
Ledakan besar terjadi di taman akademi. Beberapa pohon tampak terbakar kobaran api yang cukup besar, tanah terlihat retak di beberapa bagian dan bunga bunga berserakan di sekitar lokasi ledakan.
Mengantisipasi agar api tak menyebar, Ruka mengulurkan tangan nya ke depan, lingkaran sihir keemasan muncul di depan telapak tangan nya. Ia pun berujar, "semburan air."
seketika air menyembur dari dalam lingkaran sihir yang Ruka buat, memadamkan api di hadapan nya. Tak butuh waktu lama, api itu pun berhasil di padamkan.
Ruka menarik nafas lega, nampak beberapa murid yang juga terkejut mendengar suara ledakan itu berlari mendekati sumber suara, entah karena penasaran atau kebetulan melihatnya.
"Semuanya sudah beres, sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas kalian masing masing." Ujar Ruka sembari berbalik memandang para murid yang mulai berkerumun di belakang nya.
"Padahal kan masih penasaran..."
"Bagaimana bisa ada ledakan?"
"Apa mungkin ada yang tak sengaja menggunakan sihir nya?"
"Mungkin juga. Ditambah lagi tidak ada monster di dekat sini..."
Ruka menghela nafas. "Cepat kalian ke kelas sebelum-"
__ADS_1
KRINGGGG!!!
Bel sekolah berbunyi menarik perhatian murid murid yang kala itu masih berkerumun di dekat Ruka.
"Ekhem, perlu ku antar kalian ke kelas?" Semua murid yang tadinya berkerumun terdiam seketika mendengar suara yang familiar itu.
Mereka serentak menoleh dan mendapati seorang lelaki yang menatap tajam ke arah mereka. Aura gelap seakan keluar jelas dari tubuh lelaki itu, ditambah dengan tatapan mata nya yang setajam tatapan mata singa jantan yang melihat gerombolan kelinci dan siap menerkam kapan saja.
"K-kami akan kembali! "
Seketika itu juga semua murid yang tadinya berkerumun langsung berlari secepat kilat menuju kelas mereka masing masing.
Velix menggeleng pelan. "Bukan masalah, ini juga tugas ku bukan? Selain itu..." Velix memandang sisa bekas ledakan di dekat nya. Api memang sudah di padamkan, namun sisa sisa asap masih mengebul tipis dan kemudian menghilang. "Kau tau siapa yang melakukan ini?" Lanjut Velix bertanya sembari menatap Ruka.
"Belum tau jelas, tapi sosok itu berhasil kabur begitu membuat serangan. Kemungkinan dia terkejut melihat gerombolan orang yang juga langsung datang ke sini." Jelas Ruka.
"Baiklah, kita cari monster itu sekarang. Pastikan dia tertangkap hari ini juga. Akan bahaya jika di biarkan begitu saja berkeliaran. Akan merepotkan jika para murid itu kembali terkena masalah."
Ruka mengangguk setuju. " Yeah, sejak kejadian itu, mereka sepertinya semakin serius menghadapi kita."
__ADS_1
"Um, jika begini... Sebaik nya kau percepat memulai latihan dan ujian nya untuk murid murid. Semakin cepat kita kumpulkan para murid dengan kemampuan tinggi, semakin cepat juga rencana kita bisa terlaksana."
Ruka mengangguk. "Baiklah... sekarang cepat kita cari monster itu sekarang."
Velix mengangguk. Pria itu melompati ke atas data pohon dan mengamati sekitar nya. Mata nya terpejam sebentar, kemudian membuka lagi, menampakkan iris mata merah darah dengan pupil hitam legam yang terlihat sangar tapi juga memberi kesan yang cukup keren.
Velix memiliki kemampuan sihir gravitasi dan deteksi. Sihir gravitasi nya yang sering ia gunakan untuk meringankan atau memberatkan bobot senjata nya saat menyerang lawan, sehingga dapat dengan mudah mengalahkan mereka.
Sedangkan sihir deteksi memang tak terlalu sering Velix gunakan, tapi cukup berguna untuk mencari lokasi monster dalam jarak dua puluh sampai dua puluh lima meter di sekitarnya.
"Arena latihan, seekor Red Salamander bersembunyi di antara bangku penonton." Ujar Velix.
"Baiklah, kita kesana sekarang!"
Tanpa buang waktu, Ruka dan Velix berlari cepat menuju arena latihan.
Red Salamander adalah seekor monster berbentuk seperti kadal dengan kulit berwarna merah terang dengan warna putih di bagian perut dan duri yang ada di atas punggung nya. Makhluk itu memiliki tinggi 4 meter. Red Salamander memiliki kemampuan dapat mengeluarkan api dari mulutnya, membuat nya menjadi salah satu monster yang cukup sulit di kalahkan jika mau bukan pengendali elemen air atau es.
Sementara itu, di balik pohon yang tak jauh dari lokasi Ruka, Hali mengintip dalam diam, mendengarkan setiap pembicaraan mereka.
__ADS_1