
Pertandingan terus berlanjut sampai akhir. Ruka mencatat setiap kelemahan dan kelebihan mereka dalam pertandingan. Itu bisa di jadikan sebagai evaluasi nya dan rencana selanjutnya untuk melatih mereka nantinya.
Setelah pertandingan selesai, semua murid di persilahkan untuk istirahat atau kembali ke asrama masing masing. Kecuali Ruka yang berjalan mendekati pak Alpha yang sedaritadi mengawasi berjalannya pertandingan dari bangku penonton.
Ruka memberikan buku catatan hasil pengamatan nya selama pertandingan tadi.
Alpha hanya menerima nya, dan membaca sekilas. "Seperti biasa kerjamu bagus juga, Ruka." Ucap pak Alpha sambil sedikit tersenyum puas.
Tidak salah ia membiarkan Ruka mengawasi murid murid nya. Kemampuan Ruka mengamati setiap kemampuan, keunggulan dan kekurangan murid murid Golden Class memang tak bisa di remehkan lagi. Ya... Hitung hitung sedikit mengurangi tugas nya lah.
Ruka tersenyum, "sama sama pak. Jika begitu, saya permisi dulu." Ujar Ruka kemudian. Pak Alpha hanya mengangguk melihat pemuda ber iris emas itu.
*****
Siang kini telah berganti malam. Di koridor yang sepi dan sunyi, tidak terdengar suara langkah kaki. Tetapi sesosok pemuda berjalan dengan perlahan menuju sebuah tempat. Dirinya tampak waspada. setiap saat terdapat suara lain yang menggema di sekolah.
Dia menurunkan lebih dalam lagi ujung penutup jubahnya untuk menyembunyikan wajahnya.
Sesekali dia mencoba melirik sekitar, merasa seperti diawasi oleh sepasang mata yang bersembunyi di balik bayangan.
Merasa ragu, akhir nya dia dengan sengaja mengambil arah yang salah kembali hingga perasaan itu menghilang.
Hal itu telah terjadi berulang kali hingga membuatnya pusing, geram, bahkan marah sendiri. Tapi dia tidak bisa bertindak seenaknya. Dia tidak bisa lengah sedikit pun, atau keberadaan nya bisa di sadari oleh orang lain di sini.
Tanpa disadarinya, sepasang mata benar-benar menatap ke arah dirinya dari bayangan gelap rembulan. Hanya ada mata, tidak ada hal lain. Sebelum akhirnya bola mata itu kembali menghilang untuk kesekian kalinya..
Setelah berkeliaran beberapa kali lagi di gedung sekolah yang luas, akhirnya dia bisa lolos dari tatapan itu. Telah beberapa menit berlalu dan belum ada tatapan lain yang menghadapnya.
Kali ini, ingin mempercepat misinya, dia dengan segera menuju lokasi target. Suara langkah kaki yang pada awalnya samar-samar, kini berubah menjadi sayup-sayup menggema. Begitu dia sampai, di hadapannya adalah sebuah pintu kayu besar dengan papan nama di atasnya.
[Ruang Kepala Sekolah]
Tak bisa menyembunyikan senyumannya, kedua sudut bibirnya terangkat. Merasa bahwa akhirnya dia bisa menyelesaikan tugas dengan cepat tanpa ketahuan.
Apa yang terjadi justru sebaliknya. Begitu dia mendorong pintu, apa yang menyambutnya bukanlah sebuah ruangan kosong yang gelap. Melainkan seseorang yang bersandar pada meja tepat menghadap ke arah pintu masuk.
Manik kehijauan melebar begitu tatapannya bertemu dengan si pemilik emas gelap.
"Sungguh menyedihkan bukan?"
Deg!
__ADS_1
'Sial! Aku ketahuan!' Tanpa aba-aba, dia langsung melemparkan sihir secara acak dan kabur. "Sialan!! Kenapa bocah itu sudah ada di sana?!!"
Belum sempat Iblis spirit tersebut berlari jauh, Ruka telah berdiri sembari bersandar pada dinding dengan tangan bersedekap. "Mau kemana?"
"Sial!!"
DUAR!!
Ledakan keras terdengar hingga ke asrama. Beberapa murid yang masih terbangun atau sempat terbangun merasa heran dan penasaran darimana asal suara tersebut.
Namun tidak ada dari mereka yang mengambil langkah keluar untuk mencari sumbernya.
Ruka menghembuskan nafas. Dia menyelipkan rambutnya di telinganya, menahan ledakan tadi hanya dengan mengangkat telapak tangan nya.
Dinding transparan berwarna kuning keemasan melindungi dirinya dan menyelimuti barang-barang lain yang rusak bahkan hancur akibat ledakan tadi.
Perlahan, mereka mulai tersusun kembali dan pulih seperti sedia kala.
"Feir, dia menuju halaman samping arah ufuk timur."
Dari jendela yang terbuka, setelah sebelumnya rusak parah, manik emas Ruka tampak bersinar di tengah kegelapan yang pekat. Tatapannya tidak lepas dari sosok yang berlari.
Tawa kecil menggema dengan halus, membuat siapa pun yang mendengarnya pasti akan merinding ketakutan.
Feir yang menerima pesan dari Ruka tak mengulur waktu lagi. Dia menyatu dengan kegelapan dan dengan cepat menyusul spirit yang merasuki pemuda itu, yang hampir keluar gerbang sekolah.
