Mysterious Hero

Mysterious Hero
8. Ujian Sihir Dadakan


__ADS_3

Star Magic Academy, atau di singkat STAMY adalah akademi sihir elit terbesar di Kerajaan Sagya. Semua yang bersekolah di sana adalah para penyihir dengan kemampuan tinggi dari seluruh penjuru kerajaan Sagya.


Setiap tahun nya, ratusan orang mendaftar untuk masuk ke akademi itu, namun tidak semua dari mereka bisa lulus seleksi dan masuk ke Star Magic Academy.


Namun berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, ada perubahan peraturan untuk tahun ini yang juga cukup mengejutkan para murid maupun wali murid.


Ditambah dengan hadirnya pemuda misterius yang mendapat tugas sebagai ketua badan keamanan di Star Magic Academy yang selain menjadi murid, juga bertugas sebagai pelatih khusus untuk murid murid dengan kemampuan tinggi di sana.


Tidak banyak orang yang tau tentang asal usul pemuda itu, namun menurut kabar yang beredar, dia memiliki kemampuan sihir yang hebat, bahkan di rekrut langsung oleh Raja untuk menjadi ketua badan keamanan di sekolah itu.


"Ketua Badan Keamanan, Ruka Leilas. Telah bergabung sebagai anggota bagian pengawas dan dijuluki sebagai petugas termuda. Dia bukan hanya pandai dalam sihir, Ruka juga ahli dalam beladiri. Namun, selama ini tidak ada yang tau pasti apa elemen sihir nya. Karena yang para guru lihat, Ruka dapat mengendalikan berbagai jenis sihir elemen dan non elemen. Mungkin dia menggunakan alat sihir. Dan yang paling penting, dia adalah laki-laki."


"Hebat juga kau bisa mendapatkan informasi sebanyak itu, padahal sehari aja belum ada?" Yuka menatap Zen dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Antara kagum, heran, tapi juga curiga. "Tapi... Harus banget kah di perjelas kalau dia itu laki laki?"


Zen hanya tersenyum bangga dan mulai menyombongkan dirinya. "Jelas lah! Aku ini kan pangeran Zen Cromwell yang paling hebat dan pintar di Kerajaan Sagya. Mencari informasi seperti itu bukanlah hal yang sulit bagi ku. Selain itu, informasi mengenai jenis kelamin nya sangat lah penting tau! Itu agar tidak ada yang salah mengira dia perempuan, walau dia memang imut sih."


Hali mengabaikan saudara-saudara nya dan mencari namanya di daftar kelas. Ia cukup penasaran dengan peringkat nya sekarang.


Kelas terbagi menjadi 3 yaitu kelas Bronze untuk murid dengan kemampuan sihir C kebawah, Silver untuk para murid dengan kemampuan sihir C+ sampai B dan Golden untuk para murid dengan kemampuan sihir B sampai A.


Kelas di bagi berdasarkan dengan kemampuan mereka menyelesaikan ujian saat pendaftaran masuk, dan juga keterampilan mereka dalam menggunakan sihir.


Semakin tinggi peringkat mereka, pelajaran yang di berikan pun semakin sulit.


Sejak awal Hali yakin bahwa saudara saudara nya akan masuk kelas Golden karena kemampuan sihir mereka yang tinggi. Namun, itu hanya berbobot enam puluh persen. Jika nilai pengetahuan mereka rendah, bisa saja masuk dalam kelas Silver.


Peringkat pertama di kelas adalah Zen. Ia sudah menduga nya sih... Mengingat kepintaran Zen, yang bahkan sampai tidak tidur untuk belajar beberapa hari sebelum ujian di mulai, sudah tidak mengherankan jika pemuda pengendali elemen cahaya itu mendapat peringkat pertama.


Ditambah dengan sihir cahaya nya yang begitu kuat, bahkan saat ujian kemampuan sihir saja, Zen sampai menghancurkan target sihir nya dengan sekali serang.


Untuk peringkat dua ada Dirinya. Hali menarik nafas lega. Bahkan nilai nya dan Zen hanya selisih 2 poin.


Di peringkat tiga ada Ruka Leilas. Jujur saja Hali sedikit heran. Saat ujian kemampuan sihir tadi, ia melihat Ruka menggunakan senjata sihir berupa pistol dengan menggunakan pemadatan sihir non elemen untuk menjadi peluru nya.

__ADS_1


Jarang ada penyihir yang bisa menggunakan sihir non elemen. Kalau bisa pun, paling hanya mencapai tingkat B atau B+. Tapi melihat daya sihir yang di keluarkan Ruka, dan serangan yang sampai menghancurkan target dengan sekali serang, sepertinya itu melebihi tingkat B+.


