Mysterious Hero

Mysterious Hero
12. Duri VS Hika (part 2)


__ADS_3

Duri duri bermunculan mengikat tubuh Hika. Pemuda itu meringis menahan perih di tangan dan kaki nya. Luka nya memang tidak terlalu dalam, tapi tusukan duri duri itu cukup membuat nya kesakitan.


Ugh jika seperti ini terus ia bisa kalah!


"[Sihir angin:sayap angin]" Bisik nya. Hembusan angin mulai bergerak di sekitar nya, membentuk pusaran yang cukup kuat.


Dengan teliti Hika mengendalikan angin di sekitar nya untuk memotong sulur yang mengikat dirinya. Lalu angin itu berkumpul di punggung Hika, mulai memadat dan membentuk sepasang sayap burung berwarna putih dan mengepakkan nya, membuat dirinya terbang ke atas.


Dengan sepasang sayap itu, membuat Hika terlihat seperti malaikat yang terbang di angkasa.


Senyuman tercetak di wajah Duri. "Akhirnya kak Hika serius juga."


Tanah membengkak, akar akar tumbuhan mulai muncul dari dalam nya, bergerak dengan cepat seperti ular menuju ke arah Hika.


Tidak mau kalah, Hika kembali menyiapkan sihir nya. Lingkaran sihir berwarna biru muncul di hadapan nya, mengeluarkan cakram cakram angin berukuran kecil yang langsung di lemparkan nya ke arah akar tanaman milik Duri.


Akar akar itu terkoyak, bahkan beberapa putus terkena serangan Hika.


Hika menyadari jika Duri jauh lebih unggul dalam serangan jarak dekat. Walau kemampuan nya mengendalikan sulur dan tanaman begitu hebat, namun tetap ada batas area yang bisa di jangkau oleh sulur sulur itu.


Bagaimanapun sebagai tumbuhan, sulur itu harus terus menyentuh tanah atau tubuh Duri untuk bisa tumbuh. Dengan begitu, serangan dari jarak jauh akan lebih menguntungkan nya.


Syut!


Syut!


"Kau tau Duri, tidak seharusnya kau meremehkan ku loh... Walau aku terlihat tidak serius tadi, tapi jangan lupakan jika aku adalah anggota prajurit udara kerajaan Sagya. Aku tak akan lengah dengan serangan mu!"


Angin berhembus semakin kencang membuat debu ikut beterbangan, menghalangi pandangan Duri.


"[Pelindung tumbuhan]!" Lagi lagi Duri menggunakan sihir nya untuk membuat pelindung. Namun sepertinya kali ini tidak cukup kuat untuk menahan serangan dari Hika.


Srekk!


Srekk!


"Akh!" Rintih Duri. Serangan yang Hika luncurkan berhasil memotong sulur sulur tanaman nya, menembus pelindung yang ia buat dan langsung mengenai nya.


Darah mengalir dari luka di lengan kiri pemuda ber iris mata hijau zamrud itu. Kali ini Hika benar benar serius!


Apa ia akan kalah sekarang?


Sementara itu Ruka nampak mencatat setiap kekurangan dan kelebihan kedua pemuda itu. Serangan yang begitu hebat dari keduanya.


Lagi lagi liontin kristal nya bersinar redup, sebelum kemudian mengeluarkan suara yang hanya bisa di dengar oleh Ruka.

__ADS_1


'Tidak, bukan mereka.' ujar nya dengan nada kecewa. Mungkin dia sudah lelah terus mendeteksi aliran sihir.


Ruka hanya terdiam. Mata emas nya masih terfokus pada pertarungan di depan nya. Terlihat jelas Hika lebih unggul kali ini. Terlebih lagi dengan batasan serangan yang di miliki Duri, menyerang nya dari udara tentu menjadi poin plus untuk nya.


"Kemampuan yang hebat... Tapi agak terlalu sadis untuk Hika." Komentar nya.


'Ingat tujuan mu bukan hanya untuk menonton loh...'


"Aku tau." Ruka kembali terdiam. Entah mengapa secara tiba tiba ia merasakan sihir yang cukup aneh di sekitar nya.


Dari mana aura sihir ini datang?


'Hey Ruka, kau merasakan nya juga?'


Ruka mengangguk menanggapi. "Tidak jauh dari sini, tapi bagaimana bisa?"


'Makhluk spirit itu pasti tertarik dengan kekuatan sihir yang di lepas selama pertandingan tadi. Dengan begitu juga secara tidak langsung menariknya keluar.'


Mendengar itu, senyuman terlukis di bibir nya. "Baiklah, hanya perlu melihat nya menunjukkan diri."


Kembali pada pertandingan, nampak jelas Hika lebih unggul sekarang. Darah menetes dari lengan Duri. Luka nya memang tak terlalu dalam, namun cukup membuat nya kesakitan.


"Sebaiknya kau menyerah saja Duri..." Ujar Hika.


