Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 1 Dahanapura


__ADS_3

Dahanapura merupakan kota kecil di wilayah pemerintahan kerajaan Kahuripan. Kota kecil ini kemudian berubah menjadi sebuah ibukota kerajaan pada saat-saat terakhir pemerintahan Prabu Airlangga. Tidak banyak yang tahu dimana sesungguhnya letak kota Daha ini. Bagi penduduk Kediri mungkin beranggapan bahwa Daha terletak di pusat kota saat ini dan menjadi pusat perbelanjaan yang paling ramai di kota itu, atau yang dikenal dengan Jalan Dhoho.


Tidak hanya ibukota yang berubah, nama kerajaan Kahuripan pun berubah menjadi Panjalu, bahkan sebelum terpecah menjadi Jenggala - Panjalu. Karena sesungguhnya Jenggala adalah pecahan dari Panjalu. Pecahan ini ditengarai oleh Sungai Brantas, yang konon karena kesaktian Mpu Barada yang membelah wilayah tersebut menggunakan kucuran air kendi. Pecahnya kerajaan menjadi dua wilayah yakni Jenggala dan Panjalu karena terjadi persaingan antara dua orang putra mahkota, yakni Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Padahal penerus sesungguhnya adalah Sanggramawijaya Tunggadewi, namun tampaknya dia tidak tertarik untuk meneruskan kekuasaan ayahnya dan lebih memilih menjadi pertapa. Dia lebih dikenal sebagai Dewi Kilisuci.


Jenggala - Panjalu terus bersitegang, dan terjadi perang saudara antara sesama putra Raja Airlangga. Ketegangan antara dua kerajaan ini turun temurun sampai pada masa Panjalu dipimpin oleh Prabu Jayabhaya. Sampai akhirnya Panjalu bisa menakhlukan Jenggala sepenuhnya pada masa pemerintahan Prabu Jayabhaya, dengan  ditandai oleh Prasasti Kemenangan dengan sebutan Panjalu Jayati. Kemenangan ini sekaligus menyatukan kembali wilayah kerajaan Kahuripan yang dulu sempat terpecah. Kerajaan Panjalu dibawah pemerintahan Sri Aji Jayabhaya mengalami masa keemasan dengan nama lain adalah Kerajaan Kadhiri.


Dahanapura sendiri berasal dari kata Dhaha dan Pura, yang berarti Kota Api. Sebagai peralihan ibukota kerajaan, kota Dhaha mengalami kemajuan yang pesat. Keadaan sosial ekonomi masyarakat juga mengalami kemajuan. Bangunan megah terlihat di sisi kiri kanan jalur utama menuju istana raja. Bangunan sepanjang jalan yang sebagian besar terbuat dari kayu tersebut bukan hanya hunian untuk patih, senopati, tumenggung atau pejabat kerajaan yang lain. Ada juga yang berfungsi sebagai tempat menjual senjata, bahan obat dan perlengkapan yang lain.


Setelah Prabu Airlangga membuat keputusan untuk memindah ibukota, beliau juga menugaskan kepada Adipati Keling yang bernama Raden Sosrobahu untuk bertanggung jawab secara penuh dalam persiapan pemindahan ibukota. Mulai dari penyiapan lokasi, pembangunan istana raja dan persiapan bahan baku bangunan.


Raden Sosrobahu memanggil para Demang diwilayah Kadipaten Keling untuk membicarakan titah Prabu Airlangga. Tidak semua Demang dipanggil, hanya yang menjadi lokasi utama tata pemerintahan dan sekitarnya. Ada tiga Demang yang dipanggil pada saat itu yaitu Demang Penataran, Demang Daha dan Demang Keling sendiri. Kemudian Raden Sosrobahu mulai membagikan tugas kepada masing-masing Demang.


Kademangan Penataran dibawah pimpinan Demang Surokarso bertanggung jawab terhadap pasokan mengirimkan pasokan kayu sebagai bahan bangunan kotaraja yang baru. Kayu-kayu dari wilayah Penataran terkenal sebagai kayu yang paling bagus kualitasnya di seluruh wilayah Kadipaten Keling. Untuk itulah Raden Sosrobahu menyerahkan sepenuhnya kepada Demang Surokarso. Tentu saja hal ini tidak gratis, semua dihitung berdasarkan harga pada saat itu. Sehingga Demang Surokarso, semakin hormat kepada sang Adipati.

__ADS_1


Kayu yang dipakai adalah jenis kayu jati berusia puluhan tahun, sehingga bisa tahan lama. Proses pengangkutan dilakukan oleh prajurit Demang Surokarso dibantu oleh prajurit dari Kadipaten Keling. Mereka bahu membahu, mulai dari penebangan sampai pengiriman menuju Daha. Tugas ini disamakan dengan perintah perang oleh Adipati, sehingga tentu saja ada kompensasi yang akan diterima oleh prajurit tersebut.


Sedangkan untuk tenaga tukang kayu bangunan, menjadi tanggung jawab Demang Arya Dimejo dari Daha. Keluarga Arya merupakan bangsawan yang ahli dalam hal arsitektur dan tata kota. Bukan sekali ini saja keluarga Arya menerima tugas sebagai penanggung jawab tata kota dan pembangunan kotaraja, termasuk Adipati dan hampir semua Demang di wilayah Kadipaten Keling ini mempercayakan pembangunan rumah dan balairung kepada keluarga Arya.


