Mysterious Hero

Mysterious Hero
23. Mencoba menenangkan


__ADS_3

Duri dan Zen menatap khawatir pada Ruka yang tengah terbaring di atas kasur. Terutama Duri, dirinya sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ruka. Sesekali akan mengusap dahinya yang panas dan berkeringat.


"Aku akan keluar memanggil guru kemari," ujar Zen setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan. Dirinya beranjak dan pergi secepat mungkin, meninggalkan Duri yang mencoba mengompres Ruka.


Sahabat nya itu sama sekali tidak mengindahkan perkataan Zen, manik hijaunya menatap penuh khawatir pada Ruka yang tampak semakin pucat dan nafasnya yang tidak teratur.


Bibir keringnya terbuka membantu memasukkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya. Tubuhnya gemetar kedinginan, bahkan ujung-ujung jarinya terasa seperti membeku.


Genggaman tangannya mengerat, seolah-olah tubuhnya secara tak sadar mencoba berpegangan pada harapan satu-satunya. Duri membalas genggaman tersebut dengan kedua tangannya. Dirinya hanya mampu menempelkan tangan Ruka pada keningnya, berdoa pada Sang Pencipta yang berada di atas sana dan mendengarnya untuk membantu Ruka.


Katakanlah dia bodoh, tetapi Duri bukanlah seseorang yang benar-benar paham atas apa yang harus dilakukan tanpa instruksi. Dia bukanlah orang terbaik dalam masalah kesehatan seperti sekarang.


Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain untuk mengompres dahi Ruka, karena itulah hal yang paling sering dilakukan oleh Ibunya ketika dia atau saudara nya terkena demam.


'Sial... Kenapa malah jadi begini...' Batin Ruka. Ia benar-benar tak mengira kondisi nya justru akan semakin buruk sekarang. Apa mungkin karena sihir negatif yang Amdusias lemparkan padanya?


Walaupun Ruka mampu menangkal sihir negatif, tapi sihir nya yang terbagi ditambah dengan ia yang cukup memaksakan diri membuat tubuh nya melemah dan justru memperkuat efek samping sihir negatif itu.


'Sudah mati pun masih saja merepotkan seperti ini!'


Haruskah ia menggunakan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri? Tapi jika begitu, Duri akan menyadari aliran sihir yang keluar dari tubuh Ruka dan mungkin mencurigainya. Jika sudah seperti itu, apa yang akan ia jelaskan nanti?

__ADS_1


"Rinka..."


Bisikan lirih itu terdengar di sela-sela nafas Ruka yang tersedak-sedak. Duri tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah dia menenangkan dengan mengatakan pada Ruka bahwa orang yang dia sebut ada di sini? Atau perlukah dia hanya diam saja?


Tapi ia bahkan tidak tau siapa yang Ruka panggil.


'Oke! Fokus, Duri. Ingat apa yang biasanya Bunda lakuin saat kau dapat mimpi buruk!'


Dengan gerakan kaku, Duri memeluk lembut tubuh Ruka. Kepala Ruka bersandar pada dadanya, tepat pada bagian jantungnya agar dia bisa mendengar detak jantungnya.


Duri ingat bahwa dia sering merasa tenang ketika mendengar suara detak jantung ibunya ketika mendapat mimpi buruk atau sedang sakit. Ia berharap ini bisa sedikit menenangkan Ruka.


Dia menyelipkan tangannya ke belakang kepala Ruka dan mengelus surai hitam yang kini basah karena keringat, sebuah tangannya yang satunya menepuk punggung Ruka dengan lembut. Duri selalu merasa nyaman ketika ibunya memperlakukannya seperti ini.


"Shh... Tidak apa-apa Ruu, Ruu pasti akan baik baik saja... Duri ada di sini. Bobo yang nyenyak ya... Ruka bobo...ooo Ruuka bobo... Kalau tidak bobo di gigit kebo."


'Eh, bener nggak sih?! Kok rasanya aneh ya?! Ah nyamuk bukan kebo!' Duri menangis dalam hatinya. Kebingungan harus mengucapkan apa. Kepalanya benar kosong melompong! Wajahnya sendiri mulai memerah karena merasa malu atas apa yang dia katakan tadi.


Tetapi mungkin rasa malunya cukup terbayar dilihat bagaimana tubuh gemetar Ruka mulai mereda dan nafasnya mulai teratur.


Tidak ingin menanggung malu yang lebih, Duri memilih hanya melanjutkan kegiatan tangannya saja tanpa bersuara mengatakan apapun.

__ADS_1


Tangan nya membelai pelan surai hitam Ruka yang tampak kembali tertidur. Seulas senyuman tipis terbentuk di wajah Duri ketika melihat muka imut Ruka yang sedang tertidur.


Ingin rasanya ia berteriak dalam batin, 'MENGGEMASKAN!' tapi sayang nya tak bisa karena takut akan membangunkan sang pemuda bermata emas itu.


Mungkin jika Zen berada di sana, dia akan menertawakan kelakuan Duri. Tubuh Ruka masih gemetar kedinginan, namun tidak sehebat tadi. Tampaknya nafasnya juga mulai teratur tanpa tersedak-sedak. Tetapi keningnya masih mengkerut dan keringat masih mengalir keluar dengan deras.


Namun dia pikir itu hal yang biasa. Lagipula ketika dia demam, pastikan dia akan berkeringat deras.


"Duri, aku kembali...."


Duri dengan sigap langsung mendudukkan dirinya, melupakan bahwa Ruka tadinya sedang bersandar di dadanya. Otomatis kepala Ruka jatuh ke kasur, walaupun kasur itu lembut, namun secara tiba-tiba berpindah tempat dari membuat tubuh Ruka otomatis merasakan sakit.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan!"


"Ugh.."


Mendengar lenguhan itu, Duri langsung kembali sadar pada keadaan. Ruka. Dirinya dengan panik mengangkat kepala Ruka untuk kembali bersandar pada bantal di kasurnya.


Setitik air mata menggenang di sudut pelopak matanya, dahinya yang mengkerut kini menjadi semakin dalam.


'Waduh!!! Apa yang ku lakukan sih??!!!'

__ADS_1


Ingin rasanya Durin menangis malu dan bersalah atas kecerobohan nya ini!


__ADS_2