Mysterious Hero

Mysterious Hero
20. Keputusan


__ADS_3

'Yang terpenting sekarang selesaikan tugas mu. Dengan begitu, tak akan ada lagi yang harus kehilangan nyawa dengan tragis seperti itu.'


Ah benar, setidaknya ia harus menyelesaikan tugas nya. Dengan begini tak akan ada lagi korban... Bukan?


Ruka mencoba berdiri, namun seketika pusing dan nyeri berdenyut di kepala nya, membuat pemuda itu refleks memegang kepala nya.


"Ugh... Apa aku terlalu banyak menggunakan sihir?" Gumam nya pelan. Tanda keemasan muncul di bawah mata nya.


'Jangan memaksakan diri. Kau sudah banyak menggunakan sihir hari ini, lebih baik kau istirahat saja dulu. Toh, jam pelajaran juga sudah mulai dari tadi.'


Ruka terkejut. Ia melirik jam di atas meja belajar nya yang sudah menunjukkan pukul 11.30. Ia tertidur hampir setengah hari?? Padahal niat nya tadi hanya memejamkan mata nya sebentar.


"Yasudahlah..." Ruka kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menutup mata nya dengan pergelangan tangan kanan nya.


Ruka menarik nafas dalam. Tanda di bawah mata nya masih terlihat jelas. Pemuda itu merutuki dirinya sendiri dalam batin. Bagaimana bisa ia jadi selemah ini? Padahal baru mengalahkan Amdusias saja sudah menguras banyak sihir nya. Bagaimana jika harus berhadapan dengan Ba'al nanti?


"Hey Rin, apa keputusan ku untuk kembali saat itu salah?" Tanya Ruka. Ia jadi teringat kejadian setelah perang besar dulu. Saat teman teman nya yang lain memutuskan untuk menyebarkan kekuatan nya, tapi tidak dengan dirinya yang memilih untuk bertahan.


Liontin pada kalung yang di kenakan Ruka kembali bersinar. 'Apapun keputusan mu, ini juga demi kebaikan semua orang kan? Lagipula aku senang dengan keputusan mu, karena dengan itu aku jadi punya kakak yang hebat seperti mu, kak Ruu.'

__ADS_1


Rinka melanjutkan. "Aku beruntung terlahir dengan sihir spirit, sihir yang cukup langka. Tapi yang membuat ku lebih senang, aku jadi bisa ikut membantu kak Ruka menyelesaikan tugas."


Senyuman simpul muncul di bibir Ruka mendengar ucapan arik nya itu. "Terimakasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin."


Suara burung pipit terdengar, burung burung hinggap di tepi jendela dan menyanyikan kicauan merdu mereka. Matahari bersinar cerah hari ini, ditemani dengan hembusan sang angin yang begitu menyejukkan.


Sunyi menguasai ruangan itu. Murid murid lain yang sedang mengikuti pelajaran membuat suasana sekitar gedung asrama benar-benar sepi. Hanya suara kicauan burung yang mampu membuat suasana tak sepenuhnya bisu.


Tidak butuh waktu lama untuk pemuda ber iris mata emas itu untuk kembali tertidur, kembali menjelajahi alam bawah sadar dalam buaian dunia mimpi.


Beruntung tak banyak kerusakan yang di sebabkan kejadian tadi pagi. Semua jejak keberadaan dan sisa sihir negatif dari Amdusias maupun anak buahnya pun sudah hilang sepenuhnya.


Barang barang yang rusak maupun hancur akibat terkena serangan pun sudah kembali seperti semula berkat sihir yang Ruka gunakan.


Sihir cahaya yang mengalir dalam tubuh nya membuat Zen masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Namun, walau begitu sepertinya tak perlu di anggap sebagai ancaman, karena Ruka hanya perlu menghapus ingatan nya jika terjadi hal yang merepotkan.


Untuk saat ini, setidaknya satu masalah sudah terselesaikan. Namun, bukan berarti tidak akan ada masalah lagi yang datang. Bagaimanapun sebagai anggota badan keamanan STAMY, Ruka harus siap sedia setiap saat. Terlebih lagi... Tujuan utama nya datang ke akademi itu juga berkaitan dengan para murid di Akademi ini.


Tujuan awal nya datang ke STAMY memang untuk mencari murid murid dengan kemampuan sihir tinggi untuk membantu nya mengalahkan ras Innimicus.

__ADS_1


Tapi, sekarang bukan hanya itu.


Ruka ingin membuat dunia yang aman untuk di tinggali semua ras. Tentu bukan hal yang mudah, tapi setelah semua yang ia alami selama ini, tak ada salahnya untuk terus berusaha bukan?


Walau sekarang yang paling penting bagi Ruka adalah...


Mencari alasan yang tepat pada guru dan teman sekelas nya uang mungkin curiga atau khawatir dengan dirinya yang secara tiba tiba absen tanpa kabar di hari kedua sekolah!


Tok tok tok!


Pintu di ketuk beberapa kali. Namun Ruka yang tengah tertidur tak mendengar suara ketukan itu.


Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan menampakkan seorang pria mengenakan jas berwarna coklat tua dan kemeja putih yang berjalan memasuki kamar Ruka.


Siapa lagi kalau bukan Amato, kepala sekolah di Akademi itu.


"Ruka, kau di-" Ucapan nya seketika terpotong saat melihat pemuda bermata emas itu tengah terlelap dengan damai di kasur nya.


Amato berjalan pelan mendekati ranjang Ruka. Punggung tangan nya iya letakkan di dahi pemuda itu, sedikit terkejut dengan panas yang ia rasakan.

__ADS_1


"Kau terlalu memaksakan diri, Ruka..." Ujar nya pelan, kemudian mengulurkan tangan nya, memunculkan lingkaran sihir berwarna putih yang kemudian membuat tubuh Ruka bersinar terselimuti cahaya putih pudar.


"Beristirahat lah. Kau sudah bekerja keras."


__ADS_2