
500 tahun yang lalu, dunia di penuhi dengan para monster dan iblis yang berkuasa. Para manusia yang hidup di zaman ini di jadikan sebagai budak untuk melayani para iblis, dan di pekerjakan paksa oleh mereka.
Para manusia kala itu tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan para iblis dan monster yang menguasai daratan. Melihat penderitaan yang di alami umat manusia, para dewa pun melakukan ritual pemanggilan jiwa dari dunia lain, yang kemudian di beri kekuatan untuk membantu umat manusia.
Saat itu lah, jiwa jiwa itu terlahir sebagai penyihir yang memiliki kemampuan 7 elemen. Yaitu petir, angin, tanah, api, air, tumbuhan dan cahaya.
Para penyihir itu kemudian menyalurkan kekuatan mereka kepada umat manusia, memberikan mereka kekuatan untuk bisa melawan ras iblis dan mengembalikan kedamaian dunia.
Para iblis yang tak ingin kekuasaan nya di hentikan mengumumkan perang melawan para umat manusia. Semua orang bertarung dengan sekuat tenaga untuk dapat merebut kembali tanah mereka.
Begitu juga dengan para pahlawan yang di utus para dewa untuk membantu manusia, juga mengerahkan semua kekuatan mereka. Sampai akhirnya para umat manusia berhasil mendesak ras iblis dan monster.
Namun peperangan masih belum berakhir. Para iblis terkuat menyatukan kekuatan mereka dan membuat serangan dahsyat yang hampir menghancurkan semua daratan. Banyak manusia yang juga menjadi korban akibat serangan mematikan itu.
Tidak ingin melihat semakin banyak manusia yang menjadi korban, para pahlawan elemen menyatukan kekuatan mereka. Membuat serangan dengan bantuan energi dari alam sekitar.
Kala itu langit bercahaya, seolah seluruh dunia memberikan energi nya pada mereka. Serangan besar di luncurkan para para iblis itu dan mengalahkan mereka.
Kemenangan kini di raih oleh umat manusia. Beberapa iblis dan monster yang tersisa pun pergi dan bersembunyi.
Bahaya sudah pergi, namun bukan berarti bahaya itu tak akan kembali. Untuk membantu umat manusia, ketujuh penguasa elemen itu memberikan kekuatan mereka pada para manusia. Menjadikan mereka sebagai penyihir yang memiliki kekuatan elemen.
Semenjak hari itu, semua anak yang lahir secara otomatis akan mendapatkan kekuatan sihir mereka secara acak. Dengan kekuatan sihir itu, mereka mulai membangun dunia menjadi lebih baik. Tumbuh semakin kuat dan mengembalikan dunia dalam perdamaian.
Namun itu belum mencapai akhirnya. Para iblis yang selamat dari peperangan itu berkumpul di suatu tempat, mengumpulkan kekuatan mereka untuk kembali membalas dendam dan kembali menguasai dunia.
Mengetahui hal itu, pengendali elemen tanah memutuskan untuk menghilang, mengumpulkan kekuatan untuk memburu para iblis.
Menurut ramalan, pengendali elemen tanah hanya akan muncul kembali saat bahaya datang, dan membantu umat manusia untuk mengalahkan nya.
Namun karena itu juga, sejak hilangnya pengendali elemen tanah itu, hampir tidak ada bayi yang lahir dengan elemen tanah. Jika ada pun, mereka akan kehilangan kekuatan nya saat masih bayi atau dalam kandungan.
"Huwahh... Benar benar luar biasa... Kalau saja aku bisa bertemu pengendali elemen tanah itu sekali saja pasti sangat keren! Tapi... Apa benar jika ada bahaya datang, pengendali elemen tanah itu akan kembali muncul?" Seorang pemuda ber mata kuning cerah meregangkan tubuh nya.
Di sebuah perpustakaan tua di ruang rahasia istana, pemuda itu berada. Membaca buku buku lama mengenai sejarah dunia dan kekuatan yang muncul di dunia ini.
Mendengar rumor yang beredar di masyarakat mengenai munculnya pengendali elemen di permukaan, itu tentu menjadi hal yang sangat menarik bagi nya.
__ADS_1
"Aku harus kasih tau kak Hali dan kak Hika!" Ujar nya dan berlari menuju sebuah dinding dengan sebuah lukisan kerajaan Sagya di sana. Sebuah lingkaran sihir berukuran kecil berwarna kuning cerah muncul di hadapan nya, berkilau lalu kembali redup dan membuat dinding du hadapan nya bergerak, membuka jalan untuk nya keluar.
Ruang rahasia istana itu memang hanya bisa di buka oleh para keturunan kerajaan. Tentu saja termasuk pemuda itu.
Zen Cromwell, adalah putra ketiga dari Amato Cromwell dan Anasya Cromwell, Raja Kerajaan Sagya. Ia memiliki kemampuan sihir elemen cahaya, dan menjadi pengendali sihir cahaya terkuat nomor 1 di Kerajaan Sagya.
Selain kemampuan nya dalam mengendalikan elemen sangat baik, Zen juga termasuk salah satu anak jenius di usia nya, yang mengetahui banyak rahasia dunia yang bahkan belum terpecahkan.
