Mysterious Hero

Mysterious Hero
18. Misi Selesai


__ADS_3

Zen merasakan bulu kuduknya berdiri merinding. Telinganya merasa geli ketika mendengar suara halus dan dingin sang Ketua menyebut nama nya.


Apa yang terjadi padanya? Apa maksud Ruka berkata seperti itu?


Dia mulai merasakan wajah nya memanas, tetapi keringat dingin terasa mengalir di punggung nya. Rasa kontradiksi antara reaksinya benar-benar membuat keadaan sekarang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata.


Sang Pangeran meneguk ludahnya secara kasar ketika Ruka berjalan mendekat. Dia melihat bagaimana tangan lentik tersebut terulur dan menyentuh dahinya. Rasa kejutan yang tiba-tiba menghantam kepalanya membuat Zen sadar. Tetapi tubuhnya merespon lebih cepat daripada kesadarannya.


Kedua kakinya berubah menjadi seperti jeli, tidak mampu menahan berat tubuh nya hingga dirinya terduduk. Sebelum sepenuhnya kehilangan kesadaran, dia dapat merasakan nafas hangat di telinga nya dan suara yang halus namun begitu dingin menusuk tulang berkata, "tidurlah."


Setelah itu, apa yang terjadi, Zen tidak tahu. Samar samar ia merasakan ada suhu panas yang menguap dari tubuh nya, membentuk aura hitam pekat yang kemudian menghilang, membuat tubuh nya kembali sejuk.


Ruka menatap pangeran ketiga yang terduduk pingsan. Di dahi nya terdapat sebuah tanda yang menahan sihirnya agar tersegel untuk sementara.


Setidaknya sampai dia berhasil menangkap pemimpin sosok iblis yang menjadikan pemuda itu inang nya.


"[Sihir pelindung]"


Dinding emas melapisi tubuh Zen, kali ini lebih kuat dibandingkan yang lainnya.


Ruka beranjak pergi, dia bahkan tidak mencoba mengatur posisi Zen agar lebih nyaman. Dia tidak punya waktu untuk mengurus hal kecil seperti itu.


Memberikan perlindungan bagi seluruh murid dan guru, bahkan staff di STAMY telah menguras 20% sihir nya.


Belum lagi dia tadi juga menghipnotis mereka semua agar tidak ada yang melihat keberadaan iblis itu, sekaligus menarik keluar iblis yang bersembunyi di dalam tubuh Zen.


Sungguh, siapa sangka jika sang pengendali elemen cahaya itu justru menjadi target Amdusias?


Jika dia berdiam diri dan bersantai, iblis itu akan kabur. Mengikuti jejak aura kegelapan yang ada membuat Ruka menemukan keberadaan iblis tersebut dengan cepat. Iblis tersebut tampak mencoba memasuki salah satu tubuh murid, atau mungkin itu adalah inangnya yang sebelumnya.


Kali ini Ruka tidak bermain-main seperti sebelum nya. Dirinya tanpa ampun langsung mengangkat kedua tangan nya, pada saat itulah tangan dan kaki si iblis terperangkap dalam kristal.


"Kiiiik!!"


"Ck, [cahaya pengikat]"

__ADS_1


Iblis tersebut terdiam. Asap hitam mengalir keluar dari mulut lebarnya.


Terdengar geraman yang tertahan, ekspresi iblis itu juga sangat terlihat dengan jelas rasa sakit tetapi tidak bisa berbuat apapun.


Ruka serius. Dan dia tidak akan membiarkan orang lain mengacaukan keseriusannya.


Apalagi terhadap makhluk rendahan seperti mereka. Di tangannya telah tersedia botol berisikan air yang telah dia sucikan sejak semalam. Dia telah memperkirakan bahwa sihir yang dia gunakan untuk mengontrol seluruh sekolah akan memakan begitu banyak. Dia tidak ingin memaksakan tubuhnya.


Spalsh!


"Aaarrghhh!!"


Yah, mau bagaimana pun, Ruka menyucikan air tersebut sejak semalam sehingga efeknya berkurang.


Dan iblis yang dia lawan setidaknya berada pada tingkat A.


"Lepaskan aku dasar bocah sialan! Kau akan ku hancurkan!"


Amdusias memperkuat sihir di sekitar tubuh nya, memberikan tekanan yang kuat untuk Ruka. Bahkan dari tekanan sihir negatif itu kaca pun ikut bergetar, bahkan ada beberapa yang retak dan pecah.


Ruka mengigit nya. Mencoba memasukkan seluruh konsentrasinya agar tidak pecah dan membahayakan semua orang.


