Mysterious Hero

Mysterious Hero
22. Menjenguk


__ADS_3

"Hm... Ya sudah. Baik! Siapa yang duluan menjenguk Ruka?" Duri kali ini berbalik pada saudara nya. Ekspresinya serius mempertanyakan siapa yang akan duluan menjenguk Ruka.


"Aku setelah makan malam, sekalian mengantarkan makan malam padanya. Aku ada latihan tambahan nanti." Yang berbicara adalah Hali. Dia melirik ke arah adik bungsu nya. Sepertinya setelah pertandingan saat itu, Hali ingin terus melatih kemampuan nya untuk jauh mengungguli Zen.


"Aku juga akan ada latihan dan seleksi. Aku bersama dengan Hali saja nanti menjenguknya," ujar Hika sambil mengaitkan tangannya pada pundak Hali.


Sayang sekali, Hali langsung menghindar sebelum tangannya bersandar, menyebabkan Hika jatuh dengan tak elit.


"Hey!" Hika menatap kesal pada Hali yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Akh! Aku baru ingat!" Leon menepuk kening nya. Dia tampaknya baru mengingat sesuatu yang penting, terlihat dari wajahnya yang kehilangan senyum nakal khasnya.


"Akan ada seleksi untuk acara bulan depan."


"Memangnya ada acara apa?"


Kini tatapan datar yang terarah pada Yuka. Pemuda itu hanya menaikkan sebelah matanya. Ekspresi nya tampak tidak bersalah karena tidak mengetahui sesuatu.


"Serius, kau gak tau?"


Laura menatap miris pada pemuda ber iris mata aquamarine itu yang masih loading. Gadis itu dilemparkan tatapan bingung oleh pangeran pemalas di hadapannya ini.


"Bulan depan akan ada festival ulang tahun sekolah. Setiap klub setidaknya memberikan partisipasi dalam kegiatan itu." Hika memilih untuk angkat suara. Dia merasa kasihan melihat Laura yang terlihat seperti terkena sakit kepala karena kembarannya sendiri.


Yuka, masih dengan polosnya, membalas dengan santai. "Oh, hanya klub kan? Aku tidak mengikuti klub apapun, jadi tidak ada urusannya denganku kan?" Dirinya bahkan sempat membaringkan kepalanya di atas meja, benar benar tak tertarik atau justru memilih untuk tak mempedulikan nya.


Melihat kelakuan Yuka, yang tidak tahu harus bertindak seperti apa. Laura mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya. Mau tidak mau ia harus menjelaskan nya lagi, karena Yuka sempat tertidur di kelas tadi.


"Oke, Yuka. Dengarkan baik-baik. Aku akan menjelaskannya sekali lagi, karena sepertinya kau tidak mendengarkannya saat aku menjelaskannya di depan kelas tadi."


"Bulan depan akan dilaksanakan Setiap klub diwajibkan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan festival yang di selenggarakan oleh pihak sekolah atau OSIS. Selain itu, juga akan ada seleksi tim terbaik yang akan di pilih untuk menjadi anggota khusus pelatihan di STAMY."


"Festival ulang tahun sekolah yang ke-95. Festival itu akan dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Pada hari pertama, adalah kegiatan klub untuk memperlihatkan apakah klub tersebut berhak untuk lanjut ataukah tidak, juga apakah mereka bergerak aktif atau hanya menumpang nama."

__ADS_1


"Setelah nya kegiatan turnamen sekolah, sekaligus seleksi untuk memilih murid murid terbaik. Setiap kelas harus ikut berpartisipasi dalam acara ini, karena hanya 10 murid terbaik yang bisa terpilih sebagai pemenang." Oke, Yuka benar-benar kalah telak. Laura sama sekali tidak peduli pada kondisi Yuka yang tampaknya jiwanya keluar dari raganya.


Dia hanya berbalik dan membuka buku pelajaran, sepenuhnya mengabaikan keberadaan keenam pangeran tersebut. Tampaknya efek selalu bersama Ruka membuatnya mewarisi sifat cueknya terhadap status seseorang. kebiasaan untuk menyampaikan rentetan informasi tanpa memberikan waktu bagi yang lain untuk mencernanya sama dengan yang biasa Ruka lakukan.


Duri tidak tahu harus merasa kasihan atau tertawa puas. Dia percaya ini adalah karma Yuka karena tidak pernah menjalankan kewajibannya dengan benar. "Oke, jadi siapa yang bisa?"


