Mysterious Hero

Mysterious Hero
16. Tertangkap (part 2)


__ADS_3

Flashback


Siang telah berganti menjadi malam. Di ruang kepala sekolah, nampak dua orang pemuda yang terlihat sedang berdiskusi.


Mereka adalah Ruka dan Feir yang sedang merencanakan penangkapan iblis itu.


"Apa kau yakin dia ada di sana?" Tanya Feir masih sedikit ragu.


Ruka mengangguk yakin. Mata emas nya berkilat terkena sorot lampu ruangan itu. "Ya aku yakin. Sihir negatif dari makhluk spirit itu terasa jelas."


Feir menyandarkan tubuh nya ke tembok. Ia sedikit menghela nafas. "Baiklah tuan muda, jadi apa yang harus ku lakukan?"


Ruka tersenyum. "Tak perlu formal begitu Feir, yang perlu kau lakukan hanya mengulur waktu dan membawa nya kemari. Aku akan menyiapkan sihir untuk menghabisi nya."


"Baiklah, aku akan memancingnya ke arah mu." Ujar Feir dan menyatu dengan bayangan, menghilang dari hadapan Ruka.


Ruangan kini benar benar sepi. Cahaya bulan menyorot dari jendela di belakang nya, membuat rambut hitam pemuda itu nampak berkilau indah.


'Kau benar-benar akan menggunakan salah satu pangeran itu?'


Ruka tersenyum. Ia berjalan mendekati jendela, menikmati angin yang berhembus dari sela sela nya. Mata nya berkilau menatap sang rembulan dari balik kaca. "Karena memang mereka kan yang menjadi incaran nya bukan? Selain itu, jika terjadi sesuatu dengan para pangeran itu, akan lebih mudah menyelesaikan nya karena di bantu Lord Amato. Jika bangsawan lain, jika mereka mati aku yang repot menjelaskan nya nanti." Jawab Ruka apa adanya.


'....'


Yang di katakan Ruka ada benarnya. Akan rumit jika para bangsawan itu mati. Terlebih lagi jika orang tua mereka protes ke akademi, akan semakin rumit nantinya.


"Baiklah, kita mulai sekarang."


'Oke!'


Flashback off


"terima kasih atas kerja kerasmu. Sisanya serahkan kepadaku."

__ADS_1


Mendengar itu, suasana hati Feir benar-benar tenang dan lega. Dia menyandarkan kepalanya dan menikmati elusan kepala dari Ruka.


Jika Ruka berkata seperti itu, artinya dia benar-benar akan menyelesaikan seluruh sisanya.


Gumpalan hitam yang terperangkap dalam sihir Ruka bergerak menabrakkan dirinya ke sekitar dinding, sosok spirit tersebut mencoba kabur. Tampak dengan jelas bahwa dia ketakutan ketika Ruka berjalan mendekat, pergerakannya semakin menggila kala setiap langkah Ruka mendekat.


"Sekarang, katakan."


Manik gold tersebut menggelap. Senyumannya semakin melebar, tetapi sama sekali tidak menyentuh matanya. Pelindung yang mengelilingi Iblis itu berubah bentuk menjadi bulat sepenuhnya seperti bola dan bergerak menuju tangan Ruka yang terulur.


Kedua tangan lentik yang dibalut dengan sarung tangan hitam yang melekat sempurna di tangannya mengelus bola hitam tersebut. "Katakan. Ini adalah perintah."


Pelindung emas tersebut bersinar. Di tengah-tengah gumpalan hitam yang terperangkap, perlahan tercipta sebuah inti berwarna putih yang mencolok.


"Tuanku, Ba'al, ingin kembali. Dia ingin kembali ke dunia. Kembali menguasai dunia. Kembali menjadi Pemimpin diantara para Raja. Kembali dengan cara apapun. Keinginan yang suci. Dialah Tuanku, Tuan Kami. Dialah penguasa hingga akhir."


Iblis Parasit itu tidak mengatakan hal lain selain mengulangi kalimat yang sama. Walau begitu, semakin lama, nadanya berubah menjadi lebih cepat dan menggila. Ruka paham maksudnya, tetapi Feir tidak.


"Ba'al! Ras Inimicus! Dia akan kembali! Dia harus kembali! Dia pasti kembali! Amdusias, bawahan nya pasti akan menghancurkan tempat ini malam ini juga!"


