
Ruka meletakkan mangkuk bubur yang telah h habis di atas meja. Tangan nya bergerak meraih secangkir coklat hangat yang masih tersisa dan meminumnya sampai habis. Senyuman terukir di wajah manis nya, melihat perdebatan kedua teman sekelas nya itu.
Entah kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti tadi, dan entah terakhir kali ia melihat perdebatan seperti ini. Rasanya jadi ingat masa lalu.
Ruka mengusap pipi nya, tanda itu benar-benar sudah hilang sekarang. Ia bersyukur tak ada satupun orang yang melihat nya, namun di sisi lain ia juga tau, ia tak bisa terus menyembunyikan nya. Cepat atau lambat semua orang akan tau siapa dirinya yang sebenar nya.
Tapi saat itu terjadi, mungkin situasi nya akan jauh berbeda dengan sekarang. Karena itu artinya apa yang menjadi tujuan nya datang ke sini sudah terjadi.
Perang besar dan bencana yang mengancam ras lain di dunia ini. Hanya karena sosok yang haus akan kekuasaan yang ingin kembali merebut kedamaian dunia ini, menguasai semua ras di bawah genggaman tangan nya. Jika ia gagal menghentikan nya, mungkin saat saat indah seperti ini tak akan pernah bisa ia rasakan lagi.
Bagaimanapun ia harus membantu para pangeran dan murid murid lain nya untuk menjadi lebih kuat, agar kebahagiaan mereka tak kembali jatuh di dalam genggaman ras Inimicus. Karena hanya mereka yang mampu menghadapi ras iblis kejam seperti itu.
"Hey Ruka, kenapa melamun? Apa ada masalah?"
Ruka mengangkat wajah nya, segenap tenggelam dalam pikiran nya sendiri membuat nya melupakan keberadaan dua pemuda itu.
Hika menatap cemas, terlihat jelas ia benar-benar mengkhawatirkan nya.
"Aku baik baik saja kok. Aku hanya... Sedikit memikirkan sesuatu saja." Ruka tersenyum, mencoba meyakinkan Hali dan Hika bahwa ia baik baik saja sekarang.
Namun sepertinya alasan itu tak terlalu berpengaruh untuk Hali. Manik merah ruby itu menatap dengan tatapan menyelidik, terlihat jelas ia meragukan jawaban Ruka. "Kau yakin?"
Hali bukanlah orang yang bisa di bohongi semudah itu. Kemampuan nya yang dapat membaca raut wajah seseorang membuat nya dapat dengan mudah mengetahui jika orang itu sedang berbohong atau tidak.
Dan melihat Ruka sekarang, ia tau jelas jika pemuda itu mencoba menyembunyikan sesuatu di balik senyuman nya.
Ruka mengangguk. " Tak perlu khawatir. Oh ya, bagaimana kelas tadi? Apa ada yang ku lewatkan? Ada PR nggak?" Tanya Ruka mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mendengar itu, Hika justru menghela nafas.
Eh? Apa ada yang salah dengan ucapannya?
__ADS_1
"Kau nih Ruka... Kau kan masih sakit, buat apa mikirin PR segala sih?" Hika nampak menggelengkan kepala nya. "Otak mu itu perlu istirahat tau, gimana mau sembuh kalau masih sakit saja masih memikirkan PR?"
"A-ahah maaf. Aku hanya tak ingin ketinggalan pelajaran saja." Ruka tersenyum kecut.
"Tidak banyak yang kau lewatkan, hanya hal hal tak berguna dan beberapa pengumuman saja." Jelas Hali akhirnya.
Mengernyit, "pengumuman apa?"
"Jadi, tak lama lagi akan di adakan festival sekolah yang akan di selenggarakan selama 3 hari. Hari pertama adalah kegiatan club untuk memastikan apakah club itu layak berlanjut atau cuma numpang nama tanpa melakukan apa apa. Lalu setelahnya adalah seleksi untuk mencari tim terbaik yang akan mengikuti latihan khusus. Singkat nya sih gitu." Jelas Hali.
