Mysterious Hero

Mysterious Hero
21. Rencana menjenguk


__ADS_3

Zen menghela nafasnya. Ia ingat jelas apa yang baru terjadi beberapa lalu membuat nya tidak dapat tenang. Dia mulai mempertanyakan identitas Ketua.


Ruka Leilas bukanlah nama yang asing untuk setahun terakhir. Pemuda itu tiba-tiba muncul dan datang mengambil sorotan publik. Hal itu dikarenakan dua alasan kenapa nama nya terkenal.


Pertama, adalah karena kecantikan nya dan auranya yang sepenuhnya menunjukkan seolah-olah dia adalah seorang bangsawan murni. Ketika dirinya datang di bawah pengawasan Ayahnya ke kerajaan, hanya memerlukan beberapa detik agar dia menjadi pusat perhatian.


Tak hanya itu, kekuatannya setingkat dengan Velix Rombush, yang mana merupakan salah satu ksatria suci terkuat di Kerajaan Sagya.


Alasan kedua adalah yang paling utama dan membuat cukup banyak orang yang segan dengannya. Ia merupakan seorang tokoh revolusioner sihir.


Teknik sihir yang saat ini sedang populer dan paling banyak di minati oleh para pelajar merupakan sihir temuan nya. Terlebih lagi ia juga telah berjasa mengembangkan alat alat sihir, sehingga orang yang lahir tanpa sihir pun tetap dapat menggunakan sihir.


Pada awal Zen mengetahui informasi ini, dia mengira bahwa Leilas merupakan salah satu bangsawan murni dari kerajaan lain yang pindah ke Kerajaan Sagya.


Namun, setelah mencari melalui berbagai sumber yang ada, dia tidak menemukan nama keluarga tersebut.


Meskipun sebelum nya tidak pernah bertemu secara langsung, Zen beberapa kali mendengar para penyair yang membicarakan tentang kecantikan alami yang dimiliki oleh Ruka Leilas.


Pernah dia berpikir bahwa mereka melebih-lebihkan ucapan mereka. Tetapi begitu dia bertemu, dia benar-benar terperangah. Terutama setelah melihat ekspresi dingin nya dengan surai hitam yang halus tersebut berkilau terkena cahaya. Seperti mentari yang menyilaukan, tetapi tidak ada yang berani menentang nya.


Apa yang dirasakan oleh Zen ketika tatapan keduanya bertemu bukan hanya pujian, tetapi juga rasa takut yang entah kenapa menguap dari hatinya.


Seolah-olah berkata: jauhi dia!


Jika ada yang bertanya apa yang paling Zen benci? Maka dia akan menjawab: "segala hal yang membuatku terkesan bodoh." Termasuk ketidaktahuan.


Ketua secara tiba-tiba menjadi dalang dari membatunya semua orang, pelaku yang menyanyikan hipnotis merdu tersebut yang bahkan menembus pertahanan cahayanya, dan sikapnya yang berubah 180 derajat.


Apapun hal itu, Zen sama sekali tidak dapat mencoba mengambil informasi atas apa yang terjadi. Hal ini membuatnya geram dan kesal sendiri, di tambah lagi ketua yang tiba-tiba tidak datang ke kelas begitu selesai melakukan apapun itu yang dia lakukan saat yang lain terhipnotis.


Mana sepertinya selain dirinya, yang lain sama sekali tidak mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Hal ini membuatnya merasa frustasi.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Pemilik manik kuning cerah tersebut menatap malas pada sang sulung yang melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelah alisnya terangkat sedikit melihat ekspresi murung dari adiknya yang paling 'jenius' (baca: narsis).


Keduanya saling bertatapan sebelum akhirnya Zen hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya. "Nggak papa. Justru melihatmu membuatku semakin sakit."


Sudut mata Hali berkedut mendengar ucapan si bungsu. Serius, bisa nggak sih dia ngeluarin makhluk ini dari kartu keluarga?


'Oke, tenangkan dirimu, Hali. Jangan terpancing emosi hanya karena itu...' Hali mencoba mengontrol emosinya kembali sembari mengambil nafas dalam-dalam. Tangannya yang semula terkepal kini mulai melemas kembali.


