
"Sekarang, kita masuk ke topik utama,"
Seisi kelas lantas membatin. 'Ujian dadakan lagi?'
"Pemilihan pengurus kelas."
"Syukurlah... Akhirnya ada kegiatan sekolah yang normal..." Ekspresi para murid yang tadinya tegang kini mulai melunak dan rileks kembali. Setidaknya sekarang tak harus lelah bertarung di lapangan atau lainnya.
"Jadi, siapa yang mau jadi ketua kelas?"
Krik krik...
Lantas semuanya terdiam.
Ketahuilah, pekerjaan sebagai ketua kelas itu bukanlah hal yang mudah. Di tambah lagi harus mengatur para bangsawan yang keras kepala dan sombong nya minta ampun.
Belum lagi para pangeran dengan segala tingkah mereka. Jelas membutuhkan kesabaran dan keberanian ekstra untuk mengatur mereka.
"Bagaimana kalau Ruka saja yang menjadi ketua kelas? Apa yang dia lakukan saat upacara pembukaan kemarin, sangat tepat untuk menjadikan nya ketua bukan?" Ujar salah satu murid perempuan bernama Shaila.
Feir angkat bicara. "Tidak. Pekerjaan sebagai ketua badan keamanan di STAMY sudah cukup melelahkan. Belum lagi tugas tugas lain yang harus dia urus. Jangan terlalu membebani nya dengan hal seperti itu. Di tambah lagi," Pandangan nya tertuju pada bangku di depan nya uang kosong. "Dia juga pasti lelah harus menanggung semua tugas itu."
Ada benarnya. Tugas sebagai ketua badan keamanan di Star Magic Academy jelas tidaklah sedikit. Tidak seharusnya mereka menambah beban Ruka.
"Jika begitu saya mau menjadi ketua!" Leon mengangkat tangan nya tinggi tinggi. Senyuman ceria dan tatapan nya yang serius menandakan semangat nya yang membara.
"Tidak setuju! Kelas akan semakin kacau kalau kau yang jadi ketua!" Tolak Hika mentah mentah.
Perempatan imajiner lantas muncul di dahi pemuda bermarga Alvern itu. "Hey! Kau ini rekan ku harusnya kau mendukung ku!"
"Maafkan aku, tapi lebih baik jika aku yang menjadi ketua kan? Jika aku jadi ketua, akan ku buat kelas ini tertib dan mengikuti ekskul skate board semua!" Ujar Hika.
"Kalau aku jadi ketua, aku mau kelas ini jadi taman bunga!" Kini Duri yang berbicara. Ia tersenyum manis dengan mata bulat yang berbinar membuat nya terlihat menggemaskan!
Namun lain hal nya dengan saudara nya yang lain, yang justru menatap datar. Apa dia pikir pekerjaan sebagai ketua kelas semudah itu?
Feir mencoba menenangkan. "Baiklah baiklah, bagaimana kalau Hali saja? Dia sepertinya cocok."
"TIDAK!" Seru kelima saudara nya yang lain.
__ADS_1
"Dia terlalu kejam!"
"Sadis!"
"Gak tau ampun!"
"Kalian mau menderita dengan kekejaman nya?!"
"Pokoknya jangan kak Hali!"
Mendengar pernyataan dari saudara saudara nya, ingin sekali Hali menghajar mereka semua jika saja mereka tidak sedang di sekolah sekarang.
"Semuanya diam!"
Seketika seisi kelas terdiam, pandangan mereka terarah pada Zen, seorang pemuda bermata kekuningan.
"Kalian tau, tugas sebagai ketua kelas Mengharuskan seseorang untuk memimpin banyak orang. Bukan sesuatu yang bisa di lakukan seenaknya saja! Ini adalah tugas yang bukan hanya keinginan pribadi, tapi juga membutuhkan dukungan dari setiap murid di kelas! Jadi, sebagai seorang yang populer dan di segani di sekolah ini, biarkan aku saja yang menjadi ketua kelas!"
Krik krik...
Lantas semuanya langsung memalingkan wajah, kembali mendebatkan siapa yang akan menjadi ketua kelas.
"Sudah cukup!" Pak Alpha meminta pelipis nya yang terasa pening karena semua kebisingan ini. Sungguh bangsawan itu lain dari rakyat biasa.