Ah ya, ia hampir lupa dengan festival itu. Bersamaan dengan festival ulang tahun sekolah, sisa dia hari setelah kegiatan club, ia merencanakan pertandingan unt memilih 10 orang terbaik yang akan ia latih khusus. Selain itu, juga sebagai strategi nya untuk memilih anak anak terbaik yang akan berada di garis depan saat perang tiba.
Melihat Ba'al yang sudah mulai meluncurkan pasukan nya, tentu membuat nya tak bisa terlalu lama menunda waktu. Bagaimana pun ia harus mengumpulkan kekuatan untuk menyelamatkan dunia ini.
"Kalian sudah mulai mempersiapkan diri kan? Mungkin pertandingan kali ini akan sulit, mengingat yang akan berpartisipasi bukan hanya dari angkatan kalian, tapi senior senior kalian juga."
Hika tampak percaya diri. Ia melipat tangan nya di depan dada, dan menghembuskan nafas remeh. "Hey, aku ini pangeran, kekuatan ku ini tidak bisa di remehkan loh~ mereka akan ku kalahkan dengan sekali serangan!"
"Aduh!"
Secara tiba tiba sebuah pukulan sayang mendarat di kepala Hika, membuat nya merintih. Siapa lagi pelaku nya jika bukan sang sulung dari keluarga Cromwell itu? "Jangan terlalu percaya diri dulu. Belum tentu kau akan menang hanya karena kau pangeran. Walau kemampuan kita hebat, tapi pengalaman para senior itu tentu tidak bisa di remehkan. Terlalu percaya diri di awal hanya akan membawa mu pada kekalahan."
Ruka tersenyum mendengar nya. Memang pantas sebagai putra mahkota. "Benar yang di katakan Hali. Kalian juga belum tau seberapa kuat senior kalian kan? Lebih baik kalian bersiap siap, terus berlatih dengan tekun dan jangan asal menggunakan sihir kalian."
"Baiklah..." Ucap Hika pasrah sambil menggembungkan pipinya.
"Oya, selain itu ada kejadian lucu lagi loh di kelas~" Raut wajah Hika seketika berubah kembali ceria. Ia sedikit tertawa mengingat apa yang terjadi di kelas tadi.
"Ohya? Memang ada apa?"
"Jadi..."
__ADS_1
Flashback
KRINGGGG!!!!
Bel berbunyi, murid murid pun masuk ke kelas masing masing. Namun ada satu hal yang menarik perhatian mereka kala itu. Sebuah kursi kosong di mana seharusnya Ruka duduk di sana.
"Psst... Apa ketua belum datang?" Tanya Hika.
Leon yang di tanya hanya mengangkat bahu. "Entahlah... Mungkin-"
"Selamat pagi anak anak."
"Pagi pak."
Belum selesai Leon menjawab, pak Alpha sudah dulu masuk membawa buku absen. Tatapan tajam nya, ditambah dengan jas hitam dan kemeja biru tua yang di kenakan nya membuat nye terlihat seperti ketua mafia.
Lagi lagi terlintas pertanyaan di pikiran seluruh murid di kelas itu. 'Apa benar dia penyihir?'
Pak Alpha nampak memandang kursi kosong tempat Ruka seharusnya duduk, dan nampak mencatat sesuatu. Tak ada yang angkat bicara saat itu. Entah karena takut atau emang tak ingin berhadapan dengan sosok wali kelas mereka yang mengerikan.
"Baiklah, pertama tama aku ingin mengucapkan selamat, karena sudah berusaha sebaik mungkin memenangkan duel dalam ujian dadakan, walau sangat jelas terlihat kekurangan dari masing masing kalian."
Seisi kelas lantas meneguk ludah paksa. Apa artinya mereka semua berhasil?
"Sekarang, kita masuk ke topik utama,"
Seisi kelas lantas membatin. 'Ujian dadakan lagi?'
"Pemilihan pengurus kelas."
"Syukurlah... Akhirnya ada kegiatan sekolah yang normal..." Ekspresi para murid yang tadinya tegang kini mulai melunak dan rileks kembali. Setidaknya sekarang tak harus lelah bertarung di lapangan atau lain nya.
__ADS_1