Mysterious Hero

Mysterious Hero
14. Hali VS Zen


__ADS_3

Pertandingan kedua sudah selesai. Tanah di lapangan tampak cukup berantakan akibat terkena serangan keempat pemuda tadi.


Tidak bisa di pungkiri kemampuan mereka memang hebat. Sudah sewajar nya mendapat julukan pangeran elemen. Namun... Itu justru membuat mereka semakin dalam bahaya.


Ruka menghela nafas nya. Mata nya terpejam saat secara tiba tiba merasakan tekanan sihir di sekitar nya. Ini bukan berasal dari murid murid atau orang lain di sekolah ini. Tapi makhluk spirit itu.


"Akhirnya kau menunjukkan dirimu." Senyuman tipis terbentuk di wajah nya. Ruka kembali membuka mata nya, menampakkan iris mata emas yang tampak berkilau.


Ia melangkah mendekati lapangan, seketika tanah yang tadinya retak dan hancur terkena serangan kembali rapat seperti sebelumnya.


"Sepertinya pertandingan kali ini... Akan menarik." Cuman Ruka dan berjalan kembali ke tepi lapangan.


"Kita lanjutkan pertandingan. Peserta berikutnya, Hali Cromwell melawan Zen Cromwell. Untuk kedua peserta segera menuju ke lapangan."


Kedua pemuda itu langsung berjalan ke tengah lapangan. Sorakan dan teriakan terdengar ramai dari bangku penonton, khusus nya para wanita.


Tatapan Hali yang tajam dengan iris mata merah ruby nya yang berkilat bagaikan harimau yang mengincar mangsa, dan senyuman meremehkan yang di lemparkan Zen pada kakak sulung nya itu, membuat terlihat jelas persaingan antara mereka berdua.


"Bersiap..." Ruka mengangkat tangan nya, mengamati kedua pemuda itu.


Cahaya mulai berpendar dari lingkaran sihir yang di buat oleh Zen, yang kemudian bergerak menyelimuti kedua tangan nya membentuk sarung tangan berwarna kuning keemasan dan perak di ujung jari nya.


Sementara itu, percikan listrik mulai muncul di sekitar tubuh Hali. Pemuda itu mengulurkan tangan nya ke depan dan sebuah pedang katana berwarna merah hitam muncul di hadapan nya.


"Mulai!"


Begitu aba aba di berikan, Hali dan Zen langsung melesat dengan cepat meluncurkan serangan masing masing.


"[Sihir cahaya: tembakan cahaya]!" Zen mulai lebih dulu. Tebakan cahaya di luncurkan tepat ke arah Hali. Pemuda ber mata merah ruby itu memiringkan badan nya, menghindari serangan Zen.


Tembakan terus di luncurkan oleh Zen, namun tak ada satupun yang mengenai nya. Semua bisa di hindari dengan mudah.


Ruka yang melihat itu sedikit mencatat. Kemampuan mereka memang tinggi, apalagi Hali yang lebih unggul di bagian kemampuan fisik sebagai assassin. Tapi ia tidak mau menyimpulkan terlalu cepat. Bisa saja situasi berbalik nantinya.


"Sampai kapan kau mau menghindari nya kak?" Tanya Zen yang masih terus menyerang dengan sihir nya. Senyuman meremehkan dia berikan pada kakak nya itu yang hanya menghindar sedari tadi.


"Sampai kau masuk dalam jebakan."


"Ap-"


BZZZTT!!


Entah sejak kapan, terdapat lingkaran sihir berwarna merah di belakang Zen, yang kemudian mengeluarkan sengatan listrik yang nyaris saja mengenai pemuda itu.


"Huhh... Jadi dia menghindar tadi untuk mengumpulkan sihir nya." Zen mengeluh kesal. Di luar dugaan kakak nya itu yang biasanya langsung menyerang tanpa memikirkan strategi justru membuat nya terjebak.

__ADS_1


Hali sedikit tersenyum melihat rencana nya berhasil. Ia tau kepintaran adik nya itu dalam menyusun strategi untuk melawan nya.


Namun ini bukan kali pertama ia melawan sang adik. Menyerang secara langsung akan membuat gerakan nya mudah terbaca, jadi saat ini ia memutuskan melakukan serangan kejutan untuk Zen.


"Rupanya kau bisa lengah juga ya, Zen." Ujar Hali.


"Huh menyebalkan!"


Sebuah lingkaran sihir berukuran besar terbentuk di belakang tubuh Zen. Titik titik cahaya muncul membentuk bintang yang kemudian menembakkan laser cahaya dari setiap ujung nya.


"Ck. Menyebalkan." Hali berdecak kesal. Ia terus coba menangkis laser laser cahaya yang mengarah pada nya menggunakan pedang milik nya.


Hali menggenggam pedang nya kuat, mengalirkan sihir ke dalam nya. Kilatan listrik semakin besar terbentuk tanda sihir nya mulai terkumpul.


