Mysterious Hero

Mysterious Hero
25. Mengkhawatirkan mu


__ADS_3

'Kau ini selalu saja memaksakan diri. Memang benar kau berhasil memurnikan nya, tapi dengan sihir mu yang terbagi, itu tak sepenuhnya juga melindungi tubuh mu. Dasar ceroboh.'


Kalung kristal yang Ruka kenakan bersinar cerah. Lingkaran sihir terbentuk di bawah tubuh nya yang kemudian mengeluarkan cahaya perak yang berkilauan.


'Untung Pak Amato juga membantu tadi. Aku yakin beliau pun ingin mengomel panjang lebar tentang kondisi mu.' Rika sungguh tak habis pikir dengan 'kakak' nya itu. Andai saja ia masih bisa menyentil dahi saudara nya itu, pasti akan ia lakukan saat ini juga.


Namun di sisi lain ia juga khawatir. Walau ia terlahir sebagai 'adik' Ruka, tapi Rinka masih belum tau banyak tentang kakak nya itu. Yang ia tau hanyalah sang kakak terlahir dengan kemampuan yang hampir tidak masuk akal.


Kekuatan yang besar bahkan melebihi kekuatan sihir anak anak seusia nya, membuat nya kadang berfikir sang kakak ini keturunan dewa atau semacamnya. Tapi mana mungkin kan?


Namun walau begitu, bagaimanapun Ruka hanyalah manusia yang pasti memiliki sisi lemah. Melihat sang kakak yang terbaring lemah karena efek serangan Amdusias membuat nya terus merasa khawatir.


'Cepat sembuh kak...'


*****


Ruka terbangun dalam keadaan linglung. Penglihatannya masih sedikit gelap dan kepalanya juga masih pusing, namun dibandingkan dengan sebelum nya ini sudah jauh lebih baik.


Hal terakhir yang dia ingat adalah ada datang berkunjung. Jujur saja Ruka tak mengingat jelas siapa itu. Kesadaran nya yang mulai menipis, ditambah dengan denyutan sakit di kepala nya membuat Ruka tak bisa mengingat jelas siapa yang menjenguk nya tadi.


Tetapi karena dirinya berada di atas kasur dan ditambah lagi atas meja nakas terdapat surat izin, mungkin itu teman sekelas nya.


Ruka berdiri dan melangkah mendekati cermin di kamar. Penampilannya kacau. Rambut nya yang kusut, wajah pucat, kantong mata yang jelas, dan bekas keringat yang jelas. Mungkin bercampur dengan bekas air mata karena sempat memimpikan masa lalu dengan keluarga nya dulu.

__ADS_1


Ruka memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Tanda emas di bawah mata nya sudah hilang sepenuhnya sekarang. Ia sempat khawatir awal nya, bagaimana jika saat teman sekelas nya menjenguk dan tanpa sengaja melihat tanda itu, mungkin identitas nya akan terbongkar.


Bertahun tahun telah berlalu sejak terakhir kali tanda itu kembali muncul. Tanda yang menjadi simbol dari kekuatan sihir nya yang tersembunyi, sekaligus menyegel sebagian kekuatan sihir nya sekarang.


Jika itu adalah dirinya yang dulu, maka hanya perlu mengedipkan mata untuk mengalahkan Amdusias. Tapi kini ia tak bisa terlalu terang terangan menggunakan nya. Ada rahasia yang harus di jaga dan orang orang yang harus ia lindungi. Di tambah lagi kekuatan sihir nya yang sedikit melemah membuat nya cukup kewalahan jika harus menggunakan sihir dengan skala besar seperti dulu lagi.


"Haah... Sepertinya aku harus berlatih lagi kan?" Ucap Ruka pelan.


Liontin pada kalung nya kembali bersinar redup, tanda Rinka memulai komunikasi. 'Kurasa begitu. Tapi... Jangan memaksakan dirimu. Kau juga perlu istirahat tau. Bagaimana kau bisa mengalahkan Ba'al kalau kau saja seperti ini?'


"Hm... Baiklah... Mungkin sedikit tak ada salahnya." Jawab Ruka lagi.


