Mysterious Hero

Mysterious Hero
26. Sedikit drama


__ADS_3

"Boleh ku tanya? Kenapa kau terus memaksakan dirimu? Apa ada masalah? Semalam kami dengar suara ledakan, apa itu?"


"Mungkin kalian salah dengar."


"Itu terdengar sampai asrama. Tidak mungkin salah dengar kan?" sahut Hali yang baru datang dari dapur mini. Tangannya membawa nampan dengan semangkuk bubur dan tiga cangkir coklat panas. Jejak uap mengepul terlihat, menandakan makanan itu panas.


Pemuda itu menyeret meja kecil yang tak jauh dari ketiganya menggunakan kakinya. Diletakkan lah nampan tersebut, lalu menyerahkan secangkir coklat panas pada Ruka. "Perlahan, itu panas."


Ruka menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih," ucapnya.


"Jadi," Hali menjeda kalimat nya. Tangannya terulur mengambil cangkirnya sendiri, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sebenarnya ada sedikit masalah, hanya monster kecil masuk ke sekolah saja kok."


"Sungguh hanya monster kecil?"


Ruka mengangguk. "Um, mungkin aku terlalu berlebihan saat melawannya semalam."


Hika selesai menyisir rambut Ruka. Kali ini dia memainkannya dengan memberikan model rambut yang beragam. "Rambut hitam yang indah... Di tambah iris emas mu, seperti kilauan emas di tengah langit malam. Apa semua keluarga mu memiliki rambut hitam dsn mata emas seperti ini?"


"Hanya dari keluarga ayah ku. Ibu dan adikku memiliki rambut perak dengan mata berwarna biru."


"Sepertinya ciri ciri seperti itu tidak asing. Apa kau juga bangsawan?"


"Ya... Tentu saja."


Jawaban itu datang setelah beberapa detik jeda, namun itu tidak menganggu kedua pangeran. Mereka tidak menyadarinya, jadi mereka tidak terlalu peduli.


"Kau berasal dari mana?"

__ADS_1


Ruka tersenyum tipis saat menjawabnya. "Itu kerajaan yang jauh dan cukup terpencil." Manik gold nya tampak mengingat-ingat kembali.


"Sekiranya luar benua mungkin."


"Kau tampaknya tak yakin."


"Ahaha, yah, soalnya saat perjalanan kemari aku tertidur sepanjang jalan." Ruka tersenyum kecut.


'Tidur ya? Bukannya kau nyasar dan tau tau sudah ada di medan perang?'


'Hush! Diamlah! Gak mungkin aku kasih tau yang sebenarnya kan?'


Ruka memilih meminum coklat yang sudah sedikit mendingin. Rasa manis dan sedikit pahit yang pas mengisi seluruh ruang di mulutnya. Sudah lama Ruka tidak mengkonsumsi apapun yang berhubungan dengan coklat.


"Mungkin terakhir... Saat bersama Rinka dulu."


Un, aku menaruh takaran yang pas!


batinnya memuji diri sendiri. Lain halnya lagi dengan Hika yang masih sibuk dengan rambut Ruka yang ia ikat sedikit di samping. Rambut pendek nya terlihat seperti air mancur saat di ikat. "Kayaknya kamu cocok deh diikat gini Ruu."


"Kenapa tidak mengikat rambut mu saja dulu untuk memastikan nya cocok atau tidak?" balas Hali tak peduli.


"Cih! Mau model rambut gimanapun aku tetap ganteng bin keren lah!"


"Kepercayaan dirimu berlebihan." Wajah Hika gelap, perempatan imajiner muncul di pelipis nya. Dia melihat ujung bibir Hali terangkat, membuatnya bertambah kesal.


Kembaran sialannya ini pasti menertawakannya!!


Merasa percuma dengan Hali, Hika memeluk Ruka dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher pemilik netra gold.

__ADS_1


"Ruka! Hali nakal!" adunya dengan nada kekanakan.


"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Hali tak mau kalah.


Dia menaikkan sebelah alisnya, seolah-olah bingung apa yang dia lakukan.


Ruka dapat mendengar Hika membuat suara seakan-akan dia akan menangis, Berusaha mati-matian menahan tawanya, tangannya yang bebas menepuk lembut kepala Hika. "Cup, cup, sudah ya. Jangan menangis ya... Nanti Hali ku jewer kok."


Ruka memiliki ide untuk ikut campur dalam drama mereka. Dia menaruh cangkirnya agar tidak tumpah.


Setelah itu dia berbalik dan membalas pelukan Hika, Manik goldnya melotot pada Hali, "kau sungguh kakak yang jahat, Hali! Lihat adikmu! Dia menangis!"


"Wuwuwu, Ruka, Hali menertawakan Hika..." Hika sekali lagi menjalankan aksinya. Dia menunjuk Hali yang memasang ekspresi aneh, jelas sekali dia menahan tawa.


Mendengar itu, Ruka sekali lagi melotot tajam pada Hali. "Hali! Berhenti menertawakan Hika!" perintahnya. Pelukannya pada Hika semakin erat, seolah-olah mencoba melindungi Hika.


Hali, "...."


Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak kapan dirinya menjadi penjahat?


Pada akhirnya dia hanya menutup wajahnya dan menghela nafas.


Mencoba menetralkan tawanya yang tak sempat keluar. Ruka adalah sebaliknya. Dia secara puas tertawa bersama Hika.


"Benar-benar menyebalkan!"


Namun di balik itu, tak bisa ia tutupi perasaan lega mengetahui kondisi Ruka sudah lebih baik. Saat mendengar kabar bahwa Ruka sakit, jujur saja ia sangat khawatir. Entah mengapa ada rasa takut yang menggetarkan batin nya, seolah olah akan terjadi hal buruk pada pemuda manis itu.


Namun melihat nya sekarang sudah bisa kembali tertawa dan bercanda membuat nya dapat menarik nafas lega, sekaligus membuktikan ketakutan nya itu salah.

__ADS_1


__ADS_2