Biasanya orang akan menolak menjadi ketua karena pekerjaan yang banyak dan ribet karena harus mengatur murid murid seisi kelas. Kalau ada yang berbuat masalah, ketua kelas juga yang ikut bertanggung jawab.
Pak Alpha lantas mengedarkan pandangan nya, sampai akhirnya tertuju pada satu orang. "Yuka Alvern. Dia yang akan menjadi ketua kelas."
"...."
"AAAAPPPAAAA????!!!"
Mendengar teriakan dari seisi kelas, lantas Yuka yang kala itu sedang nyaman dengan tidurnya harus terbangun.
Melihat ekspresi terkejut teman teman nya, justru dengan santai Yuka bertanya, "ada apa? Apa ada yang ku lewatkan?"
"Kau menjadi ketua kelas, Yuka." Jawab Duri.
Yuka yang masih setengah sadar membutuhkan bener apa saat untuk mencerna jawaban Duri. "Ha?"
__ADS_1
"Akhirnya kau bangun juga. Punya cukup nyali juga ya, tidur saat jam pelajaran. Selamat pagi, ketua kelas." Ucap Alpha sambil berjalan mendekati nya.
"A-aku? Serius? Tapi pak, aku tidak berpengalaman sama sekali menjadi ketua kelas. Kak Hali jauh lebih cocok. Atau mungkin murid lain juga pasti mau kan?" Tolak Yuka. Sungguh, ia tak ingin menjadi ketua kelas! Tugas yang banyak juga pasti melelahkan, ditambah hal seperti itu sangat bertolak belakang dengan sikap dan kepribadian nya. Ia tak ingin di sibukkan dengan hal seperti itu!
Pak Alpha berjalan semakin mendekat. Menatapan nya yang tajam tertuju langsung pada sepasang iris mata aquamarine di hadapan nya. Aura membunuh terasa jelas keluar dari tubuh pria itu, yang seketika membuat Yuka merasa merinding. "Kau tak setuju dengan keputusan ku hah?"
Yuka meneguk ludah paksa. Jika begini tidak ada lagi celah untuk nya menolak posisi itu! "T-tidak."
Mendengar jawaban Yuka, Pak Alpha tersenyum puas. "Baiklah, sudah di putuskan, ketua kelas Golden Class adalah Yuka Alvern. Kau yang akan bertanggung jawab dengan semua murid di kelas ini."
"Baiklah!" Jawab Yuka dengan tegas. Di sisi lain, para saudara nya justru mati matian menahan tawa. Andai saja ia bisa, pasti ia sudah membungkam mulut saudara saudara nya itu saat ini juga!
Yuka membatin, 'hilang sudah waktunya bersantai ku yang berharga...'
Flashback off
"Begitu cerita nya... Sungguh, kalau aja pak Alpha tidak ada di sana, aku sudah tertawa terbahak bahak! Salah nya sendiri tidur saat jam pelajaran. Jadi kena deh." Gelak Hika setelah menceritakan kejadian siang tadi pada Ruka.
Ruka hanya tertawa kecil. Di satu sisi ia juga merasa kasihan dengan putra dari keluarga bangsawan Alvern itu.
Hali yang baru saja dari dapur membereskan peralatan makan hanya menggeleng geleng kan kepala melihat adik nya yang tertawa lepas seperti itu.
"Ah, lihat sudah jam berapa ini? Karena terlalu lama mengobrol jadi lupa waktu." Celetuk Hali sambil melihat ke arah jam yang tergantung di dinding.
Ah, ia juga. Dirinya sampai lupa jika ini sudah larut.
"Oh iya! Maaf aku bercerita terlalu banyak jadi lupa waktu begini." Sesal Hika sambil menggaruk belakang kepala nya.
Ruka menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Tidak apa. Aku justru senang kalian datang. Terimakasih ya sudah menjenguk ku."
Mendengar itu, keduanya hanya bisa tersenyum. "Baiklah, cepat kibum obat mu, setelah itu istirahat. Kami pulang dulu." Pamit Hali.
"Um, baiklah."
"Dadah Ruka! Cepat sembuh ya! Kalau kau butuh apa apa, panggil kami saja!" Sambung Hika sambil melambaikan tangan nya dan berjalan keluar menyusul Hali. Ruka hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mereka orang orang baik."
'Yeah, kurasa kau bisa mengandalkan mereka.'
__ADS_1