Namun di balik itu, Zen juga seorang yang cukup modis dan sangat memperhatikan penampilan nya. Bagi nya, selain kepintaran dan kekuatan, penampilan juga sangat penting, apalagi karena ia ini pangeran. Tentu sebagai Pangeran, Zen harus berpenampilan baik di depan para rakyat nya bukan?
Langkah kaki pemuda itu meniti tangga menuju lantai dua, kamar kedua kakak nya. Sebelum itu ia memandang ke arah jam dinding yang tergantung tak jauh dari sana. Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. Ia duga kedua kakak nya itu masih belum bangun.
Zen langsung menarik nafas dalam dalam dan sedikit menahan nya, lalu berteriak sekencang mungkin. "WOY TUKANG TIDUR BANGUN!!!! JANGAN MOLOR MULU!!!" Teriak Zen.
Tak lama kemudian suara suara aneh terdengar dari dalam kamar kedua kakak nya.
Bruk!
Duak!
Dia adalah Hika Cromwell. Seorang pengendali elemen angin terkuat di Kerajaan Sagya. Bahkan Hika menjadi salah satu anggota Persatuan Penyihir Udara yang melindungi Kerajaan Sagya dari atas.
Sementara Zen yang mendengar teriakan kakak nya hanya tertawa. Terlebih lagi melihat kakak nya itu keluar kamar masih menggunakan piama pendek berwarna biru putih, lengkap dengan rambut yang acak acakan.
"Maaf maaf... Dah jam segini, emang kak Hika mau telat di hari pertama masuk?" Benar juga, sekarang hari pertama masuk Star Magic Academy. Akademi elit terbesar di Kerajaan Sagya. Tentu saja mereka tidak ingin telat di hari pertama masuk.
"Kak Hali belum bangun kah?" Tanya Hika.
Sein melirik ke arah kamar dengan pintu bercat kan merah hitam dengan simbol petir di tengah nya. "Belum noh. Kayaknya masih asik berlayar dalam mimpi."
Senyuman licik seketika tercetak di wajah Hika, mengetahui kakak nya itu masih tidur. "Woho~ nyenyak amat bobo nya. Kerjain ah~"
Mendengar itu, Zen justru melangkah mundur. "Kakak aja ah. Aku masih sayang nyawa. Aku ke bawah dulu ya~" Dengan cepat Zen langsung kabur menuju lantai bawah, tempat ayah dan ibu nya mungkin sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Hika hanya mendengus kesal melihat adik nya yang langsung kabur begitu saja. "Dih. Padahal dia sendiri yang awalnya teriak." Kesal nya.
Hika langsung masuk ke kamar sang kakak sulung tanpa salam atau permisi. Beruntung pintu kamar nya tidak di kunci. Diam diam ia melangkahkan kaki memasuki kamar dengan nuansa merah hitam itu, dan mendekati ranjang dimana seharusnya sang kakak masih tertidur. Namun, tidak ada siapapun di sana.
"Lah? Kak Hali nya di mana?" Gumam Hika bertanya tanya.
"Cari aku?"
Seketika tubuh Hika menegang mendengar suara yang tiba tiba muncul di belakang nya.
Gawat... Rencana nya menjahili kakak nya itu gagal total kali ini!
Perlahan ia menoleh, mendapati pemuda ber iris mata merah ruby yang hanya menggunakan celana panjang dan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut nya.
"Wow... Eh, maksudnya kak Hali dah bangun? Kirain masih tidur... Niat ku mau bangunin hehe..." Ujar Hika sambil tersenyum menunjukkan gigi putih nya.
"Mau bangunin, atau mau ngerjain? Masih belum kapok juga rupanya..." Suara dingin nan menusuk memasuki indra pendengaran Hika, membuat nya merinding seketika.
Ia lupa kakak sulung nya itu orang nya kejam. Bahkan melebihi tingkat kekejaman raja iblis bagi nya.
Siapa lagi kalau bukan putra mahkota kerajaan Sagya. Hali Cromwell. Seorang pengendali elemen listrik terkuat di Kerajaan Sagya, dan juga anggota prajurit pertahanan Kerajaan Sagya.
Kemampuan nya dalam mengendalikan sihir petir sangat hebat, bahkan mampu mengalahkan banyak lawan dalam sekali serang. Selain itu, kemampuan pedang nya juga tidak bisa di remehkan. Bahkan melampaui semua kesatria di Kerajaan Sagya itu sendiri.
Hali juga terkenal dengan sifat dingin, serius dan kejam nya. Namun juga bisa sangat bijaksana dan lembut di beberapa situasi. Hal itu lah yang membuatnya sangat terkenal, namun juga di takuti, khusus nya di kalangan perempuan.
Namun semua itu tentu tak akan membuat Hika kapok untuk menjahili kakak sulung nya itu. Walau ia sendiri seharusnya sudah tau apa akibatnya berurusan dengan kakak nya itu.
Lingkaran sihir berwarna merah terang muncul di hadapan Hali, bersamaan dengan nyali Hika yang mulai menciut. Sepertinya dia salah perhitungan kali ini.
BZZZTTT!!!
"HUWAAAAA"
Sementara itu di ruang makan, Amato dan Anasya istrinya, nampak terkejut mendengar suara teriakan itu. Lain hal nya dengan Zen yang masih menikmati teh dengan tenang nya.
__ADS_1
Amato nampak menepuk jidat nya dan menghela nafas berat. "Mereka mulai lagi..."
Zen justru tertawa kecil. "Hiburan pagi ayah..."