
Di sebuah taman yang indah, bunga bunga mawar kuning bermekaran mendominasi taman itu. Sinar matahari yang cerah dan angin sepoi sepoi yang sejuk membuat aroma mawar kuning itu tersebar kemana mana.
Pepohonan yang rindang tumbuh dengan subur di taman itu. Beberapa pohon dan bunga nampak di potong berbagai bentuk menambah keindahan taman itu.
Di tengah taman itu, ada sebuah air mancur dengan patung berbentuk lingkaran sihir di atas nya. Burung burung kecil nampak singgah di tepi air mancur itu untuk minum atau sekedar bermain air.
Seorang anak lelaki ber rambut hitam nampak berjalan pelan sambil bersenandung pelan. Rambut panjang nya terurai indah dan berkibar saat tertiup angin. Mata bulat dengan bulu mata lentik dan iris emas nya menambah kemanisan anak itu.
Anak lelaki itu sedikit menunduk, memetik sebuah bunga mawar kuning di depan nya. Ia mendekatkan mawar itu ke hidung nya, memejamkan mata dan menikmati aroma harum dari bunga itu.
Senyuman manis tercetak di bibir pink nya, seakan benar-benar menyukai aroma bunga itu.
Namun, tanpa di sadari, sepasang tangan kecil tiba tiba menutup mata nya dari belakang, membuat nya terkejut seketika.
"Ayo tebak aku siapa?" Tanya sosok itu dengan suara lembut yang di akhiri dengan kekehan.
Anak lelaki itu tersenyum tipis dan menggenggam tangan kecil sosok di belakang nya, dan menarik nya turun sehingga melingkar di sekitar leher nya.
"Siapa lagi kalau bukan kau, Rinka?"
Mengetahui pemuda itu dapat menebak nya dengan mudah justru membuat Rinka, gadis itu memasang ekspresi cemberut. Pipi nya ia gembung kan dan bibit pink nya ia majukan ke depan, tanda ia kesal sekarang.
"Harus nya kak Ruu pura pura nggak tau..." Dengus Rinka kesal.
Ruka, anak lelaki itu hanya tertawa mendengar keluhan gadis kecil yang merupakan adik nya itu.
Gadis kecil dengan rambut perak di ikat dua sebagian dan mata bulat yang besar, iris mata kebiruan yang indah dan senyuman yang manis.
Dia adalah adik Ruka, Rinka Leilas. Seorang gadis yang memiliki kemampuan sihir elemen cahaya dan pengendalian spirit.
Ruka yang melihat adik kecil nya ngambek langsung mencubit pipi sang adik dengan gemas. "Iya deh maaf... Tapi jangan cemberut gitu, nanti cantik nya hilang loh."
Rinka mendengus kesal. "Yang cantik itu kan kak Ruka. Laki laki tapi rambut nya panjang gitu. Kakak ini sebenarnya perempuan ya?"
Blush!
Seketika muka Ruka memerah mendengar ucapan adik nya itu. "Aku laki laki lah! Rambut ku panjang begini kau kan juga tau alasan nya."
__ADS_1
Rinka tertawa kecil melihat reaksi sang kakak. Memang seru ya meledek kakak sendiri.
Rinka sedikit menunduk, memetik sebuah bunga mawar kuning dan menyelipkan nya di telinga sang kakak. Ruka yang mendapat perlakuan itu hanya terdiam tanpa ada niat melarang nya.
Senyuman manis terbentuk di wajah Rinka melihat keimutan kakak lelaki nya itu. "Kakak emang manis deh!"
Ruka menghela nafas, "cukup... Jangan memperlakukan ku seperti anak perempuan gitu." Tangan Ruka bergerak melepas bunga yang terpasang di sela rambut nya, membuat Rinka kembali mendengus kesal, tapi tak lama tersenyum kembali.
Gadis itu berjalan mendahului Ruka. Angin lembut berhembus mengibarkan rambut perak gadi kecil itu. "Kak, berjanji lah padaku. Walau kak Ruka pergi untuk menjalani tugas kakak nanti, jangan pernah melupakan ku ya!"
Ruka hanya bisa mengangguk kecil, namun apa yang terjadi berikutnya membuat mata emas Ruka membulat sempurna.
Semburan api tiba tiba muncul, menghanguskan semua yang ada di depan nya, termasuk Rinka yang saat itu berdiri di sana.
