
Ruu...
Ruka...
'KAK RUKA!'
"HUWA!!!"
Seketika Ruka terbangun dari tidur nya. Liontin di kalung nya bersinar menandakan Rinka memulai komunikasi. Ruka mencoba mengatur nafas nya yang memburu. Jantung nya berdetak kencang karena terkejut tadi. Beruntung ia tak memiliki riwayat sakit jantung, kalau tidak pasti dirinya sudah pindah alam sekarang.
"Apaan sih? Bisa gak kalau bangunin yang pelan dikit? Jangan langsung teriak gitu, buat orang kaget saja!" Omel Ruka.
Namun, bukannya meminta maaf, justru kekehan yang terdengar dari kristal yang bercahaya itu. 'Habisnya kak Ruka susah di bangunin. Udah kaya beruang hibernasi aja tau!'
Ruka mendengus kesal, "huh. Aku baru menikmati waktu istirahat setelah sekian lama."
'Ya ya... Tapi sekarang kau harus mulai sekolah kan? Jangan sampai murid murid lainnya mulai curiga karena kau bolos terlalu lama.'
__ADS_1
"Baiklah baiklah, aku akan siap siap dulu." Ruka mengalah. Lagipula yang di katakan Rinka ada benarnya. Ia tak bisa terlalu lama beristirahat. Masih banyak yang harus ia siapkan, ditambah dengan ras Inimicus yang mengancam dan mungkin sudah mulai mempersiapkan rencana mereka, ia tak bisa terus membuang waktu.
Beberapa menit berlalu, Ruka telah siap dengan seragam sekolah nya. Ia berjalan mendekati cermin, melihat pantulan dirinya di cermin. Pandangan nya fokus pada wajah nya. Tanda itu benar-benar sudah hilang. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan sekarang.
"Baiklah sudah siap."
Tok tok tok
Pintu di ketuk menarik perhatian Ruka. Pemuda ber iris emas itu berjalan mendekati pintu dan membuka nya. Kini di hadapan nya, seorang pria ber marga Cromwell itu berdiri. Senyuman hangat ia tunjukkan begitu melihat wajah manis Ruka.
"Pagi yang mulia." Sapa Ruka sambil sedikit membungkuk memberi hormat.
"Sudah jauh lebih baik. Terimakasih bantuan nya, My Lord."
Amato mengangguk. "Bukan masalah besar. Jujur saja, ingin rasanya aku mengomeli mu. Tapi aku tau ini bukan waktu yang tepat. Jadi, apa saja informasi yang kau dapat?"
"Sepertinya Ba'al, ketua ras iblis Inimicus sudah mulai bergerak. Yang menyelundup masuk ke akademi bukan hanya iblis parasit rendahan, namun juga Amdusias. Dia adalah salah satu bawahan terpercaya Ba'al yang mampu mengendalikan sihir negatif atau sihir gelap. Aku bersyukur masih bisa mengalahkan nya, karena sebagian besar sihir ku yang masih tersegel, membuat ku cukup kesulitan." Jelas Ruka.
__ADS_1
Kedua nya berjalan menuju ruang kerja Amato. Derap langkah terdengar jelas di Koridor asrama yang kala itu masih sepi. Wajar saja, karena sekarang masih pukul 05.30 dan kebanyakan murid pasti masih bersantai atau terlelap dalam dunia mimpi.
"Jika begitu, kenapa kau tidak meminta bantuan ku saja? Menerima serangan langsung dari sihir gelap bisa membahayakan dirimu loh." Raut wajah Amato berubah khawatir. Jika orang lain yang terkena sihir gelap seperti itu pasti tidak akan selamat, atau jika selamat pun pasti sudah hilang akal dan di kendalikan sihir gelap itu sendiri.
Walau ia tau Ruka itu kuat, tapi bagaimanapun dia masihlah anak kecil yang tak seharusnya menanggung semua masalah dan terus memaksakan dirinya seperti itu.
"Tenang saja, aku sudah mendapat bantuan kok." Jawab Ruka dengan santainya.
"Baiklah, jadi apa rencana mu selanjutnya?"
Ini dia pertanyaan yang Ruka tunggu tunggu. "Rencana ku, ingin memulai latihan untuk para murid Golden Class sekarang juga. Sekaligus penyelidikan sekitar. Kita juga perlu membuat persiapan untuk festival ulang tahun akademi, bukan?"
Amato mengangguk mengerti. "Untuk persiapan festival biar aku dan para guru lainnya yang mengurus nya. Ajak juga Feir dan Velix untuk membantu mengamankan akademi. Ingat, jangan memaksakan dirimu Ruka."
"Baiklah. Akan ku usahakan." Ruka tersenyum tipis. Sudah hampir satu tahun sejak dirinya bertemu dengan pak Amato di medan perang.
Sikap Amato yang ramah, hangat dan penuh kasih sayang membuat nya teringat dengan sosok ayah nya dulu. Jika saja ayah nya masih hidup, sikap nya jelas tak jauh berbeda dengan Amato sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan berkeliling dulu sebentar. Saya undur diri, My Lord." Ruka sedikit menunduk memberi hormat.
"Baiklah. Berhati hati lah."