Ruka masih mengelus lembut permukaan pelindung, tetapi senyumannya sepenuhnya luntur.


Ekspresinya menggelap. Tidak ada rasa bahagia, bingung, bimbang, atau marah. Benar-benar sepenuhnya kosong tanpa emosi.


"Kehancuran kalian akan datang! Tuan ku Ba'al dan Ras Inimicus akan menghancurkan kalian kali ini! Inimicus akan membawa seluruh keturunanmu menjadi budak dan mengembalikan dunia seperti sebelumnya, sebelum kalian para jiwa panggilan datang ke bumi! Dia akan menguasai-"


Plash!


Inti putih yang berada di antara gumpalan hitam tersebut pecah dan memakan seluruh warna hitam di dalam pelindung. Kini bola di tangan Ruka benar-benar berwarna putih bersih dengan cahaya emas mengelilinginya.


Suasana seketika menjadi benar-benar sunyi. Bahkan tidak ada suara serangga malam atau angin yang bertiup menggerakkan dedaunan.


Feir berdiri secara perlahan, mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya dangan gejolak sihir yang masih sedikit kacau. Dia berjalan mendekati Ruka, perlahan memanggil namanya.

__ADS_1


Manik Ungu lavender miliknya menangkap getaran pada tangan Ruka dan urat nadinya yang menyembul keluar. Melihat hal itu, Feir memilih mundur dan diam.


Dia tidak berani mengganggu Ruka yang sepenuhnya menahan amarah. Tekanan sihir di sekitar pemuda ber mata emas itu semakin kuat, membuat Feir kesulitan bernafas.


'Ah... Kali ini apa yang terjadi?'


Sejak pertemuan mereka, Feir hanya sekali menangkap reaksi amarah Ruka. Dan bagaimana cara dia meluapkan amarah itu sangatlah kejam, hingga kejadian itu menjadi mimpi buruknya tersendiri.


Feir sejujurnya tidaklah merasa dekat dengan Ruka. Dia masih tidak mengerti kepribadiannya. Dia masih merasa was-was terhadapnya.


Dan yang paling utama, dia merasa bahwa ia sebaiknya dia tidak pernah mengenal siapa Ruka yang sebenarnya.


Dalam kondisi biasa, Ruka akan dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi tersenyum dan bercanda.


Memancing emosi Feir sehingga dia hampir melupakan kejadian sebelum-sebelumnya. Tetapi kali ini, dibutuhkan waktu 5 menit lebih hingga Ruka sepenuhnya tenang.


Ketika Ruka membalikkan badannya, dia melihat ekspresi kaku dan takut Feir. Sebuah senyum akhirnya kembali mekar di wajahnya.


"Maaf, ya. Kamu pasti takut tadi." bisik nya sembari berjalan mendekat dan mengusap puncak kepala Feir.


Tidak ingin memancing emosi Ruka lagi, walau dia tahu itu hampir mustahil, Feir hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Sepenuhnya menurut.


Ruka terkekeh. "Maaf maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Dia menarik tubuh kaku Feir ke dalam pelukan nya, mengusap pelan punggung gemetar pemuda tersebut sembari bersenandung lembut.


Tubuh kaku Feir yang sebelumnya gemetar dalam ketakutan secara perlahan rileks di dalam pelukan hangat Ruka. Dia menanamkan wajahnya dia perpotongan leher putih Ruka, mencoba melupakan kemarahan Ruka sebelumnya dan fokus pada senandung yang dilantunkan oleh Ruka.


Keduanya berdiam pada posisi tersebut untuk beberapa menit sebelum akhirnya Feir melepaskan pelukannya, dengan sedikit tidak rela, dan pamit kembali ke asrama.


Ruka tidak mencoba menahannya. Dia hanya tersenyum dan mengucapkan selamat malam.


Dirinya mengambil arah yang berlawanan dengan Feir, kembali melangkah masuk ke gedung sekolah.


Dengan tujuan ruang bawah tanah, mata Ruka berkilat aneh saat. Ia kembali merasakan tekanan sihir negatif di sekitar nya. Masalah ini belum benar-benar berakhir ya....

__ADS_1


__ADS_2