Tubuh Ruka membeku seketika. Tubuh sang adik dengan cepat hangus di telan api dan hanya menyisakan abu yang terbang tertiup angin.
"R-Rinka..."
Api kemudian muncul di sekitar nya, membakar habis taman yang indah itu, mengubah nya menjadi lautan api di mana mana. Tubuh kecil Ruka masih membeku di tempat. Kaki nya melemas membuat nya jatuh terduduk.
Air mata mengalir dari kelopak mata sang manik emas itu, kemudian terjatuh membasahi tanah.
"Ruka!!"
Seorang pria ber rambut perak berteriak menyerukan nama nya. Tubuh pria itu terselimuti cahaya kebiruan dari sihir pelindung nya. Tanpa ragu ia menembus kobaran api yang kian membesar.
"Ruka sadarlah! Kita harus pergi dari sini!" Ujar pria itu sambil memeluk tubuh kecil Ruka. Namun pemuda itu tak bergerak sedikitpun.
"Rinka... Bagaimana dengan Rinka..." Getar suara itu terdengar jelas. Padahal baru tadi gadis kecil itu mengejek nya. Padahal baru tadi ia melihat senyuman manis nya. Tapi sekarang dia sudah tidak ada, menghilang begitu saja di telan api yang entah dari mana asal nya.
"Maafkan ayah, tapi jika kau tetap di sini, kita juga tidak akan selamat. Kita harus pergi Ruka!"
"Tapi Rinka?" Mata Ruka bergerak memandang wajah pria di hadapan nya. Pandangan nya kosong dengan jejak air mata di pipi nya.
"Percayalah, dia akan ba-"
JRASSH!!
Kling...
__ADS_1
Terlalu cepat. Bahkan Ruka tak sempat melihat nya.
Dalam sekejap mata kepala sang ayah terpotong dan jatuh, menggelinding di tanah yang kemudian di ikuti dengan tubuh nya yang ambruk beberapa saat kemudian.
Keling...
Suara rantai terdengar jelas di sekitar nya. Kobaran api itu semakin besar, namu tak bisa melukai tubuh Ruka.
"Ayah... Rinka..."
'Disini kau rupanya...'
Mata Ruka kembali membulat. Di belakang nya rantai berputar dan terbentuk lingkaran sihir di antara nya. Sosok hitam bermata merah keluar dari dalam lingkaran sihir itu yang kemudian mengarahkan tangan nya pada Ruka.
Lingkaran sihir hitam muncul di hadapan nya, dan bola hutan serta rantai meluncur cepat ke arahnya.
***
"TIDAK!!!"
Ruka terbangun seketika. Dada nya naik turun karena deru nafas nya yang tak stabil. Jantung nya berdetak cepat, keringat membasahi tubuh nya, membuat rambut hitam pemuda itu terlihat lepek.
'Hey Ruka kau kenapa?'
'Ruka!'
"T-tidak apa, hanya bermimpi buruk..." Balas Ruka. Tangan nya bergerak meremas liontin dari kalung yang ia kenakan dan baju yang menutupi dada nya, menahan sakit yang tiba tiba berdenyut.
Sebuah tanda berwarna keemasan tiba tiba muncul di bawah mata nya, membuat Ruka mendesis tertahan.
'Jelas bukan hanya bermimpi buruk. Sebenarnya ada apa?'
Ruka menggeleng singkat. Ia menarik nafas nya dalam dalam, kemudian menghembuskan nya perlahan, mencoba mengatur nafas nya kembali. "Aku bermimpi tentang mu dulu." Genggaman tangan nya pada dada nya semakin kuat. Mata nya terasa memanas. "Maaf... Saat itu aku-"
'Tak perlu pikirkan itu. Yang penting sekarang kau menepati janji mu kan, kak Ruu.'
Ruka terdiam, tak menjawab. Walau itu benar, tapi ada penyesalan yang tak pernah bisa ia lupakan. Sesak dan perih yang terus ia rasakan setiap kali ingatan itu muncul. Serta penyesalan karena ia gagal melindungi 'keluarga' nya saat itu.
'Yang terpenting sekarang selesaikan tugas mu. Dengan begitu, tak akan ada lagi yang harus kehilangan nyawa dengan tragis seperti itu.'
__ADS_1
Ah benar, setidaknya ia harus menyelesaikan tugas nya. Dengan begini tak akan ada lagi korban... Bukan?