuka, memblokir bola api itu sebelum mengenainya."Terlalu tergesa-gesa, gerakan mu lincah tapi sayang sekali, fokus mu yang selalu dihadapkan pada lawan di hadapanmu membuat mu lalai dengan apa yang ada di belakang."
Leon terkejut, secara tiba-tiba rantaian melesat dari belakangnya.sesi selama ini Yuka mengincar titik buta nya.Dengan cepat pemuda bermata jingga itu mencoba menghindar, menggunakan api nya sebagai perisai untuk menghancurkan serangan Yuka.Namun sepertinya dia salah langkah kali ini.
"Lain kali, perhatikan juga yang ada di belakangmu saat menyerang. Jangan hanya berfokus pada satu titik saja."
Srak
Bongkahan es tajam muncul di belakang Leon, menahan pergerakannya.Bongkahan bongkahan es itu nyaris saja menusuk diri nya jika saja ia bergerak sedikit saja dari sana.Tubuhnya terdiam seketika, di sela bongkahan es tajam yang dikeluarkan mengenainya.
__ADS_1
Ia tau Yuka sengaja hanya menahan tubuhnya, tanpa niat melukainya.Tapi jika orang lain yang melawan Yuka, Leon yakin pasti es es tajam itu sudah menusuk tubuh lawannya.
Sangat mengerikan.
Tapi dia belum menyerah sampai di sini.Lingkaran sihir berukuran tiga meter muncul di bawah kakinya, yang seketika menyemburkan kobaran api yang mengelilingi tubuh pemuda itu.Es es yang tadinya menahan pergerakan Leon mulai meleleh karena suhu panas yang begitu tinggi.
Sedangkan Yuka melompat mundur menjauhi sang kakak.Sebagai pengendali sihir, dia tidak terlalu tahan dengan suhu panas.Dengan kata lain, kemampuan kakaknya itu menjadi kelemahan terbesar baginya.
"Ck, masih saja menggunakan api untuk memperbaiki diri sendiri seperti itu."Yuka berdecak kesal.Suhu udara di sekitarnya pun semakin meningkat karena kobaran api yang begitu besar dari sang kakak.
"Hahaha sudah menyerah? Jangan kira aku lupa kelemahanmu Yuka, sebagai pengendali es, kau sangat lemah terhadap api."Leon melangkah mendekati sang adik yang terlihat kesal.Api masih berkobar di sekitar tubuhnya, bagaikan api Phoenix yang abadi, melelehkan bongkahan bongkahan es yang tersisa dari serangan Yuka.
Tapi Yuka masih belum menyerah.Ia kembali memunculkan lingkaran sihir, mengeluarkan rantai rantai es yang menjadi senjata utamanya.
Pertarungan keras kembali terjadi saat Leon meluncurkan kembali serangannya, dan Yuka yang dengan cepat menyerang dan menyerang balik menggunakan rantai miliknya.
Sementara itu, Ruka tersenyum tipis melihat pertarungan kedua pemuda itu.Dapat terlihat jelas kedua nya saling memahami kelemahan satu sama lain.Itu bisa menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi mereka, namun juga kerugian pada saat yang sama.
'Mereka sama-sama kuat.Aku heran, bagaimana dua orang dengan elemen berlawanan bisa terlahir sebagai saudara kandung?'
Liontin kristal Ruka berkilau redup, seolah ikut menyaksikan pertandingan yang sedang berlangsung di hadapannya.
Lantas Ruka langsung menggenggam liontin itu dengan lembut."Dunia ini memang unik. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana konsep pembagian sihir. Anggap saja sudah takdir."
Ruka kembali memperhatikan pertarungan keduanya.Lapangan kini mulai hancur karena berbagai serangan mereka.Tapi masih belum ada yang menyerah sampai sekarang.
Api semakin besar berkibar di sekitar Leon, membuat suhu disekitarnya semakin meningkat.Para penonton pun juga mulai merasa panasan, meski pelindung sihir terpasang melindungi arena pertempuran mereka, namun masih belum cukup untuk menahan suhu panas kobaran api milik Leon.
Namun, api sebesar itu tentu menghabiskan banyak sihir dan tenaganya.Terlihat jelas dari raut wajah Leon yang sudah mulai kelelahan.Dadanya naik turun, sepertinya cukup kesulitan bernafas.Keringat mulai menetes dari pelipisnya karena suhu panas sekitar nya.
__ADS_1
Di sisi lain Yuka terus menggunakan sihirnya untuk membuat kubah pelindung, melindungi dirinya dari serangan sang kakak.Matanya terpejam, lingkaran sihir berwarna putih salju bersinar di bawahnya, memberikan suhu sejuk di sekitar Yuka.Aliran sihir tampak berputar dengan teratur di sekitarnya, membuatnya lebih mudah mengontrol kekuatan sihirnya.Bibirnya bergerak seolah sedang membaca sebuah mantra, sembari terus mempertahankan sihirnya.
Tak lama, kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang iris aquamarine yang indah.Dari balik kubah es yang dibuatnya, ia dapat melihat dengan jelas raut wajah sang kakak yang sudah kelelahan.Aliran sihirnya nampak kacau, mungkin itu yang membuatnya mudah kelelahan.
Ini menjadi kesempatan bagus untuk menyerang.Yuka menutup tangan kanannya ke depan, seketika sebuah lingkaran sihir berwarna putih salju muncul di hadapannya.
"[Sihir es: rantai es]" Seketika itu juga, rantai muncul dari dalam lingkaran sihir itu, bergerak dengan pembohong menyerang sang kakak.
Di sisi lain Leon yang menyadari serangan sang kakak langsung meluncurkan kembali serangan balik.Kedua tangannya terselimuti kobaran api, yang kemudian membentuk sebuah pedang api berukuran besar.
"Hah... Hah... Masih belum menyerah rupanya."Senyuman kembali merekah di bibir nya.Saya masih belum mau menyerah sekarang.
Dengan cepat Leon berlari menebas semua rantai yang mengarah padanya.Kakinya terus berlari, memangkas jarang dengan sang adik.Sampai saat jaraknya dengan Yuka hanya tersisa beberapa meter, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Leon menunduk, melihat ke arah kaki nya.Rantai es sudah mengikat kakinya, membuat keseimbangan tubuhnya menghilang, dan terjatuh.
"Aduh sial!"Desis Leon kesal.Lagi lagi ia membuat api berkobar di sekitar tubuhnya.Namun secara tiba tiba rantai mengikat tubuh nya, membuat nya tidak bisa bergerak.
"Sudahlah, menyerah saja kak Leon."Ujar Yuka sambil berjalan menghampiri sang kakak.
"Gak!"
JRASS!
Es tajam langsung bermunculan di sekitar Leon, bahkan ditusuk nya.
"Yakin gak mau menyerah?"Tanya Yuka lagi dengan ekspresi dingin.
"B-baiklah aku menyerah!"Ujar Leon akhirnya.Sungguh menyebalkan harus kalah dari adik sendiri, tapi dia masih sayang nyawa.Saya tidak ingin mati sekarang.
__ADS_1
Di sisi lapangan Ruka tersenyum."Pemenang duel ini, Yuka Alvern!"