Apa Duri benar-benar menyerah sekarang?


Namun, sebuah seringaian justru terbentuk di wajah manis pemuda itu. " Menyerah?" Duri mendongak, menatap ke arah Hika. "Bukannya seharusnya aku yang bilang itu kak?"


Pertanyaan yang di lontarkan Duri sontak membuat para penonton bingung. Namun lain hal nya dengan Hika.


Sejujurnya ia sudah merasakan nya sejak tadi. Walau samar, Duri dapat melihat gemetar di tangan sahabat nya itu.


Duri yang menusuk dan menggores tubuh Hika di awal tadi bukanlah duri biasa. Melainkan duri beracun yang cukup berbahaya.


Hika mengepalkan tangan nya kuat. Padahal ia sudah susah payah menahan nya sedari tadi. Ia pikir bisa mengalahkan Duri sebelum efek racun itu semakin menyebar di tubuh nya. Namun sepertinya ia gagal.


Pandangan nya mulai mengabur. Hika mengepalkan sayap nya turun. Tubuh nya lemas, membuat nya sulit mengontrol sayap angin nya yang memang perlu konsentrasi lebih.


"Menyerah saja kak." Ujar Duri.


Situasi justru berbalik sekarang.


Lingkaran sihir berwarna hijau muda berukuran besar muncul di bawah kaki Duri. Ia memejamkan matan ya, berkonsentrasi memperkuat sihir nya. Sulur sulur tanaman kembali bermunculan, namun wujudnya sedikit berbeda sekarang.


Ukuran sulur itu lebih besar dari sebelum nya dengan kulit yang juga lebih keras dan duri duri yang mencuat tajam.

__ADS_1


Melihat itu alis Hika berkedut. "Oi oi kau mau membunuh ku hah? Sudah meracuni orang, sekarang mau menyerang orang yang sedang sekarat dengan serangan seperti itu? Yang benar saja!"


"Itu tujuan pertandingan ini bukan? Untuk melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah." Duri mengangkat tangan nya ke atas, lalu ia ayunkan ke depan, bersamaan dengan sulur nya yang menerjang ke arah Hika.


"Sial!" Dengan cepat Hika menghindar, menggunakan sihir nya untuk membuat pelindung, menangkis serangan Duri.


"Cakram angin." Hika kembali menggunakan sihir nya, membuat cakram angin yang cukup banyak dan ia gunakan untuk menyerang Duri. Namun sayang nya serangan nya tak ada yang mampu menembus sulur itu.


Duri benar-benar menggunakan sihir nya untuk memperkuat sulur tanaman nya!


Tapi Hika masih belum menyerah. Ia kembali menggunakan sihir nya dan berulang kali menyerang dan menahan serangan dari Duri.


Hembusan angin semakin kencang berputar di sekitar tubuh Hika, membuat debu beterbangan yang mengaburkan pandangan Duri.


"Uh... Masih belum nyerah juga." Ucap Duri. Ia mengulurkan tangan nya, mengendalikan sulur tumbuhan itu untuk menyerang Hika. Namun, serangan itu berhasil di hindari Hika dengan cepat.


Angin berkumpul di dekat tubuh Hika, memadat dan membentuk peluru angin yang langsung ia tembakkan ke arah sulur tanaman tadi.


Dor!


Dor!


Krekk!


Berhasil, beberapa sulur putus karena serangan nya.


"Jika begini masih ada harapan ku untuk- ugh..." Belum selesai mengucapkan kalimat nya, rasa nyeri secara tiba tiba berdenyut di dada nya. Seketika semua senjata angin yang di buat nya menghilang, bersamaan dengan tubuh Hika yang mulai goyah.


Tangan kanan pemuda itu mencengkram dada nya, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar.


Derap langkah terdengar saat Duri berjalan semakin dekat ke arah nya.


"Masih mau lanjut kak? Kalau tidak di sembuhkan, mungkin waktu hidup kak Hika nggak sampai 1 jam lagi."


Hika terbelalak. Dalam situasi seperti ini ia tau pasti orang yang sudah ia anggap seperti adik nya sendiri itu tidak mungkin bercanda.


"Baiklah, aku menyerah."


"Pertandingan ini di menangkan oleh Duri Alvern!"


Seketika sorakan dan tepuk tangan terdengar meriah. Ada yang terkejut, ada juga yang kagum. Awalnya kebanyakan dari mereka mengira Hika dapat menang dengan mudah karena sudah cukup unggul dalam penyerangan tadi.


Tapi tanpa di duga, situasi justru berbalik di saat saat terakhir. Tak ada yang menyadari efek dari serangan Duri di awal tadi. Tapi kelalaian itu yang justru memberi akibat fatal.


Dengan cepat Orias dan Furin mendekati Duri dan Hika. Membantu Hika berjalan ke tepi lapangan, dan mengobati keduanya.

__ADS_1


__ADS_2