BRUK!
Tubuh Inang dari Iblis Spirit menghantam dinding gedung hingga terdengar dengan jelas bunyi tulang patah. Feir muncul dari bayangan dan memanipulasi kekuatan nya untuk mengikat tubuh inang Iblis Spirit.
"Katakan," ucapnya dingin sembari mengencangkan ikatan pada tubuh inang Iblis Parasit. "Dimana ketua mu?"
"Lepaskan aku!! Kau tidak akan tahu! Kau tidak akan tahu!!" Karena momentum sebelumnya, jubah hitam yang sebelumnya menutupi sosoknya telah jatuh entah dimana.
Pemilik tubuh tersebut adalah Orias Ivory, yang saat ini dirasuki oleh Iblis Parasit.
Feir telah mengawasinya beberapa kali karena permintaan dari Ruka, dia tidak akan salah.
Siapa sangka anak yang memiliki kemampuan penyembuh dan bertugas menyembuhkan peserta ujian dadakan ini itu adalah inang dari makhluk spirit? Apa mungkin karena itu juga Ruka membuat Orias dan Furin tidak mengikuti duel?
"Kau pikir kau memiliki pilihan?" Feir mengepalkan tangannya, membuat ikatan pada Iblis menjadi lebih kuat.
__ADS_1
Iblis tersebut menjerit dan mengeluarkan banyak racauan. Tubuhnya menggeliat mencoba melepaskan diri, tetapi pada akhirnya justru semakin mengerat.
Feir menggigit bibir nya agar menahan diri untuk tidak kehilangan konsentrasi akibat jeritan Iblis spirit.
Dia tidak bisa melepaskannya ataupun memurnikannya tanpa mencelakai dirinya sendiri.
Dia harus menunggu Ruka. Tetapi lengkingan dari Iblis itu semakin lama semakin menyakitkan telinganya. Membuatnya tidak bisa untuk tidak menutup kedua telinganya, membuat ikatan pada Iblis tersebut melonggar.
Merasa kesempatan emas, Iblis spirit dengan cepat mengambil langkah. Dia membebaskan diri dan menyerang Feir yang masih kesakitan akibat lengkingannya tadi.
Kuku-kukunya berubah menjadi hitam, panjang dan tajam, siap untuk menyobek isi kepala manusia di hadapannya.
Feir lengah. Jarak antara kuku Iblis itu dan wajahnya hanya berbeda kurang dari setengah sentimeter ketika dia mengelak. Dia mengambil beberapa lompatan ke belakang, tetapi yang tidak dia sangka adalah Iblis tersebut tidak berhenti justru semakin mengejarnya.
Kekuatan Feir sedikit kacau, dia tidak sepenuhnya bisa mengendalikan bayangan untuk kembali menahan tubuh Orias.
Rasa sakit di telinganya dan detak jantungnya yang cepat membuatnya susah berkonsentrasi. Membuatnya seringkali hampir terkena serangan dari makhluk spirit itu.
Berbeda dengan Feir yang semakin melambat dan tidak akurat dalam menghindar, sang Iblis semakin gencar mengincar kepala, leher, dan dada Feir. Aura hitam sepenuhnya mengelilingi tubuh Orias dan membuatnya semakin cepat dan beringas.
Tepat ketika Feir sepenuhnya kehilangan kendali dan cakar blis tepat berada di hadapannya mengincar lehernya, sebuah dinding emas melindungi Feir.
"Kukh!"
Sreett!
"Huwaa!"
Kali ini tali emas mengikatnya, membuat Iblis Parasit mulai kembali memekik kesakitan. Tubuhnya jatuh dan mulai menggeliat di tanah, aura hitam yang sebelumnya mengelilingi tubuh Orias mulai terangkat dan terkumpul menjadi bulatan yang besar.
Mata Orias berubah sepenuhnya menjadi hitam. Kemudian keluar darah dari matanya ketika warna hitam di matanya mulai naik, bercampur dengan gumpalan hitam sebelumnya.
"[Dinding es]" Dinding es, kali ini lebih tebal, memerangkap gumpalan hitam tersebut.
"Ruu..."
"Kerja bagus, Feir." Ruka berjongkok di samping Feir yang bersandar di dinding pagar sekolah. Bibir tipisnya tersenyum sembari mengelap wajah Feir yang penuh keringat dan luka sayat yang mengeluarkan darah, walau sedikit.
Feir tidak tahu harus berterima kasih atau apa. Antara ingin marah karena Ruka datang terlambat atau bersyukur karena dia datang. Alhasil dia hanya berdengus dan mengalihkan pandangannya. Menolak untuk melihat Ruka.
Orang yang menjadi subjek kekesalan nya terkekeh melihat tingkah Feir. Ruka berdiri dan menepuk celananya yang sama sekali tidak kotor. Dirinya berbalik sembari mengelus kepala Feir, "terima kasih atas kerja kerasmu. Sisanya serahkan kepadaku."
__ADS_1
Mendengar itu, suasana hati Feir benar-benar tenang dan lega. Dia menyandarkan kepalanya dan menikmati elusan kepala dari Ruka.
Jika Ruka berkata seperti itu, artinya dia benar-benar akan menyelesaikan seluruh sisanya.