
"Pagi ayah, pagi bunda~" Sapa Hika dengan nada ceria. Tak lupa dengan senyuman lebar nya yang manis. Ia mendekati sang ibu yang tengah duduk di kursi meja makan dan memeluk nya dari belakang.
"Pagi... Sudah puas di hajar nya?" Sahut Anasya sambil tertawa kecil. Mendengar itu, Hika langsung memasang ekspresi cemberut.
Memang sudah sehari hari sih seperti itu, tapi agak menyebalkan juga.
"Niat ku kan baik mau bangunin." Ucap Hika sambil melirik ke arah Hali yang baru saja datang.
Hali yang melihat ekspresi adik nya itu hanya membalas dengan tatapan tajam yang langsung membuat Hika merinding seketika. Sepertinya api kemarahan si sulung itu masih belum reda.
"Oya, kalian sudah tau kan rumor yang sedang beredar belakangan ini, tentang si pengendali elemen tanah yang kabarnya terlihat?" Tanya Zen menarik perhatian yang lain.
Kabar tentang kemunculan pengendali elemen tanah itu menyebar dengan cepat di Kerajaan Sagya. Kabar nya ada beberapa orang yang melihat nya secara langsung, namun tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.
Menurut rumor yang beredar, sosok itu mengenakan jubah berwarna coklat kehitaman dengan corak emas di bawah nya. Mata nya berwarna emas berkilau indah, namun juga memberi kesan dingin dan misterius.
Selain itu, dia menggunakan masker yang menutupi sebagian wajah nya, sehingga tak ada yang tau wajah asli dari sosok itu.
"Semua orang di Kerajaan sudah tau soal itu, memangnya kenapa?" Tanya Hika sambil memakan sarapan nya.
"Pagi tadi aku membaca buku kuno di perpustakaan rahasia, apa benar jika kemunculan pengendalian elemen tanah itu berarti akan ada bahaya besar yang datang ke dunia ini? Karena dulu nya, para dewa memanggil jiwa dari dunia lain untuk menyelamatkan dunia dari invasi iblis, namun setelah perang besar terjadi, pengendali elemen tanah itu memutuskan untuk bersembunyi dan akan muncul kembali saat bahaya itu kembali datang. Jika benar, apa memang ada bencana yang akan datang mengancam kita?" Tanya Zen.
Amato yang mendengar itu sedikit terkejut. Memang ia mengizinkan putra putra nya memasuki perpustakaan rahasia itu, tapi ia tak menyangka jika Zen akan menemukan buku itu.
Buku yang telah tersimpan di perpustakaan rahasia kerajaan Sagya sejak ratusan tahun yang lalu. Buku yang menjelaskan dengan detail mengenai sejarah adanya kekuatan sihir di dunia ini, dan mengenai legenda serta ramalan mengenai pengendali elemen tanah itu.
"Sepertinya begitu. Walau belum pasti, tapi setidaknya kita harus bersiap siap. Karena itu juga, aku telah mengutus seseorang untuk melatih kalian secara khusus di Star Magic Academy." Jawab Amato.
Ketiga putra nya memandang penasaran. Kira kira siapa yang akan melatih mereka di Akademi nanti?
__ADS_1
"Oh, apa ini juga berkaitan dengan perubahan peraturan di Star Magic Academy?" Tanya Anasya, menarik perhatian ketiga putra nya.
Amato sudah menceritakan tentang perubahan peraturan di Star Magic Academy mulai tahun ini. Dan dia juga sudah membaca peraturan yang ada di formulir. Anasya menyukai peraturan peraturan nya. Khususnya di bagian untuk para muridnya agar mempertanggung jawab kan masalah yang mereka buat sendiri.
Dengan begitu, para murid juga secara tidak langsung akan di latih untuk lebih mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Dengan ini dirinya tidak perlu khawatir dengan putra putra nya selama bersekolah di Star Magic Academy. Terlebih lagi setelah Amato menceritakan tentang pemuda yang tanpa takut nya memberikan hukuman pada para bangsawan yang melakukan kesalahan.
Dengan sikap tegas nya, ia tak memandang status para bangsawan itu dan tetap memberikan hukuman sesuai peraturan yang di terapkan di Akademi.
Dengan begini Anasya tidak perlu takut putra putra nya akan menyalah gunakan status nya sebagai Pangeran untuk bertindak semena-mena. Anasya tidak ingin anak anaknya seperti anak bangsawan lain yang manja.
*****
"Wow... Perubahan peraturan itu kayaknya membawa pengaruh besar..." Ujar Hika melihat kerumunan yang terjadi di depan gerbang sekolah. Nampak beberapa orang yang memprotes karena mereka tidak di izinkan masuk hanya karena atribut pakaian yang tidak lengkap.