Sekali lagi dia mengungkit topik pertama tadi. Hali, Hika, dan Leon tidak bisa ikut. Dan Yuka pastinya tidak bisa. Kondisi pemuda itu saja sudah seperti berpindah alam.


"Aku bisa." Zen bersandar pada meja.


"Yakin nih mau jengukin Ruu?"


"Ruu?"


"Iya, Ruu. Kenapa? Terserah aku dong, mau memanggilnya apa." Duri menggembungkan pipinya.


"Tidak, masalahnya apakah kau sudah dekat dengannya untuk memanggilnya begitu?"


"Tentu saja dekat, dong! Aku kan orangnya perhatian, jadi nggak masalah dong panggil gitu!"


Duri tersenyum puas. "Oke, jadi aku dan Zen yang akan menjenguk Ruu duluan setelah pulang sekolah!"


*****


Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak tadi. Ruka baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya berdenyut sakit dan tubuhnya terasa lemah. Matanya panas, terasa sesuatu yang sejuk menempel pada dahinya.


"Ya ampun, kenapa bisa-bisanya aku demam..."


'Istirahat... Kenapa pake bangun lagi sih?'


"Maaf, memang nya aku nggak boleh bangun apa?" Ruka menggerutu. Dirinya perlahan mendudukkan diri dengan susah payah. Kain basah jatuh begitu dirinya berhasil duduk.


Bajunya sudah tergantikan dengan baju sehari-harinya. Namun rambutnya masih terurai dan kusut. Ruka melirik kain tersebut dan melihat ke samping secara perlahan.

__ADS_1


Benar saja, di sana sudah tersedia secangkir air dengan obat, di sampingnya terdapat sepucuk kertas. Perlahan dia mengambil kertas tersebut dan membacanya.


Cukup susah mengingat pandangannya saat ini sedang tidak fokus.


"Beristirahatlah untuk saat ini. Suhu tubuhmu naik karena kamu memaksakan dirimu. Padahal sudah saya bilang jangan memaksakan dirimu, tapi masih juga.


Untuk saat ini, diamlah di kamarmu hingga kamu pilih kembali. Seharusnya kamu bilang ke saya kalau kamu kalau butuh bantuan. Jangan memaksakan diri."


By Lord Cromwell


Ruka mendengus. Sudut bibirnya terangkat lemah. Tetapi setelah itu itu menoleh pada pergelangan tangannya.


"Separah itu ya aku memaksakan diri?"


'Baru nyadar?'


"Hey."


Tok tok tok!


"Ruka, kau ada di dalam?" Mendengar suara yang familiar, Ruka berniat untuk beranjak dari kasurnya. Namun belum tiga langkah dari kasurnya, dirinya terjatuh.


Menyebabkan suara yang cukup besar. Pintu langsung terbuka memperlihatkan sosok dua orang pemuda yang memasang ekspresi khawatir.


Duri dengan cepat masuk dan membantu Ruka. Dia menempelkan tangannya pada kening dan leher Ruka. Merasakan suhu panas Ruka, Duri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Astaga, Ruka! Kalau sakit jangan memaksakan diri!"


Dirinya menyelipkan tangannya pada punggung dan bawah lutut Ruka, perlahan mengangkatnya agar tidak memberikan guncangan yang kuat.


Dan perlahan membawanya ke arah kasurnya. Ruka hanya menerima apa yang dilakukan oleh Duri dan menyandarkan kepalanya, yang memang terasa berat, pada bahu tegap sang Pangeran.


Zen ikut masuk dan meletakkan bubur yang sempat keduanya beli sebelum kemari. Dia membantu Duri menyelimuti dan menaruh kembali kain basah, yang hampir kering, ke dahi Ruka.


Sepertinya rencananya untuk mempertanyakan identitas dan apa yang dilakukan oleh pemilik manik gold ini akan tertahan untuk sementara. Melihat kondisinya yang sepenuhnya masih dalam demam tinggi, Zen memilih memendam rasa penasarannya.

__ADS_1


Untuk sekarang, sebaiknya dia membantu merawat sang Ketua Badan Pengawas. Ia bisa menanyakan itu di waktu yang tepat. Di tambah lagi, dengan keberadaan Duri di sini akan semakin menyulitkan karena pemuda itu pasti akan terus bertanya tanpa henti.


__ADS_2