Walau begitu, Hali merasa ada yang janggal. Bagi seorang prajurit pertahanan Kerajaan Sagya, Hali sudah terbiasa untuk menganalisa tingkat kemampuan sihir orang lain. Ia yakin jika Ruka masih menahan diri dalam menggunakan kekuatan sihir nya.


Selain itu, di lihat dari nilai nya pun hanya selisih satu poin dari diri nya. Ia jadi penasaran dengan kemampuan asli pemuda itu.


Sebuah senyuman tercetak di wajah nya saat melihat nilai yang Ruka dapatkan. "Menarik..."


Setelah nya Hali mencari peringkat saudara nya yang lain. Jujur ia cukup terkejut melihat Hika berada di peringkat 9. Padahal ia tau jelas jika pemuda pengendali elemen angin itu tidak belajar sama sekali. Sebelum ujian masuk, Hika, Leon dan Duri justru sibuk berlatih sihir kombinasi yang mereka kembangkan. Tapi mungkin karena itu juga ia mendapat nilai cukup tinggi dalam pengendalian sihir.


Selanjut nya Leon dan Duri yang ada di peringkat 11 dan 12. Ya, ia tidak heran dengan itu. Sedangkan Yuka ada di peringkat 4. Ia yakin jika saja Yuka tidak tertidur saat ujian pengetahuan, peringkat nya bisa saja melebihi dirinya.


KRIINGGG!!!!


Bel berbunyi, semua murid pun langsung duduk di kursi masing masing. Tak lama, seorang pemuda dengan iris mata berwarna emas berjalan memasuki kelas. Saat itu juga semua murid di kelas itu terdiam seketika.


Mereka mengingat jelas apa yang Ruka lakukan pada para murid yang melanggar peraturan tadi. Mereka tidak ingin mengalami hal yang sama karena melanggar peraturan.


"Lagipula kita teman sekelas sekarang. Semoga kita bisa berteman baik!" Sambung Ruka dengan nada ceria. Tak lupa dengan senyuman manis yang membuat para murid lain terpesona melihat nya.


"Hati-hati Ruka... Jangan terlalu banyak menunjukkan senyum manis mu. Kasihan para wanita yang pingsan melihat kemanisan mu yang sama seperti madu." Ucap seorang pemuda dengan iris mata lavender yang duduk di belakang Ruka.


Siapa lagi kalau bukan Feir? Sahabat Ruka yang menyebalkan dan gila popularitas.


"Ck. Gak usah mengatakan hal yang tidak berguna." Cetus Ruka.


"Nggak percaya? Noh lihat ke belakang." Feir menunjukkan jari nya ke belakang, tempat para gadis memandang Ruka dengan tatapan terpesona dan bentuk hati di mata mereka.


Melihat itu justru Ruka merinding sendiri.


'Kau memang populer ya, Ruka.'


"Diamlah!"

__ADS_1


"Iya, populer. Tapi sayangnya itu harus di tunda sampai pelajaran selesai."


Glek!


Entah sejak kapan, bahkan tidak ada yang menyadari nya, seorang pria dengan rambut hitam panjang berdiri di belakang Ruka, sedikit membungkuk, menyesuaikan tinggi nya dengan Ruka dan berbisik di dekat telinga pemuda itu.


"B-baik." Jawab Ruka sedikit terbata. Ingin rasanya ia menggerutu. Di sisi lain, Feir justru sudah duduk dengan manis di bangku nya.


"Menyebalkan." Desis Ruka.


"Baiklah perkenalkan, aku Alpha Renon, wali kelas kalian mulai sekarang. Aku harap..." Alpha menatap tajam semua murid di kelas itu. "Tidak ada murid yang membuat masalah di kelas ku. Atau saat itu juga, aku akan menyingkirkan kalian dari akademi ini. Paham?"


"P-paham!" Jawab semua murid bersamaan.



Dia adalah Alpha Renon. Seorang guru di Star Magic Academy dan juga seorang mantan kesatria kerajaan Sagya. Kemampuan nya dapat mengendalikan elemen angin, tapi lebih sering menggunakan alat sihir untuk bertarung. Selain itu, kemampuan nya dalam beladiri dan senjata juga sangat baik, bahkan mendapat julukan 'Penyerang Bayangan' karena kecepatan nya dalam membunuh lawan.


Namun dari penampilan nya, justru mendatangkan satu pertanyaan bagi para murid. 'Dia ini boss mafia atau penyihir sih?!'


Melihat dari pakaian yang di kenakan nya, sepertinya dia lebih cocok di sebut sebagai boss mafia daripada penyihir.


"Sebelumnya ku ucapkan selamat untuk kalian yang berhasil masuk ke akademi ini. Karena ini masih hari pertama... Aku akan memberikan hadiah spesial untuk kalian."


"Pulang gasik?"


"Bebas tugas?"


"Bukan, ujian sihir dadakan."


"...."


"APAAAAA??????"

__ADS_1


__ADS_2