SRING!


Hali menebaskan pedang nya yang langsung menghancurkan lingkaran sihir milik Zen.


"Jangan lengah kak."


Mendengar itu, seketika Hali terkejut menyadari Zen yang berada di belakang nya.


Sejak kapan dia ada di sana??


Zen menyatukan kedua tangan nya dan menunjukkan dua jari nya ke arah Hali. Cahaya berwarna putih kekuningan muncul di ujung nya, tanda dia siap meluncurkan serangan.


WUSH!!


Cahaya di tembakkan. Jarak yang terlalu dekat dengan Hali membuat nya tak sempat menghindar. Ia menggunakan pedang nya untuk menahan serangan itu, namun sebagai pengendali sihir elemen cahaya terkuat di Kerajaan Sagya, sihir cahaya adik nya itu tidak hanya kuat, namun juga memiliki suhu panas yang tinggi.


KREKK!


Retakan muncul pada pedang Hali. Jika terus begini, pedang nya bisa hancur!


Hali semakin memperkuat sihir nya, memotong dan menangkis serangan Zen.


Siapa sangka, kemampuan adik nya itu semakin meningkat setelah pertarungan terakhir mereka.


Hali menepis serangan Zen dan langsung berlari ke arah pemuda ber iris kekuningan itu. Ia kembali menebaskan pedang nya, membuat Zen menghindar.


'Kalau terus begini aku bisa kalah.' batin nya. Ia harus memikirkan bagaimana cara mengalahkan kakak nya itu.


DEG!


Namun secara tiba-tiba tekanan sihir terasa begitu pekat di sekitar nya. Zen mengalihkan pandangan nya, mengamati sekitar nya.

__ADS_1


'Selain aku dan kak Hali tidak ada orang lain di lapangan. Lalu dari mana tekanan sihir itu?' batin nya. Perasaan nya mendadak jadi tidak enak.


Sebagai pengendali elemen cahaya yang memiliki sihir murni, Zen dapat merasakan tekanan sihir di sekitar nya lebih baik daripada orang lain. Ia yakin jelas ia merasakan sihir makhluk lain di dekat nya.


"Apa kau mau menyerah di sini?"


Mata Zen terbelalak. Karena fokus dengan tekanan yang ia rasakan, ia sampai melupakan orang yang sedang ia lawan!


"[Sihir cahaya: kubah pelindung]"


Terlambat!


PRANG!


"Huwakh!" Teriak Zen terlempar akibat serangan itu. Ia mencoba berdiri, namun dalam sekejap mata Hali sudah berada di depan nya.


Kilatan merah terlihat jelas dadi iris ruby nya, seolah olah Hali benar-benar ingin membunuh nya sekarang. Seringaian terbentuk di wajah nya, seperti psikopat yang siap membunuh lawan nya.


Mengerikan!


"Mau menyerah sekarang atau perlu ku hajar dulu?" Tanya Hali dengan nada suara dingin. Pedang ia todong kan tepat di depan leher Zen.


Jika seperti ini sudah tidak ada peluang lagi untuk Zen menang. Jangankan menang, melawan balik saja jelas tidak bisa.


Menghela nafas, "baiklah aku menyerah."


Hali tersenyum puas dan menurunkan pedang nya.


"Pemenang nya, Hali Cromwell!"


Seketika para gadis berteriak menyerukan nama Hali sambil bertepuk tangan. Sepertinya putra sulung keluarga Cromwell itu cukup terkenal.


Sementara Zen sendiri menggembungkan pipi nya kesal. "Padahal kan aku lebih ganteng." Gumam nya.


Keduanya pun berjalan ke tepi lapangan. Namun Zen masih memikirkan tentang apa yang di rasakan nya tadi. Ia yakin ia tak salah merasakan tekanan sihir. Tapi dari siapa?


Menepuk pundak Zen. "Segitu kesal nya kalah dari ku?" Tanya Hali.


Menggeleng. "Bukan itu. Aku sempat merasakan sesuatu yang aneh tadi. Secara tiba tiba aku merasakan tekanan sihir lain di lapangan, padahal jelas hanya ada kita berdua yang sedang bertanding." Jelas Zen.


"Jadi itu alasannya Kau lengah tadi.. Kau tidak salah merasakan nya?"


"Aku nggak salah! Aku yakin rasain tadi."


"Mungkin kau kecapean. Aku nggak lihat siapapun di lapangan selain kita. Atau cuma perasaan mu saja? Sudahlah tidak perlu di pikirkan." Ujar Hali dan berjalan mendahului Zen.

__ADS_1


"Apa emang perasaan ku aja ya?" Gumam Zen. Pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang, tempat pertarungan nya dengan sang kakak tadi.


"Mungkin memang perasaan ku. Haah sudahlah."


__ADS_2