Menghela nafas, Ruka menggelengkan kepalanya. Mengusir seluruh pemikiran buruk yang memenuhi kepala nya. Dirinya memilih untuk pergi mandi sekaligus mendinginkan kepala nya. Setidaknya itu akan membantu membuat nya menjadi lebih baik.


Beberapa menit setelah Ruka selesai mandi, pintunya diketuk. Hali dan Hika yang menenteng kantong plastik berdiri di balik pintu. Kembaran yang lebih ceria mengangkat kantong plastik di tangannya dan berucap riang,


"Pfft..."


"K-kalian??"


"Bagaimana keadaan mu?" Hali menatap wajah pucat Ruka, meski tidak seburuk yang dia kira. Pemuda di hadapanbnya itu berdiri masih dengan mantel mandi dan rambut yang basah dan butiran air yang masih mengalir, dahinya tanpa sadar mengerut.


Ruka, antara sadar atau tidak, mengajak keduanya masuk. Belum sempat dia pergi ke dapur, Hali menarik nya dan mendudukkan nya secara paksa di kasur lalu mendengus, "kau masih sakit. Diam di sini."

__ADS_1


Dan begitulah, Pangeran Pertama tersebut merebut kantong plastik berisi makanan dari kembarannya dan pergi. Hika tersenyum kecut. "Maaf tentang sikapnya, kak Hali emang gitu kalau lihat orang sakit. Walau terlihat galak dan cuek, sebenarnya dia perhatian kok."


Ya, sudah terlihat jelas tsundere nya.


"Tak apa, lagipula memang aku saat ini sedang sakit."


Hika mendudukkan tubuh nya di atas kasur Ruka, tepat di sampingnya. Tangannya dengan cekatan langsung mengambil handuk yang tersandar di bahu Ruka dan mulai mengeringkan rambut basah nya.


"Bagaimana kau bisa tiba-tiba sakit? Padahal kemarin masih baik baik saja. Bahkan kau semangat waktu mengatasi anak anak bermasalah itu."


"Hahaha, entahlah. Mungkin kelelahan?"


"Ck ck ck, Ketua Ruka, kamu memberikan contoh buruk." Hika menggelengkan kepalanya. Bibirnya manyun, cemberut entah untuk mendalami perkataan atau hal lainnya. "Bukan hal yang baik untuk bekerja seharian penuh tanpa istirahat. Lihat kantong matamu itu! Kau terlihat seperti wanita yang make up-nya luntur! Orang orang bisa salah ngira kau hantu atau jelmaan panda."


Ruka tertawa dan memukul kecil lengan Hika. Pengguna elemen angin tersebut membalas dengan menggoyangkan kepala Ruka ke kanan-kiri.


"Hey, hey! Sudah! Kepalaku pusing!" Itu bukan kebohongan. Kepalanya memang kembali pusing ketika Hika dengan kejam menggoyangkan kepalanya.


Ruka mencoba menahan kepalanya dan menyingkirkan tangan Hika dari kepalanya.


Hika menurut. Dia menyingkirkan tangannya, handuk kecil tersebut di letakkan di atas meja nakas. Sebaliknya, dia mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Ruka.


"Kau tau, kami semua khawatir karena kau tiba tiba tidak masuk. Aku tau tugas mu banyak, tapi tolong jangan terlalu memaksakan dirimu seperti ini. Kau itu manusia yang juga perlu istirahat tau. Kalau tidak ada kau, kelas jadi sepi walau kita belum ada 2 hari di sekolah ini, tapi kau tau? Jelas jadi ramai kalau kau tidak ada. Aku yang biasa berisik saja sampai terganggu dengan kegaduhan di kelas. Apalagi para gadis yang berteriak melihat ku. Aku tau aku ganteng, tapi nggak sampai segitunya juga kan? Pokoknya kelas gak ada kamu tuh kurang deh.... Jadi... Jangan sampai sakit lagi karena kecapean, okey?" Celoteh Hika panjang lebar mencurhatkan keluh kesah nya.

__ADS_1


Ruka tertunduk mendengar itu, "Maafkan aku, aku nggak bakal gitu lagi kok."


Ada rasa sedap yang membuat dada nya sesak. Sebenarnya ia tak ingin berbohong, tapi tak mungkin juga Ruka mengatakan yang sebenarnya bukan?


__ADS_2