Ciri khas bangunan keluarga Arya akan nampak pada ukiran kayu dengan motif naga, dan munculnya relief bintang pada ujung soko guru dari rumah joglo. Tidak ada yang tahu hubungan naga dan relief bintang yang selalu menjadi ciri khas pekerjaan keluarga ini. Hanya beberapa sesepuh keluarga saja yang mengetahui, termasuk Demang Arya Dimejo.


Terakhir, Demang Wijoyokusumo dari Kademangan Keling mendapatkan tanggung jawab untuk memberikan suplai makanan kepada para pekerja selama pengerjaan bangunan kotaraja. Keling dipilih sebagai pemasok bahan makanan karena wilayah tersebut cukup dekat dengan daerah Daha dan memiliki tanah yang subur.


Dengan kemampuan yang dimiliki oleh Raden Sosrobahu, dia bisa melakukan penataan kota dan mempercepat pembangunan ibukota kerajaan Kahuripan, yang kemudian dikenal dengan nama Panjalu. Kecakapan Raden Sosrobahu mendapat apresiasi luar biasa dari keluarga kerajaan dan para bangsawan di istana. Hal inilah yang kemudian menjadikan Raden Sosrobahu menjadi salah seorang kepercayaan Prabu Airlangga di masa depan.


Setahun telah berlalu, Dahanapura atau Daha telah berkembang pesat menjadi kota mercusuar bagi sekitarnya. Selain istana raja dan rumah bagi para pejabat kerajaan, Daha menjadi salah satu pusat perdagangandan ilmu pengetahuan. Beberapa bangunan didirikan disekitar kotaraja untuk dijadikan tempat belajar pemuda tentang ilmu keprajuritan dan ilmu pemerintahan. Sedangkan untuk belajar pengobatan dan ilmu kanuragan, masih terpusat di beberapa padepokan.


Sementara itu, tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di kediaman Demang Arya Dimejo, seorang remaja usia 15 tahun sedang melakukan olah tubuh. Arya Gentala, ia adalah putra tunggal dari Demang Daha. Sebagai anak demang, sungguh ia tidak tertarik dengan urusan pemerintahan, ia lebih tertarik mempelajari keahlian keluarganya sebagai seorang penata bangunan (arsitek).

__ADS_1


Bahkan untuk olah tubuh, ia hanya belajar seperlunya saja, belajar dari lurah (kepala) prajurit. Ki Lurah Seno sempat kaget ketika melihat perkembangan Arya, karena untuk ukuran keluarga bangsawan, termasuk lambat. Seolah-olah Arya tidak butuh untuk menjadi pendekar pilih tanding, seperti kebanyakan pemuda pada masa itu.


Prajurit yang dilatih oleh Ki Lurah sejumlah 15 orang, tidak lebih ditambahkan Arya menjadi 16 orang. Mereka berlatih disamping balairung  kademangan, ditanah lapang langsung dibawah terik matahari. Ki Lurah bertujuan agar nantinya para prajurit yang di latih dibawah terik matahari akan memiliki ketahanan yang lebih baik.


Pelatihan yang dilakukan oleh Ki Lurah terdiri dari kuda-kuda, tendangan dan pukulan. Ini adalah hal dasar yang harus dimiliki oleh semua prajurit. Sedangkan untuk keahlian menggunakan senjata, akan langsung dilatih oleh Lurah Prajurit Kadipaten.


Arya berlatih gerakan kuda-kuda bersama dengan para prajurit di kediaman Demang Daha. Ki Lurah berada di depan memberi aba-aba, layaknya seorang guru. Pada saat itu Ki Demang baru saja pulang dari rumah ayahnya. Wajahnya terlihat tegang dan gelisah, dia berjalan cepat melewati prajurit yang sedang berlatih. Ia baru saja pulang dari pertemuan dengan sesepuh keluarga Arya.


Ki Demang masih teringat titah sesepuh keluarga untuk segera menyembunyikan Arya, dari incaran golongan hitam. Hal ini karena Arya adalah pewaris tunggal pedang bintang dan juga batu bintang. Golongan hitam kedua benda tersebut atas perintah dari Padepokan Bethari Durga. Konon pemimpin padepokan ini adalah titisan Bethari Durga, sosok Dewi Kematian dalam tokoh pewayangan.


Kemunculan padepokan ini, menggemparkan dunia persilatan khususnya aliran hitam, karena kemampuan Dewi Durga, pimpinan padepokan tersebut yang dikenal bisa hidup kembali dari kematian, tentu saja ini karena Ajian Pancasona yang dimilikinya. Tidak hanya, itu Dewi Durga juga terlihat awet muda seperti usia 20 tahun, berkat ritual menghisap ubun-ubun bayi yang berusia 7 hari.


Prajurit Tandya (siap).... ! Ki lurah dengan sigap, menyiapkan prajuritnya untuk menghormati Ki Demang, yang terlihat berjalan tergesa-gesa. Namun, Ki Demang terus berjalan menuju pintu rumah joglo yang terbuat dari kayu jati. Kurang dari satu depa (1,8 meter), Ki Demang berbalik arah dan memanggil anaknya.

__ADS_1


__ADS_2