"Apa itu orang yang ibu bilang?" Tanya Zen sambil menunjuk ke arah seorang pemuda dengan iris mata emas yang tampak sedang mencegah salah seorang bangsawan.
"Woy! Bisa gak sih datang gak usah ngagetin orang?" Protes nya.
Pemuda itu hanya tertawa garing.
Leon Alvern, seorang bangsawan kerajaan Sagya yang juga sahabat baik para pangeran elemen. Leon memiliki kemampuan mengendalikan elemen api dan menjadi penyihir api terkuat di kerajaan Sagya. Leon memiliki sifat yang ceria, jahil dan hyperactive. Namun, terkadang juga mudah terbawa emosi.
"Sudah jelas dia laki laki. Tapi memang iya sih dia cukup manis." Sahut Yuka, adik Leon.
Yuka Alvern adalah adik kembar Leon. Namun berbeda dengan Leon, Yuka memiliki sifat yang dingin, cuek dengan keadaan, hobi tidur dan tidak terlalu banyak bicara.
Walau begitu, Yuka memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam mengendalikan elemen air dan es. Bahkan menjadi penyihir es terkuat di kerajaan Sagya.
__ADS_1
Seorang pemuda ber mata hijau zamrud mendekati Yuka. Ia tampak mengamati pemuda ber mata emas yang berdiri di depan gerbang Akademi. "Itu Ruka kan? Yang kata nya pemuda paling cantik di Kerajaan Sagya. Ternyata emang cantik ya..." Ujar Duri, anak bungsu keluarga Alvern yang juga merupakan penyihir pengendali elemen tumbuhan terkuat di Kerajaan Sagya. Dia memiliki sifat yang ceria, manis dengan mata bulat yang besar yang membuat nya terlihat imut.
Setidaknya itu yang orang lain lihat dan pikirkan tentang nya. Tapi sebenarnya Duri itu seorang yang cukup teliti, serius dan memiliki rasa penasaran yang tinggi, sama seperti Zen. Namun berbeda dengan Zen, kadang Duri bisa jadi sangat polos dan kurang bisa memahami situasi. Namun justru itu yang membuat nya terlihat imut, sehingga semua orang yang melihat nya ingin memanjakan nya.
"Tapi dia aja dapat julukan 'tercantik di kerajaan Sagya.' Berarti perempuan dong." Tanya Leon.
Hika mengibas ngibaskan tangan nya. "Bukan... Dia laki laki. Cuma terlalu imut aja. Melebihi Duri bahkan."
"Apa kalian hanya akan mengagumi kecantikan nya dan mempertanyakan jenis kelamin nya atau masuk sekarang? Kalian tahu kan jika terlambat sedikit saja, kita tidak bisa masuk ke akademi." Hali mendengus kesal. Ia tak ingin di hukum di hari pertama masuk. Terlebih lagi jika mereka pangeran.
Sebenarnya awal Hali melihat Ruka pun sempat mengira nya sebagai perempuan, namun dengan cepat ia menyadari nya. Lagipula, dari pakaian yang di kenakan nya saja sudah jelas bukan?
Keenam pemda itu secara otomatis menjadi pusat perhatian saat mendekati gerbang Star Magic Academy. Walau Leon, Yuka dan Duri bukan pangeran, melihat keakraban dan kekuatan mereka yang hebat, banyak orang sering menyebut mereka sebagai enam pangeran elemen.
Sapaan sapaan hangat terdengar dari murid murid lain, khusus nya dari para perempuan yang bahkan sampai menjerit melihat mereka.
"Hika Cromwell, tolong berhenti." Sebuah suara lembut menarik perhatian keenam pemuda itu seketika. Mereka memandang ke arah pemuda bermata emas yang menghentikan langkah Hika.
"Tolong kenakan dasi mu dengan benar." Ujar nya melihat dasi Hika yang sengaja di kendor kan dan kancing baju bagian atas yang tidak terpasang.
Ia lupa tentang itu!
"B-baik." Dengan cepat Hika membetulkan dasi dan pakaian nya. Seketika itu juga murid murid lain menatap pada Ruka yang dengan berani nya menghentikan Hika.
Salah seorang anggota OSIS mendekati Ruka dan berbisik di dekat nya. "Psst... Dia pangeran loh..."
"Aku tau. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Semua yang mau bersekolah di sini harus mengikuti aturan yang sudah di terapkan. Lagipula mereka jelas bukan bayi yang tidak bisa berpakaian sendiri dengan benar bukan? Selama dia di Star Magic Academy, dia adalah murid. Tak ada yang membedakan status di sini."
Anggota OSIS itu langsung terdiam. Ia benar-benar lupa dengan siapa ia bicara!
__ADS_1
Setelah membenarkan pakaian nya, Hika pun kembali berjalan menyusul saudara dan teman teman nya yang lain.