"Hey..." Kali ini Hali mendelik kesal pada Zen. Dia tidak bisa melihat ekspresi nya secara Zen membaringkan kepalanya menghadap arah yang berlawanan dan di tambah lagi wajahnya ditutup oleh buku pelajaran sejarah. "Dimana Ketua?"


"Mana aku tahu."


"Ck, kau benar-benar tidak berguna."


"Aku bukan pengawalnya harus tahu 24 jam."


"Kau kan calon raja."


"...."


".... Zen, akan ku akui, kau yang paling pintar diantara kami semua. Tapi sepertinya aku harus memikirkan hal itu juga."


"Hah?!"


Kedua kembaran yang paling populer itu saling menatap tajam. Mengabaikan keadaan sekeliling yang memperhatikan mereka.


Yuka tertawa dalam hatinya. Bagi dunia luar, dirinya hanya menatap datar pada kelakuan kedua kembarannya, tetapi tangannya lebih profesional dibandingkan stalker.


Dia telah bersiap memegang holophone miliknya untuk merekam jikalau keduanya berkelahi. 'Biar keduanya di hukum, puas hati ku!' pikirnya jahat. Oh, tenang. Bukan hanya mereka berdua kok.


Hika dan Leon sama sekali tidak membantu. Keduanya justru memanas-manasi keadaan yang memang sudah panas. Terutama Leon yang mengeluarkan bunga-bunga api kecil.

__ADS_1


Banyak murid yang memilih keluar dan mengintip dari balik jendela. Mereka tidak ingin terluka karena para Pangeran.


Hanya Duri dan Laura yang tampaknya tidak terganggu akan suasana kelas.


Laura fokus pada holophone miliknya, sedangkan Duri memandangi bangku kosong Ruka.


"Psst!! Laura," panggilnya sembari menusuk punggung gadis itu dengan pensil. "Kamu tahu dimana Ruu? Kenapa dia nggak masuk?"


"Oh, Ruka..." Laura terdiam sebentar. Dia menoleh pada bangku kosong Ruka sebelum menoleh pada holophone miliknya. "Dia sakit. Barusan aku dikirim pesan dari Pak Amato," ujarnya sembari memperlihatkan layar holophonenya.


"Sakit? Kok bisa? Padahal kemarin sehat-sehat saja, lho."


"Entahlah. Nanti saat pulang sekolah, bisa tolong cek keadaannya?"


"Hm? Kenapa harus aku? kenapa nggak kamu aja yang masuk ke kamar Ruu."


Laura mendengus geli. Dia menyentil kecil kening Duri dan berkata dengan lembut, "bodoh. Perempuan tidak boleh datang ke asrama laki-laki."


Dirinya tertawa kecil melihat rona merah di pipi pangeran satu itu. Duri tertawa kecil, merasa malu atas pertanyaannya sendiri. Tapi tak lama kemudian wajahnya tampak berbinar. "Oke, aku akan menjenguknya."


"Kami ikut, dong!" Secara tiba-tiba Hika dan Leon langsung ikut dalam percakapan keduanya. Hali dan Zen juga menatap mereka, meskipun jarak keduanya sangatlah lebar, bahkan sesekali masih melemparkan tatapan tajam ke satu sama lain.


Yuka masih memasang wajah datar. Dia kecewa karena tidak ada yang berkelahi.


Laura hanya mengangkat bahunya. "Yah, terserah kalian. Tapi aku sarankan jangan ramai-ramai. Walau seperti itu, Ruka sebenarnya tidak terlalu suka keramaian."


"Heh, ku baru tahu. Dia tidak terlihat tipe yang seperti itu," ujar Hika mengambil tempat duduk di samping Laura. Kesadarannya terbang, mengingat bagaimana tampaknya sang Ketua yang begitu aktif dalam kegiatan sekolah dan sangat ramah ternyata tidak suka keramaian.


"Jangan menilai buku dari sampulnya. Ini informasi yang jarang diketahui oleh orang lain."


"Hm... Ya sudah. Baik! Siapa yang duluan menjenguk Ruka?" Duri kali ini berbalik pada saudara nya. Ekspresinya serius mempertanyakan siapa yang akan duluan menjenguk Ruka.

__ADS_1


__ADS_2