Liontin miliknya bercahaya. Ekspresi tegang Ruka seketika menjadi lebih tenang. Kini tatapannya tidak lagi datar dan kosong, melainkan tenang dan penuh konsentrasi.


Sosok spirit seperti yang dihadapinya saat ini memang tidak bisa dibunuh dengan senjata atau perlawanan biasa.


Semuanya diperlukan sihir penyucian agar mampu sepenuhnya membunuh iblis spirit.


Cahaya dari liontin tersebut menjadi lebih terang. Bersamaan pula dengan iblis parasit di hadapannya mencoba kabur dengan melempar sihir negatif kepada Ruka.


Dia tidak bisa mengelak. Jika dia mengelak, maka sihir negatif tersebut akan terkena murid atau apapun yang ada di sekitar. Jika itu terjadi, Ruka tidak ingin menambah masalah.


"[Penghentian]" Dengan seketika Iblis itu terjatuh kembali tanpa kekuatan. Dia menoleh ke belakang dan menemukan sihir negatifi tersebut benar-benar terkena Ruka. Tetapi, belum sempat baginya untuk tertawa senang, sihir negatif itu dengan cepat dinetralkan.


"Kau benar benar merepotkan!!"

__ADS_1


Diantara semua makhluk hidup yang ada, hanya mereka yang mampu secara langsung menetralkan sebuah kutukan tanpa perlu melakukan ritual.


Iblis tersebut tampak benar-benar terguncang dan panik, bercampur rasa takut dan syok yang melanda. Ia tau dadi tuan nya jika kemampuan pemuda itu tidak bisa di remehkan, namun jika dia adalah musuhku, aku tidak akan pernah bisa menang!!


Ruka berjalan mendekat dan mencekik leher sang iblis. Dari tangannya, muncul lintasan cahaya emas yang perlahan menjalar mencapai ke ujung jari tangan yang mencekik si iblis.


Ekspresinya sama sekali tidak berubah, tetap tenang dan datar.


Liontin di lehernya masih bercahaya sama terangnya. Jubah putihnya berkibar terkena angin hasil penggunaan sihir yang sedikit berlebihan. Suasana menjadi tegang, membuat iblis tersebut seolah lupa bagaimana caranya berbicara.


Tubuh tiruan dari iblis tersebut mulai mengeluarkan asap hitam dan hancur. Dari sepenjuru sekolah, hanya terdengar suara jeritannya yang memekikkan telinga. Ruka tidak berkedip ketika mendengar teriakan itu, seperti telah terbiasa.


"Seorang pengacau tidak diharapkan berada di sini." bisik nya sembari mengetatkan genggamannya. Lintasan cahaya emas di tengahnya mulai menjalar ke seluruh tubuh tiruan iblis parasit.


Asap keluar semakin banyak begitu tubuh tersebut sepenuhnya dipenuhi oleh lintasan cahaya itu.


"Enyahlah."


Bam!


Tubuh tersebut meledak. Ruka sama sekali tidak berkedip, dia menatap bekas asap hitam yang masih tersisa dari ledakan Iblis itu. Dia mengangkat telapak tangan nya, seketika asap hitam yang masih tersisa mulai berkumpul membentuk bola di telapak tangannya.


Seperti sebelumnya, dia menciptakan pelindung yang memperangkap asap hitam tersebut dan memunculkan inti putih di tengahnya. Inti tersebut dengan cepat pecah dan memakan asap hitam tersebut menjadi putih.


Setelah selesai, Ruka langsung berlari menuju kamar asramanya. Tepat begitu dirinya sampai di dalam kamarnya dan menutup pintunya, liontin tersebut berhenti bercahaya. Murid-murid, guru dan staff di STAMY kembali sadar. Dan pelindung mereka menghilang. Seluruhnya terjadi dengan cepat sehingga Ruka hampir tidak memiliki waktu untuk bernafas.


Terduduk di balik pintunya, Ruka menekan dadanya dan bernafas terengah-engah. Tubuhnya gemetar karena mencoba mencapai batas kemampuannya. Jika saja dia masih bertahan sedikit saja di sana, kemungkinan tubuhnya tidak akan berhasil bertahan lebih lama.


"Hah... Hah.... Terima kasih.. hah..."


Liontinnya bercahaya samar dalam beberapa detik. 'Sama sama'


Ruka menyeret tubuhnya untuk bangkit dan pergi ke kasurnya. Begitu tubuhnya merasakan keempukkan dan kenyamanan dari kasur yang lembut, Ruka langsung di serang oleh rasa kantuk.


Dirinya sama sekali tidak mencoba menolak ajakan itu. Lagipula dia memang lelah. Tidur sekilas tidak apa-apa, bukan?

__ADS_1


__ADS_2